
(Part 7) TERINGAT NENEK KU
Sore hari aku pun terbangun dari tidur ku. Aku pun duduk di samping tempat tidur sambil menatap hp ku. Ternyata belum juga ada balasan. Tiba-tiba aku teringat akan mimpi yang semalam.
"Nenek aku kangen nenek. Setelah kepergian nenek aku sendiri tidak ada teman bicara" kata ku sambil menatap foto nenek ku yang selalu ku simpan di hp. Air mata pun jatuh mengalir dengan derasnya nafas ku pun tertahan sejenak.
Soalnya ku mengingat semua kenangan-kenangan manis bersama nenek ku dulu. Iya adalah seorang yang tangguh. Orangnya selalu mengajarkan ku agar tetaplah selalu kuat dan jangan pernah menyerah. Haruslah tetap tersenyum walaupun saat duka dan susah sekali pun.
Iya pun mengajarkan semua hal tentang baik dan buruknya kehidupan yang tidak pernah aku dapat sedikit pun dari ke dua orang tua ku. Bahkan dia tak pernah mau aku mengeluarkan air mata setetes pun apalagi seperti saat ini.
"Nek. Aku minta maaf aku buat nenek kecewa karena tidak mendengarkan apa yang nenek bilang. Yaitu tidak boleh keluar air mata harus senyum maafkan ku nek" kata ku sambil melihat foto nenek ku. Tetapi baru aku sadar kalau hp ku basah karena air mata yang aku keluarkan.
"Nek aku cuman merasa belum pantas jadi seorang cucu dan aku juga merasa menyesal soalnya belum bisa bahagiakan kamu nek. Bahkan nenek meninggal saja aku belum kerja, aku masih kuliah nek. Sekarang aku sudah kerja nek, tapi rasanya kerjanya tak ada artinya toh nenek sudah tidak ada di samping ku" lanjut ku berbicara lagi kepada foto nenek.
Aku pun teringat aku hari di mana nenek mau meninggal. Saat yang di panggil cuman nama ku padahal sudah ada anak-anaknya nenek sama cucu-cucunya nenek yang lain.
"Apakah aku sespesial itu kah bagi nenek.? Tolong jawab aku nek" kata ku lagi kepada foto nenek yang masih ku pandang.
"Nek apa artinya saat nenek sudah tidak bisa berbicara dan nenek paksa untuk berbicara tapi yang mengerti pembicaraan nenek hanya aku.? Apa artina nek.? tolong jawab aku nek aku butuh jawaban itu nek"
Aku pun terus menangis seakan-akan aku butuh jawaban dari nenek ku, tetapi semuanya hanya semu karena semua itu tak bisa terjadi. Yang ku ajak bicara bukan tubuh nenek ku tapi hanya gambar.
Tapi sampai sekarang aku tidak pernah menganggap nenek ku meninggal melainkan hanya terpisah tempat tinggalnya bersama ku. Sampai aku pun di kejutkan dengan getaran hp ku sendiri.
Drrttt…
Drrttt…
Drrttt…
Itu adalah panggilan dari teman ku pikir ku ada apa yah dia telpon aku jam segini. Kan sudah sore. Aku putuskan untuk mengangkatnya. Tetapi sebelumnya aku membersihkan air mata ku dan mengatur nafas ku yang ang terdengar satu dua di ujung hidung ku.
"Hallo. Ada apa yah bro.?" tanya ku kepada teman ku di telpon.
"Ini bro. Aku mau nagajak kamu pergi main sepak bola. Kamu mau tidak.?" jawabnya sambil bertanya kembali kepada ku.
"Oh iya bro. Tapi kamu jemput aku yah. Soalnya aku tidak punya kendaraan bro. Bisa kan.?" jawab ku bertanya kembali kepadanya.
"Iya bro. Makanya aku menelpon kamu ini bro" jawabnya.
"Ok lah. Aku tunggu yah" jawab ku.
"Lima belas menit aku tiba di situ, siap-siap sudah bro" lanjutnya.
"Iya bro" jawab ku.
Lima belas menit kemudian aku tungggu tapi ternyata orangnya tidak datang. Aku pun putuskan untuk lepaskan sepatu dan ganti pakaian. Ternyata aku baru melepaskan sepatu sebelas tiba-tiba ku dengar bunyi sepeda motor teman ku sudah sampai.
"Ayo kita jalan" katanya yang sudah berdiri di depan pintu kamar ku.
__ADS_1
"Aku barusan mau buka sepatu dan ganti pakaian lagi. Ternyaa kamu udan datang. Ya sudah tunggu yah aku pakai sepatu ku lagi" jawab ku kepada teman kusambil mengisyaratkan dia untuk tunggu sebentar karena aku kembali mau pakai sepatu ku lagi.
"Aku tunggi kamu di sepeda motor yah" katanya kepada ku sambil berjalan ke sepeda motornya.
Aku pun selesai memakai sepatu ku kembali dan aku menutup pintu kosan ku dan berjalan menuju sepeda motornya.
"Ayo jalan jangan sampai kite terlambat. Dan mereka sudah selesai mainya lagi" kata ku sambil menepuk bahunya mengisyaratkan dia untuk segera jalan.
Kami pun berangkat menuju lapangan. Sesampai di lapangan ternyata sudah ada teman-temanna kami yang lain tetapi mereka belum juga mai karena masih kekurangan dua orang.
"Hah. Pas kalian berdua datang. Mari cepat kita mulai bermain" kata salah satu teman kami dari dalam lapangan.
