
"Maaf, aku bukanya bermaksud menjelekan Nean" Lirih Eirla dengan nada yang bergetar.
Setelah Glorva memarahi Eirla dan pergi begitu saja, suasana di meja makan menjadi sangat canggung.
"Tak apa, aku mengerti perasaan mu" Ujar Wivon sambil mengelus punggung Eirla untuk menenangkan.
Jihan yang sehabis minum menaruh kembali gelas nya di atas meja dengan keras sehingga menghasilkan bunyi,
"Aku sudah selesai makan, aku duluan" Ujarnya dengan tatapan sinis kearah Wivon dan Eirla, lalu beranjak pergi.
Draken hanya bisa saling pandang dengan Lexi yang duduk didepannya, lalu ia melirik ke arah Wivon, "Haha sepertinya mereka berdua sedang terkena penyakit wanita, ayo lanjutkan makan" Ujarnya canggung, ia sebenarnya hendak ikut menyusuli Glorva dan Jihan, tapi disisi lain ia juga merasa tidak enak dengan Wivon.
Akhirnya mereka berempat makan dengan diliputi oleh keheningan, hanya suara alat makan mereka yang terdengar.
...----------------...
Disisi lain Glorva sibuk mencari keberadaan Nean sambil membawa beberapa roti dan cemilan, "Jangan bilang dia di danau lagi" Gumam Glorva, ia terus berkeliling dengan kondisi tangan yang penuh karna cemilan. Karna tak kunjung menemukan Nean, ia akhirnya memutuskan untuk mencari ke danau.
Glorva memandangi tembok akademi yang tinggi, dengan kondisi tangan yang penuh karna memegang makanan, sulit untuknya memanjat.
Glorva nampak berfikir sejenak, ia menatap bendera yang berkibar di dinding pojok akademi, sambil tersenyum ia mendekati tiang bendera tersebut.
Glorva mengamati sekitarnya, saat dirasa aman, ia mulai menurunkan bendera putih dengan simbol pedang di tengahnya, bendera tersebut berukuran lumayan besar hingga berhasil membungkus semua makanannya, setelah itu ia mengikat tiap sudut bendera dipinggangnya agar makanannya tidak jatuh saat ia memanjat.
Saat merasa ikatannya sudah erat, Glorva mulai memanjat dinding yang tinggi dan berjalan menuju Danau.
"Wah kebetulan kita bertemu lagi" Sapa Glorva pada Nean yang sedang duduk diatas batu andalannya. Dugaannya ternyata benar, Nean pasti akan datang ke danau ini.
Nean menoleh, ia mengernyit heran menatap penampilan Glorva dengan perut mengembung yang diikat oleh bendera.
Glorva mengikuti arah pandang Nean yang menatap perutnya yang kembung berisi makanan, "Ah ini, aku hanya berniat makan siang disini" Jelas Glorva tanpa ditanya, ia sengaja memberi alasan palsu agar maksud sebenarnya tidak ketahuan.
Glorva memang sengaja mencari Nean sambil membawa banyak makanan karna ia tau bahwa Nean belum makan siang, itupun dia tau dari Eirla yang mengadu tadi.
"Oh, makan saja" Sahut Nean singkat, lalu membuang mukanya.
__ADS_1
Glorva menaiki batu besar tempat Nean duduk dengan susah payah, itu karna makanan yang terbungkus di perutnya.
"Ayo makan bersama, aku sepertinya terlalu banyak membawa makanan" Ajak Glorva yang berhasil duduk disamping Nean.
"Kau saja, dan kenapa kau harus duduk disini" Ketus Nean.
Glorva membuka ikatan bendera diperutnya, lalu membeberkan semua makanannya, "Kau tidak suka aku disampingmu?" Tanya Glorva sambil membuka bungkusan roti.
Tapi bukanya menjawab, Nean nampak terlihat shock,
"K-kau memakai bendera akademi untuk ini?" Tanyanya kaget, ia menatap Glorva dengan tatapan tak percaya.
Glorva meletakan jari telunjuknya di bibir Nean, "Sttttt, tidak akan ketahuan jika kau mau menjaga rahasia" Ujarnya.
Nean menepis tangan Glorva pelan, "Kau pikir aku akan setuju?" Sahut Nean kesal karna Glorva asal menyentuhnya.
