
(Part 5) APA MUNGKIN
Pov Kepala kantor ku.
Apa mungkin.?
Apa mungkin.?
Apa mungkin.?
Sepanjang aku berjalan pulang ke kosan ku. Hanya kata itu yang terbayang di dalam benak ku.
"Apa mungkin dia sudah mendengar semuanya.? Toh rumahnya kan cuman bersebelahan dengan kantor. Tentunya untuk hal mendengar sudah pasti iya" hati ku terus bertanya-tanya.
Saking tidak fokusnya aku karena terlalu berpikir. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar…
Gukk…
Gukk…
Gukk…
"Waduh mampus aku. Itu kan anjing (binatang)" dalam hati ku berkata dengan refleks aku pun berlari dengan kencangnya. Soalnya aku salah satu manusia yang paling takut sama anjing.
Rasa takut ku karena memang ada alasannya. Aku trauma karena pernah semasa kecil waktu SD aku pernah di gigit anjing. Makanya buat seperti melihat anjing seperti melihat musuh.
Aku pun tiba di kosan ku dengan nafas yang tak teratur karena ngos-ngosan. Dan perasaan panik.
"Dasar anjing yah tetap kelakuannya yah gitu" gumamku.
Sambil membuka pintu kosan dan masuk. Aku pun berdoa setelah selesai berdoa langkah kaki ku pun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang berkeringat ini.
Beberapa menit kemudian…
"Akhirnya selesai juga" kata ku.
Segar…
Segar…
Segar…
Aku pun memakai pakaian dan merebahkan tubuh di tempat tidur. Baru saja ingin pejamkan mata ini sebentar. Tiba-tiba…
Drrttt…
Drrttt…
Drrttt…
__ADS_1
Ku lirik hp ku ternyata kepala kantor lah yang menelpon ku. Ada apa yah, pikir ku. Aku pun meenerima panggilan teleponnya
"Kamu lagi ngapain ris.? Kok lama ngangkatnya" kepala kantor ku pun bertanya.
"Maaf pak. Aku barusan selesai mandi pak" jawab ku.
"Oh iya. Nanti datang yah di kantor. Kita duduk cerita-cerita. Kan besok libur jadi cerita bisa panjang" lanjutnya.
Aku mau beri alasan apa yah. Bukannya takut tapi hanya tidak mau buat masalah antara kepala kantor dan wakil kepala kantor.
"Anu pak. Aku…" kataku pun terputus karena kepala kantor ku memotong pembicaraan kita.
"Kamu kenapa.? Kamu takut.? Karena di ancam sama Dia" kata kepala kantor ku. Maksudnya dia ini adalah wakil kepala kantor ku.
"Bukan gitu pak. Aku hanya tidak mau karena aku bapak dan wakil kepala kantor jadi berselisih" kata ku menjawab pertanya yang di berikan pak kepala kantor kepada ku. Tapi dalam hati ku berkata dari mana dia tahu yah.
"Tidak usah kamu risaukan perkataannya. Dia memang orangnya gitu. Sukanya iri hati sama semua orang yang punya hubungan dekat dengan pimpinannya. Anggap aja itu sebagai pelajar bagi kamu supaya kamu sendiri bisa menilai mana yang baik seutuhnya dan mana yang hanya berpura-pura baik" jawab kepala kantor ku dengan santai tetapi kata-katanya begitu tegas.
"Iya pak" jawab ku lagi. Menanggapi apa yang di bilang pak kepala keantor ku.
"Jadi kamu datang saja. Soalnya aku sendiri di rumah tidak ada teman untuk bercerita" kata kepala kantor ku.
"Baik pak" jawab ku sambil mengambil topi yang ada di gantungan dan bersiap-siap untuk ke rumah pak kepala kantor.
Aku pun berangkat ke rumah kepala kantor. Pintu pun di kunci dan tak lupa kuncinya aku letakan di saku celana ku dengan benar. Takutnya kejadian malam itu terulang lagi.
___
"Selamat malam pak" sapaan ku kepada pak kepala kantor yang mana Dia sementara duduk sendiri di depan pintu rumahnya.
"Malam ris. Mari duduk" jawabnya sambil mengisyaratkan ku duduk di sampingnya.
"Kamu sudah makan.?" kepala kantor ku pun kembali bertanya.
