
Terimakasih sudah mampir
Jangan lupa klik jempol tinggalkan komen
Vote juga yah😘😘😘
"Uhm, ini dimana, " ucap Olivia membuka matanya perlahan sambil melihat sekeliling. Olivia melihat dua orang yang sedang terlelap tidur di sebelahnya, sebelah kanan ada Ariz sebelah kiri ada Hendrik. Ya ternyata mereka menunggu Olivia sadar.
Muka lebam mereka yang membuat membuat Olivia merasa bersalah.
"Aku haus, " ucap Olivia lirih. Olivia melihat di meja ada segelas air ia langsung mengambil
Praaannkkkk
Membuat Ariz dan Hendrik terbangun dari mimpinya. " Olivia kamu tidak apa?" tanya Hendrik yang udah panik karena terdengar gelas pecah. " Hon kamu mau minum, sebentar aku ambilin, " ucap Ariz sambil mengambil botol minum.
Gleg ... Gleg ... Gleg ...
Olivia langsung meminum air yang diberikan Ariz. "Maafkan aku hon aku benar-benar tidak sengaja tadi aku khilaf emosiku tidak bisa aku kendalikan, maafkan aku, " ucap Ariz sambil memegang tangan Olivia dengan erat
"Lihatlah kelakuan kamu ini, membuat Olivia terluka seperti ini hingga masuk rumah sakit, " ucap Hendrik meninggi.
"Ini juga gara-gara kamu ikut campur urusan aku, " ucap Ariz meninggi.
"Apa yang kamu bilang jelas-jelas ini gara-gara kamu yang memukul Olivia hingga parah seperti ini, " ucap Hendrik tidak mau mengalah.
"Sudah-sudah aku ga mau kalian ribut disini. Ini Rumah Sakit aku baru bangun apa kalian mau bunuh aku huh, " ucap Olivia geram sambil pelan pelan duduk bersender.
" Kalau kalian masih bertengkar pergi dari kamar ini aku mau istirahat, " ucap Olivia pelan karena perutnya masih terasa nyeri.
"Tidak aku mau jagain kamu disini, " ucap Hendrik sambil duduk kembali ditempat semula.
"Hon aku tidak membiarkan kamu bersamanya apalagi di kamar berduaan, aku tak rela, " ucap Ariz yang geram dengan kelakuan Hendrik yang tidak mau jauh dari Olivia.
"Dari pada kalian berantem mending kalian kenalan dulu, Sa gendut ini Ariz, Ariz ni kenalkan Hendrik, " ucap Olivia sambil memperkenalkan mereka.
__ADS_1
"Kenapa pada diem ja, ayo jabat tangan berdamailah, kalau kalian tidak mau setidaknya ini demi aku, ayo kalau tidak berjabat tangan aku marah pada kalian, " Ucap Olivia pelan dan tegas.
Demi Olivia mereka berjabat tangan dan meredakan keegoisannya. " Ariz, pacarnya Olivia, " sambil berjabat tangan. " Hendrik Sahabat kecilnya tomboy, " ucap Hendrik tegas.
"Ariz jangan bicara omong kosong, " ucap Olivia membenarkan ucapan Ariz
"Aku tidak omong kosong aku pacarmu dan tidak akan aku biarkan kita putus, " ucap Ariz
"Huh, kau sudah menghiatiku kenapa aku harus mau denganmu, " ucap Olivia
"Hon percayalah padaku itu kecelakaan, aku bersumpah, aku tidak mencintainya, aku hanya cinta sama kamu, " ucap Ariz meyakinkan Olivia.
"Sudah-sudah gini aja urusan kalian bisa ga di kesampingkan dulu, kamu butuh istirahat tomboy jangan mikir yang lain dulu, Ariz lihatlah kondisi Olive dia butuh istirahat, "ucap Hendrik melerai.
"Oiya ini sudah jam berapa aku belom mengabari papa, " tanya Olivia, tiba tiba Ariz terdiam tidak berkata apapun. Ariz langsung menjauh duduk di shoffa samping ranjang pasien.
"Jam delapan malam Tomboy, " jawab Hendrik sambil melihat jam tangan mahal di tangannya yang tetap berada disambil Olivia.
