
Mark Memarkirkan motornya memasuki garasi sebuah rumah.
Sembari celingak-celinguk Chelsea mengikutinya masuk, "Rumah siapa?" batinnya.
Sekilas Mark kembali tersenyum menanggapi kelucuan tingkah Chelsea seraya langsung meninggalkannya diruang tengah dan bergegas menuju dapur, namun terlihat Chelsea turut menghampirinya, gadis itu duduk di mini bar tak jauh dari sana, pandangannya tak lepas terus memperhatikan Mark yang tengah sibuk menghangatkan susu kedalam microwave.
"Rumah siapa ini?" penasaran akhirnya Chelsea mulai membuka pembicaraan, namun Mark hanya menoleh dan tak lama dia menyerahkan segelas susu hangat padanya, "Thank You," ucapnya lagi, sambil terus memandangi Mark yang belum juga menjawabnya malah dia lanjut menuju kulkas menggambil sekaleng beer lalu terlihat meminumnya.
Mark merasa grogi dengan pertanyaan Chelsea dan berusaha menjauh, dia berdiri menyender di meja pantry samping kulkas sambil menyilangkan kedua-kakinya seperti mencoba santai, Chelseapun mengerti lalu berpura-pura menunduk dan tak menatapnya, dia tahu sepertinya Mark butuh waktu untuk beradaptasi.
"Rumahmu." Terdengar Mark akhirnya menjawabnya, kembali Chelsea menatapnya kini keduanya saling beradu pandang, namun lagi-lagi Mark belum cukup kuat, dua bola mata indah itu masih membuatnya kikuk, diapun memalingkan wajahnya kesekitar ruangan seolah-olah sedang mengamati rumah itu, "Berarti Kamu menumpang dirumahku sekarang," goda Chelsea sambil tersenyum, sejujurnya diapun tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi Mark saat itu, sejenak dia berpikir sambil kembali meneguk gelas susunya, "Kamu tidak pernah kangen padaku?" lanjut Chelsea memberanikan diri, dia ingin tahu apa yang membuat Mark membawanya malam itu.
Mark tampak tertegun mendengar pertanyaan Chelsea yang dirasanya gadis itu telah berubah banyak menjadi lebih berani, namun lain halnya dengan apa yang dirasakan Chelsea dia justru menangkap kerapuhan mantan suaminya kala itu, Mark yang dulu dikenalnya adalah sosok cuek bahkan sering menggodanya namun kali ini begitu berbeda pikirnya, "Ayo jawab Mark" batinnya, "Aku bisa apa?" jawab laki-laki itu yang mulai memberanikan diri balas menatap, timbul keingintahuannya kini tentang bagaimana harapan mantan istrinya kepadanya malam itu. Chelsea langsung membuang muka kesal, "Pasrah banget Loe!" pikirnya.
Lama keduanya terdiam saling adu kekuatan, saling berharap untuk ada yang mengalah mengungkapkan isi hati, namun Mark terlihat seperti hendak meninggalkannya, "Kamu berubah sekarang!" Keluh Chelsea berusaha menahan untuk tetap bisa mengobrol disana, "Sama!" Jawab Mark singkat seraya berlalu, "Habiskan minummu dan tidurlah, kamar ada diatas sebelah kiri tangga." Lanjutnya cuek menyudahi drama diantara mereka pikirnya Chelsea sudah bukan istrinya lagi entah mengapa juga dia membawanya tanpa memikirkan perasaan tunangannya, yang tadi dia tahu terlihat frustasi.
Dengan kecewa mata gadis itu mengikuti tingkah mantan suaminya yang kini terlihat merebahkan diri di sofa ruang tengah lalu seperti kebiasaanya lanjut menyalakan televisi.
