
Terimakasih sudah mampir
Jangan lupa klik jempol
Tinggalkan komentar
Klik ❤️ juga yah apalagi Vote ❤️❤️❤️
Olivia yang merasa dirinya terguncang atas perkataan Ariz membuatnya bad mood seketika. Olivia menuju parkiran untuk mengambil mobil dan langsung melaju dengan kecepatan sedang, Olivia menuju ke tempat dimana dia merasa nyaman untuk dirinya sendiri, sekilas Olivia ingin pergi ke Pantai Ancol.
Flashback on
"Bukan ka dia sahabat kecilku dan tidak ada hubungan denganya, ka Ariz aku harap kamu mau mengerti keputusanku," ucap Olivia.
"Keputusanmu huh, kamu bilang kamu cuma cinta sama aku dan tidak akan meninggalkan aku, mana buktinya huh ... kamu ini cuma hanya mengincar uangnya saja kan, tidak apa-apa kamu menikah denganya asal anak yang akan kamu lahirkan adalah anakku aku bersedia, asal kamu jangan tinggalkan aku Olive," ucap Ariz sambil mencengkram pundak Olivia.
Plaaaak ...
Tamparan yang sangat kuat mendarat di pipi Ariz. "Apa kamu bilang? memang benar aku sangat mencintaimu tapi aku juga tidak bisa menghianati suamiku sendiri, dan apa maksud dengan uangnya saja, aku memang sudah jatuh miskin tapi aku punya harga diri," ucap Olivia lantang.
"Huh sekarang kamu bilang suami, kamu baru putus denganku dan sekarang sudah menyebutnya suami apa kamu sudah berhubungan denganya huh," ucap Ariz meninggi.
"Itu bukan urusan kamu ka Ariz," ucap Olivia sambil mencoba melepaskan cengkraman Ariz.
"Apa kau kurang sentuhan lelaki sehingga baru berhubungan denganya langsung mennganggapnya suami huh," ucap Ariz yang sangat kesal karena Olivia memanggil Deniz dengan suaminya.
Tanpa ba-bi-bu Aris langsung mencium Olivia dengan ganas. Olivia tidak terima dirinya diperlakukan seperti itu, dengan cepat Olivia menendang dengan kaki kanannya tepat di bagian bawah Ariz.
"Aku benci padamu ka Ariz," ucap Olivia sambil mendorong Ariz. Ariz yang merasa kesakitan di bagian bawahnya dia terjatuh telentang dan tertegun dengan ucapan Olivia sebelum dia menghilang dari hadapannya.
Flashback off
Setelah tiba di Pantai Olivia memarkirkan mobilnya dan langsung berjalan jalan di pinggir pantai dengan semilirnya angin sore, tibalah Olivia di jembatan kayu yang menuju ke lautan lepas. Di sana Olivia melihat sunrise yang sangat indah sambil melamun. Karena ia ingin melepas penat yang berada dipikiran Olivia mencoba berteriak sekencang mungkin.
Yang kebetulan jembatan kayu itu sepi. Dengan berteriak berharap beban yang ada di dalam hati hilang sedikit.
__ADS_1
Tanpa disadari ada sepasang mata melihat dan mendengar suara Olivia. Siapakah itu?
Ya benar dia Deniz. Deniz yang memata matai dengan menyuruh orang untuk selalu mengikuti Olivia.
Deniz yang sibuk dengan sahabatnya dan setumpuk pekerjaan harus ditinggalkan karena Olivia tidak jadi shopping tetapi belok ke kiri kepantai.
Deniz yang cemburuan berfikir Negatif saat Asistand Jo mengatakan kalau Olivia tidak pergi shopping melainkan ke pergi ke Pantai. Deniz merasa dibohongi itu langsung menuju koordinasi yang sudah di pasang sistem pelacak pada handphone Olivia.
Dengan cepat mengendarai mobil sport mahalnya menuju pantai. Saat Deniz sampai di Pantai Ancol ia mencari cari keberadaan Olivia, Deniz senang karena Olivia sendiri dan dia punya ide untuk menjahili Olivia.
Kring ... Kring ... Kring ...
Handphone Olivia berdering tertuliskan Pipo memanggil. "Hallo Pipo," jawab Olivia.
"Momo di mana? sudah selesai belum shopping dengan teman-teman kamu? sudah makan belum? pulang jam berapa?" Rentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh Deniz.
"Wadidaw, banyak banget pertanyaannya seakan jadi terdakwah saja, Momo tidak jadi shopping, aku sendirian di suatu tempat?" Jawab Olivia yang enggan menjawab pertanyaan Deniz karena dia ingin sendiri untuk menenangkan pikiranya.
