
3 Bulan sudah berlalu, Glorva menjalani masa masanya diakademi sambil sesekali mendekati Nean disaat Nean sedang menyendiri meskipun sikap Nean padanya tak berubah, justru dari sudut pandang Glorva, Nean malah semakin dekat dengan Eirla sesuai alur pada novel.
Selama 3 bulan para siswa sudah menjalani pembelajaran dasar dari akademi, kini mereka mulai menerima misi yang sebenarnya. Kelompok Glorva sudah berhasil menghilangkan Redpin mereka karna mereka sudah berhasil menuntaskan beberapa misi dan menebusnya dengan Title kelompok mereka, sehingga title kelompok mereka masih di posisi Newbies.
Saat ini semua kelompok diberikan misi bertahan hidup di dunia luar selama sebulan, mereka akan pergi ke gunung Wuling yang letaknya sangat jauh dari akademi dan membutuhkan waktu sekitar 28 harian untuk sampai dengan berjalan kaki, dan malam ini, semua siswa sedang sibuk mempersiapkan dirinya untuk memulai misi tersebut besok.
"Huwah akhirnya selesai, aku akan pergi ke kamar Jihan untuk mengeceknya" Ujar Glorva saat ia sudah selesai dengan persiapannya, kini ia pergi menuju kamar Jihan yang terletak tak jauh dari kamarnya.
"Sudah kuduga kau belum siap, bukankah pak Gyan melarang kita untuk membawa lebih dari satu ransel? Dan apa ini, kau bahkan memenuhi ranselmu dengan banyak cemilan, hey kita tidak sedang piknik!" Omel Glorva yang masuk ke kamar JIhan tanpa mengetuk pintu.
Jihan yang tengah memasukan selimut ke dalam tas yang satunya mendongak kearah Glorva yang kini berkacak pinggang, "Benarkah? Kita hanya boleh membawa satu ransel?" Tanyanya.
Glorva menghela nafasnya, "Benar, jadi bawa barang yang penting saja karna ini tantangan untuk bertahan hidup di dunia luar" Suruh Glorva.
"Hmmm, kalau begitu kita hanya perlu membawa tas yang lebih besar, tunggu sepertinya aku punya" Seru Jihan, lalu mengeluarkan tas yang berukuran sangat besar, mungkin sebesar tubuh manusia.
Glorva memijat keningnya, "Aku yakin kau tak akan di izinkan ikut jika membawa tas itu, bukankah tadi sudah diingatkan hanya boleh membawa baju ganti?" Dumel Glorva lagi, ia kesal karna Jihan masih belum mengerti.
Siswa hanya boleh membawa barang seperti baju ganti dan alat tempur untuk mengikuti misi bertahan hidup ini, sisanya seperti makanan maupun obat obatan dilarang karna siswa harus memperolehnya sendiri dari alam dan ilmu meracik obat yang sudah mereka pelajari.
"Hufff aku tak bisa membayangkan hidup tanpa makanan enak ini" Keluh Jihan sambil mengekuarkan semua makanan yang ada di ranselnya, akhirnya ia menurut untuk membawa beberapa barang seperti yang disuruh oleh gurunya, Gyan.
Glorva hanya diam karna sejujurnya ia juga ingin membawa beberapa makanan saja, "Tahanlah selama sebulan'' Sahut Glorva, lalu membantu Jihan berkemas.
"Hei, bagaimana kalau kita membawa satu ini saja? Lagian kita tak akan diawasi oleh para guru saat dalam perjalanan" Tawar Jihan yang ingin membawa beberapa bungkus roti isi.
Glorva nampak ragu ragu, "Tapi tas kita akan diperiksa sebelum kita berangkat"
Jihan nampak tersenyum smirk, "Fufu tenang saja, aku ada rencana" Ujarnya sambil tertawa jahat.
...----------------...
__ADS_1
Saat pukul 05.00 pagi, semua siswa sudah berkumpul di aula akademi dengan menggendong tas ranselnya masing masing, mereka saat ini hanya menunggu pengarahan dari gurunya.
"Semuanya, terimakasih sudah berkumpul tepat waktu" Ujar Gyan yang menjadi penanggung jawab dalam misi kali ini.
Semua siswa yang tadinya asik mengobrol kini mulai tenang dan memperhatikan Gyan yang berbicara.
"Hari ini kalian akan melakukan misi bertahan hidup bersama kelompok kalian masing masing, jadi ingatlah agar tidak terpisah oleh kelomplok kalian" Jelasnya.
"Semua kelompok sudah diberikan satu peta untuk menuju ke gunung Wuling, jadi pastikan kalian mengikuti jalur yang ada di peta tersebut karna itulah satu satunya rute teraman untuk sampai ke gunung Wuling, ingat jangan sampai tersesat" Lanjutnya lagi.
