Go To His World

Go To His World
22. Kekhawatiran Jidante


__ADS_3

Tak terasa malam sebelum pergi ke akademi sudah tiba, waktu 3 hari yang diberikan untuk bersiap berlalu dengan cepat.


Glorva tengah makan mie seduh bersama Jidante di depan rumah mereka sambil melihat ribuan bintang yang berkilauan menerangi malam. Seperti biasa mereka selalu memperdebatkan hal yang tidak penting ketika bersama.


"Aku pikir aku bisa menghabiskan waktu tiga hari ini bersamamu, tapi kau malah sibuk dengan benda anehmu itu" Sindir Jidante, lalu ia menyeruput mienya.


Glorva menyipitkan matanya, "Wah wah wah, bukankah kakek yang belakangan ini sibuk dengan penilitian kakek, dan sekarang aku yang disalahkan'' Sahutnya tidak terima, "Dan satu lagi, benda yang kakek sebut aneh tadi bukanlah seperti yang kakek bayangkan, ini adalah senjata ciptaan yang lebih hebat dari tongkat sihir" Lanjutnya lagi, ia terlihat semangat membangga-banggakan benda ciptaanya.


Jidante terkekeh, ia menaruh mienya yang sisa sedikit di atas kursi panjang tempatnya duduk, "Aku bangga kau berhasil menciptakan benda yang berasal dari duniamu itu" Ujarnya menatap langit, "Tapi aku takut benda itu akan menjadi incaran orang lain dan membuatmu ada dalam bahaya" Sambungnya lagi, ia menyembunyikan wajah khawatirnya.


Glorva tersenyum, ia kini ikut menatap langit malam seperti yang dilakukan Jidante, "Kakek tidak perlu khawatir karna aku sudah memikirkan itu sejak lama" Sahutnya yang membuat Jidante menoleh kearahnya.


Glorva pun ikut menoleh ke arah Jidante, lalu menyengir, "Aku sudah menggunakan sihir yang kakek ajarkan padaku, dimana benda itu akan lenyap jika tidak dalam kendaliku" Ujarnya lagi.


"Jadi kau menggunakan sihir poros bumi?" Tanya Jidante memastikan karna poros bumi bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan.


"Yap, Aku sudah menaruh poros bumi di senjataku sehingga benda itu hanya bisa dimiliki oleh ku, kalaupun senjata itu dicuri, dalam waktu 20 menitan dia pasti akan menghilang dari tangan pencuri dan kembali padaku" Jelasnya dengan semangat.


Jidante kembali terkekeh, "Haha harusnya aku tidak perlu mengkhawatirkan anak sejenius dirimu" Tawanya, tanganya mengusap lembut kepala Glorva, "Aku bangga padamu, sifatmu memang benar benar mirip seperi Davia" Sambungnya lagi.


"Kakek selalu saja berkata kalau aku mirip denganya, padahal aku sudah lupa sosok seperti apa ibu itu" Balasnya membuat Jidante kembali tertawa kecil.


"Yahh jika kau penasaran kau bisa bercermin, kau akan melihat sosok Davia yang benar benar mirip sepertimu" Ujarnya.


"Dulu saat Davia seusiamu, dia juga sangat semangat untuk masuk ke akademi, tapi setelah lulus dari akademi dia langsung pulang membawa ayahmu dan mengenalkannya padaku, walaupun menjengkelkan, tapi aku lebih berharap kau juga bisa pulang kepadaku seperti itu" Lanjutnya lagi, wajah sendunya ditutupi oleh senyum tipisnya.


"Astaga kakek kau tau itu mustahil, padahal kau yang paling tau tujuanku masuk akademi" Sahut Glorva dengan nada yang bergetar.


"Hei aku hanya berharap, kau tau aku tidak akan menghalangimu" Balas Jidante, suasana kini diliputi oleh keheningan karna keduanya berusaha menutupi perasaan sedihnya masing masing.

__ADS_1


''Mungkin hanya satu yang membedakanmu dengan Davia" Sambungnya lagi memecahkan keheningan, Glorva menatap Jidante dengan wajah penasarannya.


"Saat seuisamu Davia sudah sangat tinggi, tapi kenapa kau bisa jauh lebih pendek darinya, apakah kau mengikuti gen ayahmu" Ujar Jidante dengan nada mengejek.


Glorva memukul lengan Jidante, "Pendek ataupun tinggi tidak akan mengubah fakta bahwa aku tetap anak yang jenius, dasar kakek selalu saja membuatku kesal" Dumelnya, ekspresi kesalnya membuat Jidante tertawa puas.


"Haha aku khawatir kau akan dikira bocah kecil yang kehilangan arah saat diakademi nanti" Ejeknya lagi yang membuat Glorva mendengus kesal.


"Cih, asalkan kakek tau, tak ada yang berfikir seperti itu tentangku, justru sebaliknya mereka akan kagum dengan kemampuan yang aku punya" Sahutnya dengan nada bangga, ia sama sekali tidak merasa berkecil hati dengan tubuhnya yang memang pendek.


"Hahaha coba lihat, kau bertingkah lagi" Balas Jidante dengan kekehannya, "Cepat habiskan makananmu dan bergegaslah tidur, besok kau harus bangun pagi agar tidak terlambat" Sambungnya lagi, lalu beranjak masuk meninggalkan Glorva yang masih duduk diluar.