"Baiklah momo di mana biar pipo jemput!" ucap Deniz sambil senyum menyeringai
"Dimana yah, kasih tau tidak yah? gimana kalau kita main sebuah permainan petak umpet saja, kamu harus temukan aku dalam 30 menit, jika dalam waktu itu pipo tidak menemukan Momo, Pipo mendapatkan hukuman," ucap Olivia
"Apa yah? kalau tidur di Sofa selama seminggu bagaimana?" ucap Olivia punya ide untuk mengerjai Deniz.
Deniz yang sudah melihat Olivia hanya tersenyum jahat. "Menarik ... kalau Pipo menemukan Momo hadiahnya apa?" tanya Deniz.
"Apa yah? tapi belum tentu Pipo menemukan aku, hadiahnya terserah Pipo aja bagaimana?" ucap Olivia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan bilang terserah nanti menyesal, tapi aku punya syarat bagaimana kalau hadiahnya mencium aku setiap pagi morning kiss?" ucap Deniz dengan senyum jahatnya.
"Cium yah! itu kalau Pipo bisa menemukan Momo dalam tiga puluh menit, ingat Pipo kalau lewat Pipo tidur di sofa, " ucap Olivia sambil tersenyum jahat.
"Baiklah, deal yah Momo zeyeng, " ucap Deniz.
Setelah Olivia menunggu selama dua puluh menit.
"Sebentar lagi waktu hampir habis akhirnya aku yang menang, Pipo tidak bisa menemukan aku yess," ucap Olivia kegirangan sambil melihat jam tangan yang ada di tangan kanannya.
__ADS_1
Kring ... Kring ... Kring
Olivia mengangkat telepon dan ternyata dari Deniz. "Hallo Pipo, apa kau sudah menemukan aku atau Pipo tidak bisa menemukan aku yah?" Ledek Olivia dengan senyum tipis.
"Masih ada waktu lima menit untuk menemukan Momo, Pipo akan berusaha keras untuk mendapatkan hadiahnya," ucap Deniz menggoda istrinya.
"Benarkah, tapi aku tidak melihat Pipo di sekitar aku, padahal aku berharap Pipo ada di sini loh hehehehe, " ucap Olivia ketawa sambil lihat kanan kiri mencari sang suami.
"Benarkah kamu mengharapkan aku datang?" goda Deniz sambil senyum menyeringai.
"Emmm, kalau iya apa Pipo langsung datang, tidak kan? jadi Pipo harus siap-siap malam ini tidur di sofa selama seminggu!" ucap Olivia bangga akan kemenangannya.
"Maafkan Pipo membuat kamu kecewa, kalau Pipo tidak bisa bertemu denganmu apakah Pipo bisa menyuruh Momo untuk memejamkan mata, mungkin Pipo langsung berada di belakang Momo," ucap Deniz.
"Bercanda aja Pipo, mana mungkin Pipo ada di sini dalam sekejap, aku sudah mencari-cari tetap tidak melihat kamu, tinggal tiga menit dan sebentar lagi Pipo akan kalah," ucap Olivia yakin klo Deniz tidak bisa menemukanya, karena di tempet itu tidak banyak pengunjung jadi Olivia bisa melihat dengan jelas siapa saja di jembatan kayu tersebut.
"Baiklah kalau tidak mau, kamu bisa tidak berbalik terus maju lima langkah dan kekiri sepuluh langkah saja, kamu akan menemukan jawabanya," ucap Deniz.
"Untuk apa Pipo?" tanya Olivia.
"Menurutlah," jawab Deniz.
"Baiklah, berbalik terus maju lima langkah dan kekiri satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ... enam ... tujuh ... delapan ... sembilan ... sepuluh sudah dan tidak ada apa apa?" ucap Olivia sambil lihat kanan kiri.
"Sekarang tutup matamu dan berhitung satu hingga sepuluh lagi, tapi jangan langsung buka matamu sebelum aku suruh!" ucap Deniz.
"Ok Pipo jadi penasaran ada apa, satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ... enam ... tujuh ... delapan ... sembilan ... sepuluh," ucap Olivia.
"Sekarang perlahan kamu buka matamu," ucap Deniz.
Seketika Olivia terkejut dengan kedatangan Deniz di ujung jembatan kayu yang berjarak tiga meter dari Olivia, Deniz yang membawa sebuket bunga yang indah membuat Olivia tercengang dan berbunga-bunga di dalam hatinya.
Terimakasih sudah mampir
Jangan lupa klik jempol
Tinggalkan komentar
__ADS_1
Klik ❤️ juga yah apalagi Vote ❤️❤️❤️