
"Selamat Datang untuk semua murid yang sudah berhasil lolos dalam seleksi dan resmi menjadi murid kami hari ini" Ujar Kepala Akademi yang memberi sambutan kepada seluruh murid baru.
Seluruh murid yang berada diaula memberi tepuk tangan yang meriah, semuanya nampak antusias menyambut hari pertama mereka di akademi, begitu pula dengan Glorva yang tengah duduk di kursi barisan nomor dua dari depan, dibalik rasa semangatnya, ia juga sedang resah karna belum melihat Nean sedari tadi.
"Musim ini kami menerima banyak siswa siswi yang berbakat dari segala penjuru" Ujarnya, semua perhatian siswa kini tertuju padanya.
"Meskipun begitu, saya rasa kalian semua sudah mengetahui bahwa di akademi ini tidak ada yang namanya tingkat status sosial, itu artinya semua siswa yang ada disini setara" Jelasnya.
"Yang membedakan bukanlah dari keluarga mana kalian berasal, tetapi seberapa berbakatnya kalian " Lanjutnya lagi.
"Siswa yang paling berbakat akan diberikan status Empaire saat lulus nanti, pasti kalian tahu seberapa berharganya status tersebut, dan hanya satu orang paling berbakat di angkatan kalian yang akan mendapatinya" Jelasnya, semua siswa nampak tegang saat mendengar penjelasan dari kepala akademi, ambisi mulai muncul di hati mereka untuk memperebutkan gelar Empaire.
"Huh status yang membuat orang bisa bekerja di samping raja? Kenapa mereka semua harus berebutan hanya untuk menjadi babu raja'' Batin Glorva, sejujurnya ia mulai bosan, penjelasan dari kepala akademi sama sekali tidak membuatnya bergairah.
Empaire adalah gelar yang akan diberikan pada siswa akademi dengan lulusan terbaik, dimana mereka yang mendapatinya bisa memiliki peluang besar untuk bekerja di istana dengan profesi penting, salah satunya adalah menjadi sekertaris istana ataupun menjadi asisten pribadi keluarga kerajaan, masih banyak lagi profesi penting yang bisa didapatkan kepada mereka yang berhasil mendapatkan status tersebut. Banyak bangsawan yang memperebutkan posisi itu untuk meningkatkan hubungan mereka dengan keluarga kerajaan.
"Selain itu kalian akan dibentuk menjadi kelompok dimana setiap kelompok akan diisi oleh 5 orang siswa, kami sudah memilihkan kalian kelompok berdasarkan pengamatan dan pencocokan dari hasil seleksi kalian, tujuan dari pembentukan kelompok ini adalah sebagai penilaian dari kerja sama kalian" Jelas Kepala Akademi.
"Sudah pasti aku tidak bisa satu kelompok dengan Nean, karna aku sudah tau siapa saja yang akan menjadi anggota kelomponknya" Batin Glorva merenung, "Ah benar, Nean juga satu kelompok dengan Eirla, mereka selalu saja bersama, pantas saja Nean sampai menyimpan rasa pada Eirla" Lanjutnya merenung, hingga tak menyadari bahwa kepala akademi sudah selesai memberi pengarahan dan turun dari panggung aula.
"Gawat, aku malah melamun dan tidak mendengarkan sisa pengarahannya, sekarang aku tidak tau harus berbuat apa" Batin Glorva kebingungan, ia melihat para siswa sudah beranjak keluar dari aula dengan tertib, akhirnya Glorva memutuskan untuk ikut keluar dari aula.
Saat di luar, Glorva semakin kebingungan karna semua siswa nampak berpencar sambil membawa gulungan kertas ditangannya, ia hanya celingukkan hingga akhirnya ia menghadang salah satu siswa yang lewat untuk bertanya.
"Hei, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Glorva.
Murid prempuan tersebut nampak tersentak karna Glorva yang tiba tiba menghadangnya, "Hah kau membuatku kaget, apakah kau tidak belajar etika sopan santun saat memanggil orang asing?" Kesal murid perempuan tersebut.
Glorva nampak tertegun, "Ah aku lupa kalau di dunia ini sangat menjunjung tinggi etika sopan santun, jika di duniaku, hal yang ku lakukan barusan bukanlah sebuah masalah" Batin Glorva.
"Kau tidak dengar? Kepala akademi menyuruh kita untuk mengambil gulungan kertas di loker masing masing, setelah itu kita diperintahkan untuk mencari nama nama yang ada digulungan tersebut untuk membentuk kelompok" Jelasnya yang masih menunjukan raut wajah kesalnya, setelah itu ia langsung pergi begitu saja, namun baru beberapa langkah, murid perempuan tersebut kembali membalikan badannya dan menghampiri Glorva.
"Apa yang kau lakukan, wajahmu sangat menyeramkan kau tau?" Bingung Glorva saat murid yang ia tanya tadi tiba tiba saja memelototi tanda pengenal di dadanya.
__ADS_1
Murid tersebut mengabaikan Glorva, ia membuka gulungan kertas ditangannya, lalu kembali memelotoi tanda pengenal Glorva, reflek Glorva langsung menjauhkan dirinya.
