
Terimakasih sudah mampir
Jangan lupa klik jempol dan komentar
klik juga ❤️ dan vote biar author semangat
Hendrik langsung mengenali Olivia karena tanda lahir yang ada di belakang telinga itu membuat Hendrik senang dan bersyukur bertemu langsung setelah pulang dari Luar Negri dua hari yang lalu.
Mereka berbincang bincang memperkenalkan diri tidak sedikit canda tawa mereka menggelegar. Hendrik sangatlah suple sehingga cepat akrab dengan Black Red.
"Hey, jadi ga hari ini karaoke nanti kemalaman pulangnya, " ucap Rena mengingatkan kembali acara karaokenya.
"Oiya tadi aku juga mengajak Reza bentar lagi dia sampai, " ucap Aliana tanpa rasa bersalah, mereka tidak tau kejadian di Rumah Sakit, setahu teman-temannya Olivia da Ariz sudah berbaikan
"Kalau ada Ariz aku ga ikut yah, aku lagi malas sama dia tidak mau bertemu dulu, " ucap Olivia mencoba menghindari bertemu dengan Ariz. Selama ini Ariz menghubungi setiap hari hampir 300 panggilan. Olivia menolak karena hatinya masih belom bisa menerima kejadian yang ingin dia lupakan.
"Aduh gimana yah mereka udah di jalan, mang ada pa lagi Nyai remponk sebelumnya baik baik saja!" ucap Aliana.
"Aku lagi ga mood bertemu dengan Ariz, yaudah lah aku pulang duluan aja, " ucap Olivia sambil mengambil tas untuk pulang.
"Aku anterin yah, " ucap Hendrik menyodorkan diri untuk mengantar Olivia pulang.
"Aku bawa mobil sendiri kesini, " ucap Olivia dengan nada sedikit kesal.
"Biar aku anterin, mobil kamu biar nanti aku yang antar, " ucap Hendrik sambil menggandeng paksa tangan Olivia.
"Dih, maksa, " ucap Olivia
"Biarin, onty aku anter Olivia pulang, kalian pergi saja kami tidak apa-apa, " ucap Hendri sambil jalan bergandeng tangan dengan Olivia.
"Nyai remponk ga seru nih ga da kamu, kamu sendiri yang minta karaokean huh, " ucap Aliana sambil memanyunkan bibir bawahnya.
"Ehmmm, Jadi penasaran aku sama kamu dan Ariz, " ucap Rena.
__ADS_1
"Tanyakan saja sama dia aku malas bahas dia wleek, " ucap Olivia sambil menjulurkan lidahnya.
Olivia dan Hendrik pergi keparkiran menggunakan lift, setelah keluar dari lift ada seseorang yang sudah menunggunya, tanpa Olivia sadari ada sepasang mata memperhatikan Olivia dari kejauhan tiba tiba seseorang itu menghampiri Olivia.
"Hii hon, bisa kita bicara sebentar, " ucapnya sambil membuka kaca mata.
"Mau bicara tentang apa? Aku rasa tidak ada yang harus di bicarakan lagi, " jawab Olivia dengan muka kecut dan sinis. Dugaan Olivia benar pasti ada Ariz, karena pacar Aliana dan Rena sahabatnya Ariz juga. Kalau ga marah pasti bisa jalan threeple date.
"Hmm ... " Aris menghela napas karena ini kesempatan Ariz membicarakan hubungan mereka, untuk menjelaskan kejadian sebenarnya. Setelah Ariz memotong rem mobil Papa Rama Ariz langsung mencari keberadaan Olivia dari sahabatnya, kebetulan Genk Kobra mengadakan pesta kecil untuk merayakan jadian antara Aliana dan Rena yang berarti triple date, tapi sayang hubungan Ariz dan Olivia tidak dapat disambung lagi.
Dia pikir dengan kematian Papa Rama Olivia akan terbebas dari perjodohan dan akan luluh saat Olivia sedang terpuruk Ariz berada disampingnya, tapi itu tentu saja hanya khayalan semata.
"Ayo kita bahas masalah kita, ke Restoran dekat sini sekalian makan malam " ucap Aris sambil menggandeng paksa tangan Olivia.