Gyan menarik nafasnya sebelum ia membuka suara lagi, "Kalian diberi waktu satu bulan untuk tiba di gunung, disana kalian akan menemukan sebuah penginapan besar milik Akademi Chandel, bagi kelompok yang gagal sampai dalam waktu sebulan, makan kelompok tersebut dinyatakan gagal"
"Meskipun kalian mengikuti rute yang kami berikan di dalam peta, kami juga sudah menyediakan berbagai jebakan untuk menguji kalian, selain itu beberapa dari penyihir terbaik kami juga akan mengawasi rute sekitar jadi jangan berharap kalian bisa melakukan kecurangan"
"Baiklah kalau begitu, kalian bisa melakukan pemeriksaan barang bawaan sebelum keluar dari akademi, ingatlah untuk bekerja sama dengan kelompok kalian karna jika kalian berhasil, title kalian akan naik satu tingkat dari yang sebelumnya, selamat berjuang" Ujar Gyan yang menutup arahannya, semua siswa kini berbaris dengan rapi untuk melakukan pemeriksaan.
"Hei aku jadi gugup" Bisik Glorva pada Jihan, sebentar lagi ransel mereka akan diperiksa.
"Kalian merencanakan sesuatu?" Tanya Wivon yang curiga dengan tingkah keduanya.
Jihan dan Glorva menyengir bersamaan, "Tentu saja tidak" Jawab mereka serempak.
Kini saatnya ransel mereka diperiksa, tak ada benda yang ditahan karna mereka sudah membawa semua hal yang di suruh, yaitu baju ganti, handuk, dan alat tempur.
Kelompok Glorva lalu keluar dari akademi setelah dipasangi gelang penanda, gelang itu akan dilepas saat mereka sudah berhasil tiba di gunung Wuling dalam jangka waktu yang diberikan.
Setelah melakukan pemeriksaan dan pemasangan gelang penanda, semua kelompok akhirnya mulai melakukan perjalanan mereka bersama kelompoknya masing masing.
Disisi lain Glorva dan kelompoknya sudah berjalan cukup jauh dari akademi, Glorva dan Jihan terus bertatapan sambil menyengir, hal itu membuat yang lainnya merasa curiga karna sangat jarang mereka berdua bisa akur.
Saat mereka tiba di pertigaan, Glorva dan Jihan malah belok ke kiri, dimana mereka seharusnya belok ke kanan untuk masuk ke dalam hutan, itupun sesuai dengan peta yang dipegang oleh Wivon.
__ADS_1
"Kalian berdua mau kemana?" Teriak Wivon pada Glorva dan Jihan.
Draken dan Lexi juga langsung berlari menyusul Glorva dan Jihan, itu karna keduanya sudah curiga dengan keakuran yang di tunjukan oleh sosok Jihan dan Glorva, itu sebabnya mereka menyusul karna takut terjadi apa apa.
Melihat semua temannya pergi ke jalur yang menyimpang, mau tak mau Wivon harus ikut dan menyeret mereka kembali.
Glorva dan Jihan kini tiba di depan rumah tua yang sudah tak berpenghuni, mereka kemudian menggali tanah dihalamannya untuk mencari sesuatu yang mereka kubur kemarin malam.
"Kalian berdua sedang apa?" Tanya Draken dengan nafas yang ngos ngosan karna habis berlari.
"Kemari dan bantulah" Perintah Jihan yang masih berusaha menggali tanah dengan tangannya.
Draken dan Lexi hanya menurut, mereka kemudian mendekati Glorva dan Jihan, lalu membantu mereka menggali.
"Kenapa tidak ada ya, bukanya kita menguburnya disini?" Ujar Glorva pada Jihan, mereka tak menemukan hal yang mereka cari setelah menggali tanah cukup dalam.
"Hmmm, sepertinya kita salah" Sahut Jihan, lalu ia beranjak dan pindah tempat, "Disini, aku rasa kita menguburnya disini" Lanjutnya sambil menunjuk gundukan tanah dibawahnya.
Glorva kemudian menghampiri Jihan, begitu pula dengan Lexi dan Draken.
"Hei? Kalian habis membunuh? Jangan bercanda" Panik Lexi yang kini dipenuhi oleh pikiran negatif.
"Apa yang kalian kubur? Jangan membuatku takut" Sambung Draken yang terpancing dengan perkataan Lexi.
Glorva dan Jihan kini saling menatap, tak lama kemudian Wivon muncul dengan wajah memerah karna habis berlari.
"Kalian sedang apa? Jangan membuang waktu, kita sudah salah jalan" Ujar Wivon dengan nafas yang terputus putus, ia kemudian mendekati keempatnya.
Glorva dan Jihan mengabaikan Wivon, mereka sibuk menggali hingga sesuatu berwarna hitam muncul dipermukaan.
"Akhirnya ketemu!" Ujar Glorva dan Jihan Serempak.
__ADS_1