
Pagi pagi sekali Glorva sudah bangun untuk berkemas, ia juga sudah memasakan makanan lezat untuk dirinya dan Jidante.
"Kakek,sampai kapan kau akan tidur, aku sudah memasakan banyak makanan" Teriak Glorva yang tengah menghidangkan masakannya di meja makan.
Lama Glorva memanggil, namun Jidante tak kunjung keluar dari kamarnya, akhirnya Glorva memutuskan untuk menghampiri kamar Jidante.
Glorva membuka pintu, ia melihat keseliling kamar namun tak menemukan sosok yang dicarinya, "Huh, kemana perginya kakek, pasti dia sudah pergi sebelum aku bangun" Decihnya, lalu menutup pintunya kembali.
Saat kembali ke meja makan, ia sudah mendapati Jidante duduk dengan cengirannya, "Wah wah, apakah kau mencariku?" Goda Jidante, lalu mengambil piring untuk dirinya.
Glorva memutar kedua bola matanya malas, ia kemudian ikut duduk dan mengambil makanannya, "Aku kira aku tidak akan bisa berpamitan dengan kakek" Ujar Glorva, wajahnya menunjukkan rasa kesal sekaligus wajah sendunya.
Jidante menatapnya, "Hei, bukanya kau hanya pergi selama 3 tahun? Tidak usah bertindak seakan akan kita tak bisa bertemu lagi" Sahut Jidante yang ingin mencairkan suasana.
Glorva tetap menunduk sambil memakan makanannya, "Mevin" Lirih Glorva, ''Dulu Mevin juga tidak ingin menemuiku saat aku pergi, aku membiarkannya karna aku pikir kita bisa bertemu lagi, tapi-" Glorva tak sanggup melanjutkan ucapannya, ia menahan air matanya yang akan turun.
Jidante menghembuskan nafasnya pelan, "Tenang saja, aku tidak akan membiarkan hal itu terulang" Ujarnya, Glorva yang menunduk kini mulai menatapnya.
Jidante tersenyum, "Aku sengaja pergi pagi pagi buta agar aku bisa kembali lebih awal dan mengantar kepergian cucuku" Lanjutnya sambil menggoda.
Glorva mendecih, "Apa apaan, tumben sekali kau memanggilku seperti itu" Sahutnya, meskipun begitu ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia di wajahnya.
"Hahaha kenapa? Bukankah kau juga memanggilku kakek? Dulu Davia juga kadang memanggilku ayah, jadi wajar saja aku menyebutmu begitu" Kekeh Jidante yang membuat Glorva ikut terkekeh.
"Huh terserah saja, tapi apa yang kakek lakukan saat pergi tadi?" Tanya Glorva penasaran, pasalnya Jidante akhir akhir ini selalu pergi sebelum ia bangun dan datang saat sore, itu sebabnya ia merasa sedih saat tak menemukan Jidante tadi.
"Hummm sesuatu yang penting, aku tidak ingin memberi tahumu" Sahutnya, lalu berdiri untuk mengambil ransel yang akan dibawa oleh Glorva.
__ADS_1
Jidante meletakan ransel tersebut diatas meja, "Cepatlah bergegas, kau tau jarak dari sini ke akademi sangat jauh" Perintahnya, kemudian pergi mengambil sesuatu dikamarnya.
Glorva yang sudah selesai dengan makanannya pun bangun dari duduknya, ia meneguk segelas air dan mendecih setelahnya, "Huh kakek terlihat seperti mengusirku" Ujarnya yang tak sengaja di dengar oleh Jidante.
"Kau ini, selalu saja berfikiran buruk kepadaku" Sahut Jidante, lalu memberikan Glorva sebuah kotak.
Glorva nampak memandangi kotak itu sejenak, "Apa ini?" Tanyanya
"Kau akan tau jika kau membukanya" Jawab Jidante.
Glorva langsung mengambil kotak tersebut, ia kemudian membukanya, "Gelang?" Ujarnya dengan wajah yang bingung.
"Itu bukan gelang biasa, kau harus memakainya saat tiba diakademi, jangan sekalipun pernah melepasnya sebelum kau bertemu denganku lagi" Perintah Jidante yang membuat Glorva makin penasaran.
"Hmm baiklah, lagi pula gelang ini terlihat keren, apapun itu pasti alasan mu menyuruhku menggunakan ini demi kebaikanku" Balas Glorva, ia kemudian menggunakan gelang yang diberikan oleh Jidante.