"Lepaskan tangan aku Ariz, " ucap Olivia lantang dan ketus.
"Hey, lepaskan tangan Olivia kau menyakitinya," ucap Hendrik yang sedari tadi hanya menonton saja karena dia tidak mengerti apa masalahnya.
"Kau siapa? Apa kau calon suaminya? Huh, " tanya Ariz yang tidak tau kalau Hendrik adalah managernya setahu Ariz adalah Ka Lusi sambil menunjuk mukanya dengan jati telunjuknya.
"Kita perlu bicara empat mata, jangan pergi lagi pliiss, dengarkan penjelasan aku, " ucap Ariz dengan muka memohon.
"Jangan mau Olive kamu harus pulang sama aku, " paksa Hendrik yang tidak suka kehadiran Ariz. Hendrik mencoba memisahkan tangan Ariz yang memegang Olive.
"Hey, jangan ikut campur urusan kita, " ucap Aris meninggi.
"Ini jadi urusan aku jika itu menyangkut urusan Olivia, " ucap Hendrik dengan muka marah.
Brukk
Tiba tiba Ariz memukul muka Hendrik hingga sudut bibirnya berdarah dan tersungkur di lantai karena tidak seimbang.
"Sa kamu tidak apa, " ucap Olivia mencoba membantu Hendrik.
__ADS_1
"Ayo kita bicara, jangan pedulikan dia, " ucap Ariz kesal sambil menarik tubuh Olivia yang ingin membantu Hendrik.
Hendrik yang sudah tersungkur mencoba berdiri untuk melawan Ariz.
"Aku tidak mau Ariz hubungan kita sudah berakhir jadi tidak usah kamu ganggu kehidupan aku lagi, " ucap Olivia tegas.
"Tidak aku tidak akan .... " belum selesai bicara Ariz sudah di pukul oleh Hendrik dan terjadilah baku hantam. Olivia berusaha melerai perkelahian antara Hendrik dan Ariz yang tersulut oleh emosi.
"Stop ... jika kalian ingin berkelahi jangan disini, selesaikan masalah ini dengan kepala dingin, jangan berkelahi seperti ini, malu dilihat oleh orang lain, tolong ... tolong " ucap Olivia berteriak sekencang kencangnya, tetapi tidak bisa melerai. Petugas yang mendengar teriakan Olivia langsung berlari ke sumber suara tersebut.
Saat mau memisahkan kedua orang itu tiba-tiba Ariz tanpa sadar memukul Olivia di bagian perutnya saat ingin memukul Hendrik dengan keras, sehingga Olivia sakit di bagian perutnya dan akhirnya pingsan.
Hendrik dengan sigap langsung menangkap tubuh Olivia yang hampir jatuh ke lantai saat itu Hendrik berada di belakangnya, Hendrik terkejut akan tindakan Ariz yang memukul Olivia secara tiba-tiba.
Bruk ...
"Olive, kamu kenapa? sadar olive!" ucap Hendrik sambil menepuk nepuk pipi indah Olivia karena panik yang tiba tiba tidak sadarkan diri.
"Ada apa ini?" tanya petugas keamanan yang baru datang karena teriakan Olive.
"Tidak ada apa-apa! tolong pak ambilkan mobil saya, ini kuncinya mobilnya yang warna biru itu, " ucap Hendrik sambil menunjukkan mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat kejadian.
Petugas itu langsung pergi mengambil mobil yang diarahkan.
Aris yang mematung melihat wanita yang dicintainya pingsan di depannya merasa bersalah dia tidak sengaja memukulnya. Hendrik langsung menggendong Olivia ala bridal untuk menuju Rumah Sakit saat mobil sudah ada didepanya.
"Aku aja yang menyetir kamu jaga Olivia berusahalah bangunkan dia, " ucap Ariz tanpa ijin sang empunya dia langsung menyerebot kursi pengemudi dari petugas keamanan.
Mereka langsung pergi ke Rumah Sakit terdekat. Ariz mengemudi dengan sangat kencang tetapi hati-hati agar tidak terjadi kecelakaan. Ariz begitu cemas akan keadaan Olivia.
Terimakasih sudah mampir
__ADS_1
Klik jempol yah dan tinggalkan jejak
Vote novel aku juga biar semangat up