"Tolong ambilkan tas aku, mau hubungi papa dulu takut khawatir kalo ga pulang, karena tadi handphone aku silent, " ucap Olivia
"Siapa yang menelponku hingga puluhan kali tanpa nama ini, Apa nomer rentenir tapi aku sudah membayarnya, aku coba telpon saja, " ucap Olivia dalam hati sambil memainkan jarinya di layar telepon genggamnya.
"Hallo ini siapa?" tanya Olivia
"Akhirnya kamu bisa di hubungi nak, ini om Helmi sayang, apa nak Olive bisa ke Rumah Sakit Bakti Asih?" tanya Helmy di seberang sana
"Ada apa ya Om Helmy, " jawab Olivia pelan
"Begini nak tadi Rama tiba-tiba jatuh pingsan di kantor Om dan sekrang keadaanya memburuk sayang jadi bisa secepatnya kesini, " ucap Helmy
Deg ... Deg ... Deg
"Ba ... baik Om saya segera kesana, " ucap sambil terisak-isak. Olivia langsung mencabut paksa jarum infus yang ada di tangan Olivia. Dia langsung berlari keluar menuju lobby walau keaadaanya masih belum pulih. Ariz dan Hendrik sontak terkejut dengan aksi nekat Olivia. Mereka mencoba menahan Olivia tetapi gagal alhasil tidak bisa mengejar Olivia.
Karena Olivia terburu-buru jadi Olivia memesan taksi yang berada di depan Rumah Sakit.
__ADS_1
"Pak tolong ke Rumah Sakit Bhakti Asih, " ucap Olivia sambil menangis tersedu sudu.
"Baik nona, " jawab supir taksi dan langsung melaju ketempat tujuan.
Sesampainya di Rumah Sakit Bhakti Asih Olivia langsung ke ruangan yang sudah di beritahu oleh Helmy. Di ruangan kamar rawat inap Rama, Olivia bertemu dengan Helmi, Riri dan juga Denis. Ternyata Rama sudah sadar. Olivia menghampiri papa Rama
"Pa bagaimana keadaannya? mana yang sakit!" ucap Olivia sambil menciumi tangan Rama.
"Sayang maafkan papa telah membuat kamu khawatir tentang keadaan Papa, Papa tidak bisa menemanimu selamanya karena penyakit jantung Papa sudah tidak bisa tertolong lagi, tolong papa nak untuk terakhir kalinya, papa ingin melihat kamu menikah sekarang dengan Nak Deniz, " ucap Rama tersengal senggal yang dibantu pernapasannya dengan selang oksigen.
Papa Rama juga menutupi kejadian yang sebenarnya takut Olivia kepikiran. Papa Rama juga mendiskusikan semuanya kepada Helmy dan mengusut kecelakaan yang menimpa Rama.
"Apa menikah sekarang, " ucap Olivia kaget dengan ucapan ayah yang seperti petir disiang bolong itu.
"Iya sayang Papa dan Om Helmy sudah menyiapkan semuanya, tolong nak ini adalah permintaan Ayah untuk terakhir kalinya.
Olivia hanya bisa menangis dengan ucapan Papa Rama, dan dijawab dengan anggukan oleh Olivia tanda dia menyetujui pernikahan ini.
Keluarga Deniz sudah menyiapkan semua dengan cepat, penghulu dadakan, saksi hanya para dokter dan suster, Deniz pun tidak menolak kalau hari ini dia menikah dadakan. Olivia hanya pasrah atas takdir yang di alaminya.
Persiapan sederhana itu membuat kesan sendiri pada diri Olivia, dimana dia harus menikah disaat Papanya sedang sakit. Tak bisa dibayangkan olehnya seseorang artis terkenal menikah hanya segelintir orang dan di hadiri oleh Orang tua, tidak seperti artis yang lain yang mewah, megah akan pernikahan yang begitu sakkral.
"Sayang jangan terus menangis, ayo kita ganti baju di sebelah, " ucap Riri yang sudah menunggu kedatangannya di ruang ganti, Riri juga menyewa tata rias agar Olivia terlihat cantik.
"Iya Tante, " ucap Olivia dengan nada rendah. Olivia langsung ke kamar sebelah untuk berdandan.
Terimakasih sudah mampir
Jangan lupa klik jempol tinggalkan komentar
Klik juga ❤️ apalagi vote
Membuat Author bahagia
__ADS_1