GUARDIAN OF DESTINY

GUARDIAN OF DESTINY
ALAT TULIS


__ADS_3

Untuk hari ini aku bertugas sebagai ayah yang baik yaitu akan menyekolahkan Lucy dan aku akan bertanya kepadanya langsung karena kemarin malam dia tertidur sangatlah lelap saat pulang dari markas yang membuatku tidak bisa membangunkannya untuk menanyakan hal itu tapi kali ini pasti akan aku tanyakan.


"Anu.. papa"


"Ada apa?"


"Apakah boleh aku untuk bersekolah?"


*Kenapa.. kenapa malah Lucy menanyakan hal yang ingin aku tanyakan*


"Boleh kok malah papa yang akan menanyakan hal itu kepada Lucy"


"Boleh yee…"


"Jadi sekarang kita pergi ke toko untuk bersekolah juga mendaftar ke sekolah yang Lucy inginkan"


"Hmm"


Untuk hari ini aku akan membeli peralatan untuk bersekolah Lucy beserta juga mendaftarnya langsung ke sekolah yang Lucy inginkan, aku ingin sekolah Lucy yang dekat saja karena jika terjadi apa-apa aku tinggal menjemputnya tapi itu adalah pilihan Lucy sendiri dan aku juga harus mengikuti keinginannya.


"Kenapa kita ke toko mama"


"Anu papa tidak tahu bagimana baju untuk sekolah perempuan jadi aku mengajak Mai untuk pergi bersama saja"


"Hmm.. aku juga suka saat pergi bersama Mama"

__ADS_1


Aku mengunjungi toko Mai yang baru saja buka dan pelayan toko juga baru saja memulai pekerjaannya.


"Selamat datang-!!"


*bukankah dia kekasihnya bos, gantengnya*


"Anu.. apakah Mai disini"


"Eh.. ah.. bos ada di suangannya"


"Oh terima kasih"


Jarang sekali Mai masih belum ke bawah untuk persiapan buka tokonya tapi yang jelas dia pasti ada di kamarnya entah sedang apa. Aku mendatanginya dan nampak seperti biasa bahwa rumahnya sepi karena Mai membuka toko ini sendiri dan pisah dengan orang tuanya agar bisnisnya bisa lebih mandiri, bagiku itu tidak masalah karena aku juga setuju jika dia lebih mandiri.


"Mai kau disana"


"Mai apakah kau-"


Aku melihat Mai yang sedang mengganti pakaiannya dan juga bukan salahku juga karena aku menyangka dia masih tidur dengan kondisi pintu yang terbuka.


"Apa yang kau lihat!"


"Maaf.. aku tidak swngaja membukanya karena aku menyangka kau masih tidur jadi aku mencoba tuk membangunkanku"


"Bukankah itu sudah pasti mustahul bukan!"

__ADS_1


"Bukankah aku sudah bilang maaf tadi"


Seperti yang aku kira bahwa sudah jelas Mai marah akan hal tadi beserta Lucy yang berhasil mengajaknya, aku melihat Mai masih marah tapi otukan bukan salahku juga aku tidak menyangka bahwa Mai bisa bangun sepagi ini.


"Kenapa, bukankah aku sudah minta maaf tadi"


"Siapa yang peduli hal itu lagi"


"Mama kenapa marah kepada papa"


"Eh.. itu biarkan Papa saja yang memikirkannya"


"Kok aku, bukankah itu bukan salahku"


"Papa Mama bukankah suami istri nanti akan tidur bersama dan juga kenapa mama marah akan hal tadi, papa sudah minta maaf lo"


"Hee… sudahlah tidak dipikirkan lagi dan hal itu jangan Lucy pikirkan, sekarang ayo kita pergi ke toko"


"Hmm.."


Mendengar hal itu tadi seakan marah Mai menghilang dan juga Lucy mengatakan hal itu seakan pernah melihatnya, ya itu juga tidak masalah karena dulu juga dia memiliki orang tua tapi hal itu sangatlah memalukan. Beserta kenapa dengan wajah Mai yang seakan malu itu membutku penasaran dan ingin menanyakan kenapa dia malu tapi itu mungkin akan membuatnya nambah marah lagi.


Untuk yang pertama aku harus pergi ke toko penjual peralatan sekolah dulu sebelum siang hari agar bisa mendaftar ke sekolah yang Lucy inginkan, sesampainya di toko Lucy nampak senang karena melihat banyak sekali peralatn sekolah yang sangatlah banyak juga semuanya berwarna bagus untuk Lucy gunakan. Benda pertama yang dibutuhkan saat kita sekolah adalah tas dan kammi pergi ke tempat tas terlebih dahulu agar membeli barang penting itu, melihat banyak sekali tas disini dengan berbagai corak yang bagus untuk anak kecil pelayanpun datang menemui kami untuk menanyakan tas untuk anak umur berapa yang dibutuhkan.


Aku baru ingat kembali bahwa aku lupa menanyakan umur Lucy dan juga ini membuatku terasa sangatlah lalai sebagai seorang orang tua.

__ADS_1


NEXT-


__ADS_2