
"non mbok pulang ya "
raut wajah Vania mendadak berubah sedih , sudah terbayang bagaimana sunyi nya rumah yang ia huni bersama reigha ini setelah kepergian mbok Darmi.
Sedari tadi ia tak berhenti menceritakan apa yang di alaminya di sekolah kepada mbok Darmi,sosok tua itu telah dianggap nya seperti bundanya sendiri .
Sikap nya yang hangat membuat kerinduan nya kepada bundanya sedikit berkurang, omong-omong semenjak menikah dan di boyong oleh reigha ia belum sekali pun menjenguk bundanya.
sebenarnya bisa saja Vania menjenguk bundanya kapanpun ia mau , tapi setiap kali ia mengabarkan bundanya bahwa ia mau bertandang ke komplek, bundanya selalu saja berhasil membuat nya gagal untuk ia menyambangi nya.
Sang Bunda selalu meminta nya untuk membawa reigha kalau mau bertandang kerumahnya sendiri , seperti dirinya sudah tergantikan posisinya oleh reigha di hati bundanya,karena selalu reigha dan reigha yang menjadi alasannya untuk menunda keinginan nya bertandang ke rumah di mana ia di besarkan sejak kecil.
Masalah nya ia nggak tau reigha mau apa enggak menemani nya berkunjung ke rumah bundanya , laki-laki itu selalu fokus pada kehidupan nya sendiri ,bahkan ia tak memiliki kesempatan untuk membicarakan perihal kerinduan nya dengan sang bunda saking sibuknya ia.
ia menatap punggung mbok Darmi dengan sendu
yang menghilang di balik pintu setelah ia mengiyakan mbok Darmi untuk pulang setelah menyelesaikan pekerjaan nya.
Tiba-tiba ia mendengar suara ponselnya yang ia letakkan di atas nakas yang berada di kamar nya , kebetulan ia lupa menutup pintu kamarnya karena menurut nya ia tak akan lama keluar kamar seperti biasa saat ia mengantar kepulangan mbok Darmi sampai di ruang tamu , sehingga suara dering ponselnya begitu nyaring terdengar di telinga nya .
Ia memutar bola matanya malas saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya , ada apa lagi sih ? Bukannya jam untuk keluar bareng masih lama ya ? Ini juga masih sore.
Teringat bagaimana bersusah payahnya Ken untuk mendapatkan nomor wa nya , menurut nya Ken sangat amatir dalam melakukan pendekatan dengannya ,semua cara yang di lakukan Ken untuk mendekati nya dapat dengan mudah terbaca olehnya.
tak jarang ia berfikir apakah ia gadis pertama yang di dekati Ken , bukannya Ken begitu tampan dan menjadi idola hampir seluruh murid di SMA nya , karakternya yang lembut namun dingin itu berhasil menjadi kan ken idaman para cewek-cewek di SMA nya.
tak jarang juga ia melihat Ken yang selalu mengacuhkan perhatian para cewek-cewek yang caper kepadanya , membuat nya tak nyaman pada cewek yang sedang mendekati Ken saat secara bersamaan Ken memperlakukannya sedemikian hangatnya di depan para cewek itu .
" halo , apa ? "
Vania tampak panik saat Ken memberitahu nya kalau cowok itu sedang berada di depan rumahnya di komplek,entah tau dari mana cowok itu alamat rumahnya.
" hei "
Vania tambah syok lagi saat tiba-tiba reigha sudah bertengger di belakangnya, reflek gadis itu membekap mulut reigha agar laki-laki itu tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun.
raut wajah reigha tampak mempertanyakan siapakah yang sedang berbincang dengan nya lewat handphone, tapi ia mengacuhkan itu , ia sibuk memberikan alasan pada Ken tentang keberadaan reigha yang ternyata Ken mendengar sapaan reigha barusan.
Vania melirik reigha meminta jawaban dari laki-laki itu saat Ken kembali menanyakan nya tentang ajakan nge date yang di tawarkan padanya tadi di sekolah , ia sengaja mengaktifkan speaker ponselnya agar ia tak capek-capek bertanya pada reigha.
Dan seperti yang di duganya, laki-laki yang sudah di labelinya dengan kata cabul itu menggeleng dengan tegas yang merupakan jawaban akhir dan mutlak untuk nya.
reigha yang sudah mengetahui siapa yang menelfon dirinya mendadak memiliki ide buruk untuk mengerjai nya.
laki-laki itu menarik tangan Vania yang membekap bibir nya lalu melingkarkan tangan itu pada lehernya membuat nya melotot pada reigha yang menyeringai ke padanya.
ia reflek melepaskan tangannya lalu bergerak mundur menjauhi reigha yang tengah sibuk mengerjainya.
Namun tak berhenti sampai di situ , reigha malah terus memepet dirinya sampai ia terduduk di atas tempat tidur nya .
