Go To His World

Go To His World
21. Benda sihir


__ADS_3

"Kau masih meneliti itu?" Tanya Jidante yang melihat Glorva sedang sibuk mengotak atik benda aneh yang sudah ia buat dari lama.


"Ya, aku harus menyelesaikan ini sebelum pergi ke akademi" Sahutnya, tangannya masih sibuk merakit senapan.


Sudah dari jam 4 pagi Glorva bangun untuk melanjutkan rakitannya, ia ingin membuat senjata api Groza yang dipadukan dengan sihir sebagai pelurunya.


Setahun yang lalu Glorva memikirkan cara untuk mempersiapkan perang besar yang akan terjadi 3 tahun lagi, dimana usianya tepat 20 tahun, diperang itulah yang membuat Nean kehilangan nyawanya.


"Huh dengan alat yang ada didunia ini, aku sampai butuh waktu satu tahun lebih untuk membuat senjata ini" Ujarnya saat senapan yang ia buat sudah hampi jadi.


"Karna didunia ini belum mengenal armor anti peluru, jadi aku menggunakan peluru berkaliber 7,65 dengan timah dan bubuk mesiu sehingga bisa menghasilkan demage yang besar, selain itu aku juga sudah menambahkan berbagai sihir dipelurunya sehingga zirah besi anti sihir pun bisa ditembus oleh ini" Bangganya bergumam sendiri, ia mengangkat Grozanya, lalu tersenyum lebar, "Tidak sia sia aku bermain game online" Senyumnya bangga.


"Kakek, aku akan kehutan untuk menguji penelitian ku, daaah" Teriaknya, lalu ia pergi tanpa menunggu jawaban dari Jidante.


Hanya butuh waktu setengah jam untuknya sampai, karna Glorva tinggal di perbatasan ibu kota sehingga mudah untuknya pergi kehutan jika ingin berlatih.


Sebelum menguji senapannya, ia memanggil Theia, roh cahaya yang selama ini selalu menemaninya berlatih.


"Wah, jadi ini alat sihir yang kau buat selama ini!" Seru Theia saat melihat benda asing ditangan Glorva.


"Ya, aku akan menguji benda ini sebelum pergi ke akademi, jadi bantulah aku" Sahut Glorva yang dijawab dengan anggukan oleh Theia.


Dari kejauhan, Glorva mulai membidik seekor tupai diatas pohon, ia meletakan jarinya dipelatuk dan dalam sekali tekan tupai tersebut berhasil ambruk jatuh ketanah.


Glorva berlari menghampiri tupai yang nampak tengah sekarat tersebut, Glorva sengaja tidak membidik titik vitalnya agar tupai tersebut tidak langsung mati saat ditembak.


"Aku tidak menyangka peluru yang kubaluti sihir bisa menembus tubuh tupai sedalam ini" Batinnya saat mengecek.


"Theia, tolong segera lakukan sihir penyembuhan pada tupai ini" Ujar Glorva, dengan cepat Theia langsung langsung memberikan sihir penyembuhan pada Tupai yang sekarat tersebut, tak butuh waktu yang lama tupai itu berhasil kembali sehat seperti semula.

__ADS_1


"Wah sihir penyembuhanmu memang tidak bisa ditandingi" Puji Glorva yang membuat Theia tersenyum remeh.


"Jangan meragukan sihir sang pemimpin cahaya bocah" Candanya hingga mereka berdua tertawa bersama.


Glorva kemudian kembali mengotak atik senjatanya, Theia yang tak mengerti apapun tentang benda tersebut hanya bisa menonton.


"Apa yang kau lakukan pada benda sihir itu lagi? Bukankah tadi sudah bagus? Tanya Theia.


"Memang bagus, tapi dia mengeluarkan suara yang cukup berisik sehingga akan membuat musuh bisa sadar dengan posisi kita" Jawabnya, "Aku harus membuat peredam suara saat pulang nanti" Lanjutnya lagi.


Tak hanya itu, Glorva kembali merombak peluru senapan tersebut, ia mengeluarkan 2 batu sihir yang ia taruh pada badan peluru, Batu sihir itu sangat kecil, tetapi mengandung sihir yang cukup untuk menembus jubah besi sekalipun.


Satu batu sihir yang berwarna biru muda merupakan sihir angin yang difungsikan untuk menambah kecepatan peluru hingga 3x lipat dari kecepatan peluru pada umumnya.