"Hei sudah kubilang wajahmu menyeramkan" Kesal Glorva.
"Huh, bagaimana bisa aku satu kelompok dengan pembuat onar seperti dirimu?" Oceh gadis itu, membuat Glorva mengernyitkan dahinya.
"Apa? Pembuat onar? Sopankah berkata seperti itu kepada orang yang baru kau temui?" Sahut Glorva yang tak terima disebut sebagai pembuat onar.
Gadis tersebut nampak mendecih, "Kau berkata sopan santun? Lalu dimana sopan santunmu saat memanggilku tadi? Kau terlihat seperti pemalak" Balas gadis tersebut tak mau kalah.
Glorva memang merasa bahwa perbuatannya itu salah, tapi ia tetap menatap sinis gadis dihadapannya, "Tapi aku tidak memalakmu" Sahut Glorva lagi yang tak mau kalah.
"Kau memalakku dengan pertanyaan" Balas gadis tersebut.
"Hei bedakan memalak dengan bertanya, kau bodoh ya?"
"Apa bodoh? Salahmu yang bertingkah seperti pemalak"
Keduanya kini berdebat, tak ada satupun diantara mereka yang mau mengalah, untungnya kemunculan seseorang berhasil mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Ini bukan urusanmu, untuk apa kau mencariku? Ck semua orang disini sangat mengesalkan" Dumel Glorva yang masih diselimuti oleh rasa kesalnya.
"Ah syukurlah kau muncul disini, aku jadi tidak perlu mencarimu" Ujar gadis tersebut, "Aku Jihan Mevoren, kebetulan kita satu kelompok" Lanjutnya lagi, ia memperkenalkan dirinya pada Wivon.
Mendengar hal itu Wivon langsung mengecek nama digulungan kertasnya, "Ah kau benar, kita satu kelompok" Senang Wivon, "Kita bertiga sudah berkumpul, jadi kita hanya perlu mencari dua teman kita lagi" Sambungnya sambil tersenyum lega.
''Jangan bilang aku satu kelompok dengan kalian berdua?" Shock Glorva.
Jihan kemudian menatapnya sinis, "Entah kau tuli atau terlalu bodoh, kau bahkan tidak membawa gulungan kertasmu" Nyinyir Jihan yang membuat Glorva kembali kesal.
Glorva ingin membalas, namun di sela oleh Wivon, "Sudahlah jangan berdebat, kita satu kelompok sekarang, oke?" Ujarnya menengahi.
Glorva menghembuskan nafasnya kesal, "Entah kesialan apa lagi yang akan menimpaku" Dumelnya.
__ADS_1
Wivon terkekeh, "Baiklah, mari kita mencari dua teman kita yang tersisa, waktu kita lagi sedikit karna kita harus keliling akademi untuk orientasi" Ajaknya yang dijawab anggukan oleh Jihan, sedangkan Glorva hanya memutari kedua bola matanya malas.
Mereka bertiga kemudian berjalan bersama sambil mencari siswa dengan nama yang tertulis digulungan mereka.
"Kau tidak ingin mengambil gulunganmu?" Tanya Jihan pada Glorva.
"Untuk apa? Toh kalian sudah membawanya, lagi pula isinya sama" Jawabnya malas.
"Terserahmu saja" Sahut Jihan yang lelah berdebat dengan Glorva.
Wivon hanya tertawa kecil, "Sepertinya kalian berdua sangat akrab" Ujar Wivon.
"TIDAK" Jawab keduanya serempak yang membuatnya kembali terkekeh.
"Wivon, itu kau bukan?" Sapa seseorang yang tiba tiba menghadang mereka bertiga.
"Aku adakah Draken Sidara, dan yang disebelahku adalah Lexi Adelo, kami berdua satu kelompok denganmu" Lanjutnya lagi menjelaskan.
Wivon kembali mengecek nama digulungannya, begitu juga dengan Jihan.
"Wah benar, tak kusangka aku menemukan kalian dengan mudah" Ujar Mevin senang.
"Tentu saja, semua orang pasti mengenalmu, jadi mudah untuk kami menemukanmu" Sahut Draken santai yang membuat Lexi disebelahnya menyenggol tangannya.
"Bagaimana bisa kau berbicara tak sopan seperti itu pada putra mahkota?" Bisik Lexi menegur Draken, namun masih bisa didengar oleh Wivon.
"Tolong jangan seperti itu, di dalam akademi status kita setara, jadi bersikap santailah padaku" Sahut Wivon yang tak sengaja mendengar teguran Lexi.
"Ahh baiklah kalau begitu" Gugup Lexi sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Huh hentikan basa basi kalian, ayo cepat mencari instruktur kita" Ujar Glorva dengan wajah tidak semangatnya.
"Sepertinya hari ini akan berat" Lanjutnya lagi mengeluh, ia kemudian berjalan didepan mendahuli keempat temannya.
__ADS_1
"Lihat, dia sangat mengesalkan" Decih Jihan, Wivon hanya bisa tertawa kecil sambil menatap Glorva yang berjalan didepannya.