
Edward sampai di alamat yang dia tuju dengan bantuan googgle maps. Tepat jam 12 malam dia sampai di depan rumah paling mewah yang ada di Desa tersebut.
“Apakah ini benar ini rumahnya?” Edward bergumam sembari melihat google maps yang ada di ponselnya dan memeriksa kembali alamat yang tertera di sana.
Rumah bercat kuning tanpa pagar dengan halaman yang cukup luas itu terlihat asri meski di lihat di malam hari karena pencahayaan di halaman rumah tersebut sangat terang.
Edward masih di dalam mobil sembari mengamati rumah tersebut. Hatinya merasa gundah, apakah dia harus keluar sekerang juga dan mengetuk pintu rumah itu? Pikirnya.
Namun, Edward menggelengkan kepala, dan menahan diri agar tidak turun dari mobil. Karena kondisi sudah tengah malam, maka dia memutuskan untuk beristirahat di dalam mobil sambil menunggu pagi tiba.
*
*
Jam 05:00 WIB.
Mbah Kumis membuka pintu rumahnya, seketika itu udara sejuk langsung menerpa badannya yang hanya mengenakan kaos singlet putih dan sarung gajah berdiri. Dia menggigil, tapi tidak mengurungkan niatnya keluar rumah untuk menikmati pagi hari yang menyegarkan itu. Udara pagi hari di pedesaan memang sangat segar dan sejuk, belum tercemar polusi udara.
__ADS_1
Langkahnya terhenti ketika melihat ada sebuah mobil terpakir di halaman rumahnya. Mobil tersebut ber-plat ‘B’ menandakan jika mobil tersebut berasal dari Jakarta.
“Mobil siapa itu?” Mbah Kumis melangkah mendekati mobil berwarna putih itu dengan segala rasa penasarannya.
Sampai di dekat mobil tersebut, ia langsung mengetuk kaca jendela mobil di bagian kiri.
Tok ... tok ...
Edward terkejut dan segera membuka kedua matanya saat mendengar suara ketukan kaca jendela mobil. Dia terkejut ketika ada seorang pria tua dan berkumis tebal sedang mengintip ke dalam mobilnya. Edward segera menegakkan badannya, lalu menurunkan kaca jendela mobilnya itu.
“Sopo kowe?! (Siapa kamu?!)” tanya Mbah Kumis dengan nada garang sembari memilin kumisnya yang menempel di atas bibirnya, ia juga memperhatikan wajah Edward yang sangat asing di matanya.
“Emh ... selamat pagi, Kakek. Perkenalkan saya Edward dari Jakarta,” ucap Edward dengan sopan sambil menatap seram pada Mbah Kumis yang masih memilin kumisnya yang sebesar ulat jambu biji.
“Dari Jakarta ke Desa ini? Apa tujuanmu dan kenapa kamu berada di depan rumahku?!” tanya Mbah Kumis dengan tatapan mengintimidasi.
Edward menelan ludahnya dengan kasar, sikapnya yang selama ini garang, angkuh dan di segani para bawahannya, ternyata tidak berlaku di depan Mbah Kumis, justru saat ini dirinya malah bergetar ketakutan karena melihat wajah Mbah Kumis yang terlihat galak dan menyeramkan.
__ADS_1
*
*
Jojo sudah bangun dari tidurnya, dia saat ini sedang berada di dapur untuk membuatkan teh hangat untuk Mbah Kumis.
“Mbah!” seru Jojo memanggil kakeknya sambil memegangi pinggangnya yang terasa pegal. Kehamilannya baru berusia 4 bulan tapi dia sudah sering mengalami sakit pinggang dan juga gampang kelelahan, semua itu karena dia tengah mengandung bayi kembar, dan perutnya sudah sangat besar yang membuatnya mulai kesulitan untuk melakukan aktifitas.
Beberapa kali memanggil kakeknya, tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Jojo memutuskan mencari Mbah Kumis di luar rumah.
“Sebenarnya saya ke sini untuk mencari seorang wanita yang bernama Jojo,” jawab Edward ketika dia sudah keluar dari dalam mobil dan berhadapan dengan Mbh Kumis.
“Jojo?” gumam Mbah Kumis seraya memperhatikan pemuda yang berdiri di hadapannya ini. Pemuda itu terlihat sangat tampan, pakaiannya juga terlihat serba mahal, pasti pemuda itu berasal dari keluarga kaya raya.
Seketika itu Mbah Kumis langsung menggeram kesal, dia menebak kalau pria di hadapannya ini adalah ayah dari bayi yang sedang di kandung Jojo. Dia menahan emosinya, dan berusaha untuk menjaga kewarasan agar darah tingginya tidak naik.
“Kenapa kamu mencari Jojo? Ada urusan apa dengannya?!” tanya Mbah Kumis menatap tajam Edward.
__ADS_1
“Saya ...” ucapan Edward terhenti ketika mendengar seruan seorang wanita dari ambang pintu rumah tersebut.
“Mbah! Dari tadi di cariin, di sana rupanya.” Jojo berseru sembari memegangi perutnya yang besar.