Kami berdua pun memakirkan sepeda motor di tepi jalan dan kami pun berlari ke dalam lapangan. Kami pun mulai bermain. Sampai matahari terbenam, kami pun selesai bermain dam aku pun kembali pulan bersama teman ku juga.
"Makasih yah bro. Hati-hati di jalan yah" kata ku setelah kami tiba di kosan ku. Dan tangan ku di angkat mengisyaratkan dia agar hati-hati saat di jalan.
"Iya bro. Makasoh yah" jawabnya sambil mengemudi sepeda motornya untuk kembali ke kosannya juga.
Aku pun masuk ke dalam kos-kosan ku. Dan mulai melespan semua pakainya ku karena sudah berkeringat dan aku pun langsung menuju kamar mandi untuk bersikan tubuh ku.
Selesai mandi dan sudah rapi dengan pakaian yang sudah di ganti. Aku pun putuskan untuk menuju dapur umum. Dapur umum yang ku maksudkan iyalah pasar malam yang biasa menjual makanan jadi itu.
___
Sesampai di sana aku pun beli makanannya dan makan sekalian di situ karena ada meja dan kursi kosong yang memang sudah di siapkan. Hampir selesai makannya tiba-tiba hp ku berbunyi.
Drrttt…
Drrttt…
Drrttt…
"Waduh. Ternyata kepala kantoe ku yang telpon. Yah Tuhan maafkan aku pak" kata ku sambil melihat hp ku.
"Hallo. Selamat malam pak" kata ku menjawab telepon darinya.
"Kamu di mana.? Ayo kemari kita pergi beli makanan" dia pun bertanya di telepon.
"Maaf pak. Aku sementara makan di pasar pak. Di tempat biasa yang aku sama bapak beli makanan itu" jawab ku.
"Waduh. Kamu ini pergi tidak bilang-bilang lagi. Ok tungguin aku di situ yah" katanya lagi.
"Iya pak. Maaf yah aku lupa pak" jawab ku lagi kepadanya.
Lima belas menit pun berlalu. Tiba-tiba ada suara dari belakang ang memanggil ku.
"Ris. Haris"
"Oh bapak. Pak, parkirnya di sebelah sini pak" kata ku sambil mengangkat tangan ku menunjuk tempat kosong yang bisa di pakai untuk memakirkan sepeda motor.
__ADS_1
"Ok" kata kepala kantor ku dengan semangat sambil menunjukan jari jempolnya kepada ku.
Terlihat pak kepala kantor ku mengemudi sepeda motornya ke arah ku. Dan terlihat kepala kantoe ku sudah memakirkan sepeda motor di tempat yang ku arahkan.
"Pak mau makan apa lalu aku yang pesan" kata ku bertanya kepadanya yang terlihat sementara berjalan ke arah ku.
"Seperti biasa saja ris" katanya kepada ku mengisyaratkan aku untuk pesan seperti yang biasa kami beli.
"Ok pak" jawab ku.
"Bu pesan yang sama lagi satu porsi yah" kata ku kepada ibu yang menjual.
"Baik nak" jawab ibu itu sambil menyajikan makannya.
"Ini nak makanannya" lanjutnya sambil memberikan makanan yang sudah di siapkan.
"Permisi pak. Ini makanannya" kata ku kepadanya.
"Baik. Ayo kita makan" jawabnya dan mengisyaratkan aku untuk makan lagi. Padahal makanannya aku sudah hampir habis.
"Iya pak" jawab ku.
Lima menit aku pun selesai makan. Dan sepuluh menit kemudian kepala kantor ku pun selesai makan juga.
Kami pun berbicara sambil merokok di situ. Sudah satu jam kami berbicara di situ. Aku melirik jam tangan ku sudah jam setengah sepulu. Akhirnya aku sampaikan buat kepala kantor ku untuk kita balaik dari situ.
"Pak. Kayaknya kita balik sudah pak. Soalnya sudah jam setengah sepuluh" kata ku padanya sambil menunjukan jam tangan ku kepadanya.
"Ok ris ayo. Aku anterin kamu ke kosan kamu" katanya sambil mengisyaratkan aku untuk naik ke sepeda motornya agar dia mengantar ku ke kos-kosannya aku.
"Pak aku jalan kaki saja. Sekalian olahraga. Lagian kan dekat saja pak" jawab ku sambil beralasan. Soalnya aku merasa malu hati. Masa aku anak buahnya kok di anterin sama kepala kantor.
"Sudah sini naik. Supaya aku juga bisa tahu kos-kosannya kamu" katanya kepada ku.
"Iya udah pak. Aku cuman tidak enak saja saja pak. Masa bapak antar saya. Saya kan cuman anak buahnya bapak" kata ku kepadanya.
"Jangan gitu ris. Aku sudah anggap kamu itu seperti adik ku sendiri. Ayo naik lalu kita pergi" katanya kepada ku sambil tangannya menepuk bahu ku.
"Iya pak" jawab ku sambil naik ke atas sepeda motor.
Setelah lima belas menit kami sampai di tempat tujuan kami yaitu kosannya aku. Dan aku pun turun dari sepeda motor itu.
"Makasih yah pak. Hati-hati di jalan yah pak" kata ku kepadanya.
"Iya ris. Makasih yah" katanya sambil mengemudikan sepeda motornya meninggalkan ku kembali ke rumahnya.
Aku melihatnya sampai sepeda motor itu pun tak terlihat dan setelah itu aku pun masuk ke dalam kamar kosan ku.
Bersambung…
__ADS_1
HITAM PUTIH HIDUP INI.