Hasrat Nakal Anak Tiri

Hasrat Nakal Anak Tiri
Modyar!


__ADS_3

“MODYAR!! Kapokmu kapan!” Mbah Kumis tertawa puas ketika keluar dari dapur, puas rasanya mengerjai Edward.


“Pembalasan dimulai!” gumam Mbah Kumis sambil terkekeh seraya memperbaiki sarungnya yang akan melorot. Kemudian ia berjalan menuju ruang tamu untuk bersantai di sana.


Di sisi lain, Edward saat ini sedang kebingungan menyalakan kompor gas. Seumur hidupnya dia tidak pernah masuk dapur dan berurusan dengan kompor atau alat dapur yang lainnya.


“Huh, bagaimana menyalakannya?” gumam Edward bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian dia mempunyai ide yaitu bertanya kepada mbah google.


Edward akhirnya bisa menyalakan kompor, dan dia mulai merebus mie nya. Saat merebus mie dia juga kebingungan.


“Emh, bumbunya dulu atau mie nya dulu?” Edward bergumam menatap panci yang penuh dengan air itu.


“Mungkin keduanya.” Edward mengangguk pasti, lalu memasukan mie dan bumbunya bersamaan.

__ADS_1


“Lalu telurnya?” Edward bingung sendiri sembari memegang dua telur di kedua tangannya, ingin bertanya ke mbah google lagi akan tetapi ponselnya mati karena kehabisan batrei.


Jojo yang merasa lapar keluar dari kamar menuju dapur. Dia ingin memasak untuk makan malam. Dan saat ini ia sedang ingin memakan ayam kecap, membayangkan ayam kecap sudah membuat air liurnya penuh di mulutnya.


“Sabar, ya. Mommy akan segera masak untuk kalian. Kalian juga sangat lapar ya.” Jojo tersenyum sambil memegangi perutnya yang buncit itu. Dia terharu dan sangat senang ketika merasakan tendangan kecil dari dalam perutnya.


Jojo terus berjalan sampai dapur, tapi langkahnya langsung terhenti dan jantungnya berdetak sangat cepat saat melihat sosok pria yang sangat dia hindari. Dia memegangi perutnya sembari memundurkan langkahnya, ingin menjauh dari sana, tapi niatnya itu gagal saat Edward memanggilnya dan berjalan ke arahnya.


“Jo, akhirnya aku bisa menemuimu. Maafkan aku Jo. Maafkan atas segala perbuatanku selama ini.” Edward menatap Jojo dengan tatapan penuh sesal, bahkan tanpa terasa kedua matanya berkaca-kaca. Kemudian tatapannya beralih menatap perut Jojo yang buncit. Rasa haru menyeruak di dalam dada diikuti rasa bersalah yang sangat besar seolah ada batu besar yang menghantam tubuhnya bertubi-tubi.


“Aku sudah memaafkanmu, tapi jangan harap aku melupakan semua yang sudah terjadi,” jawab Jojo dingin, seraya menepis tangan Edward yang ingin memegang perutnya.


“Maafkan aku sekali lagi, aku tahu kalau luka yang aku goreskan di dalam hatimu sangat dalam, tapi berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” pinta Edward dengan nada memohon dan suaranya bergetar seolah menahan tangis.

__ADS_1


Jojo menggigit bibir bawahnya dengan kuat, kedua matanya sudah mengembun tapi dia segera mendongak dan mengedipkan kelopak matanya beberapa kali untuk mencegah air mata yang hendak turun membasahi pipinya.


“Sejak awal apakah aku meminta pertanggung jawaban darimu?” tanya Jojo dengan perasaan yang tidak karuan.


Edward terdiam, lalu mendudukkan kepalanya beberapa saat, dan menegakkan kepalanya lagi, menatap Jojo dengan tatapan nanar.


“Maaf, aku terlalu bodoh untuk menyadari semuanya. Aku sudah tahu semua kebenaran tentangmu dari Papiku,” jawab Edward.


“Jadi, kalau kamu tidak tahu siapa aku sebenarnya, kamu akan tetap membenciku seumur hidupmu?!” Jojo membalas dengan telak, hingga membuat Edward tidak mampu berkata-kata lagi.


***


Terus berjuang Ed, eh jangan lupakan mienya nanti gosong 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2