
Semarang, Jawa Tengah.
Di sebuah pedesaan, ada seorang wanita cantik yang sedang mengelus perut buncitnya sambil duduk di bawah pohon jambu air. Bibir wanita itu melengkung ke atas dan sesekali berceloteh pada perutnya yang sudah membuncit itu. Kehamilannya sudah terlihat sangat besar, padahal kehamilannya baru berusia 4 bulan.
“Jojo! Kenapa berada di sana? Ayo, masuk, nanti cicit-cicitku masuk angin!” seru seorang kakek dari ambang pintu rumah sembari mengayunkan salah satu tangannya kepada Jojo.
“Ya, Mbah, sabar sek,” jawab Jojo seraya beranjak dari duduknya dengan perlahan.
“Tadi, ibumu menelepon dan menanyakan keberadaanmu,” ucap kakek itu kepada cucunya yang sudah memasuki rumah. Rumah yang dulunya sederhana tapi kini terlihat sangat mewah karena menantunya-Nathan merenovasinya, bukan hanya itu saja Nathan juga mempekerjakan dua asisten rumah tangga di sana.
“Lalu Mbah Kumis jawab apa?” Jojo menatap kakeknya dengan cemas dan takut kalau kedua orang tuanya menanyakan keberadaannya.
Kakeknya di panggil Mbah Kumis karena mempunyai kumis tebal di atas bibirnya. Dan kumis itu mirip seperti suami artis dangdut yang terkenal itu.
“Mbah, jawab kalau kamu tidak pernah ke sini,” jawab Mbah Kumis seraya menatap prihatin pada cucu kesayangannya itu.
Jojo bernafas lega seraya mendudukkan diri di sofa ruang tamu, kemudian salah satu asisten rumah tangga datang sembari membawa segelas susu ibu hamil lalu meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Jojo.
__ADS_1
“Terima kasih, Mbah,” ucap Jojo kepada wanita itu, lalu ia segera meminum susu hamilnya sampai tandas.
“Jujur saja, Mbah kecewa dengan orang tuamu. Andai saja nenekmu masih ada, mungkin nasibmu tidak akan seperti ini, Nduk.” Mbah Kumis berkata dengan lirih dan kedua matanya menerawang jauh, mengingat mendiang istrinya yang sudah pergi untuk selamanya pada beberapa tahun yang lalu.
Jojo menundukkan kepalanya seraya tersenyum miris dengan nasibnya saat ini.
“Wes ojo di pikirkan. Kasihan dengan bayi-bayimu kalau kamu banyak pikiran nantinya,” ucap Mbah kumis pada cucunya.
“Nggih, Mbah,” jawab Jojo patuh, kemudian ia beranjak dari duduknya, berpamitan kepada kakeknya menuju kamar.
*
*
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya asistennya kembali menghubunginya, memberikan informasi tentang Jojo.
“Dia pergi dari rumahnya sejak beberapa bulan yang lalu?!” seru Edward tidak menyangka jika semua informasi yang dia dapatkan.
__ADS_1
“Iya, Tuan. Dan keluarganya saat ini juga sedang mencari keberadaan Nona Jojo,” jelas asistennya itu.
“Kau harus tetap mencari keberadaan Jojo sampai ketemu!” titah Edward pada asistennya.
“Baik, Tuan,” jawab asisten tersebut dari seberang sana.
Sambungan telepon terputus, kemudian Edward beranjak dari duduknya, dia juga tidak boleh tinggal diam. Jojo pergi membawa calon anaknya.
Edward memutuskan pergi ke rumah Jojo yang di belikan oleh ayahnya. Pria tampan itu mengendarai mobilnya seperti seorang pembalap profesional saat menyetir mobil di jalanan kota yang terlihat ramai lancar pada siang hari itu.
Hanya butuh setengah jam dia sampai di lokasi yang di tuju. Ya, Edward sudah sampai di depan rumah Jojo.
Tidak pikir panjang, pria tersebut segera membuka pintu rumah tersebut, tapi sayangnya keberuntungan tidak berada di pihaknya. Pintu tersebut terkunci dengan rapat.
“Sial!” umpat Edward mengumpat kesal, seraya memukul pintu tersebut dengan tinjunya.
***
__ADS_1
Apakah anak Jojo kembar? Semoga aja iya🤭🤭🤭
Tolong bintang limanya biar emak makin semangat🙏