"Belum pak. Sedikit lagi aku ke pasar untuk membeli makanan pak" jawab ku.
"Kalau gitu ayo kita ke pasar. Tapi beli lauk aja soalnya di dalam ada nasi" katanya kepada ku.
"Jangan lagi pak. Nnti aku beli ketupat saja. Seperti kemarin" jawab ku beralasan soalnya aku merasa sungkan.
"Tidak masalah ris. Ayo kita pergi" katanya sambil berjalan menutup pintu rumahnya.
"Iya pak" jawab ku. Tapi sejujurnya hati ini merasa sangat sungkan soalnya malu hati ku palin besar.
"Ayo" katanya mengisyaratkan aku untuk naik ke sepeda motor yang sidah di kendarainya.
"Pak. Mari aku yang mengendarai sepeda motornya" kata ku karena merasa tidak enak. Masa seorang kepala kantor membonceng anak buahnya.? Seharusnya itu anak buahnya yang memboncengnya.
"Sudah hari ini aku yang mengemudi. Ayo.!!!" jawabnya menyuruh ku untuk cepat naik ke atas sepeda motornya.
__ADS_1
___
Malam ini pasarnya agak sepi mungkin ada acara, pikirku. Tetapi terlihat ada beberapa ibu-ibu yang masih berjualan. Dan terlihat ada lauk ikan yang kita mau. Akhirnya kita pun menuju ke tempat jualan tersebut.
"Permisi. Ibu aku beli lauk ikan ini seharga lima belas ribu yah" kata ku kepada penjual itu. Dan dia pun meletakannya ke dalam plastik putih bersih dan mengikatnya.
"Bu. Kok pasarnya sepi.? Kemana orang-orangn yang lain.?" aku bertanya kepada penjual tersebut.
"Oh. Itu, ada teman kami yang biasanya berjualan di sini. Anaknya hari ini nikahan makanya pada pergi semuanya" jawabnya.
"Oh gitu yah bu. Kok ibu tidak pergi.?" tanya ku lagi.
"Tidak mungkin aku tidak pergi. Aku udah duluan pergi tadi pagi. makanya pulang aku langsung berjualan" jawabnya.
"Oh iya bu. Makasih yah bu. Kami balik yah" kataku.
Kami pun kembali ke rumah kepala kantor dan sama-sama makan makanan yang sudah di belikan. Selesai itu makan kami pun duduk santai di depan rumahnya.
"Pak. Jujur saja aku rasa tidak enak loh pak" kata ku membuka pembicaraan.
"Tidak enak apa ris.? Masalah wakil kepala kantor itu yah.?" tanya pak kepala kantor.
"Iya pak. Takut orangnya berselisih sama bapak" jawab aku.
"Tidak usah kamu pikir itu terus. Biarkan saja, kalau memang orangnya marah kamu bilang sama aku. Tidak usah kamu takut" katanya dengan suara yang tegas dan mimik muka yang serius.
"Iya pak" jawab ku sambil merokok bersama pak kepala kantor.
Kami pun terus berbicara dan istrinya teleponnya. Maklum istrinya masih di kota sedangkan kami di kabupaten.
"Pak. Lanjut telponnya dulu. Aku balik yah pak. Soalnya mau nyuci malam ini supaya esok bisa jalan-jalan" kataku kepada kepala kantor ku.
"Iya ris. Jangan marah yah ris. Soalnya anakku kangen aku. Kamu pakai sepeda motor aja" jawabnya kepada ku. Dan menawarkan sepeda motor untuk aku pakai.
"Jangan lagi pak. Aku jalan aja, tidak apa-apa pak. Aku balik yah pak" jawab ku sambil berjalan balik ke kosan ku.
"Iya ris hati-hati yah" katanya seraya mengangkat tangannya mengisyaratkan kalau aku harus berhati-hati.
Dan aku pun berjalan kembali ke kosan ku sambil memutarkan musik untuk menemani ku di dalam perjalanan. Setibanya aku di kosan ku. Aku langsung tidur karena sudah kecapean.
Aku pun tak lupa untuk mencuci kaki, tangan, dan menggosok gigi baru aku tidur. Tak lupa aku berdoa.
"Selamat malam" kata ku kepada bantal guling ku.
He he he he he…
Bersambung…
HITAM PUTIH HIDUP INI.
__ADS_1