Hasrat Nakal Anak Tiri

Hasrat Nakal Anak Tiri
Manusia yang memanusiakan manusia


__ADS_3

Jojo menatap kakeknya dengan tatapan nanar, tidak berselang lama bulir air matanya jatuh dan menetes membasahi pipinya. Rasa sakit yang dia rasakan saat ini hingga membuatnya kesulitan bernafas, dadanya begitu sesak dan kepalanya terasa sangat sakit.


“Mbah, aku tidak ingin bertemu dengannya, kenapa Mbah tidak mengusirnya?” tanya Jojo.


“Jo, dengarkan Mbah. Kehamilanmu semakin membesar, dan anak-anakmu juga butuh figur seorang ayah. Jadi, Mbah ingin melihat perjuangannya untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kepadamu,” jelas Mbah Kumis pada cucunya itu.


“Mbah, aku tidak membutuhkannya, aku bisa membesarkan anak-anakku sendiri.” Jojo merasa kecewa dengan kakeknya itu.


“Yakin? Pikirkan lagi keputusanmu.” Mbah Kumis beranjak dari duduknya, berjalan ke sisi jendela ruang tamu, kemudian menyibakkan gordeng ke sisi kiri seraya menatap keluar sana.


Hari sudah petang, di tambah lagi langit juga mendung menandakan kalau sebentar lagi akan turun hujan, tapi Edward masih berada di halaman rumah tepatnya di dalam mobil.


Mbah Kumis menghela nafas panjang seraya menoleh pada Jojo, dia tahu kalau cucu kesayangannya itu kecewa dengannya, tapi dia tidak boleh egois karena calon cicitnya membutuhkan figur seorang ayah.


Jojo segera beranjak dari duduknya, lalu masuk ke dalam kamar. Hari itu dia gagal periksa kandungan, karena dia enggan keluar rumah agar tidak bertemu dengan Edward.


Mbah Kumis menatap punggung cucunya yang sudah menghilang di balik pintu kamar.


*

__ADS_1


*


Edward menatap langit yang sudah terlihat gelap dan terlihat ada kilatan-kilatan memanjang di sana, bertanda jika hujan sebentar lagi akan turun, dan benar dugaannya kalau karena tidak berselang lama rintik-rintik air hujan membasahi bumi.


Pria tampan itu menghenyakkan punggungnya di sandaran jok mobil yang sedang dia duduki, kemudian mengangkat salah satu pergelangan tangannya di mana ada jam tangan melingkar di sana.


Waktu sudah menunjukkan jam 6 sore, seharian dia belum makan dan saat ini perutnya terasa sangat sakit hingga melilit. Bukan ingin menyiksa diri sendiri, tapi Edward tidak ingin beranjak dari sana karena takut kalau Jojo pergi dari sana saat dia pergi untuk mengisi perut.


Rasa bersalahnya membuat Edward rela melakukan apa saja demi Jojo.


Edward menghela nafasnya berulang kali seraya memegangi perutnya, keringat dingin juga mulai bercucuran di pelipisnya.


Suara ketukan jendela mobil di sisi kanan mengejutkan Edward yang tengah menahan rasa sakit. Edward menoleh dan dia segera memasang raut wajah tenang untuk menutupi rasa sakitnya.


“Kakek.” Edward segera membuka pintu mobil dan keluar dari sana, menyapa pria tua yang saat ini menatapnya dingin dan datar.


“Karena aku adalah manusia yang memanusiakan manusia, jadi aku masih mempunyai hati nurani yang tinggi. Masuk ke rumah dan isi perutmu!” Mbah Kumis berkata dengan nada datar, kemudian ia segera berjalan ke dalam rumahnya sebelum hujan turun semakin deras.


Edward merasa terharu dan sangat senang, tanpa ragu dia segera mengikuti langkah Mbah Kumis masuk ke dalam rumah tersebut.

__ADS_1


“Tuh! Buat mie sendiri!” Mbah Kumis memberikan dua bungkus mie instan dan dua telur ayam kampung kepada Edward.


Edward terkejut, seumur hidupnya dia tidak pernah memakan mie instan seperti itu.


“Kenapa, tidak mau?!” Mbah Kumis melotot seram sambil menggerakkan kumisnya yang tebal dan besar itu.


“Mau, Kek, mau!” Edward menjawab dengan cepat seraya mengambil mie dan telur yang di sodorkan kepadanya. Dari pada dia kelaparan lebih baik makan mie instans, pikir Edward.


“Cara masaknya bagaimana, Kek?” tanya Edward bingung.


“Dasar wong sugih! Masaknya ya di rebus!” Mbah Kumis segera keluar dari ruangan itu meninggalkan Edward yang di landa kebingungan, tapi tidak berselang lama Mbah Kumis kembali lagi dan menatap Edward dengan tajam.


“Jangan lupa setelah makan, piring dan sendoknya di cuci. Setelah itu bersihkan area dapur sampai bersih, kalau bisa sampai lalat ke peleset saat hinggap di atas lantai!” ucapan Mbah Kumis membuat Edward terkejut bukan kepalang.


“Kek, tapi--”


“Jojo sangat sensitif dengan bau masakan di masa kehamilannya, jadi dia nanti akan mual dan muntah jika masuk ke area dapur!” balas Mbah Kumis sambil memelintir kumis tebalnya beberapa kali.


Mendengar penjelasan Mbah Kumis, Edward langsung mengangguk cepat dan patuh. Dia tidak ingin Jojo mual dan muntah yang bisa membahayakan bayi yang ada di dalam kandungan Jojo.

__ADS_1


__ADS_2