Husband Of Choice

Husband Of Choice
Pekerjaan Yang Melelahkan


__ADS_3

Terimakasih sudah mampir


Jangan lupa klik jempol


Tinggalkan komentar


Klik ❤️ juga yah apalagi Vote ❤️❤️❤️


Deniz langsung memeluk Olivia dari belakang yang membuat kaget Olivia. "Maaf sayang, kau sangat menggoda saat kau jalan di depan ku tadi," ucap Deniz.


"Sayang aku sangat lapar, apa kamu tidak lapar?" ucap Olivia sambil membalikkan badannya langsung merangkul kan tanganya di leher.


"Aku sudah makan tadi, kamu mandi dulu sana biar aku siapkan makan siang untukmu," ucap Deniz.


"Ok makasih sayang," Olivia mencium bibir Deniz dan langsung meninggalkan dia berdiri melihat tubuh Olivia tanpa busana pergi ke kamar mandi.


Deniz langsung pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang sudah disiapkan oleh pelayanan tadi. Deniz hanya memanaskan di microwave saja. Ternyata Deniz juga bisa masak loh pemirsa jangan salah, nanti ada sesi dia masak untuk Olivia, lanjut.


Setelah selesai menyiapkan makanan Denis langsung membawa ke kamar utama. Olivia yang sudah selesai mandi dan sudah berpakaian langsung menghampiri Deniz yang duduk di sopa samping tempat tidur.


"Waw kayanya enak nih, apa Pipo yang masak?" tanya Olivia dengan mata berbinar-binar berharap itu adalah masakan Deniz untuknya.


"Tidak aku hanya menghangatkan di microwave saja, tadi pelayan yang aku suruh masak pas kamu tidur sayang," jawab Deniz sambil meletakkan di meja.


"Emm ... Aku berharap Pipo yang masak, karena aku sudah bekerja keras seharian ini," ucap Olivia sambil mengerutkan bibirnya.


"Lain kali saja ya sayang," ucap Deniz.


"Emang Pipo bisa masak?" tanya Olivia.


"Bisa donk, sini aku yang suapi," ucap Deniz yang langsung mengambil piring yang sudah ada di depan Olivia. Entah apa yang dipikiran Deniz hingga Big Bos Dingin itu penuh perhatian kepada istri tercintanya.


"Aku bisa sendiri Pipo," ucap Olivia yang mengambil lagi piring yang sudah direbut oleh Deniz.


"Aku mau suapi kamu sayang, apa tidak boleh," ucap Deniz yang langsung memghampiri tempat duduk Olivia dan menghapit tubuhnya dengan badan kekarnya.


Olivia sontak membulatkan kedua matanya karena tiba-tiba Deniz tepat dibelakangnya. Kursi bulat yang tidak ada penyanggah di belakangnya membuat leluasa Denis untuk menghapit tubuh kecil Olivia.


"Sini aku suapi," ucap Deniz yang sengaja didekatkan di telinga Olivia.


"Emm ... akk," ucap Olivia sambil menikmati makanan yang disajikan.

__ADS_1


Setelah selesai makan.


"Pipo besokkan kamu mau pergi ke Luar Negeri pakaiannya apa saja biar Momo siapin," tanya Olivia.


"Tidak Momo, Mama sudah siapkan tadi jadi tinggal di bawa besok sama Jo," ucap Deniz.


Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel milik Deniz. Deniz yang mendengar langsung mengangkat teleponnya yang berada di samping kirinya, ternyata panggilan dari Kakek.


"Iya kek ada apa?" tanya Deniz.


"Dasar cucu durhaka kenapa tidak kasih kabar huh? bagaimana Rumah barunya apa kalian suka?" tanya sang Kakek di seberang sana.


"Aku dan Cucu menantu kesayangan Kakek sangat senang, terimakasih atas hadiah yang Kakek berikan kepada kami," ucap Deniz. Olivia hanya mencuri dengar karena Olivia sangat dekat dengan Deniz jadi tau apa yang di bicarakan.


"Syukurlah kalau kalian suka, Kakek ikut senang semoga pernikahan kalian sakinah , mawadah dan warohmah," ucap Kakek mendoakan.


"Aamiin Kek," jawab Deniz dan juga Olivia.


"Yasudah kalau gitu aku tidak akan menggangu kalian cepatlah kalian berikan aku cicit agar aku bisa menimang cicit di masa tua ku ini," ucap Kakek yang menginginkan cicit.


