
Jojo dan Edward sudah resmi menjadi suami istri pada hari itu juga, namun pernikahan mereka hanya sah secara agama saja, karena berkas-berkas yang di miliki Edward tidak lengkap, tapi Edward berjanji akan segera menge-sah kan pernikahan itu secara hukum.
Mbah Kumis mengantarkan pemuka agama sampai halaman rumah. Mbah Kumis sangat berterima kasih kepada pemuka agama tersebut karena sudah bersedia datang ke rumah untuk menikahkan Jojo dan Edward.
Nathan dan Kirana menatap Jojo yang duduk bersisian dengan Edward.
"Kamu sudah memberitahukan masalah ini kepada orang tuamu?" tanya Nathan datar kepada Edward.
"Aku akan segera memberitahukanya." Edward beranjak dari duduknya, dia akan mengabari ayahnya yang sedang liburan keluar negeri.
Di ruang tamu kini tersisa Jojo, Nathan dan Kirana saja. Ruang tamu itu terasa hening, tidak lupa rasa canggung menguasai hati pasangan suami istri itu.
"Jo," panggil Kirana dengan lembut, lalu berpindah duduk di samping putrinya. Ia ingin menggenggam tangan putrinya akan tetapi Jojo menolaknya. Jojo menurunkan kedua tangannya yang tadinya di atas pangkuan kini berada di atas kursi.
Kirana mengerti, putrinya pasti kecewa marah dengannya.
"Maafkan Mommy dan Daddy karena sudah berbuat jahat kepadamu," ucap Kirana tulus.
__ADS_1
"Kenapa baru sekarang." Jojo menatap wajah wanita yang sudah melahirkannya itu dengan perasaan hancur lebur. Air matanya menetes tanpa di minta. Rasa sakit hati, kecewa, dan amarah masih tersimpan di dalam dada. Terus terang, Jojo belum bisa memaafkan kedua orang tuanya.
Kirana meneteskan air mata, rasa sesak menyeruak di dalam dadanya karena merasakan sebuah penyesalan yang begitu besar kepada putrinya.
"Mommy dan Daddy salah, maafkan kami, Sayang. Sungguh kami menyesali semuanya." Kirana berkata dengan suara tersendat-sendat karena dia saat ini terisak sedih.
"Coba banyangkan jadi aku satu detik saja. Apakah kalian akan sanggup menjadi aku? Di saat badai menerpaku kalian malah menjauh, membuangku dan meninggalkan aku. Hatiku sudah terluka parah dan akan sulit untuk di sembuhkan," lirih Jojo dengan suara bergetar dan tercekat, ia segera menghapus air matanya dengan cepat, agar tidak terlihat lemah di depan orang tuanya.
Kirana menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, dia tidak sanggup untuk membayangkannya. Dia sangat merasa bersalah dan hancur seketika ketika penderitaan putrinya berseliweran di otaknya.
"Tidak sanggup 'kan?" Jojo seolah mengejek kedua orang tuanya, tatapan matanya begitu nanar dan penuh luka yang begitu dalam.
"Tapi, aku kuat menjalaninya. Aku sanggup menghadapi semua ini!" lanjut Jojo berkata penuh bangga.
Ucapan Jojo bagaikan ribuan belati tajam yang menghujam dada Kirana dan Nathan, rasanya begitu sangat sakit, hingga membuat mereka kesulitan bernafas.
Sesakit inikah yang di rasakan Jojo selama ini?
__ADS_1
Mbah Kumis menyimak pembicaraan ketiga orang itu dari ambang pintu rumah. Ia menghela nafas kasar seraya memelintir kumisnya yang bertengger di atas bibirnya. Ia sedikit merasa lega karena Jojo sudah menikah dengan Edward, tapi ada hal yang membuatnya masih kesal adalah Kirana dan Nathan. Mereka berdua itu sangat keterlaluan.
Di sudut lain, Edward saat ini sedang menerima amarah dari ayahnya yaitu Elden.
Elden begitu murka ketika mendengar pengakuan Edward yang sudah menghamili mantan istrinya.
"Sebenarnya kau itu keturunan siapa, Ed? Kenapa ada jiwa iblis di tubuhmu! Dasar bajingan!" umpat Elden penuh emosi di ujung telepon sana.
Edward diam, tapi dia mendengarkan amukan ayahnya.
"Aku salah, Pi. Tapi, aku tidak menyesal karena sebentar lagi akan mempunyai bayi kembar," celetuk Edward, yang membuat ayahnya semakin murka.
"Kirimkan alamatmu sekarang juga!" amuk Elden, bisa-bisanya putranya berkata seperti itu.
****
Edward jadi serba salah yak, wk wk wk wk
__ADS_1