
BUGH!!
BUGH!
BUGH!
Suara pukulan keras bertubi-tubi terdengar di dalam rumah mewah yang ada di sebuah Desa pada pagi hari itu.
"Hentikan! Kenapa Daddy memukulinya?!" Jojo menolong dan membantu Edward yang terkapar di atas lantai dengan kondisi wajah lembam dan salah satu hidung mengeluarkan darah.
"Karena dia sudah menodaimu!" Nathan menujuk Edward yang ada di pangkuan Jojo. Dia murka ketika mengetahui kenyataan kalau putrinya hamil setelah bercerai dengan Eldan, tapi yang membuatnya semakin marah adalah yang menghamili putrinya adalah Edward yang tak lain adalah putra tunggal Elden.
"Dia pantas mendapatkannya!" desis Nathan penuh emosi.
"Daddy kendalikan emosimu!" Kirana memperingatkan suaminya agar bisa mengontrol emosi.
Mbah Kumis menatap tajam putri dan menantunya, kemudian ia berkata, "Bapak mau bicara sama kalian!"
Nathan dan Kirana segera mengikuti Mbah Kumis menuju ke arah dapur.
"Sudah merasa hebat?!" Mbah Kumis menatap tajam Nathan ketika mereka sampai di dapur.
"Maaf." Nathan menundukkan kepala.
"Pak, kami ..." belum selesai bicara namun ucapan Kirana langsung di potong oleh ayahnya.
__ADS_1
"Diam! Bapak tidak menyuruhmu bicara!!" sentak Mbah Kumis seraya mengentakkan tongkatnya ke lantai.
Sontak saja Kirana terkejut dan langsung menunduk takut.
"Bapak sangat kecewa dengan kalian berdua! Dengan tega kalian membiarkan Jojo sendirian di saat gadis malang itu membutuhkan dukungan! Di mana otak kalian?! Hah?!" Mbah Kumis benar-benar marah kepada anak dan menantunya.
"Pak, kami minta maaf atas segala hal yang sudah terjadi." Nathan berkata penuh sesal.
"Minta maaf kepada Jojo bukan kepadaku!" geram Mbah Kumis, menatap tajam kedua orang yang ada hadapannya itu.
*
*
"Iya, kau memang pantas mendapatkannya! Dan seharusnya lebih dari ini!" Jojo menjawab dengan dingin, salah satu tangannya menyapukan salep ke wajah Edward yang lebam.
"Emh ... Kenapa kau menolongku?" tanya Edward menatap wajah cantik mantan ibu tirinya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
"Kata Mbah Kumis menusiakan manusia adalah tindakan yang mulia, meski orang itu telah membuat seribu kesalahan yang fatal." Jojo beralih mengambil kapas untuk membersihkan darah yang terus mengalir di hidung Edward.
Edward tertegun beberapa saat, dia mempunyai sebuah kesalahan yang sangat besar, pantaskah dia mendapatkan maaf dari Jojo dan keluarganya?
Edward memegang salah satu tangan Jojo yang sedang membersihkan darah di sekitar hidungnya.
Jojo menatap tangannya lalu beralih menatap Edward sangat datar.
__ADS_1
"Jo, aku ..."
"Aku sudah memaafkanmu! Tapi, aku tidak akan melupakan perbuatanmu dengan begitu mudah!" ucap Jojo, seolah bisa membaca pikiran Edward.
Gadis itu segera melepaskan tangannya dari geganggam pria yang ada di hadapannya itu, lalu segera beranjak sambil berkata, "setelah ini kembalilah ke tempat asalmu!"
Edward terkejut mendengarnya, apakah ini bertanda jika dia tidak di terima oleh Jojo?
"Aku tidak akan pergi ke mana pun! Aku akan tetap berada di sini sampai kau menerimaku sebagai ..." ucapan Edward terhenti ketika mendengar suara deheman Mbah Kumis yang berjalan ke arahnya.
"Ehem!" Mbah Kumis berdehem keras saat keluar dari dapur ia mendengar pembicaraan Edward dan Jojo.
"Sudah selesai main dramanya?!" Mbah Kumis menatap Edward dan Jojo bergantian
"Kalian semua membuatku pusing! Biar masalah cepat selesai, maka aku akan menikahkan kalian!" Perkataan Mbah Kumis membuat semua orang di sana terkejut.
"Mbah!" protes Jojo menatap kecewa kepada kakeknya itu..
"Meski dia pria brengsek tapi kedatangannya ke sini dengan niat baik. Dia ingin mempertanggung jawabkan semua perbuatannya." Mbah Kumis tidak ingin mendengar protes dari cucunya.
"Terima kasih, Mbah." Edward tersenyum lebar.
"Jangan senang dulu!" Mbah Kumis menatap sebal pada pemuda itu.
Edward sontak saja langsung melipat bibirnya seraya menundukkan kepala.
__ADS_1