Mark benar-benar mengabaikan Chelsea yang masih duduk terpaku, "Nonton bola deh puyeng!" Pikirnya, dia seperti hilang ide harus bagaimana menyikapi Chelsea kali ini terlebih esok hari, sekarang mungkin Chelsea tengah tidak sadar atau mabuk, kalau besok sadar? entah apa yang terjadi pikirnya, sambil menarik napas panjang dia mengkhawatirkan tentang esok hari.
Chelsea beranjak sambil membatin kesal, "Keterlaluan! Dia mengajakku, namun acuh begitu". Pengabaian Mark ditanggapinya dengan sikap serupa, tanpa canggung lanjut Chelsea menaiki tangga menuju kamar yang ditunjuk Mark, masih ada sedikit rindu yang terobati walau laki-laki itu tetap menyebalkan pikirnya, sesampainya didalam kamar Chelsea termangu terpesona dengan interior dan tata letak kamar yang jauh lebih luas dari kamar pribadinya, "Hmm..., nice!" batinnya, dipandanginya setiap sudut tanpa berkedip hingga sampai pada satu benda yang benar-benar membuatnya terperanjat, "Hah!" pekiknya tanpa sadar, "Dasar konyol! Dia masih memasang photo perkawinan?" Chelsea geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli, tanpa pikir panjang dia langsung membuka satu-persatu lemari untuk mencari baju ganti, diambilnya satu kemeja putih lalu dikenakannya dan bergegas kembali menghampiri mantan suaminya yang terlihat sedang gonta-ganti Chanel.
__ADS_1
Mark mendengar langkah Chelsea yang berjalan terburu menuruni tangga, "Mungkin dia akan pulang" batinnya pasrah tanpa berani menengok, "Hey!" akhirnya Mark menengok dan terbelalak melihat Chelsea yang hanya mengenakan kemejanya saja dengan kancing yang terbuka, Glek!....Dia menelan ludah, tingkah Chelsea membuatnya gusar, "Apalagi kali ini?" pikirnya dengan was-was, kembali Mark mengalihkan pandangannya kearah TV.
Tak lama Chelsea sudah berdiri tepat dihadapannya dia menatapnya tajam, "Tidak tidur?" tanyanya Mark menguatkan hati balas menatap, walau yang tersisa hanyalah rasa rindu dan ingin sekali memeluknya, namun apa daya Chelsea sudah bukan siapa-siapanya lagi, terlebih mimik wajah Chelsea yang kini berubah sinis setelah mendengar pertanyaannya, diapun mengerutkan dahi merasa tak mengerti.
"Selama ini Kamu, mengabaikan aku! tapi photo kita masih disana?" tunjuk Chelsea kearah kamar dengan setengah berteriak namun Mark gagal dengar karena kemejanya terangkat, "A..., marahnya besok saja? aku ngantuk," jawabnya mencoba beralasan untuk menenangkan diri sambil pura-pura turut menoleh kearah kamar menghindari pemandangan indahnya, "Alamak!" keluhnya dalam hati, diapun lupa kalau photo itu masih tergantung disana.
Chelsea nampak terlihat meradang, "Tunanganmu wanita aneh! mau dengan Laki-laki yang masih menggantung photo pernikahannya, Cih!" cibirnya, "Dia tidak pernah kesana," sanggah Mark mencoba bersikap santai, "Terus....? Kalian bermesraan dimana?" tanya Chelsea menyelidik membuat Mark menahan tawa ternyata Chelsea tidak berubah tetap polos seperti dulu pikirnya.
Mark menunjuk sofa yang didudukinya, "Hiy!!!" pekik Chelsea dengan rasa jijik dan meninggalkan Mark yang tak bisa lagi menahan tawanya, kini dia tahu Chelsea tengah cemburu, "Wanita tadi itu kekasih Eric," lanjut Mark tak tega untuk terus menggodanya, Chelsea tampak menghentikan langkahnya, "Dua tahun lebih Kamu bertunangan, tapi aku tidak marah-marah" laki-laki itu melanjutkan kalimatnya dengan nada datar.
