Hasrat Nakal Anak Tiri

Hasrat Nakal Anak Tiri
Keputusan Edward


__ADS_3

“Jojo tidak ada di Semarang, lalu kita harus mencari ke mana lagi?” Kirana sedih dan menyesal karena telah mengabaikan putrinya yang selama ini ternyata tidak bersalah.


“Kita tidak boleh menyerah, aku akan mengerahkan semua anak buahku untuk mencari keberadaan Jojo.” Nathan merangkum bahu istrinya dengan lembut. Pria paruh baya itu juga merasakan sebuah rasa bersalah dan juga penyesalan yang luar biasa.


“Kita yang salah atas semua ini. Kita hanya bisa menge-judge Jojo tanpa mau mendengar penjelasan darinya. Ya Tuhan, ampuni kami, kami sudah menjadi orang tua yang jahat dan juga sangat kejam kepada putri kami.” Kirana menangis lirih di pelukan suaminya dengan segala penyesalannya.


Tapi, semua penyesalan yang mereka rasakan tidak akan mampu mengubah segalanya. Jojo menderita, dan sangat tersakiti. Di saat dia butuh bahu untuk bersandar dan dukungan dari keluarga, dia justru di kucilkan dan di benci oleh keluarganya sendiri.


Jojo yang malang.


*


*


Edward memutuskan ke Semarang, menuju alamat yang sudah dia dapatkan dari kwitansi jasa Expedisi yang dia temukan di kamar Jojo.

__ADS_1


Mungkin ini adalah satu cara yang bisa dia lakukan untuk menebus rasa bersalahnya kepada wanita itu.


Pria tampan itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju Semarang. Dia menggunakan transportasi darat karena dia yakin kalau alamat yang di tujunya berada di pelosok Desa.


*


*


“Mbah, besok jadwal periksa kandungan ke Kota,” ucap Jojo pada Mbah Kumis yang sedang duduk selonjor di depan televisi sambil memijat kaki yang terasa pegal, maklum sudah tua dan juga punya asam urat, jadinya berjalan sedikit saja sudah membuatnya sangat lelah.


“Mau USG, Mbah. Kalau di puskesmas ‘kan fasilitas medisnya nggak lengkap,” jawab Jojo sambil menatap Mbah Kumis yang duduk selonjor di atas karpet.


“Mbah sepertinya nggak bisa mengantar, kaki Mbah rasa sakit sekali. Kalau di temani sama salah satu ART di sini bagaimana?” tanya Mbah Kumis pada cucu kesayangannya itu.


“Mereka kalau hari senin ‘kan libur Mbah, dan pulang ke rumah masing-masing, “ jawab Jojo dengan sedih. Akan tetapi raut wajah sedihnya langsung sirna dan berganti ceria, “aku akan berangkat sendiri, Mbah, lagi pula ‘kan ada mobil jadi aku bisa menyetir sendiri,” lanjut Jojo sambil tersenyum senang.

__ADS_1


“Jangan yo, Nduk. Terlalu berbahaya kalau kamu menyetir sendiri, apalagi dengan kondisi perut yang besar seperti itu.” Mbah Kumis tidak setuju dengan rencana cucunya yang akan menyetir sendiri ke Kota. Apalagi jarak desa ke kota lumayan jauh dan harus di tempuh selama 2 jam lebih.


Jojo berengut dan kembali memasang wajah sedih.


*


*


Malam semakin larut, tepat jam 10 malam. Edward telah sampai Kota Semarang, dia beristirahat sekaligus mengisi perutnya yang terasa lapar di salah satu restoran cepat saji yang buka 24 jam.


“Gila!” Edward menggelengkan kepalanya beberapa kali, tidak menyangka jika tujuannya sejauh ini.


Bahkan dia sampai mengabaikan pekerjaan, dan semua crew-nya yang sejak tadi siang menghubunginya, mungkin sebentar lagi dia akan di pecat karena sudah mengabaikan pekerjaannya.


Setelah perutnya kenyang dan rasa lelahnya sudah sirna, Edward kembali melanjutkan perjalanannya menuju Desa di mana Jojo tinggal di sana.

__ADS_1


__ADS_2