
"Bisa bisanya kalian berdua malah melakukan kecurangan seperti itu, jika ini ketahuan kita akan langsung gagal" Dumel Wivon pada Glorva dan Jihan.
Setelah Glorva dan Jihan mengambil semua cemilan yang mereka kubur kemarin malam, mereka melanjutkan perjalanan mereka dan mulai memasuki hutan sesuai rute pada peta, hanya saja Wivon selalu mengomel karna kecurangan yang dilakukan oleh Jihan dan Glorva.
"Apakah kalian akan bertanggung jawab jika sampai ketahuan nanti? Bagaima-" Ocehan Wivon dipotong oleh Glorva.
"Kau sangat berisik daritadi, asal kau tau? Kecerdasan otak juga diperlukan untuk bertahan hidup" Kesal Glorva yang sudah muak mendengar omelan dari Wivon.
"Benar, ini bukanlah kecurangan" Sambung Jihan yang memihak Glorva, Draken dan Lexi hanya bisa diam karna tak tahu harus memihak siapa.
"Bukan kecurangan? Kalian tau kalau kita dilarang membawa makanan dari akademi, tapi kalian malah tetap membawanya diam diam" Bantah Wivon yang masih tidak terima dengan alasan keduanya.
"Kau tidak mengerti ya" Kesal Glorva, "Anggap saja kita sedang melakukan strategi penyeludupan, buktinya kita berhasil lolos membawa makanan ini dari pemeriksaan akademi yang ketat, strategi penyeludupan sangat penting digunakaan saat perang" Lanjut Glorva yang hanya mengasal.
"Benar, kelicikan dibutuhkan saat perang" Sambung Jihan lagi.
"Tapi ini belum perang"Gumam Draken yang berujung mendapatkan delikan tajam dari Glorva dan Jihan.
"Huh kalian sangat keras kepala, aku tau ide kalian berdua sangat cerdas sehingga berhasil menyeludupkan makanan yang dilarang, tapi sadarkah kalian kalau kalian menggunakannya diwaktu yang salah? Apa gunanya sekarang kita ikut pelatihan bertahan hidup jika kita tidak bisa memperoleh makanan dari alam?" Jelas Wivon yang masih sabar menghadapi dua temannya.
"Hei dia benar, ini salahmu, aku sudah memperingatimu sebelumnya" Bisik Glorva pada Jihan, ia mulai tersadarkan oleh ucapan Wivon.
"Tapi pada akhirnya kau juga setuju, itu berarti yang salah kita berdua" Balas Jihan berbisik, ia tak terima jika hanya dirinya yang disalahkan.
"Huf maaf kita memang salah, lalu kita harus bagaimana, semuanya sudah terjadi" Sesal Glorva, ia merendahkan suaranya tanda merasa bersalah, sedangkan Jihan hanya menunduk.
"Setidaknya kalian sudah sadar dengan perbuatan kalian, makanan itu kalian simpan saja sampai kita benar benar membutuhkannya, lagi pula ini semua sudah terjadi" Sahut Wivon tersenyum.
"Kita akan tetap mencari makanan di alam, kalian boleh memakan makanan itu sedikit" Lanjutnya lagi yang membuat Glorva dan Jihan berbinar.
"Benarkah? kalau begitu aku akan membaginya padamu" Senang Glorva, ia menunjukan senyum bahagianya pada Wivon, sedangkan Wivon reflek memalingkan wajahnya karna tiba tiba merasa malu.
__ADS_1
Saat mereka berlima asik menyusuri hutan sambil bercanda gurau, tiba tiba suara teriakan wanita mengalihkan perhatian mereka.
Mereka berlima langsung berlari ke arah suara tersebut, saat tiba, mereka mendapati kelompok Nean yang tengah di serang oleh kawanan serigala.
Nean dan ketiga temannya sedang berusaha melawan kawanan serigala yang mengepung mereka, sedangkan Eirla bersembunyi dibelakang pohon sambil meringkuk ketakutan.
Melihat kedatangan Wivon, Eirla langsung berlari kearahnya dan memeluknya, disisi lain Glorva langsung berlari untuk membantu Nean yang sedang kewalahan.
''Bodoh, menjauhlah!" Teriak Nean pada Glorva, namun Glorva hanya mengabaikannya .
Wivon yang melihat hal tersebut hendak membantu, namun ia harus menenangkan Eirla yang sedang memeluknya ketakutan,
''Kalian bertiga, tolong bantu mereka, aku mohon jangan sampai terluka" Perintahnya pada Jihan, Draken, dan Lexi, mereka bertiga pun langsung bergerak membantu.
