
Terimakasih sudah mampir
Jangan lupa klik jempol
Tinggalkan komentar
Klik ❤️ juga yah apalagi Vote ❤️❤️❤️
......Husband of Choice ........
"Tes ... tes ... mohon perhatiannya, para hadirin semua terimakasih kepada tamu undangan yang sudah hadir pada acara malam hari ini, acara konser mini sengaja di adakan oleh Keluarga Besar Sanjaya untuk membantu sesama yang membutuhkan pertolongan kita, dan beberapa artis terkenal akan memeriahkan acara ini, untuk mempersingkat waktu langsung saja saya persilahkan tetua Keluarga Besar Sanjaya waktu dan tempat kami persilahkan,"
ucap pembawa acara yang berada di panggung.
"Selamat malam semua," Dion Sanjaya mengucapkan salam sambil membawa mix ditangannya.
"Malam," jawab tamu serempak.
"Aku selaku tetua Keluarga Besar Sanjaya tidak bisa berkata apa-apa, ini semua di luar ekspetasi ku, aku ucapkan sebesar-besarnya kepada sahabat-sahabat ku, rekan kerja serta relasi ku. Semoga apa yg telah kalian berikan dan luangkan mendapat balasan baik yang sebesar besarnya dari Tuhan. Aku akan memperkenalkan cucu kesayangan ku yang telah pulang dari Luar Negri dia adalah Hendrik Sanjaya dan dia akan menggantikan aku untuk kedepannya, kesini Nak!" ucap Dion Sanjaya.
Hendrik yang dipanggil langsung ke atas panggung.
"Ini dia cucu kesayangan ku," ucap Dion yang membanggakan Hendrik.
"Terimakasih kakek atas pujiannya," ucap Hendrik. Yang di sambut tepuk tangan oleh para tamu.
Setelah Sambutan yang begitu ramai akan tepuk tangan akhirnya tiba saatnya Black Red memeriahkan acara tersebut. Mereka menggunakan lagu terbarunya yang diciptakan oleh manager sendiri.
Setelah dua puluh menit berlalu setelah manggung. Black Red berganti pakaian dengan baju formal dan bergabung dengan Hendrik sang Manager Black Red. Mereka berbaur dangan para tamu sambil berbincang ringan.
Tak lama kemudian mereka terpisah karena Aliana didatangi oleh Reza dan Rena pun juga menghampiri Devano mereka mewakili keluarganya, kini tinggal Olivia dan Hendrik.
"Penampilan kamu malam ini sangat cantik tomboy," puji hendri sambil memegang gelas wine untuk tos.
"Terima kasih Sa atas pujiannya, emang dari dulu aku cantik Sa!" ucap Olivia sambil tersenyum menunjukkan giginya yang putih.
"Kamu ini pede banget sih," ucap Hendrik sambil mengacak-acak pucuk kepala Olivia.
__ADS_1
"Sa nanti berantakan nanti cantik ku luntur," ucap Olivia sambil merapihkan rambutnya.
"Kamu dah makan? aku ambilin yah? tanya Hendrik.
"Boleh Sa tadi aku belum makan malam," ucap Olivia.
Hendrik pun pergi meninggalkan Olivia sendiri. Ariz yang sedari tadi hanya memperhatikan langsung menghampiri Olivia. Olivia pun terkejut dengan kedatangan Aris yang tiba-tiba ada dihadapannya, karena sedari tadi dia berkeliling tidak melihatnya sama sekali hanya Devano dan Reza saja.
"Hai hon ... apa kabar?" tanya Aris sambil senyum memegang gelas yang berisi wine.
"Baik, bisa tidak kamu panggil selain honey, aku merasa risih," ucap Olivia tanpa melihat Aris sambil meminum jus jeruk yang ada ditangannya.
Aris hanya tersenyum mendengar perkataan yang dilontarkan Olivia baginya kesenangan tersendiri memanggil Olivia dengan Honey.
"Suami kamu kemana? sehingga membiarkan wanita cantik dengan pria lain yang bukan suaminya! sungguh sangat di sayangkan," ucap Aris sambil tersenyum sinis.
"Apa urusanmu, bukanya tadi kamu melihat kalau aku sedang menghadiri acara ini untuk apa! kau pura-pura tidak tahu atau lupa Tuan Aris," ucap Olivia.
