
" masih marah ?"
Reigha mendekati Vania yang tengah sibuk memainkan ponsel di ruang keluarga,tapi Vania mengacuhkan nya karena mungkin masih kesal dengan ke usilan nya.
" chatting an sama siapa sih ?"
Vania melotot saat ia berhasil merebut ponsel yang berada dalam genggaman Vania lalu menjauhkan ponsel itu darinya .
" kenapa kamu nggak bilang kalau mau ke rumah ibu kamu ?"
ia menyodorkan ponsel itu pada gadis yang ia anggap seperti adik nya beberapa tahun silam ,namun tidak untuk sekarang, meski begitu ia belum bisa memahami perasaan nya yang sebenarnya setelah apa yang terjadi di antara mereka.
Melihat Vania setiap hari ,walau hanya memastikan apakah gadis itu sudah tertidur atau belum setiap tengah malam sepulang nya dari kantor membuat sesuatu yang aneh akhir-akhir ini sering di rasakannya setiap mengingat ataupun berdekatan dengan vania
" nggak bisa "
ia mengernyitkan dahinya ,melihat Vania seperti menahan sesuatu yang akan ia sampaikan padanya
" kok nggak bisa ?"
" karena bunda mau nya aku sama kamu "
ia mengulum senyum seraya menatap wajah cantik gadis itu dengan tatapan penuh arti.
Entah kenapa semakin ia menatap gadis itu semakin bertambah cantik wajah gadis yang telah di nikahi nya itu,apa lagi saat melihat wajah vania yang perlahan memerah saat di tatapnya seperti itu , membuat kecantikan Vania bertambah berkali-kali lipat .
" ngapain sih lihat-lihat ?"
Sentak Vania seraya memalingkan wajah nya , ia ingin sekali menggigit pipi yang merona itu saking gemasnya.
" emang kenapa sih ? Kamu kan istri saya "
entah kenapa respon Vania yang memasang wajah di tekuk dengan ekspresi malas setiap ia mengingatkan kalau gadis itu adalah miliknya membuat nya ingin mengecup bibir merah yang sedang manyun itu.
Berkali-kali ia memalingkan wajahnya agar ia tak kelepasan, gadis itu begitu sangat menggoda di setiap pertukaran ekspresi nya.
gadis itu telah melabelkan kata cabul pada dirinya,ia tak mungkin membuat nya ketakutan hanya karena ia begitu tergoda dengan bibir mungil yang pink natural itu.
" pak jadi gimana ?"
" apanya ?"
godanya membuat Vania menekuk wajah nya.
" ya udah ayok , lagian saya sudah kangen dengan mertua saya itu "
Vania yang awalnya bahagia mendadak melotot kan matanya saat mendengar kalimat terakhir yang ia ucapkan.
__ADS_1
di perjalanan menuju rumah Vania ,ia tak berhenti mengulum senyum melihat wajah Vania yang berseri-seri,gadis itu tampak begitu bahagia .
Ia pun memilih diam dan menikmati wajah cantik itu lewat kaca spion.
" pak "
Entah kenapa ia sangat tidak suka mendengar Vania masih begitu formal kepada nya , gadis itu mendadak jadi bebal setiap memanggil nya , padahal ia termasuk murid yang berprestasi loh di kelas .
" reigha Van "
Ingin sekali ia mengomeli gadis itu tapi ia lebih tergelitik dengan apa yang akan gadis itu sampaikan kepadanya.
" oh iya ,maaf lupa "
Lagi-lagi ia terpana melihat senyuman vania yang sangat manis itu .
" kenapa jam segini kamu udah di rumah ,apakah perusahaan sudah baik-baik saja ?"
Ia mengerutkan keningnya,tau dari mana Vania akan perusahaan nya ,selama ini komunikasi di antara mereka sangatlah terbatas ,bahkan ia belum sekalipun memberi tahunya tentang perusahaan miliknya.
" aku tau dari mbok Darmi"
Gadis itu seperti mengerti apa yang ada di balik otaknya.
"oh kamu sudah tau , perusahaan lagi baik-baik saja kok ,cuma aku harus membagi waktu antara perusahaan dan ngajar"
Ada perasaan tidak suka saat Vania menanyakan keberadaan .
