
Part 1.
Hari ini ssangat cerah sekali. Saya akan berangkat ke tempat kerja di satu kabupaten di provinsi yang saya tinggal.
Saya 'Haris' bersamaan dengan temanku kita di percayakan untuk membawakan uang senilai 1Milyar. Sesampainya di bandara temanku kelihatanya takut sekali, karna uang yangbkita bawa dalam jumlah besar.
Aku sampaikan kepada temanku.
"Bro, santai saja. Tidak usah panik, nanti orang tahu kita lagi bawa barang berharga" kata saya.
"Gimana mau santai bro, itu yang kita bawa uang. Jumlahnya juga besar sekali" jawab teman saya.
"Yaudah. Duduk di sini sama uangnya aku di depan kamu sambil panau kamu" saya pun berkata dengan santainya.
Sambil menunggu pesawatnya aku santai main game. Tetapi teman saya lagi-lagi masih terlihat cemas dan panik. Jadinya aku ngomong sama dia lagi.
"Bro. Sini uangnya aku pegang supaya kamu jangan terus-terusan panik" kata saya.
"Bagaimana tidak panik. Dari tadi aja kita seperti di perhatikan sama dua orang lelaki di ujung sana" katanya sambil membengkokkan bibirnya ke arah dua orang lelaki yang bertubuh kekar besar seperti bodyguard.
"Pantasan kamu begitu panik sedari tadi" kataku sambil menjawab pernyataannya. Dan melirik kearah dua orang yang di maksud temanku.
Sekitar lima menit temanku pun berkata.
"Iya sudah bro. Ni..." sambil berdiri dari tempat duduknya dan memberikan uangnya untuk saya.
"Sudah sana beliin minum dingin agar kamu bisa tenang dulu" aku berkata padanya sambil menunjukan kantin yang ada di ruang tunggu tersebut.
Dia pun pergi dan membeli minum dingin untuk kami berdua minum.
Terlihat temanku mulai berkurang paniknya.
Setibanya kami di tempat tujuan kami di sambut senior-senior kami.
Ternyata mereka pun panik karena memikirkan barang bawaan kami yang nilainya begitu besar.
"Aman" terdengar suara dari senior kami.
"Puji Tuhan. Aman" jawabku sambil mengucapkan syukur.
"Yasudah. Ayo" sambil memanggil aku sama temanku ke mobil kantor yang akan kita tumpangi.
"Ayo" kataku kepada temanku.
Setelah sampai di mobil kami pun sudah di tungguin sama sopir kantor yang sedari tadi nyantai di dalam mobil.
Setelah beberapa bulan berlalu, dan di satu hari saat itu ada kesalahan yang saya buat yaitu saya bingung saat di suruh buat satu pekerjaan.
Saat itu saya di marah habis-habisan.
"Kamu ini jauh-jauh ke sini mau kerja atau mau main" kata wakil kepala kantor saya.
Diam termenung sambil menundukan kepala. Dan terima semua amukan yang dia berika .
Saya pun menjadi down karena ada suatu tekanan dari wakil kepala di kantor.
Karena saat itu kepala kantor kami sedang melakukan perjalanan dinas ke kantor pusat.
Setelah selesai semuanya pulang ke rumah mereka masing-masing. Hanya tinggal lah saya dan seorang satpam yang bertugas untuk piket malam.
Tiba-tiba handphone saya berdering di dalam kantong celana kerja ku. Dan aku pun mengambilnya dari dalam kantong celana ku.
Kring...
__ADS_1
Kring...
Kring...
Ternyata seorang teman saya (perempuan) yang juga ada senior saya menelpon. Dia ada seoran pegawai perempuan satu-satunya di kantor kami dan dia juga pegawai yang baru juga pindah ke cabang tersebut.
Dengan lantang suaranya pun terdengar di handphone ku. Yang kala itu aku sudah merapatkannya ke telingaku seraya berjalan menuju tempat duduk yang berada di bawa sebuah pohon mangga.
"Hallo, haris" suara teman perempuanku.
Jawab ku sambil bingung sendiri menatap hp. Kok bisa dia menelpon "Ya kk"
"Kamu sudah pulang.? Atau kamu masih di kantor.?" terdengar suara temanku di seberang handphone.
"Aku masih di kantor kak" jawabku.
"Kamu ga usah pikiran, anggap saja apa yang tadi terjadi itu adalah sebuah pelajaran dan kamu musti ambilnya sebagai peganggan kamu ke depan" kata teman perempuan ku.
"Iya, pasti. Makasih yah nasihatnya" jawabku.
"Sudah. Kamu berdoa saja minta jalan yang terbaik dari sang pencipta. Agar jalan kamu ke depan jadi lebih baik" lanjutnya.
