HANYA DIA YANG KU INGIN KAN

HANYA DIA YANG KU INGIN KAN
34.Kenangan Pahit(part 2)


__ADS_3

langit-langit kamar yang familiar cat yang berwarna abu-abu menyambut Arumi yang terbangun dari pingsan nya.Arumi merasakan ada seseorang yang menggenggam tangan nya, perlahan tapi pasti Arumi membuka kedua matanya.ia melihat Albi yang terus saja menatap Arumi tanpa berkedip.


saat Albi melihat bahwa kakaknya sudah siuman dari pingsannya pun memeluk erat tubuh Arumi.Albi tidak mengerti kenapa kakak nya ini bisa menangis bahkan sampai pingsan seperti itu.


Albi memang tidak terlalu dekat dengan kedua orang tua nya.karena orang tuanya selalu sibuk mengurusi pekerjaan mereka,dan jadilah ia selalu bersama dengan Arumi.Ya Albi memang lebih dekat dengan kakak nya.


Albi berharap dengan memberikan kakaknya pelukan itu, akan membuat air mata kakak nya berhenti mengalir.


Arumi membalas pelukan erat dari adik tampan nya itu.setelah mereka merasa puas dengan kehangatan pelukan yang dirasakan, mereka melepaskan pelukannya.


Arumi masih berharap ini hanya sebuah bunga tidur.ya Arumi sangat berharap bahwa ini hanya mimpi buruk semata.


Tidak hanya Arumi dan Albi yang berada di kamar itu,ada sepasang kekasih yang melihat sendu kearah Arumi.mereka juga merasakan sakit nya kehilangan orang yang di cintai Arumi.sepasang kekasih itu adalah Aslan dan Rayya,Aslan adalah anak dari pak Adzril, beliau adalah sekretaris pribadi ayah Arumi sekaligus sahabat ayah nya.


sementara itu Rayya adalah istri dari Aslan,Rayya adalah seorang dokter kandungan.mereka berdua sudah Arumi anggap sebagai kakak kandung nya sendiri dikarenakan mereka bertiga sangatlah dekat.


"kak Ay...mana nenek?"tanya Arumi setelah bisa mengendalikan emosi nya.walaupun sedikit.


"Arumi kamu yang kuat ya!"Rayya memeluk Arumi untuk memberikan kekuatan.


Arumi merasa ada yang salah dengan ekspresi kedua kakak nya ini.ia melepaskan pelukannya lalu bertanya sekali lagi.


"mana nenek?"


Rayya melepaskan pelukannya,ia melihat Arumi dengan pandangan tak terbaca.

__ADS_1


Rayya menghela nafas panjang sebelum mengucapkan sesuatu yang harus di ucapkan.


"nenek di rumah sakit,nenek koma di karenakan shock yang teramat berat,dan...nenek juga mengalami...stroke,ada kemungkinan besar beliau akan mengalami kelumpuhan"Rayya menatap mata Arumi dalam, sebenarnya dia tidak berani menatap mata Arumi.dan Rayya memilih untuk langsung mengatakan intinya karena dia sangat tahu bahwa Arumi sangat tidak suka basa-basi.


pikiran Arumi langsung kosong,ia tidak percaya dengan apa yang telah terjadi pada hari ini, terlalu banyak takdir yang menyinggahinya, sehingga memberikan Arumi kejutan yang tidak ada siapapun orang yang menginginkan nya.


saat ini Albi sudah berada di gendongan Aslan,dia membawa Albi keluar dari kamar Arumi.Aslan memberikan waktu kepada Arumi untuk melimpahkan segala rasa yang menyesakkan Arumi.


"kak Ay, tolong biarkan aku sendiri!"pinta Arumi.


"tidak!aku tidak akan pernah meninggalkan mu!aku ingin kamu bersandar padaku, mengeluarkan semua rasa sesak yang kamu tahan,sekuat apapun kamu menahan air mata mu agar tidak terlihat oleh kami, terutama Albi,aku tahu kamu membutuhkan seseorang yang bisa menjadi tempat mu bersandar"ucap Rayya tegas,ia memeluk erat tubuh Arumi.dan pecah lah tangis Arumi kembali.


"ini semua salahku... seharusnya aku tidak meminta ayah dan ibu pulang,jika tidak mereka pasti masih hidup sekarang...ini semua salahku...benar kata nenek,aku anak pembawa sial!tak seharusnya aku berada di dunia ini!ini semua salahku kak!semua...salah...ku..huuuuu..."Arumi melimpah air matanya di dalam pelukan Rayya.


Rayya hanya bisa mengelus puncak kepala Arumi dan punggung Arumi.


Arumi mengarahkan karter ke pergelangan tangan nya.


tidak Arumi! tidak ini bukan salah kamu!ini sudah takdir yang di berikan oleh Tuhan!"Rayya memeluk kembali Arumi,ia mengambil karter yang di pegang oleh Arumi,lalu membuangnya asal.


"tidak lepaskan aku!aku akan menyusul mereka!... lepaskan... lepaskan..huuu..."Arumi memberontak di dalam pelukan Rayya.


"Aslan!Aslan!"panggil Rayya berteriak.


"ada apa? kenapa kamu berteriak?"tanya Aslan masuk ke dalam kamar Arumi,dan Albi sudah tidak ada bersamanya lagi.

__ADS_1


"lepaskan aku....aku akan menyusul mereka!"teriak Arumi masih memberontak.


Aslan paham kenapa istrinya memanggil nya.


"Arumi.. tenang lah jangan seperti ini ya!"ujar Aslan ingin menenangkan Arumi.


"tidak....ayah...ibu.... jangan pergi! tunggu aku...aku... ingin ikut... bersama dengan... kalian..."tangis Arumi histeris.Arumi berhalusinasi melihat kedua orang tua nya masih hidup.


"tidak...! jangan tinggalkan aku...ku mohon.,..ibu..."tangis Arumi melemah bersamaan dengan Arumi yang kembali lagi pingsan.


"sayang bagaimana ini?"tanya Rayya panik ketika melihat Arumi kembali pingsan.


"kita bahwa Arumi ke rumah sakit!"jawab Aslan lalu menggendong Arumi menuju mobilnya, diikuti oleh Rayya.


untung saja Albi sudah tertidur di kamar nya,dan pengasuh Albi menjaga nya.jadi Aslan dsn Rayya membawa Arumi ke rumah sakit tanpa membawa Albi.


Arumi di bawa ke rumah sakit yang sama dengan nenek nya dirawat.


Arumi juga mengalami shock berat,dia masih belum bangun dari pingsan nya sejak tadi,ini sudah lima jam Aslan dan Rayya menunggu Arumi,agar siuman.mereka tidak menyangka bahwa Arumi akan sangat terpukul atas apa yang menimpa nya.yang mereka tahu selama ini adalah,Arumi selalu tegar dan kuat menghadapi apa pun,Arumi tidak pernah mengeluh apa pun yang terjadi pada nya.


tapi sebenarnya Arumi adalah seorang gadis yang sangat rapuh.ia sangat pintar menutupi apa yang menjadi masalah nya.


Arumi jarang sekali mengungkapkan apa yang ada di pikiran dan hatinya.


Aslan mengira bahwa Arumi hanya akan menangis sesaat saja.Aslan mengira bahwa Arumi akan mengikhlaskan kepergian orang tua nya, karena yang ia tahu, Arumi adalah seorang gadis yang sangat kuat.tapi ternyata tidak.dugaan Aslan ternyata salah.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke 😘😘


__ADS_2