
Karena tidak berhasil masuk dari pintu utama. Akhirnya Edward memutuskan untuk mencongkel jendela bagian depan menggunakan obeng yang ia ambil dari dalam mobilnya. Dia terlihat seperti seorang pencuri karena dia mencongkel jendela itu sembari menatap sekitarnya, memastikan kalau keadaan aman.
KLEK!
Setelah hampir lima menit berjuang membuka jendela itu, akhirnya Edward berhasil membukanya, dia segera masuk ke dalam rumah tersebut dengan tergesa. Sampai di dalam rumah tersebut, Edward menuju lantai paling atas, tepatnya kamar yang dulu di tempati oleh Jojo.
Deg!
Jantung Edward kembali berdetak sangat cepat saat memasuki kamar tersebut. Bayangan percintaannya dengan Jojo di dalam kamar itu melintas di benaknya. Edward menghela nafas panjang seraya menggelengkan kepalanya dengan kasar, berharap bayangan itu jangan mengganggunya terlebih dahulu.
Edward melanjutkan langkahnya menuju lemari untuk mencari sesuatu di sana, barang kali masih ada barang-barang Jojo yang masih tertinggal di sana yang akan dia jadikan petunjuk keberadaan wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
“Huh!” Edward menghembuskan nafasnya dengan kasar sembari berkacak pinggang ketika sudah selesai memeriksa lemari tersebut, tapi dia tidak menemukan apa pun. Kemudian dia beralih memerikas laci meja rias yang terletak di samping lemari tersebut.
__ADS_1
Edward membuka satu persatu laci meja rias, dan akhirnya dia menemukan sesuatu di sana. Dia menemukan sebuah berkas dan juga beberapa kertas lainnya.
Edward mengambil semua benda itu lalu memeriksanya satu persatu. Yang pertama dia periksa adalah sebuah berkas yang tak lain sebuah surat perjanjian pernikahan Jojo dan Elden.
Edward membaca surat perjanjian itu seolah menelan sebuah pil pahit yang nyangkut di tenggorokannya. Rasa penyesalannya kini bertambah besar setelah membaca surat perjanjian pernikahan tersebut. Edward beralih memeriksa kertas lainnya, di sana ada struk belanjaan, bukti transfer dan juga kwitansi dari salah satu Expedisi pengirim barang. Edward mengambil kwitansi tersebut lalu membacanya, di sana tertera kalau Jojo mengirim sebuah paket ke Semarang, Jawa Tengah.
“Mungkinkah dia pergi ke daerah ini?” Edward bergumam, lalu menyimpan kwitansi tersebut ke kantong celananya, lalu dia membereskan dan meletakkan kertas-kertas tersebut kembali ke tempatnya.
Setelah selesai, Edward segera keluar dari rumah itu, menjalankan mobilnya menuju rumahnya sendiri.
*
*
__ADS_1
“Tidak apa-apa jika suatu saat nanti kehadiran kalian tidak ada yang menginginkan, masih ada Mommy dan Mbah yang menerima kalian dengan bahagia. Kuatkan Mommy untuk menjalani hari yang berat ini.” Jojo berkata dengan penuh kesedihan, kedua matanya menatap sendu dan tidak terasa air matanya menetas deras membasahi pipinya.
Dia selama ini berusaha untuk kuat dan tetap tegar, meski hatinya sangat rapuh dan lelah.
“Aku kuat, tapi aku sudah sangat lelah, tapi aku juga harus tetap bertahan,” lirih Jojo seraya membekap mulutnya dengan salah satu tangannya saat isak tangisnya mulai terdengar.
Terkadang, hidup akan membuatmu terpuruk. Namun cepat atau lambat, kamu akan sadar bahwa kamu tidak hanya akan mampu bertahan, tetapi kamu juga seorang pejuang, dan lebih kuat dari yang kamu bayangkan.
Jojo kamu pasti kuat menjalani semua ini. Semangat dan teruslah berjuang untuk bayi-bayimu yang belum merasakan keindahan dunia.
***
Yang kuat ya, Jo😭😭😭
__ADS_1
Tisu, mana tisu 🤧🤧🤧
Kasih sawerannya dong, biar Mbak Jojo makin kuat❤🙏