Spontan Chelsea menolehnya dengan kesal dia merasa tak terima Mark menuduhnya macam-macam pikirnya, "Tapi aku tidak ngapa-ngapain dengan Dia!" jawabnya emosi, kembali dia melanjutkan langkahnya menaiki tangga, Markpun dengan acuh kembali mengalihkan pandangannya kearah TV namun kini dengan perasaan lega.
Chelsea menaiki tangga sambil hatinya menggerutu, "Dia tidak menghampiriku," keluhnya padahal dia sangat berharap Mark memeluknya, "Aku merindukanmu selama ini!" ucap Chelsea teriaknya sambil menangis, bak menemukan mata air di gurun pasir Mark langsung memburunya dan memeluknya erat.
"Aku pikir Kamu kembali kepelukan Shinta," ucap Chelsea memelas, Mark kembali mendekapnya erat, "Shhh..., aku sudah pernah katakan, manusia tidak akan benar-benar hidup tanpa impiannya bukan? tapi saat itu, Kamu menyuruhku pergi karena aku bukan siapa-siapamu?", "Maafkan aku, tapi selama kita bersama, Kamu gak pernah bilang sayang aku atau apa...., padahal aku mencintaimu," lanjutnya lirih, "Begitu ya..? Hmmm..., mungkin karena aku tidak ada perasaan apa-apa?" Goda Mark, kemudian dia mencium bibir kekasihnya Chelseapun membalasnya dengan mesra, tapi tak lama gadis itu mendorongnya, "Oh! baiklah, aku pulang saja!" tiba-tiba Chelsea terlihat bersungguh-sunguh dengan ucapannya dan membiarkan Mark terengah-engah dengan wajah frustasi, sadar dirinya tengah dikerjai Mark langsung menarik tangan Chelsea untuk menahannya, "Kembalikan dulu kemejaku," katanya, Chelsea menggeleng namun Mark digendongnya menaiki tangga, masuk kamar lalu hanyut terbakar api rindu.
Pagi yang cerah
Sinar mentari menembus sela-sela gordeng membuat Chelsea lebih dulu terbangun, "Kali ini aku tidak bermimpi," lirihnya sambil menatap kekasihnya yang masih tampak tertidur kelelahan memeluknya, dikecupnya pipi Mark dengan lembut dan dengan perlahan dia melepas pelukannya, namun Mark kembali memeluknya erat, "Jangan pergi lagi Sayang, Kumohon," kata laki-laki itu dengan tatapan panik.
Chelsea menatapnya haru, "Aku mau menyiapkan sarapanmu," bisiknya lalu dibelainya wajah kekasihnya itu dengan penuh cinta, "Aku temani ya?" pintanya, Mark tahu Chelsea pasti sudah lapar, tapi dia tidak rela membiarkannya masak sendirian takut-takut kabur pikirnya.
__ADS_1
Chelsea tersenyum geli melihat tingkah konyol kekasihnya, diapun mengangguk dan meraih kemejanya untuk dikenakannya kembali, Mark tidak sedikitpun melepaskan pandangannya pemandagan indah di pagi hari pikirnya, "Iiiih....," pekik Chelsea malu-malu kucing, dengan tersenyum Markpun sama meraih kimono dan memakainya, Chelsea langsung panik dan spontan menutupi kedua-matanya dengan telapak tangannya, "Masih malu juga?" tanya Mark sambil lagi-lagi menggoda, "Tidak!" jawab Chelsea gugup.
Sesampainya didepan pintu Mark kembali meraih pinggang mungil itu dan memeluknya, "Kamu cantik sekali pagi ini Sayang." Chelsea tampak tersipu wajahnya merah merona, Markpun menggandengnya menuruni tangga.
Sesekali keduanya berhenti untuk saling berpangutan, dunia terasa milik berdua dan mohon maaf yang lain ngontrak ya.......
