
Terimakasih sudah mampir
Jangan lupa klik jempol
Tinggalkan komentar
Klik ❤️ juga yah apalagi Vote ❤️❤️❤️
Deniz langsung mengajak Olivia untuk pergi ke kamarnya, Olivia pun mengikuti Deniz dari belakang, sampai akhirnya berhenti di depan sebuah pintu, Deniz langsung membuka pintu.
Ceklek ...
Pintu terbuka dan terlihat sebuah kamar sangat mewah, Olivia sangat terpukau dengan apa yang dilihatnya.
"Deniz ini kamar kamu?" tanya Olivia.
"Iya, sini ayo masuk pakaian yang tadi kita beli sudah ada di lemari, kamu mau mandi dulu apa langsung istirahat?" ucap Olivia.
"Aku mandi aja dulu," jawab Olivia.
"Baiklah kamar mandinya sebelah sana," ucap Deniz.
Olivia langsung pergi ke kamar mandi dan langsung membersihkan diri. Setelah dua puluh lima menit mandi Olivia baru tersadar kalau di ruangan kamar mandi tidak ada handuk. "Aduh tidak ada handuk lagi, gimana ini masa aku telanjang ke kamar," gumam Olivia.
Olivia memberanikan diri untuk meminta bantuan kepada Deniz untuk mengambilkan sebuah handuk.
"Pipo apa kamu masih disitu," ucap Olivia ragu.
"Ada apa Momo," ucap Deniz.
"Pipo disini tidak ada handuk boleh minta tolong ambilkan handuk, aku kedinginan Pipo," ucap Olivia.
"Baiklah tunggu sebentar," ucap Deniz.
Deniz mengambil handuk baru untuk Olivia di lemari.
"Momo ini handuknya buka pintunya," ucap Deniz.
Ceklek ...
__ADS_1
Deniz melihat kemolekan Olivia tanpa busana dengan rambut basah membuat desiran yang tak bisa diungkapkan dihati Deniz, hasratnya yang dia tahan selama ini memuncak.
"Maka ..." Sebelum Olivia melanjutkan ucapannya sudah disambar dengan ciuman yang membuat mata Olivia melotot mendapatkan serangan yang tiba-tiba, tapi perlahan ia memejamkan matanya mengikuti alur permainan bibir Deniz, mereka saling menautkan bibir mereka tanpa jeda.
Ciuman yang awalnya lembut penuh kasih perlahan semakin membara, Olivia mengaitkan tangannya dileher Deniz. Ia berusaha mengikuti bibir Deniz yang terus menuntut dan lidahnya yang agresif membuat Olivia kewalahan, tubuh Olivia semakin terdorong hingga ke dinding di belakangnya.
Deniz melepaskan bibir Olivia sebentar dan memberikan jeda untu bernafas, Ia menatap Olivia dengan penuh kasih dan mendekatkan keningnya di kening Olivia. "Aku mencintaimu sayang, selamanya akan seperti itu," ucap Deniz.
"Jangan menolak sayang, aku menginginkan kamu malam ini," bisik Deniz di kuping Olivia.
Olivia yang dari tadi membatu perlahan Olivia menerima kecupan kecupan manja yang di berikan Deniz. Deniz yang menyadarinya perubahan itu menjadi bahagia dan semakin bersemangat.
Karena semakin lama pemainan Deniz semakin jauh hasrat Deniz semakin membesar, Deniz langsung mengangkat tubuh Olivia membawanya keluar dari kamar mandi dan langsung menuju tempat tidur.
Tangan Deniz sudah mulai nakal menyentuh bagian bagian sensitif Olivia sehingga membuat Olivia mendesah. Olivia benar benar di buat hanyut dalam belaian Deniz. Deniz langsung memulai pekerjaannya, tiba-tiba Olivia memohon untuk berhenti karena tubuh bagian Olivia sangat sakit.
"Sakit Pipo, stop ..." Ucap Olivia sambil mendesah.
Deniz yang mendengar itu langsung membungkam mulut Olivia dengan bibirnya agar mengalihkan rasa sakit yang dialaminya, Olivia yang menahan sakit hanya bisa menangis, setelah benteng pertahanan jebol, Deniz sangat senang karena dirinya pertama kali yang mendapatkan bunga surga dunia.
Setelah bergulat cukup lama Deniz pun mencapai puncaknya, dan akhirnya Ter geletak di samping Olivia.
"Iya Pipo, aku berkewajiban melayanimu karena aku sudah menjadi istrimu," ucap Olivia sambil bersender di dada bidang suaminya.
