
Jojo menghela nafas panjang ketika Edward tidak bisa menjawab pertanyaannya. Dia pun segera beranjak dari hadapan Edward lalu menuju lemari pendingin untuk mengambil bahan masakan yang akan dia olah. Edward memperhatikan gerak-gerik Jojo, dia pun segera mendekat dan membantu Jojo yang akan mengeluarkan beberapa bahan masakan dari kulkas.
"Biar aku saja." Edward mencegah Jojo yang akan mengambil daging sapi yang membeku di dalam freezer.
Jojo memundurkan langkahnya, membiarkan Edward membantunya, kemudian kedua matanya mengedar dan berhenti menatap kompor yang menyala dan di atasnya ada panci kecil. Jojo mendekat lalu melihat apa yang di masak oleh Edward.
"Astaga!" Jojo segera mematikan kompor karena mie yang ada di dalam panci itu sudah mengembang, dan sepertinya sudah tidak layak di makan.
Edward segera menoleh, dia pun terkejut karena baru teringat kalau sedang memasak mie.
"Ah, mie-ku." Edward menatap makan malamnya dengan nanar. Perutnya kembali melilit karena kelaparan.
CUKURUKUKKKKKKK
Suara perut Edward berdendang ria sampai terdengar di telinga Jojo.
Jojo berdecih seraya memutar kedua matanya dengan malas.
"He he he, perutku memang tidak tahu malu," ucap Edward sambil memegangi perutnya yang semakin terasa sangat sakit.
"Bantu aku memasak!" ketus Jojo seraya mengambil bungkusan daging dari tangan Edward dengan kasar, lalu ia segera membawanya ke tempat cuci piring untuk di bersihkan. Jojo menutup hidungnya dan menahan mual saat mencium aroma khas dari daging sapi itu, dan hal itu tidak luput dari perhatian Edward.
"Biar aku saja yang memasak, kau duduk saja dan beritahu aku step by step mengolah daging ini," ucap Edward seraya mengambil alih posisi Jojo.
__ADS_1
Jojo pasrah karena dia tidak tahan dengan aroma daging sapi itu, kemudian ia mendudukkan diri di kursi makan yang letaknya tidak jauh dari sana seraya memberitahukan cara mencuci dan memotong daging sapi.
Edward sampai mengabaikan perutnya yang semakin melilit, tapi dia senang bisa membantu ibu hamil itu.
"Kalau boleh tahu berapa usia kandunganmu itu?" tanya Edward sembari menatap Jojo ketika dia sudah selesai memotong daging, sedangkan Jojo memotong sayuran seperti wortel dan kentang.
"Kau tidak perlu tahu!" ketus Jojo tanpa menoleh.
"Jo, aku adalah ayah dari bayi yang kau kandung itu, jadi aku berhak tahu." Edward berkata pelan terkesan lembut kepada Jojo, dia tidak ingin menyakiti Jojo lagi.
"Bagiku kau bukan siapa-siapa mereka!" Jojo menoleh menatap tajam Edward yang berdiri di dekat wastafel cuci piring.
"Mereka?" Edward menatap perut Jojo yang sudah membesar.
"Mereka kembar," jawab Jojo kemudian kembali fokus pada aktifitasnya memotongi sayuran.
"Jo, benarkah mereka kembar? Aku senang sekali mendengarnya." Edward mengatakannya dengan penuh bahagia, bibirnya melengkung ke atas dan kedua matanya berbinar terang bertanda jika dia sangat-sangat bahagia.
Jojo diam tidak menjawab ucapan Edward, dia terus memotong sayuran sampai selesai.
Edward sedikit kecewa saat tidak mendapatkan respon dari Jojo, tapi tidak mengapa karena bisa dekat dengan Jojo dan calon bayi kembarnya sudah membuatnya sangat senang.
Beberapa saat kemudian, Edward fokus memasak dan tentu saja dengan arahan dari Jojo.
__ADS_1
Sup daging sudah matang dan tersaji di atas meja makan.
Edward berdiri sambil membawa mangkuk dan juga sendok di kedua tangannya. Aroma sup daging yang sangat lezat membuat perut Edward semakin meronta-ronta kelaparan.
"Aku tidak yakin kalau kamu yang memasak!" Mbah Kumis menatap sup daging yang tersaji di meja makan.
"Aku hanya membantu Jojo, Kek," jawab Edward.
"Sudah aku tebak, pria kaya dan berasal dari kota sepertimu mana mungkin tahu cara memasak!" cibir Mbah Kumis.
"Masak mie rebus saja tidak becus!" lanjutnya lagi sambil menerima satu mangkuk sup daging dari cucunya.
"Duduk! Karena malam ini aku sedang baik hati, kau bisa makan sepusnya!" ucap Mbah Kumis dan di sambut oleh Edward dengan bahagia.
Pria itu segera mendudukkan diri kursi yang tepatnya di samping Jojo. Dia segera mengambil satu piring nasi penuh dan tidak lupa menyiram nasinya dengan kuah sup. Edward langsung menyatap makan malamnya dengan sangat rakus seolah tidak pernah makan selama satu minggu.
Seumur hidupnya, dia baru pertama kali merasakan kelaparan seperti ini. Sungguh tragis sekali.
Jojo dan Mbah Kumis sampai melongo dan terkejut melihat Edward makan.
"Apakah mulutnya tidak terbakar?" tanya Mbah Kumis kepada Jojo, padahal nasi dan sup yang di makan Edward masih mengepul panas.
Jojo menaikkan kedua bahunya bersamaan menjawab pertanyaan kakeknya. Dia pun mengelus perutnya beberapa kali sambil berkata, "bayi-bayiku jangan seperti ayah kalian ya."
__ADS_1
***
Like dan dukungannya ya bestie.