Selanjutnya adalah sihir bumi dimana sihir ini difungsikan agar peluru dapat mengenai sasaran dengan tepat sesuai dengan yang dibidik, tak hanya itu, sihir ini juga difungsikan agar peluru bisa kembali pada titik awalnya, sehingga Glorva tak perlu membuang buang banyak peluru. Untuk menciptakan ini, Glorva perlu memanfaatkan gravitasi pada sihir bumi dan memasang satu poros agar sihir ini dapat beroperasi dengan benar.


Glorva kemudian membidik ke arah betis babi hutan yang secara kebetulan muncul di hadapannya, lalu dengan cepat ia menekan pelatuknya.


Seperti harapannya, peluru dapat keluar dengan kecepatan tinggi dan mengenai area bidikan dengan cepat. Saat berhasil menembus kulit babi tersebut, peluru kembali ke tangan Glorva karna poros yang ada pada peluru sudah terpusat dengan sihir tubuh Glorva.


Glorva kembali tertawa, "Hahahaha ini benar benar cheat, aku sudah menciptakan cheat hahahaha" Tawanya yang membuat Theia kembali bergidik.


"Apakah kau tertawa senang setelah berhasil melukai babi tak bersalah itu?" Kesal Theia yang membuat Glorva tersadar dari tawanya.


"Ah hampir saja aku kehilangan hati nurani ku, tolong bantu aku menyembuhkan babi itu Theia" Ujarnya yang tiba tiba panik karena babi tersebut sudah mengeluarkan banyak darah di betisnya yang berlubang karna peluru.


Theia kemudian menghembuskan nafasnya, lalu kembali mengobati babi tersebut dengan sihir penyembuhannya, dalam waktu singkat luka pada betis babi tersebut berhasil sembuh seperti sedia kala.


Setelah selesai, Theia mendelik ke arah Glorva, ''Jadi ini alasan kau memanggilku, agar aku bisa menyembuhkan setiap binatang yang kau sakiti?'' Ujarnya mengintimidasi.

__ADS_1


Glorva menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia menyengir cengengesan, "Aku harus melakukannya untuk menguji senjata ini, dan hanya kau yang bisa melakukan penyembuhan ajaib seperti itu" Jelasnya menyengir.


Theia kembali menghela nafasnya, "Hah baiklah asal kau sudah bertanggung jawab pada hewan hewan yang kau sakiti, manfaatkanlah aku semaumu" Ujarnya pasrah.


Glorva kembali tersenyum cerah, "Kau memang yang terbaik, kalau begitu mohon bantuannya hari ini" Ujarnya, lalu dengan semangatnya ia kembali menguji senapan buatanya.


...----------------...


Saat hari mulai sore, Glorva dan Theia masih sibuk beraktivitas di tengah hutan.


"Hei ini sudah ke 34 kalinya aku menyembuhkan hewan yang kau sakiti" Gerutu Theia sembari menyembuhkan rusa yang terluka karna peluru Glorva.


Glorva sedikit merasa bersalah, "Aku tau, tapi kau menyuruhku memanfaatkan mu kan" Sahutnya sambil mengelapi peluru yang berlumur darah.


Theia berdiri saat selesai melakukan tugasnya, "Aku tahu, tapi tidakah kau merasa kasihan saat kau membidik hewan hewan itu?" Tanya nya lagi.


Pertanyaan Theia membuat tubuh Glorva mematung, "Kau benar, hatiku sakit saat aku membidik mereka dengan senapanku ini" Jawabnya pelan, tetapi masih bisa didengar oleh Theia, "Tapi kedepannya aku akan menggunakan senapan ini untuk membunuh banyak manusia, jadi aku harus membuang perasaan seperti ini" Sambungnya lagi.


Theia kemudian merasakan perubahan pada diri Glorva, itu karna ia memiliki sihir yang dapat mengetahui perasaan manusia.


"Dia Terlalu keras dengan hatinya" Batin Theia.


"Theia, kau tahu kalau aku benci sesuatu yang didapatkan dari hasil pengorbanan" Ujar Glorva, ia kembali membidik sekelompok burung yang tengah terbang dilangit.


Dor!!


Peluru tersebut berhasil menjatuhkan salah satu burung yang terbang.


Glorva tanpa sadar meneteskan air matanya, "Tapi sekarang aku mulai sadar, pengorbanan itu memang dibutuhkan untuk mewujudkan sesuatu yang ingin dicapai" Sambungnya lagi, lalu berlari menghampirinya burung yang tergeletak ditanah dan menolongnya.

__ADS_1


__ADS_2