Bi Wati rupanya sudah sejak tadi mengamati tingkah kedua insan yang dimabuk cinta itu dari dapur, "Tuan membawa wanita" pikirnya, "Selamat pagi Tuan, Nona" Sapa Bi Wati menyadarkan keduanya, "Pagi Bi," balas Mark terlihat bersemangat, "Semalam Nona keluar dari bingkai photo Bi," celetuknya lagi memperkenalkan Chelsea, Chelsea mencubit pinggang kekasihnya gemas, Bi Wati tampak turut bahagia, "Selamat datang kembali Nona," ucap Bi Wati sambil membungkuk lagi, "Terima kasih, Bi" jawab Chelsea dengan santun.
Mark menarik kursi untuk Chelsea duduk, kembali dikecupnya kepala yang tengah menyender manja dibahunya, keduanya terus mempertontonkan kemesraan di meja makan.
"Sayang...," Chelsea memanggil Mark dengan lembut, Markpun menoleh, "Kamu tidak ingin minta ijin Daddy?" tanyanya, "Tentu saja, siang ini." jawab Mark, "Terima kasih, I love You" jawab Chelsea berbunga-bunga, kembali dikecupnya pipi kekasihnya itu, syukurlah pikirnya Mark masih memaafkan apa yang telah diperbuat ayahnya saat itu.
"Aku harus sarapan banyak, siap-siap digebukin lagi." kelakarnya, namun seketika raut wajah Chelsea berubah sendu kembali gadis itu berkaca-kaca, dia tidak ingin hal itu terjadi lagi, "Kalau begitu lupakan!" tegasnya dengan nada getir seraya menunduk, "Sayaaaang, Hey..., itu tidak akan terjadi, aku hanya bercanda," Mark sadar Chelsea menanggapinya dengan serius, Mark meraih wajah itu dan menatapnya sambil menggeleng, Chelseapun kembali berbinar Mark melanjutkan lagi kalimatnya, "Yang bisa saja terjadi hanya.....," Mark seperti tak kuasa melanjutkannya, kembali Chelsea menjadi penasaran, "Apa...? apa yang bisa terjadi?" tanya Chelsea gusar, Mark kini terlihat begitu khawatir, "Apa.....?" tanya Chelsea tak sabar, "Kau kembali padanya!" Jawab Mark sambil melengos.
"Iiiiiih apa sich! Itu tidak mungkiiiiin!" pekik Chelsea sambil memeluk pinggang kekasihnya erat, kali ini berbalik Chelsea sibuk meyakinkan kekasihnya, "Sayang! Aku mencintaimu dengan sungguh!" lanjut Chelsea, apa belum cukup yang terjadi semalam sebagai bukti cintanya pikir Chelsea heran.
"Tapi Kamu masih memakai cincinnya, Sayang Ha ha ha" Jawab Mark sambil tertawa lebar, ternyata dia hanya mengerjai Chelsea yang memang masih memakai cincin pertunangannya dengan Frans, gadis itu merengut kesal, "Bi! untuk Bibi nich," kata Chelsea sambil melepas dan menyodorkan cincinnya ke arah bi Wati yang tengah mencuci piring.
Bi Wati tampak tersenyum sambil menggeleng, "Tidak boleh Non, cincin tunangan jika batal harus dikembalikan." Jawab Bi Wati dengan agak heran bagaimana mungkin istri majikannya bertunangan dengan pria lain, namun Mark memang pribadi yang sangat tertutup selama ini bahkan baru hari ini Bi Wati melihat keceriaan diraut wajah majikannya, syukurlah pikirnya.
"Bibi saja yang kembalikan kalau gitu" Jawab Chelsea cuek sambil menaruh cincin itu di meja, kini matanya melotot gemas kearah kekasihnya yang masih tak henti-hentinya menertawakannya, "Aku balas Kamu nanti!".
__ADS_1
😘💓🙏 Tetap Di Rumah saja,