"Iya. Iya.iya. Selalu itu. Makasih banyak yah" jawab ku ke teman ku itu. Sambil hati ku bersyukur ternyata masih ada yah orang sebaik itu di kantor ku.
Padahal kalau mau lihat dari tampang wajahnya di tidak pernah tersenyum. Mungkin karena terlalu banyak memakai bedak (make up) makanya wajahnya menjadi kaku dak bisa tersenyum walaupun cuman semenit saja.
Tiba-tiba "tuuuth" sambungan teleponya terputus. Ternyata teman ku sudah mematikan teleponnya. Mungkin dia sudah ngantuk atau gimana. Aku kan tidak tahu soal ak sendiri masih di kantor.
Semua itu dia lakukan karna dia tau keadan saya sekarang pasti down, sebab semua kejadian tadi. Dan dia lakukan semua itu juga karena kami sudah saling kenal dan dekat. Juga kami sudah mengganggap seperti kakak dan adik. Jadi dia selalu memberikan dukungan buat saya setiap ada kesempatan di mana kita terlibat cerita.
Selesai berbicara di telepon saya pun duduk termenung sambil berpikir sendiri.
"Kok bisa hidupku begini.? Aku bisa sampai di tempat ini.? Padahal ini kan pelosok sekali. Ku pikir orang-orabya baik-baik ternyata dugaan ku salah. Malah ada yang bermuka dua.
***
Keesokan harinya kami pun kembali bekerja dengan baik. Dan saya pun sudah bisa mengatur ritme kerja saya. Karena dukungan dan kata-kata yang di berikan oleh temanku.
"Permisi. Selamat siang pak" sapa seorang nasabah yang baru masuk dari depan pintu. Dengan senyuman lebar yang terlihat dari raut wajahnya.
"Selamat siang ibu" jawabku menyapa salam yang di berikan nasabah tersebut sambil berdiri dan dengan senyuman yang sama di wajahku. Aku pun mempersilahkan dia duduk di depanku.
"Silahkan duduk bu" kataku.
Diapun menarik kursi yang sudah di sediakan di depan meja saya dan melangkah kedepan kursi tersebut untuk duduk.
"Ada yang bisa saya bantu ibu.?" Tanyaku menyambung pembicaran aku dan nasabah tersebut.
"Gini pak. Aku mau menabung di sini. Kira-kira apa saja persyaratannya yang harus saya lengkapi ya.?" Kata ibu itu menjawab pertanyaan saya.
"Yang perlu hanya identitasnya ibu saja. Yaitu e-Ktp ibu" sambung saya.
"Oh iya ini pak" sambil menyodorkan e-Ktp.nya untuk saya.
"Bentar ya bu saya proses pembukaan tabungannya ya" kataku sambil mengambil e-Ktp dari tangan si ibu dan mulai memproses pembukaan Rekening Tabungan sih ibu.
***
Dari percakapan yang terjadi maka pembaca bisa tahu sendiri kalau aku kerjanya di Perusahaan swasta yang beroperasi di bagian Keuangan. Lebih tepatnya Perbankan.
"Bu. Tabungannya sudah jadi, selanjutnya ibu bisa setorkan uangnya ke bagian teller" kataku sambil berdiri. Saya memberikan buku rekening tabungannya dan menunjuk karah kiri tepatnya di meja temanku (senior) yang tugasnya adalah adalah sebagai seorang Teller (kasir).
Bersamaan dengan berdirinya saya. Ibu nasabah tersebut pun berdiri juga dan mengambil buku tabungan yang di berikan saya. Sambil menjawab dengan sopan.
__ADS_1
"Baik pak. Makasih banyak sudah membantu saya" dan ibu itu pun berlalu meninggalkan mejaku melangkahkan kakinya ke meja teman yang beada di meja Teller.
Setelah sampai di tempat tujuannya di meja Teller, dia pun menyapa teman ku.
"Selamat siang pak" sapa ibu nasabah tersebut kepada teman saya yang sementara mengetik di keyboard komputer sambil sesekali memandang layar monitor komputer tersebut.
"Selamat siang ibu. Ada yang dapa saya bantu" jawab temanku dengan penuh senyuman yang semangat kepada ibu tersebut.
Maklum seorang Teller (kasir) harus membuat suasana begitu enak supaya nasabah yang bertamu tak bosan untuk selalu bertransaksi dengan bank kami.
"Saya baru selesai buka tabungan. Dan katanya harus menyetorkan uangnya ke sini (Teller)" sambil bembuka tasnya yang berisikan uang dan di ambilnya uang tersebut lalu di berikannya kepada temanku.
