
"Apakah kau berhasil memasangnya?"
"Tidak tuan, dia berhasil menghindar dan saya tidak menyadari kalau dia sedang bersama temannya" Jelas pria bertudung.
"Teman? Siapa temannya?"
"Saya tidak melihatnya dengan jelas karna sibuk melarikan diri, maaf" Jelasnya lagi.
"Apakah anak itu melihat wajahmu?''
"Tidak tuan" Jawabnya lagi.
"Terus pantau Nean, untuk saat ini kita jangan mengambil tindakan dulu" Perintah Deus.
"Aku punya rencana yang bagus, jadi bersiaplah" Lanjutnya lagi dengan tersenyum smirk.
...----------------...
"K-kau?" Lirih Nean sambil menatap Glorva yang tengah mengobatinya.
Glorva mengabaikannya sejenak, sampai dia selesai mengobati luka di lengan Nean.
Glorva tak berani menatap Nean, "I-ini, sihir ini bukan s-seperti yang-"
"Yah seharusnya aku tidak perlu kaget lagi"Ujar Nean yang memotong ucapan Glorva.
Glorva mengernyitkan dahinya heran, "Jadi kau sudah tau? Kau sadar dengan sihir caha-"
"Tentu saja, sihir bumi kelas atas yang bisa digunakan untuk penyembuhan, tapi keefektifannya tidak sehebat sihir cahaya" Sahut Nean yang lagi lagi memotong ucapan Glorva.
Glorva melongo kebingungan, "Ha?" Bingun Glorva.
"Aku salah? Bukankah kau tadi menggunakan sihir penyembuhan bumi tingkat atas? Aku tau karna saat seleksi kau menggunakan sihir bumi, tapi tidak kusangka kau juga menguasai penyembuhannya" Jelas Nean lagi, ia ikut kebingungan dengan respon yang diberikan Glorva.
"Apa? Sihir penyembuhan bumi tingkat atas? Aku saja baru tau itu" Batin Glorva, ia tetap melongo dengan wajah bodohnya.
Melihat Glorva yang terdiam, Nean mulai memunculkan berbagai prasangka,
__ADS_1
"Kalau begitu, yang tadi itu sihir cahaya? Kau-"
"Wahahaha mana mungkin itu sihir cahaya, kau benar haha itu sihir penyembuhan bumi tingkat atas, wah tak kusangka kau sepintar ini" Potong Glorva sambil menepuk nepuk bahu Nean, ia tertawa sumbang untuk menutupi kegugupannya.
"Itu pengetahuan dasar, jika hal seperti itu saja tidak tahu maka orang itu sangat bodoh" Sahut Nean yang kembali ketus, ia kemudian bangkit dari duduknya.
Glorva menertawakan dirinya sendiri dengan miris, "Ha ha syukurlah aku bodoh" Batinnya, "Yah setidaknya identitas ku tidak akan ketahuan"
"Lagi pula pengguna sihir cahaya mungkin sudah tidak ada lagi, dan orang sepertimu, haha hampir saja aku mengira orang seperti mu adalah pengguna cahaya" Ujar Nean sambil menatap Glorva dengan tatapan datar.
Glorva menganga tak percaya, "Wah dia sangat meremehkanku"Batinnya, namun ia langsung tersenyum tipis, "Yah terserah dia berkata apa, setidaknya aku tidak ketahuan" sambungnya, Glorva kini ikut bangkit dari duduknya dan berdiri.
"Benar, kau benar, mustahil orang sepertiku bisa menggunakan sihir langka itu" Kekeh Glorva, "Ayo kembali, ini sudah larut" Lanjutnya lagi, lalu melangkah mendahului Nean untuk kembali ke Akademi.
Nean masih terdiam di posisinya, "Kenapa dia terlihat bangga? Kupikir dia akan marah, dia bodoh beneran" Batin Nean, kemudian ia mengekori Glorva dari belakang.
Mereka kedua kini berjalan melewati hutan untuk kembali, selain itu mereka juga harus memanjat tembok besar yang membatasi Akademi.
"Kau bisa memanjatnya?" Tanya Nean yang sudah berada diatas tembok, ia menatap Glorva yang masih berada dibawah.
"Aku tidak mungkin bisa berada di danau tadi jika aku tidak bisa memanjat ini" Kekehnya.
Nean hanya membuang muka, lalu ia melompat turun dan pergi meninggalkan Glorva.
"Huff dia itu" Gerutu Glorva, ia kemudian ikut melompat dan mengejar Nean.