"Doain aja Kek ini lagi usaha bikinya, hehehe," ucap Deniz sambil tertawa.


"Baiklah, sudah dulu jaga Cucu menantu Kakek," ucap Kakek.


"Dengarkan apa kata Kakek kita harus memberikan Cicit kepada Kakek dengan segera," ucap Deniz tanpa rasa bersalah.


"Pipo membuat anak itu tidak segampang membalikkan tangan, butuh proses dan ..." Sebelum Olivia melanjutkan perkataannya dipotong oleh Deniz.


"Usaha," ucap Deniz di kuping Olivia sambil menggigit pelan.


"Gawat kalau lama-lama kaya gini bisa di terkam lagi aku, mending aku cari alasan dulu deh," batin Olivia.


"Sayang istirahat dulu yah aku sangat lelah, kamu sangat kuat, kalau aku pingsan gimana? Bagaimana kalau nanti malam saja, hari ini kita nonton film?" rayu Olivia.


"Baiklah nanti malam aku minta lebih," ucap Deniz dengan senyum devilnya.


"Ya ampun Olivia kau membuat dirimu masuk ke lubang buaya yang kelaparan," ucap dalam hati.


"Iya Pipo," jawab Olivia sambil senyum terpaksa dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Merekapun menonton film di layar TV dengan bantuan internet. Dan setelah malam tiba mereka pun mulai melakukan pekerjaan yang melelahkan, hanya mereka yang tau berapa ronde dan gaya mereka lakukan.

__ADS_1


.


.


.


Keesokan harinya Olivia bangun pagi untuk memasak walau badan Olivia sangat sakit karena kejadian semalam. Deniz yang begitu bernafsu seakan tidak ada waktu lain sehingga Olivia kewalahan menyeimbangkan gerakan Deniz.


Deniz yang sudah bangun juga mempersiapkan diri untuk berangkat ke Bandara Soekarno Hatta untuk perjalanan bisnisnya yang memakan waktu seminggu disana. Olivia langsung menghampiri Deniz untuk sarapan.


"Pipo sarapannya sudah siap," ucap Olivia.


"Iya sayang sebentar," ucap Deniz yang sedang merapihkan kemeja dan juga dasinya. Olivia yang melihat Deniz kesulitan memakai dasi akhirnya Olivia membantu Deniz memakai dasinya. Karena Olivia lebih pendek sedikit dari Deniz maka wajah Olivia sangat jelas di mata Deniz.


Deniz hanya bisa membiarkan istrinya memakaikan dasi dan dia hanya melihat wajah Olivia. Deniz terpana akan kecantikan istrinya dan bibir tipisnya membuat Deniz tidak bisa menahan gejolaknya.


"Sayang ingin rasanya aku memakanmu lagi," bisik Deniz di telinganya.


"Pipo jangan lagi-lagi nanti kamu ketinggalan penerbangan, nah sekarang sudah selesai," ucap Olivia yang sudah merapihkan dasi Deniz sambil merapihkan jasnya.


"Iya sayang tapi dikit gak papa lah," ucap Deniz yang langsung ******* bibir Olivia.


Olivia hanya bisa membalasnya. Karena sudah siang akhirnya mereka menyudahi morning kiss yang terlupakan.


Deniz dan Olivia langsung sarapan sambil menunggu Asisten Jo datang. Setelah dua puluh menit akhirnya jemputan sudah datang.


"Momo jaga rumah baik-baik kamu harus pulang tepat waktu dan jangan lupa makan aku selalu mengawasimu," ucap Deniz panjang lebar.


"Iya sayang maaf tidak bisa mengantarmu ke Bandara aku mau mengerjakan tugas dulu sebelum berangkat ke Kampus," jawab Olivia.


"Tidak apa-apa sayang aku pergi dulu yah!" ucap Deniz sambil mencium kening Olivia.


"Hati-hati di jalan Pipo," ucap Olivia


"Aku harus cepat ngerjain tugas nih gara-gara kemaren hingga semalam tidak berhenti ngerjain aku, jadi tugasku belum selesai huh," gumam Olivia sambil membuang nafasnya dengan kasar.


Terimakasih sudah mampir


Jangan lupa klik jempol


Tinggalkan komentar

__ADS_1


Klik ❤️ juga yah apalagi Vote ❤️❤️❤️


__ADS_2