Olivia yang merasa perih di pangkalan pahanya dia berusaha untuk membersihkan dirinya karena cairan yang dikeluarkan oleh Deniz.
Keesokan harinya Olivia membuka matanya karena merasakan hembusan nafas di lekuk lehernya membuat Olivia tergedik, Olivia langsung bangun tetapi tidak bisa karena ada tangan kekar yang melingkar diperutnya. Deniz yang terbangun oleh gerakan Olivia langsung mengerat kan pelukannya.
"Pipo lepasin ini udah siang aku mau bantuin siapin sarapan, aku ga mau jadi menantu tidak tau diri," ucap Olivia sambil mengerutkan bibirnya.
"Siapa yang mau bilang kaya gitu sama istriku, kamu hanya harus melayaniku di sini, banyak bibi yang menyiapkan semuanya," ucap Deniz mengeratkan pelukannya sambil menciumi pundak hingga leher Olivia. Olivia merasa geli itu mencoba untuk menghindar, tapi bukan Deniz kalau setiap keiinginanya tidak terpenuhi.
"Pipo geli ih, Momo mau mandi kemaren kan kakek bilang mau lihat rumah baru," ucap Olivia mengelak sambil mencoba menghindari kecupan yang diberikan Deniz.
"Baiklah aku lepasin, tapi morning kiss dulu," ucap Deniz dengan senyuman liciknya.
"Apa? Mmmm ..." ucap Olivia terkejut.
Sebelum Olivia melanjutkan ucapannya tiba tiba mendapatkan serangan pagi, bibir Deniz sudah mendarat dibibirnya, dan akhirnya Deniz memulai pekerjaan nya lagi yang membuat Deniz nge-fly setiap melakukan pekerjaan itu. Pekerjaan barunya itu membuat hobi baru bagi Deniz kedepanya.
__ADS_1
Setelah mandi dan bersiap Deniz dan Olivia langsung keluar dari kamar dan langsung pergi ke ruang makan karena untuk sarapan, karena tenaganya begitu habis setelah olah raga pagi. Sesampainya di sana ternyata sudah ada keluarga besar Alexander yang menunggu kedatangannya.
"Pagi Pah, Mih, Kek dan juga nenek," sapa Olivia kepada mereka,
"Pagi sayang," ucap Riri dan yang lainya hanya tersenyum dan mengangguk.
"Apa anakku ini nakal Olive hingga kamu bangun siang," goda Helmy yang melihat tanda merah di leher Olivia.
Olive hanya tersenyum menanggapi ucapan Papinya, Deniz hanya diam membisu tak menjawab. olive mengambilkan sarapan untuk Deniz.
Setelah selesai makan.
"Sayang maafin kakek dan nenek yah, ga bisa antar ke Apartemen baru kamu karena ada yang harus kakek kerjakan," ucap Kakek.
"Iya tidak apa apa Kek nanti aku akan pergi dengan Pipo," ucapa Olivia.
"Pipo siapa itu?" tanya kakek.
"Emm ... itu kakek panggilan sayang aku ke ka Deniz," ucap Olivia canggung. Dan sang empunya hanya diam seribu kata.
Setelah berbincang-bincang dan ga sedikit gelak tawa, tapi Deniz tetaplah Deniz si batu Es. Setelah mereka selesai berbincang Deniz dan Olivia pergi ke Apartemen barunya untuk melihat lihat hadiah yang diberikan oleh keluarga Alexander di daerah Tamrin, yaitu Apartemen Keraton Recident.
Apartemen yang super duper mahal dan terjamin akan privasinya dan tentunya hanya orang orang berduit yang tinggal disitu.
Di perjalanan menuju Apartemen Olivia memberanikan diri untuk bertanya pada Deniz.
"Pipo kenapa kita tidak tinggal di rumah orangtuaku saja, rumah itu kosong sayang kan klo tidak dihuni," tanya Olivia.
"Lihat nanti saja yah, tempat itu dekat dengan kantorku," ucap Deniz sambil memegang tanganya.
Setelah menempuh tiga puluh menit akhirnya Pipo dan Olivia sudah sampai di Apartemen Keraton Recident. Mereka langsung menuju lantai yang sudah diberitahukan Kakek sebelumnya, yaitu lantai tiga puluh menggunakan akses khusus. Setiap lantai menggunakan lift khusus juga.
Terimakasih sudah mampir
Jangan lupa klik jempol
Tinggalkan komentar
Klik ❤️ juga yah apalagi Vote ❤️❤️❤️
__ADS_1