Glorva hanya terkekeh melihat ekspresi Nean, ia kemudian memakan rotinya, "Yasudah, paling aku hanya akan dihukum" Jawabnya dengan mulut yang masih dipenuhi oleh roti.
Nean tak bisa berkata kata dibuatnya, "Dasar pembuat masalah" Cibir Nean.
"Nih, bantu aku menghabiskan ini semua"
Nean hanya menatap Roti yang dijulurkan padanya, "Kau yang membeli banyak kenapa aku harus ikut makan?" Tanya Nean yang masih bernada ketus.
"Hei justru itu tujuanku membeli banyak, makanlah, jangan cerewet" Paksa Glorva,
"Kau percaya tidak bahwa seseorang ditempatku mati karna tidak makan seharian? " Lanjutnya menakut nakuti.
Nean terdiam, ia terlihat percaya dengan perkataan Glorva barusan.
"Kenapa? Kau tidak percaya? Aku tidak berbohong kok, itu nyata" Lanjut Glorva lagi dengan nada yang serius.
"Kau fikir aku bodoh? Tak ada yang akan mati jika tidak makan seharian, aku sudah sering mengalaminya dan aku masih hidup" Bantah Nean.
Glorva menjadi terdiam, ia lupa bahwa Nean memang sering tak makan seharian karna dikurung oleh pamannya, mengingat hal itu, hatinya menjadi marah.
__ADS_1
Glorva menarik tangan Nean, lalu meletakan paksa Roti diatasnya, "Makanlah, semua hal buruk yang menimpamu tak mengharuskan mu untuk menyiksa perutmu" Suruh Glorva dengan nada yang bergetar.
"Kau tahu, saat aku merasa lelah dengan segalanya, aku selalu merasa ingin menyerah untuk hidup, tapi mengingat banyak makanan enak yang belum ku coba, aku memutuskan untuk tetap hidup demi mewujudkan itu" Ujarnya sambil menatap sendu ke arah danau di depannya.
Glorva kembali teringat dengan dirinya dimasa lalu, hidup sendirian karna keluarganya yang hancur dan pamannya yang hanya mengincar hartanya, itu sebabnya ia merasa senasib dengan Nean, dan entah mengapa ia jadi menyukai Nean.
Nean hanya diam tanpa menyahut, ia kemudian membuka bungkus roti ditangannya, lalu memakannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Glorva kemudian tersenyum melihat Nean yang akhirnya mau memakan makanannya.
"Aku makan bukan karnamu, aku hanya tiba tiba merasa lapar" Ujar Nean tanpa menatap Glorva.
"Haha baguslah kalau akhirnya kau lapar" Kekeh Glorva yang merasa geli dengan tingkah Nean.
Mereka berdua akhirnya menghabiskan semua makanan tersebut, Glorva sesekali mengajak Nean bergurau meski pada akhirnya hanya dirinya sendiri yang tertawa.
Mereka menghabiskan waktu cukup lama, hingga akhirnya Glorva teringat akan jam istirahatnya yang sudah berakhir,
"Hei kau tau kan kita sudah telat, bagaimana kalau kita bolos saja?" Tawar Glorva pada Nean.
Nean mematung, ia baru ingat bahwa masih ada pelatihan memanah lagi, "Tidak, aku harus segera kembali" Ujarnya yang spontan berdiri.
Nean tanpa berpikir langsung menarik lengan Glorva untuk ikut berdiri, lalu berlari sambil terus menggenggam tangan Glorva.
Glorva hanya mengikuti sambil tersenyum senang karna Nean menggenggam tangannya, mereka berdua terus berlari melewati hutan, hingga akhirnya mereka sampai di depan dinding.
Nean tersadar bahwa dirinya telah memegang dan menarik tangan orang asing, dengan cepat ia melepasnya, "Itu tidak disengaja" Gugupnya.
"Benarkah? Padahal aku sudah merasa senang" Goda Glorva.
Nean mengabaikannya, ia kemudian memanjat dinding tersebut mendahului Glorva dan menghilang begitu saja.
Glorva yang masih berada dibawah hanya menghela nafasnya, "Huh pada akhirnya dia meninggalkan ku" Kesalnya.
Glorva kemudian memanjat dinding tersebut dan pergi menyusul Nean.
__ADS_1