" dan membiarkan mu kencan dengan Ken ? "
Reigha merutuki dirinya sendiri yang tak bisa mengendalikan dirinya di depan Vania ,bahkan sebelum ia tau perasaan Vania kepadanya,suka atau tidak nya Vania kepadanya.
" mm.. maksud kamu ?"
" maksud aku kalau kamu di apa-apain Ken gimana ? Aku sudah berjanji pada ibu mu kalau aku akan menjaga kamu ,jadi nurut sama aku "
mendadak wajah Vania tersenyum misterius.
" mau menjaga apa cemburu nih ?
Vania tersenyum jail namun diri nya justru fokus memikirkan kata terakhir Vania.
Cemburu? Cemburu kah dirinya pada gadis kecil yang dulu di anggap nya sebagai adik nya sendiri .
Itu nggak mungkin terjadi ,lantas perasaan apa yang membuat nya seposesif ini pada Vania ? bahkan ia yang tak pernah sekalipun meninggalkan pekerjaan kantor kecuali untuk sesuatu yang urgent,kini rela meninggalkan pekerjaan kantornya hanya untuk menghalangi gadis itu berkencan dengan Ken.
Tidak ! ,pasti ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada gadis yang di anggap nya seperti adiknya sendiri.
__ADS_1
Tapi kenapa debaran di dadanya mengatakan hal lain.
" Rei kok diem ? Kamu marah ya ? Aku cuma bercanda kok "
Reigha melirik sekilas Vania Yang tampak menyesali ucapannya barusan.
"aku nggak marah kok "
Terdengar helaan nafas Vania yang menandakan perasaan lega menyelimuti gadis itu.
Namun berbeda dengannya ,helaan nafas itu justru membuat otaknya traveling kemana-mana, terlintas dalam benak nya bagaimana rasa nafas itu jika mengenai wajahnya.
Membuat sesuatu di bawah sana menegang , terlebih aroma parfum Vania yang memenuhi indra penciumannya sedari tadi begitu menggoda nya .
semoga saja Vania tidak menyadarinya , Vania akan semakin melihatnya sebagai laki-laki cabul jika tau dirinya sudah menegang hanya karena aroma dan helaan nafas vania.
ia bingung dengan apa yang terjadi dengannya akhir-akhir ini , ia tak kekurangan wanita cantik dan wangi yang terang-terangan menggodanya , banyak bawahannya di kantor yang sengaja tebar pesona padanya ,banyak juga anak murid nya yang selalu cari perhatian padanya,namun ia benar-benar tak bereaksi.
Berbeda ketika ia berdekatan dengan Vania ,gadis itu seperti tak berminat menggoda nya ,gadis itu begitu lugu,namun sialnya ia yang tergoda dengan keluguan gadis itu
" tapi aku beneran cemburu "
" apa ??"
Reigha merutuki dirinya yang sulit di kendalikan itu , ia berharap respon gadis itu kembali menggodanya bukan malah terkejut dengan kata-kata nya.
" kamu bisa aja bercandanya"
Bercanda ? Bahkan Vania menganggapnya bercanda ,ia bekerja keras untuk mengenali dan mengendalikan perasaannya,gadis itu malah menganggapnya bercanda, sungguh miris sekali.
Vania langsung berhambur pada pelukan ibunya setelah mereka sampai di rumah komplek yang sederhana itu menurut nya.
ia merasa bersalah karena kurang memperhatikan keinginan gadis itu saking sibuknya dirinya .
" Vania kangen Bun "
" kamu ini sudah menikah masih saja bertingkah seperti anak kecil ,maafkan Vania ya nak Rei "
" tidak masalah Bun "
Vania mengerucutkan bibir nya , bahkan di depan ibu mertua nya saja keinginannya untuk mengecup bahkan ******* bibir mungil itu masih saja menggebu-gebu.
" bunda , reigha mau ijin ke toilet sebentar"
Ia bergegas menuju toilet setelah di beri ijin dan di beri tau letak toiletnya oleh ibu mertuanya untuk menetralkan perasaannya yang di luar nalar itu.
" elu kenapa sih reii , gila ! Fantasi lu benar-benar gila !bahkan di depan mertua lu sendiri bisa-bisanya otak Lo memikirkan hal yang tidak mungkin ,gila Lo ! "
__ADS_1
Reigha merutuki dirinya sendiri , benar-benar tidak habis pikir dengan keanehan yang terjadi pada dirinya setiap kali ia berdekatan dengan Vania.