Glorva kemudian menggendong ranselnya, ia menyalin tangan Jidante untuk berpamitan, "Jaga diri kakek, terimakasih sudah banyak membantuku selama ini, kau yang terbaik" Ujar Glorva yang menutupi wajah sedihnya dengan senyuman.
Jidante tersenyum lembut, "Kau yang harusnya menjaga diri, aku sudah terbiasa menjalani hidup yang kejam ini" Kekehnya,
"Kau jangan lupa kalau aku akan selalu mendukungmu, aku akan selalu menanti kepulangan mu kau mengerti?" Sambungnya lagi.
Glorva tersenyum sendu, "Entahlah kek, aku tidak yakin bisa pulang menemuimu" Batinnya.
"Kalau begitu tunggulah aku, tapi aku harus menuntasi tujuan ku terlebih dahulu" Jawab Glorva dengan cengirannya, ia tak ingin berpamitan dengan menunjukan kesedihannya.
"Itulah maksudku, pulanglah dengan selamat saat tujuanmu sudah tercapai" Jelas Jidante lagi, "Cepatlah pergi, ini sudah siang" Sambungnya lagi.
__ADS_1
Glorva hanya tersenyum tipis, kemudian memeluk Jidante, "Terimakasih kakek" Lirihnya, tak lama kemudian ia melepas pelukan tersebut dan beranjak pergi, "Sampai jumpa kakek, kalau ada berita tentang murid jenius itu sudah pasti aku" Teriaknya yang terus berjalan sambil melambaikan tangannya.
Jidante tersenyum tipis, ia juga melambaikan tangannya sambil menatap Glorva yang terus menjauh dari pandangannya.
"Ckck, tak ku sangka dia pergi secepat ini" Lirih Jidante saat Glorva sudah menghilang dari pandangannya.
...----------------...
Butuh waktu 4 jam untuk bisa sampai ke akademi dengan berjalan kaki, itu sebabnya Glorva berangkat saat langit masih gelap.
Glorva tiba di depan gerbang akademi, ia menatap gerbang besar tersebut sambil mengusap keringatnya, "Huwahhh aku lelah sekalii" Lirihnya, ia melihat banyak anak seusianya yang diantar menggunakan kereta kuda, mungkin hanya dia yang berjalan kaki untuk sampai ke akademi.
"Huh berjalan kaki lebih baik karna bisa meningkatkan kekuatan otot" Ujarnya, lalu melangkahkan kakinya masuk melewati gerbang besar yang menjulang tinggi tersebut.
Glorva terus tersenyum melihat kemewahan akademi yang akan ia tinggali selama 3 tahun, "Kenapa aku baru sadar kalau Akademi Chandel semewah ini" Kagumnya dalam hati.
Tak terasa Glorva sudah sampai didepan asramanya. Asrama putri dan Asrama putra letaknya terpisah, namun jaraknya tak begitu jauh karna hanya dibatasi oleh taman akademi.
Glorva kemudian membaca nomor yang terukir di kuncinya, "Kamar 115, berarti kamarku ada dilantai dua" Batinnya, ia kemudian menaiki tangga untuk mencari kamarnya.
Setibanya didepan kamar, Glorva segera membuka pintu kamarnya dan masuk, hal pertama yang ada dipikirannya adalah betapa luasnya kamar tersebut, "Kualitas akademi ini memang tak bisa diragukan, kamar seorang siswa saja bisa semewah ini" Kagumnya lagi, ia kemudian menaruh ranselnya diatas sofa, lalu merebahkan tubuhnya di kasur karna kelelahan sehabis berjalan jauh.
Glorva menatap langit langit kamarnya, "Akhirnya aku tiba disini, tempat dimana aku akan bertemu Nean setiap hari hahahaha" Girang Glorva, ia terus cekikikan karna membayangkan wajah tampan Nean yang akan ia lihat setiap hari.
Glorva kemudian mengangkat lengan kanannya, ia kembali tersenyum memandang gelang pemberian dari Jidante, "Kakek aku sudah sampai, sekarang semuanya akan dimulai, akan kutunjukan semua usaha kerasku selama ini" Lirihnya sambil terus tersenyum.
Glorva kemudian bangkit dari rebahannya, ia harus bersiap karna ini saatnya semua siswa berkumpul di aula untuk menerima arahan. Glorva kemudian mengganti pakaiannya dan menggunakan setelan Akademi yang sudah disiapkan di dalam lemari, setelah itu ia menuju cermin dan merapikan rambut panjangnya.
__ADS_1
Glorva menatap dirinya di pantulan cermin, ia kemudian tersenyum, "Semangat diriku, ini saatnya kau beraksi" Ujarnya pada diri sendiri.