"Huh kakek selalu saja begitu" Desah Glorva, lalu menghabiskan mienya dengan cepat, tapi ia mematung sejenak karna baru mengingat sesuatu yang penting.


"Astagaaa kenapa aku melupakan permintaan Pretoonn!!!" Teriaknya, lalu bergegas memasuki rumah dan meletakan mienya yang belum habis di atas meja makan.


"Apa yang kau lakukan, aku sudah menyuruhmu untuk bergegas tidur" Tanya Jidante yang melihat Glorva sibuk dengan gulungan kertasnya, ia kemudian duduk didepan Glorva.


"Aku juga ingin cepat tidur, tapi aku melupakan ini" Sahut Glorva yang masih sibuk dengan urusannya.


"Ahh, ternyata kau belum menulisnya" Ujar Jidante yang juga baru sadar, tiga hari yang lalu Glorva sudah menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi saat ia seleksi meracik obat.


Jidante lalu beranjak dari duduknya dan membuatkan segelas teh hangat, tak lama kemudian ia menaruh teh tersebut diatas meja, "Minumlah ini, kau harus langsung tidur setelah selesai menulisnya" Ujarnya yang hanya dibalas anggukan oleh Glorva, Jidante tersenyum tipis sebelum akhirnya ia pergi ke kamarnya.


Butuh satu jam lebih untuk Glorva menulis resepnya, ia juga sudah menghabisi teh buatan Jidante, kini ia hanya perlu menggulung kertas resep tersebut dan memasukannya kedalam tas, namun rasa kantuknya membuat tubuhnya terlalu lemas untuk sekedar berdiri, dan akhirnya ia memilih untuk tertidur diatas meja.


Jidante keluar dari kamarnya untuk mengecek keadaan Glorva, ia tersenyum tipis saat melihat hal yang ada didepannya, "Aku menyuruhnya tidur dikamar tapi dia malah tidur di meja" Kekehnya, ia kemudian menggulung kertas resep yang ditiduri oleh Glorva dan memasukkannya ke dalam tas, setelah itu ia mengangkat tubuh mungil Glorva untuk dipindahkan ke dalam kamar.


Saat selesai memindahkan Glorva kekasur, ia menyelimuti tubuh Glorva dan mengusap kepalanya lembut, "Huft pada akhirnya aku tidak bisa menghentikan ambisimu" Lirihnya.

__ADS_1


"Apakah aku akan kehilanganmu sama seperti aku kehilangan Davia?" Lanjutnya lagi, lalu ia keluar dari kamar Glorva dengan perasaan sedihnya.


...----------------...


Disisi lain, Deus terus tertawa sambil menatap langit malam melalui jendela di kamarnya, istrinya yang kebetulan didekatnya pun berinisiatif untuk menghampirinya.


"Kau sepertinya terlihat senang, ada apa?" Tanya Anshea yang kini berdiri disamping suaminya.


"Aku hanya tidak sabar, karna sebentar lagi putra kita akan mendapatkan gelarnya sebagai pewaris" Sahutnya dengan senyum ambisinya.


Anshea ikut tersenyum senang, "Tapi kenapa kau begitu yakin? Bukankah masih ada Nean? Selama ada dia tidak mungkin putra kita bisa menjadi pewaris" Tanyanya lagi yang membuat Deus semakin tertawa keras.


"Sayang kau tidak tahu, justru itulah yang membuatku tidak sabar, hanya butuh beberapa tahun lagi untuk mendapatkan semuanya, kau hanya perlu duduk manis sambil merawat putra kita dengan baik" Ujar Deus.


"Aku tidak tau apa yang kau rencanakan, tapi apakah kau berniat menyingkirkan Nean?" Tanya Anshea lagi.


Deus memegang dagu istrinya, ia tersenyum menyeringai, "Sayang, kau tahu kita tidak akan mendapatkan hal besar jika tidak mengorbankan sesuatu yang berharga seperti nyawa?" Jawabnya yang membuat Ashea bergidik.


"Hah aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan, tapi jangan sampai libatkan Denard putra kita kedalam bahaya" Peringat Anshea.


Deus terkekeh, "Tidak mungkin aku membahayakan putraku, kau tau aku melakukan semua ini demi dia" Jawabnya.


Anshea menghela nafasnya, "Tapi apa rencanamu? Bukankah Nean akan tinggal di akademi selama 3 tahun, dan saat ia kembali dia akan mengambil alih posisi mu karna usianya sudah 20 tahun" Tanya Anshea lagi.


"Tidak perlu khawatir karna aku sudah merencanakannya dengan baik" Jawab Deus, ia kembali tersenyum menyeramkan.


"Seseorang sudah kuperintahkan untuk mengawasinya dengan baik, Nean tak akan bisa lepas dari pengawasan ku" Ujarnya sambil terus tertawa karna membayangkan semua rencanya akan berhasil.


"Aku biarkan dia menikmati 3 tahunnya di akademi, karna setelah itu dia akan memberikan aku segalanya yang dia punya'' Lanjut Deus sambil tersenyum layaknya iblis yang telah mendapatkan mangsanya.

__ADS_1


__ADS_2