
Semua siswa kelas C kini sudah berada di lapangan memanah, setiap kelompok nampak berbaris tertib di tiap garis lapangan.
"Baiklah, kalian semua pasti sudah tau bagaimana teknik dasar dalam memanah, tapi saya akan tetap menjelaskannya sebagai bentuk formalitas'' Ujar Vienz, lalu ia beranjak mengambil busur dan anak panah.
Vienz lalu memgambil posisinya dilapangan, "Sejajarkan kaki kalian seperti ini, ingat kedua ujung kaki kalian harus sejajar dengan papam target didepan, lalu posisikan dada kalian membentuk 90 derajat" Jelasnya sambil mempraktekkan, semua siswa memperhatikannya dengan seksma.
''Lalu selanjutnya adalah menempatkan ekor anak panah pada busur panah, lakukan seperti ini" Jelasnya lagi, Vienz terus memberikan teori sekaligus mempraktekannya di hadapan semua siswa, dalam waktu 10 menit, ia berhasil menjelaskan keseluruhan dasar memanah.
"Sekarang waktunya tiap kelompok mempraktekannya, karna papan bidik hanya ada delapan, jadi kelompok C1-C8 yang praktek duluan" Ujar Vienz setelah selesai menjelaskan teori memanah, "Baik, kelompok C1-C8 silahkan berbaris masing masing disetiap garis lapangan" Perintahnya lagi.
Semua kelompok yang dipanggil kini mulai berbaris sesuai kelompok, tiap kelompok harus berbaris sejajar dengan papan target di depan mereka. Sedangkan sisa kelompok diperintahkan untuk duduk menonton menunggu giliran.
"Baiklah, harap ketua kelompok berbaris paling depan" Perintah Vienz lagi, Nean yang merupakan ketua dari kelompoknya, C7 pun langsung mengambil posisi paling depan, saat semuanya sudah sesuai, Vienz mulai memberi aba aba.
"Semuanya, bidik target kalian sekarang, dalam hitungan ketiga kalian harus melepaskan anak panah kalian ke target" Ujar Vienz, "1,2,3"
Settt
Suara laju anak panah yang begitu kencang terdengar, semua nya berhasil membidik dengan baik.
Vienz mendekati papan bidikan, meskipun semua anak panah berhasil membidik target, tapi ada satu anak panah yang tertancap dengan rapi tepat di pusat papan target tersebut.
"Bagus, ketua dari kelompok C7 berhasil membidik dengan sempurna di percobaan pertamanya, siapa namamu?" Tanya Vienz yang kini menghampiri barisan kelompok Nean.
"Nean George" Jawab Nean percaya diri, semua siswa kini memberikannya tepuk tangan.
"Gilaaaa gilaaaa, dia juga memanah hatiku dengan tepat, dia hebat sekalii!" Seru Glorva dalam hati, dia yang bertepuk tangan paling semangat diantara semuanya.
"Bagus Nean, aku akan memantau perkembanganmu selanjutnya" Puji Vienz sambil menepuk pundak Nean.
"Baiklah, sekarang giliran barisan kedua tiap kelompok, silahkan ambil posisi" Perintah Vienz.
Siswa yang berada di barisan kedua kini mulai mengambil posisi, mereka kemudian mengambil busur yang sudah dipakai oleh ketua mereka tadi.
Eirla yang kebetulan berbaris di belakang Nean, yaitu barisan kedua mulai mengambil posisi, ia nampak gugup memegang busurnya.
"Angkat busur kalian dan mulailah membidik, lalu dalam hitungan ketiga lepaskan bidikan kalian" Seru Vienz, "1, 2, 3"
__ADS_1
Seetttt
Anak panah berhasil menancap di papan target, namun ada satu anak panah yang terjatuh sebelum sampai ke target, semua perhatian siswa kini terfokuskan pada pemilik anak panah yang gagal tersebut.
Eirla kini menatap kosong kedepan, badannya gemetaran dan air matanya sudah menetes membasahi pipinya.
"Hei hei aku tahu itu meleset tapi kau tidak perlu sampai menangis" Panik Vienz yang langsung menghampiri Eirla.
"Maaf" Isak Eirla, ia mengusap air matanya yang terus bercucuran, tatapan siswa yang tadinya meremehkan, kini mulai berubah menjadi tatapan kasihan.
"Yah adegan ini memang terjadi di dalam Novel," Gumam Glorva santai, ia hanya menonton kejadian tersebut sambil menumpu dagu di tangannya.
"Nean, tolong antar anggotamu ini ke sana, biarkan dia tenang dulu" Perintah Vienz pada Nean, Nean mengangguk, kemudian berjalan mendekati Eirla dan memapahnya keluar dari barisan, mereka kini menuju ke bangku menonton tempat kelompok lain menunggu giliran mereka.