"Kau ...," ucap Ariz dipotong oleh seseorang.
"Huh kau ini, siapa yang bikin rusuh di sini aku hanya menyapa mantan saja kenapa dia tidak bersama suaminya malah pergi bersama laki-laki lain, sedangkan kau tau ini adalah acara dengan pasangan, jika dia tidak membawa pasangan berarti dia mencari pasangan di sini huh muna!" Ucap Ariz sinis.
"Emang kenapa kalau Olivia bersamaku aku adalah Managernya Apa urusannya dengan mu," ucap Hendrik. Hendrik sangat syok saat mendengar kalau Olivia sudah menikah, tapi dia menahan pertanyaan tersebut agar terlihat tenang di depan Aris.
Hendrik hanya bisa memandang kedua mata Aris tidak suka terbaca oleh kedua matanya, Aris tahu kedudukan Hendrik di acara lebih tinggi darinya sehingga dia hanya bisa menahan emosinya. Dia tidak mau karena emosi perusahaan ayahnya akan hancur karenanya. Mereka saling memandang entah apa yang mereka pikirkan.
Olivia yang merasa terpojok akhirnya angkat bicara. "Aku ke toilet sebentar," langsung meninggalkan tempat itu tanpa melihat kedepan Olivia tiba-tiba.
Bruuk ...
"Aah ma ... maaf," ucap Olivia, saat melihat siapa yang ia tabrak dan langsung menjadi kaku seketika tubuhnya.
Deg ... Deg ...
Olivia langsung mundur memegangi dadanya yang berdetak dengan kencang sambil menundukkan kepalanya.
Hendrik yang melihat Olivia hampir terjatuh dengan reflek langsung memegang tubuh Olivia.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?" ucap Hendrik yang memegang tubuh Olivia di bagian pundak. Hendrik merasakan hawa dingin dipundaknya itu tergedik ngeri.
Deniz yang melihat itu langsung mengepal tanganya yang disembunyikan di belakang saku celananya.
"Apa dia pacarmu," ucap Deniz sambil menahan emosinya.
"Bukankah dia ada di Luar Negri kenapa tiba-tiba ada di sini, mati aku mana aku lupa minta izin pada Pipo," batin Olivia.
"Bukan dia adalah teman masa kecilku yang aku ceritakan, kenalkan dia sahabatku Deniz namanya," ucap Hendrik memperkenalkan Deniz.
"Apa Deniz dan Hendrik saling kenal," batin Olivia.
"Deniz," ucap Deniz sambil menjabat tanganya lembut.
"Oh iya kenapa baru datang apa pekerjaan mu di Luar Negri sudah selesai wahai workaholic!" ucap Hendrik. "Apa kamu kesini bersama Kakak Ipar mana dia aku ingin kenalan sama dia," sambil melihat sekeliling.
"Aku langsung pulang saat mendengar istriku rindukan aku jadi langsung pulang dan kesini," ucap Deniz dengan melihat Olivia secara intens.
"Wah kau bisa bucin juga yah sobat," ucap Hendrik sambil terkekeh.
"Oh iya dimana Kakek aku ingin menyapanya," Deniz mengalihkan pembicaraanya agar emosinya bisa memudar.
"Baiklah aku akan mengantarkan kepada Kakekku, sebentar ya Oliv aku tinggal aku akan kembali," ucap Hendrik sambil mengacak rambutnya.
Olivia yang merasa kaku itu langsung pergi ke luar taman dimana ruangan aula itu terdapat taman di atas gedung. Olivia duduk di salah satu bangku seperti ayunan. Dia memainkan ayunan tersebut sambil melamun.
"Aduh bagaimana ini, apa Pipo marah sama aku, melihat wajahnya tadi mengerikan sekali. Oiya aku belum melihat handphone aku dari tadi. Hah ada ratusan panggilan dari Pipo, mati aku kenapa aku lupa kalau handphone aku silent tadi, aduh apa aku harus kabur aja, ah jangan pasti dia dapat mencariku dengan mudah. Huh pasrah aja dah," ucap Olivia prustasi sambil membuang nafas dengan keras.
Terimakasih sudah mampir
Jangan lupa klik jempol
Tinggalkan komentar
Klik ❤️ juga yah apalagi Vote ❤️❤️❤️
__ADS_1