__ADS_1
dengan cepat reigha menguncinya dalam Kungkungan nya hingga ia kesulitan menelan Saliva nya,dan ia semakin gelagapan saat suara di seberang sana terus meminta jawaban dari nya.
" haloo Vania kamu masih di sana kan ?"
" eh iya kak "
Vania sibuk menghalau bibir reigha yang seakan-akan hendak mencium nya yang ia yakini kalau laki-laki itu hanya mengerjainya saja,namun tetap saja membuat nya kelabakan.
Ia segera mematikan telfon setelah berhasil menolak dan memberikan alasan se logis mungkin ,meskipun suara Ken terdengar kecewa namun laki-laki itu mau memahami alasannya .
"ih pak reighaaaaa "
Ia memberontak dari Kungkungan reigha setelah reigha merebut ponselnya lalu melemparkannya ke sembarang arah .
Laki-laki itu tersenyum lebar sampai memperlihatkan gigi gingsulnya membuat wajah Vania memucat , ia takut laki-laki di atas nya ini khilaf dengan posisi mereka yang sangat intim itu, .
" kenapa bukannya saya sudah berhak ya atas kamu ?"
Vania kembali kesusahan menelan Saliva nya saat ia kembali melihat seringai yang menyeramkan di wajah reigha.
" ihh pak reigha lepasin nggak ,dasar mesuumm "
sekuat tenaga Vania mengenyahkan reigha dari atas tubuh nya dan akhirnya berhasil , secepat kilat ia beringsut menjauhi laki-laki cabul itu .
laki-laki itu tertawa lebar dan membuat Vania sadar kalau ia sedang di kerjain oleh reigha.
" pak reigha usil banget sih "
" aduh maaf-maaf , habis nya serius banget kalo telfon ,sampai nggak sadar kalau suaminya sudah pulang "
Vania seketika mendelik tajam menanggapi ucapan reigha yang sok menganggap diri nya benar-benar sebagai seorang suami dari nya meskipun kenyataannya memang seperti itu.
" bapak ngapain ..."
" saya bukan bapak kamu "
Ia memutar bola matanya malas .
" kamu ngap ..."
" saya bukan adik kamu"
Reigha kembali menyela ucapannya karena merasa tidak setuju dengan kalimat yang ia ucapkan , Vania menghela nafas lalu memaksakan bibirnya untuk menyunggingkan senyum .
" jadi mau nya di panggil apa ??"
reigha tersenyum manis membuat sesuatu yang aneh di balik dada nya terpompa dengan cepat.
Laki-laki itu beringsut mendekati nya dan kembali menyudutkan nya pada dinding kamarnya ,hanya ada guling yang dapat ia pertahankan sebagai pembatas antara dirinya dan reigha yang sangat dekat itu .
__ADS_1
ia kembali kesulitan mengendalikan debaran di dalam dadanya saat wajah tampan reigha hanya berjarak satu jengkal saja dari wajah nya.
Bahkan hembusan nafas nya dan aroma maskulin dari tubuh reigha dapat tercium sempurna oleh hidungnya yang super peka itu.
" reigha boleh ,sayang boleh , Daddy juga boleh"
Vania melotot saat reigha mengerlingkan matanya dengan nakal .
" ihhh bapak mesum banget siiihhhh "
Ia kembali berusaha mendorong reigha dengan sekuat tenaganya namun , tenaganya tak cukup kuat untuk mengenyahkan tubuh reigha yang sedang menghimpit nya.
" lepasin nggak !"
Gertak nya pura-pura galak.
" nggak !"
Jawaban simpel itu berhasil membuat Vania melotot hingga matanya terasa nyaris keluar dari tempatnya .
"panggil aku sayang dulu "
"nggak !"
ia memalingkan wajahnya takut kalau reigha melihat semburat merah yang ia yakini sekarang sudah menghiasi wajahnya.
" ya udah aku nggak akan lepasin kamu "
" pakkk"
ia memasang wajah memelas agar reigha mau melepaskan nya dan membebaskannya dari debaran jantung nya yang sangat menyiksa itu.
" panggil sayang dulu "
" oke ,SAYANG puas!"
Vania kembali memalingkan wajah nya dengan cepat.
" nggak terdengar natural"
"pa.."
Belum sempat ia protes karena reigha tak berhenti menggoda nya , karena ia terlebih dahulu di buat tertegun saat dengan lancang nya reigha mengecup bibirnya lalu berlari keluar meninggalkan kamarnya sebelum ia berhasil membunuhnya karena berani mencuri ciuman pertamanya.
" pak reighaaaaaaaa..."
Terdengar suara reigha yang tertawa puas karena berhasil mengerjai nya.
ia meraba bibir nya pelan ,tak percaya ciuman pertamanya di curi oleh orang yang sama sekali tidak di cintai nya.
__ADS_1
Dasar guru mesum !!!