Hasrat Nakal Anak Tiri

Hasrat Nakal Anak Tiri
Tergantung maharnya


__ADS_3

Jojo segera menjauhkan diri ketika tersadar kalau bibirnya menempel di bibir Edward. Ia mendudukkan diri sambil mengelus perutnya yang baru saja terhimpit ke perut Edward.


"Kau tak apa? Lalu apakah mereka baik-baik saja?" tanya Edward cemas seraya mendudukkan diri sambil memegangi lehernya.


"Ya, mereka baik-baik saja." Jojo menjawab saat merasakan pergerakan dari dalam perutnya. Setelah itu ia segera keluar dari kamar tersebut saat merasakan rasa canggung yang mulai melanda keduanya.


Edward meringis kesakitan sambil memegangi lehernya yang patah. Bukan hanya leher saja yang patah, akan tetapi wajahnya juga bertambah bonyok karena habis di pukuli oleh ayahnya.


*


*


Jojo kini berada di ruang tamu berkumpul di sana dengan yang lainnya. Tidak berselang lama Edward menyusul sambil berteriak memanggil ayahnya.


"Papi! Aku butuh dokter!" seru Edward lalu mendudukkan diri di samping istrinya, ia masih terus memegangi lehernya yang rasanya sakit luar biasa.


''Cih! Dasar lemah! Hanya patah leher saja merengek sudah berteriak seperti orang kesakitan!" sahut Elden pada putranya.


"Hanya kau bilang? Hanya?!" Kirana dan Nathan menyahut bersamaan sambil menggeleng pelan, tidak menyangka kalau Elden bisa sekejam itu kepada dirinya sendiri.


"Dia memang kejam? Arghhhh! Rasanya aku ingin mati!" Edward tidak berhenti berteriak membuat Jojo berada di sampingnya pun langsung menepuk lengan suaminya dengan keras.

__ADS_1


"Bagus kalau kau mati sekarang. Papi, bisa menggantikan posisimu!" Elden menyahut dengan gaya angkuh.


"Hei!! Coba saja kalau Papi berani, meski pun aku akan mati, aku tidak akan membiarkan Papi hidup tenang kalau berani menikahi Jojo!" sengit Edward sambil menyandarkan kepalanya di pundak Jojo.


Jojo memutar dengan malas, dalam keadaan sakit seperti itu Edward masih bisa mencuri kesempatan dalam kesempitan.


"Jangan bersandar di pundakku!" Jojo mendorong pelan kepala Edward, membuat pria itu langsung berteriak histeris.


"Arghhh! Awww! Jahat sekali!" teriak Edward tidak main-main.


Elden menggeleng pelan melihat tingkah putranya.


"Elden, terima kasih  atas 20X lipatnya," ucap Mbah Kumis dan di jawab Elden dengan anggukan kepala.


"Jadi, aku boleh rujuk dengan Jojo, Mbah?" Canda Elden untuk memanasi putranya.


"Papi!" teriak Edward tidak terima.


"Tergantung maharnya!" sahut Mbah Kumis sambil menahan tawa.


Sedangkan Edward sudah seperti orang yang kebakaran jenggot.

__ADS_1


*


*


"Ha ha ha ha." Elden tertawa terbahak ketika melihat putranya memakai gips di leher.


"Puas ketawanya?!" geram Edward, melirik tajam ayahnya yang masih saja mentertawakannya.


"Tentu saja puas!" Elden menjawab sambil menepuk pundak putranya beberapa kali. Mereka saat ini sedang berada di teras rumah, sambil menikmati kopi pada siang hari. Suasana Desa yang asri dan sejuk membuat kedua orang itu merasa betah berada di sana.


Hening.


Tiba-tiba situasi di sana menjadi hening, baik Elden atau Edward saling diam, sibuk dengan pemikiran masing-masing.


"Pi, aku sudah mengundurkan diri dari belakang layar," ucap Edward dengan tatapan lurus ke depan. Menatap dedauan jambu air yang di tiup angin dari segala arah.


"Serius?" Elden menoleh, menatap putranya dari samping.


Edward menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum tipis. "Ini yang terbaik untuk diriku, Jojo, dan calon anak-anakku nanti," jawab Edward yang sudah sangat yakin dengan keputusannya.


Ya, bukankah begitu? Ia harus mementingkan keluarga kecilnya dari pada karier-nya. Apalagi menjadi sutradara muda dan tampan seperti dirinya sangatlah tidak mudah karena banyak godaannya, salah satunya godaan para artis cantik yang ingin mendapatkan pemeran utama.

__ADS_1


__ADS_2