Kawanan serigala tersebut terlihat mengamuk, tapi untungnya mereka berhasil mengalahkan semuanya, ada sekitar 18 tubuh serigala yang sudah tergeletak tak bernyawa, sedangkan sisanya berhasil melarikan diri dan berpencar.
Nean langsung berlari ke arah Glorva, "Bodoh, kau terluka?" Tanyanya dengan wajah kesal, namun sangat terlihat kekhawatiran di raut wajahnya.
Setelah memastikan tubuh Glorva tak ada yang terluka, Nean pergi begitu saja tanpa bicara lagi, ia langsung menghampiri Eirla yang sedang ditenangkan oleh Wivon.
"Cih, lagi lagi aku terlalu berharap" Decak Glorva saat melihat Eirla memeluk Nean.
"Kenapa? Kau suka pada bocah itu kan?" Ujar Jihan yang mengagetkan Glorva.
"Jangan asal bicara, tak ada yang aku sukai" Jawab Glorva ketus, lalu pergi menghampiri Wivon.
"Glorva, kau tak apa? Maaf aku tak bisa membantu" Sesal Wivon, ia kini sibuk memeriksa tubuh Glorva untuk memastikan bahwa tidak ada luka ditubuhnya.
"Ck, kau terlalu berlebihan, ayo lanjutkan perjalanan kita" Ketus Glorva, lalu ia melirik Nean yang juga sedang menatapnya, pandangan Glorva kemudian beralih ke arah Eirla yang masih memeluk Nean sambil terisak.
"Ayo pergi" Lanjutnya lagi, ia lalu menarik lengan Wivon untuk segera pergi dari sana, namun teriakan Eirla menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Glorva tunggu!" Teriak Eirla, Glorva hanya menoleh.
Eirla berjalan mendekati Glorva, lalu memeluknya, "Terimakasih hiks, aku sungguh berterima kasih karna sudah membantu kami" Isaknya, nadanya menunjukan ketulusan bahwa ia benar benar sangat berterimakasih.
"Tak apa, ini hanya kebetulan" Sahut Glorva, ia merasa tak tega melihat seseorang yang terisak dihadapannya.
"A-aku juga mau meminta maaf, 3 bulan yang lalu saat makan siang, aku sungguh menyesal karna belum bisa meminta maaf dengan benar" Lanjutnya lagi sambil sesegukan, matanya sudah memerah karna terus menangis.
Glorva tertawa remeh, ''Bahkan aku sudah melupakan itu, sudahlah berhentilah menangis, dasar cengeng" Ujar Glorva sambil menjitak pelan kening Eirla, meskipun ia sempat kesal dengan Eirla, tapi dia yang paling tahu bagaimana karakter Eirla yang sebenarnya.
"Kalian berdua! Cepatlah" Teriak Jihan dari kejauhan, Ia sedari tadi sudah menunggu bersama Draken Lexi.
"Sepertinya leher Nean terluka karna cakaran, kalau kau memang merasa bersalah, makan tolong aku untuk menyembuhkannya" Bisik Glorva pada Eirla. Eirla yang kebingungan hanya mengangguk, meskipun ia tak disuruh, ia pasti akan melakukannya.
"Nean, tolong jaga Eirla, kumohon" Pinta Wivon pada Nean yang sedari tadi hanya mematung.
"Aku tahu'' Balasnya ketus, lalu menarik Eirla agar berada disebelahnya.
Glorva yang melihat hal tersebut berusaha mengabaikan hatinya yang terbakar, ia kemudian pergi begitu saja dan menghampiri Jihan yang sudah menunggunya.
"Terimakasih Glorva, berhati hatilah!" Teriak Eirla.
Glorva kini melanjutkan perjalanan bersama kelompoknya, sedangkan kelompok Nean harus beristirahat sejenak untuk menyembuhkan luka ketiga temannya saat menyerang kawanan serigala tadi.
Semenjak kejadian tadi, pikiran Glorva menjadi tidak fokus, itu sebabnya ia hanya melamun di saat keempat temannya tengah berdiskusi untuk mencari tempat peristirahatan mereka saat malam nanti.
"Bagaimana? Kau setuju?" Tanya Wivon yang membuyarkan lamunan Glorva.
Glorva nampak gelagapan, "Apa? Apanya yang setuju?" Tanyanya balik, itu karna ia tak mendengarkan apa apa sejak tadi.
"Ada apa denganmu? Kau ada terluka? Kita bisa berhenti dan beristirahat sekarang" Tawarnya.
__ADS_1
"Benar, hatinya yang sedang terluka bwahahahaha" Ejek Jihan yang tertawa dengan puas.