"Saya terima uangnya bu. Saya hitung dulu yah bu" mengambil uang tersebut dengan pandangan yang mengisyaratkan kepada nasabah tersebut untuk melihat ke mesin penyetor uang.
"Bu. Uang yang ibu setor ada Rp. 10.000.000.- yah bu" kata temanku sambil menunjukan angka 100 yang ada tertera di mesin uang tersebut.
Angka 100 itu berarti uang yang di setor ada 100 lembar. Jadi 100 lembar di kalikan Rp. 100.000.- maka jumlahnya Rp. 10.000.000.- di karena uang yang di setor itu tersebut semuanya lembaran Rp. 100.000.-
"Iya pak" sambil menganggukan kepala kepada teman saya.
"Ibu duduk sebentar yah, saya proses dulu" kata teman saya sambil menunjukan kursi kosong yang berada di belakang ibu nasabah tersebut.
Melangkah kembali menuju kursi tersebut dan duduk di satu kursi yang kosong.
"Tuk tuk tuk tuk tuk tuk tuk tuk" terdengar suara jari teman teller ku yang sedang mengetikan keyboard komputernya. Berselang beberapa menit diapun berdiri dan.
"Bu. Mari silahkan" sambil menunjukan tangannya ke depan mejanya.
Dan berdirilah ibu nasabah itu sambil berjalan mendekati meja teman ku.
"Bu. Ini uangnya ibu sudah saya setorkan. Ini buku ibu juga sudah saya print out. Dan ini nilai terakhir saldo ibu yah" sampil salah satu jarinya menunjuk ke arah buku di mana sudah tertera tulisan berupa angka-angka yang sudah di print out tadi.
"Baik pak. Berarti aku sudah bisa pulang.?" kata ibu itu bertanya kepada teman ku. Sambil mengambil bulu Rekening Tabungannya dari tangan teman ku. Langsung di letakan buku tabubgannya ke dalam tas miliknya. Yang mana tasnya itu di pakai untuk mengisi uang yang sudah di tabung tadi.
"Sudah bu. Semua prosesnya sudah selesai" menjawab pertanya dari ibu nasabah tersebut.
"Terima kasih yah pak" sambil berterima kasih kepada teman ku dan balik belakang meninggalkan meja Teller tersebut.
"Terima kasih yah pak. Sudah membantu saya" berjalan menuju pintu keluar dan sebelum keluar dia menyapa ku dengan ke dua telapak tangan yang di dekatkan dan di letakan di depan dada bertanda terima kasihnya kepada ku.
Dan dia pun keluar berlalu meninggalkan kantor kami. Yang itu saya bisa tahu karena meja yang saya tempati persis berhadapan dengan jendela kaca yan bisa melihat ke depan kantor.
Dari luar kelihatan teman satpam ku berlari masuk kedalam kantor yang di mana tujuannya yaitu ke tempat duduk ku (meja yang aku tempati).
"Bro. Ibu nasabah yang tadi tansaksi apa.? Pembukaan Rekening Tabungan atau Deposito" kata adengan wajah yang penasaran.
"Ibu nasabah itu pembukaan Rekening Tabungan" jawab ku tanpa melihat teman satpam ku. Soalnya aku masih sibuk mengetik laporan ku.
"Yang bersangkutan setor awal berapa" tanya temanku lebih penasaran lagi.
"Yah adalah. Masa nilai tabungan punyanya orang kamu mau tahu sih. Kenapa emangnya.?" jawabku dengan lantang kepadanya. Tapi tetap tak melihat ke arahnya. Karena laporanku masih banyak yang belum di input. Soalnya aku melanjutkan tugas teman ku ang sudah pmdi mutasikan ke kantor cabang lain.
Soalnya beberapa lembar punya dia belum di input ke dalam Excel. Sedangkan akhir bulan ini sudah harus di kirim ke kantor pusat.
"Yah tidak ada maksud apa-apa. Atau mau tahu tabungannya orang tetapi karena nasabah itu yang kemarin aku prospect untuk menabung di banknya kita.
"Oh gitu. Ya sudah tenang saja. Nanti aku input ke laporan itu nasabah punyanya kamu" jawabku ku.
"Ya sudah aku lanjut membuat laporan ku dulu yah. Soalnya sudah mau deathline ni" lanjutku. Sambil berpikir "pantasan tadi sebelum ibu itu masih dia sama teman satpam sempat berbicara di depan. Tapi karena areanya di luar ruangan jadinya aku tidak tahu mereka berbicara apa".
Teman satpam ku pun melangka keluar ke mejanya yang berada pas di depan pintu masuk ke dalam kantor. Maklum tugasnya kan menyapa nasabah sebelum mereka masuk ke dalam kantor kami
Bersambung...
__ADS_1