"Terimakasih" Ujar Glorva tersenyum, ia nampak berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah Nean yang lebar.
Nean melirik, "Untuk?" Tanyanya.
"Karna sudah khawatir, kau sampai menungguku memanjat dan bertanya apakah aku bisa memanjatnya atau tidak, aku senang ternyata kau punya sisi seperti itu" Jelas Glorva yang masih memasang senyum lebarnya.
Nean nampak tertawa remeh, "Kau senang karna hal itu? Aku hanya ragu orang sependek dirimu bisa memanjat tembok setinggi itu" Ejek Nean yang membuat Glorva menghentikan langkahnya, sedangkan Nean tetap berjalan tanpa menghiraukan Glorva.
Glorva menatap kesal punggung Nean yang makin jauh di depannya, "Dasar bocah badebahh, aku tarik lagi ucapan terimakasihku" Teriak Glorva, ia kemudian berjalan dengan menghentak hentakan kakinya.
Nean yang mendengar teriakan Glorva hanya terkekeh sambil terus berjalan menuju asramanya, tanpa sadar ia tersenyum puas karna bisa mengerjai Glorva.
__ADS_1
Disisi lain Glorva yang sudah sampai di kamar asramanya langsung merebahkan tubuhnya dikasur, ia memukul mukul bantalnya karna masih merasa kesal dan malu sekaligus.
"Huwah aku pasti terlihat seperti orang bodoh karna berterimakasih tadi" Gerutu Glorva, ia terus berguling guling dikasurnya.
"Tidak tidak, hal itu bukan yang penting saat ini" Gumamanya, ia menatap langit langit kamarnya dan kembali mengingat kejadian di danau tadi.
"Pria tadi, itu pasti suruhan Deus, tapi tidak kusangka dia bertindak secepat ini, atau mungkin adegan tadi memang tidak dimasukan kedalam novelnya?" Batin Glorva menimang nimang.
"Kalau saja tadi aku tidak mengikuti Nean, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya"
"Meskipun dia sangat mengesalkan, tapi entah kenapa aku senang melihatnya tersenyum tadi, yaah meskipun itu hanya senyuman remeh yang mengejekku ck, tapi itu lebih baik daripada ia menderita sendirian"
Glorva terus bergumam sendirian dikamarnya, kadang ia tiba tiba menjadi kesal, lalu kemudian ia bersimpati, dan kemudian ia kembali cekikikan, dan itu semua karna ia membayangkan Nean.
Asik dengan pikirannya sendiri, Glorva perlahan lahan memejam matanya yang sudah mengantuk, ia bergumam kecil sebelum kesadarannya hilang.
"Aku akan melindungi bocah mengesalkan itu, dia tidak punya siapa siapa, aku yang akan melindunginya" Gigaunya.
...----------------...
Hari kedua diakademi kini akhirnya tiba, pukul 06.00, disaat semua siswa sudah bersiap untuk memulai harinya, Glorva masih menikmati mimpi indahnya, ia sama sekali belum berkutik dari tidur nyenyaknya.
Hingga pukul 07.00 tiba, dimana seluruh siswa bersiap untuk makan pagi di ruang makan akademi, Glorva yang masih belum muncul membuat teman temannya sibuk mencarinya.
"Kalian bertiga masih belum menemukannya?" Tanya Wivon pada Jihan, Draken, dan Lexi.
Mereka bertiga menggeleng tanda tak tahu,
"Sepertinya dia masih dikamarnya, kalian bertiga bisa sarapan pagi duluan, aku akan mencarinya" Ujar Jihan, lalu ia beranjak menuju asrama.
"Ah aku tidak tau nomor kamarnya, bagaimana ini" Batin Jihan, ia nampak mondar mandir di lobby asrama, namun saat ia mendongak, ia sudah mendapati Glorva yang turun dari tangga lantai dua.
Jihan berlari menghampiri Glorva, "Huh bisa bisannya kau baru siap jam segini? Kau tahu waktu sarapan pagi akan segera habis, kau membuatku kelaparan karena menunggu mu" Dumel Jihan.
Glorva menghela nafasnya, ia nampak tak semangat, "Huf aku tidak menyuruhmu untuk menungguku, kau bisa makan duluan dengan yang lain" Sahut Glorva lemas, lalu berjalan mendahului Jihan.
Jihan melongo, "Dia kenapa? Apakah dia habis ketindihan?" Batin Jihan bingung.
__ADS_1