Saat sampai, Nean hendak mendudukan Eirla di salah satu bangku paling depan, tepatnya di depan Glorva, tapi yang dilakukan Eirla adalah memeluk Nean dengan erat sambil menangis sesegukan, hal itu membuat siswa yang berada disana berbisik bisik.
"Wah mereka memamerkan kemesraan di depanku" Batin Glorva kesal, ia kini menolehkan wajahnya ke samping, ia ingin melihat reaksi Wivon yang duduk disebelahnya.
"Apa apaan itu, padahal calon pasangannya sedang memeluk pria lain tapi dia malah fokus menonton latihan memanah orang lain" Batin Glorva heran, ia menatap Wivon tanpa bisa berkata kata.
Sadar akan tatapan Glorva, Wivon kemudian ikut melirik, "Kenapa? Ada yang salah dengan wajahku?" Gugupnya, lagi lagi ia merasa salah tingkah.
"Padahal aku sudah tau ini akan terjadi, tapi kenapa aku tidak suka ya melihat mereka? Padahal saat membaca novelnya aku berharap Nean berpasangan dengan Eirla" Batin Glorva dengan wajah murung, ia terus memandangi dua insan didepannya.
"Lain kali kau tidak boleh begitu" Ujar Wivon yang tiba tiba.
"Haa?" Bingung Glorva.
Wivon menghela nafasnya, "Kau tidak boleh lagi menatapku tanpa alasan" Ujarnya lagi.
Glorva memutar kedua bola matanya sambil mendecak, "Tidak akan" Balasnya ketus.
Mood Glorva kini menjadi turun, ia terus menonton latihan memanah teman temannya tanpa reaksi, dan tanpa sadar kini gilirannya dan kelompoknya tiba.
Saat Glorva berjalan menuju lapangan, matanya tak sengaja bertatapan dengan Nean, namun Glorva langsung membuang muka dengan cepat.
"Huwah aku tidak bersemangat" Keluh Glorva yang kini berbaris di belakang Wivon.
__ADS_1
Jihan yang berbaris dibelakang Glorva menepuk pelan kedua pipi Glorva dengan tangannya, "Seriuslah, jangan menjatuhkan harga diri kelompok kita" Ujar Jihan.
"Khawatirkan saja dirimu sendiri, aku cukup hebat dalam hal ini" Balas Glorva dengan nada bangga.
"Ya ya ya kutau kau hebat, aku menyesal sudah mengkhawatirkanmu, semoga saja diriku ini tidak membuat kalian malu nanti" Sahut Jihan yang membuat Glorva merasa bersalah.
"Apa apaan dia, padahal niatku hanya bercanda" Batin Glorva, "Aku menarik kembali kata kataku" Balas Glorva dengan nada rendah.
"Apa? Jadi kau merasa bersalah padaku? Haha tidak perlu khawatir, aku memang tidak terlalu ahli dalam memanah, ini tidak ada kaitannya dengan ucapanmu tadi" Kekeh Jihan yang tak ingin membuat Glorva merasa bersalah.
"Kalau begitu awas saja kalau kau sampai kalah dariku, kau harus mentraktirku ramen" Canda Glorva sambil pura pura mengancam.
"Apa apaan itu, tapi baiklah, tantangan diterima" Kekeh Jihan yang membuat Glorva tertawa kecil.
Seperti yang dilakukan kelompok pertama tadi, setiap ketua masing masing kelompok akan berbaris paling depan untuk praktek pertama kali, Wivon yang merupakan ketua dari kelompok C13 pun sudah siap dengan posisinya, begitu pula dengan semua ketua kelompok lain.
"Mulai membidik, dalam hitungan ketiga lepaskan" Perintah Vienz, "1, 2, 3"
Setttt
Semua anak panah berhasil menancap di papan target, meskipun tak ada yang menancap sesempurna Nean tadi. Kini giliran Glorva, siswa dengan barisan kedua yang mengambil posisi.
Glorva melirik ke tempat Nean dan Eirla berada, mereka berdua juga nampak menatap kearahnya, sadar bahwa dirinya juga tengah diperhatikan, Glorva langsung membuang muka dan menggenggam busurnya dengan erat.
"Mulai membidik, hitungan ketiga lepaskan bidikan kalian" Perintah Vienz.
Glorva kini mulai membidik target didepannya dengan fokus, tapi pikirannya terus mengingat kejadian Eirla yang memeluk Nean tadi, "Sialan diriku, kau harus fokus, jangan sampai memalukan diri sendiri" Batin Glorva.
"Satu", Teriak Vienz, Glorva masih terus memfokuskan bidikannya.
"Dua",
"Tiga"
Seettttt!
Semua anak panah berhasil menancap di papan target, Glorva menghela nafasnha lega,
__ADS_1
"Yes berhasil" Bangganya.