Hasrat Nakal Anak Tiri

Hasrat Nakal Anak Tiri
Galaunya Edward


__ADS_3

"Uhuk!" Edward terbatuk- batuk lantaran terkejut ketika mendengar ucapan Jojo.


"Kau bilang apa, Jo?" tanya Edward menghentikan makan seraya mengambil segelas air putih dan segera meminumnya hingga tanda. Tersedak itu menyisakan rasa sakit dan perih di tenggorokan hingga menjelar kehidungnya.


"Apa? Memangnya aku bilang apa?!" Jojo berkilah, ia segera memakan makan malamnya tanpa menatap Edward yang masih menatapnya dengan lekat. Jojo menjadi salah tingkah karena kelepasan berbicara, menyebut Edward adalah ayah dari bayi-bayinya.


"Aku yakin kalau aku tidak salah dengar. Kakek juga dengar 'kan kalau Jojo menyebutku sebagai ayah bayi-bayi yang di kandungnya," ucap Edward sangat antusias, akan tetapi Mbah Kumis menjawab dengan gelengan kepala.


Tapi, tidak apa-apa meski Mbah Kumis juga tidak mengakuinya, yang penting dia tidak berhalusinasi dan pendengarannya masih tajam. Dia sangat yakin kalau Jojo mengatakan hal tersebut.


"Mungkin pendengaranmu bermasalah." Mbah Kumis menyahut lalu fokus pada piringnya yang berisi nasi dan sup daging yang sangat menggoda. Dia segera menyantap makan malamnya dengan lahap.


Edward menipiskan bibirnya seraya menghela nafas panjang, kemudian ia menatap Jojo sejenak sebelum kembali fokus makan.


*


*

__ADS_1


Selesai makan malam. Edward mencuci piring dan membersihkan dapur dan meja makan seperti perintah Mbah Kumis sebelumnya. Setelah selesai semua, ia segera berpamitan kepada Jojo dan Mbah Kumis kembali ke mobil.


"Tidur di dalam rumah saja. Di sini banyak kamar." Mbah Kumis berkata kepada Edward yang sudah akan keluar dari pintu rumah tersebut.


Mendengar ucapan Mbah Kumis, tentu saja Edward tidak menolaknya. Ia segera mengangguk penuh semangat sambil tersenyum lebar.


"Oke, Kek," jawab Edward senang.


"Sesenang itukah?" cibir Mbah Kumis pada Edward lalu beranjak dari duduknya, menunjukkan kamar untuk pemuda itu.


*


*


"Seperti apa pun kemarahan bapak kepada kita, harus kita hadapi, karena kita memang salah," ucap Kirana kepada suaminya.


*

__ADS_1


*


Kembali ke Semarang. Malam semakin larut. Semua orang yang ada di dalam rumah itu sudah masuk ke kamar masing-masing.


Jojo sudah terlelap dalam tidurnya, tapi tidak dengan Edward yang saat ini sedang gelisah dan kesal karena dia baru saja mengisi daya ponselnya sambil memeriksa ponselnya itu. Dia mendapatkan pemberitahuan dari atasannya kalau dia mendapatkan SP 2 karena sudah 2 hari bolos kerja, jika sampai besok dia tidak masuk kerja lagi maka dia akan mendapatkan SP 3 atau yang paling parahnya akan di pecat.


Edward kini berada di tingkat kegalauan yang tinggi. Dia harus memilih karir atau Jojo.


Edward mengacak rambutnya dengan frustrasi, jika boleh memilih ia akan memilih keduanya, karena menjadi sutradara terkenal adalah impiannya sejak kecil, tapi di sisi lain ada Jojo yang membutuhkan dirinya, lebih tepatnya ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Tiba-tiba Edward mengingat ucapan Ayahnya yang menyuruhnya berhenti menjadi sutradara agar bisa menggantikan posisi ayahnya di perusahaan.


Mungkinkah tawaran ayahnya itu akan menjadi batu loncatannya?


Lama memikirkannya, akhirnya Edward mulai mengantuk dan akhirnya merebahkan diri di atas ranjang yang berukuran tidak terlalu besar itu. Dia segera memejamkan kedua mata dan tidak berselang lama terlelap dan terbuai ke alam mimpi.


***

__ADS_1


Jangan lupa dukungan dan like-nya ❤


__ADS_2