I Hate My Bodyguard

I Hate My Bodyguard
Episode 30 Paris In Blue, Germany In Yellow


__ADS_3

PARIS


Frans kembali ke Paris dengan penuh kehancuran, dia sama sekali tidak pernah bermimpi jika Chelsea mengakhiri pertunangannya dengan cara yang seolah-olah manusia itu benda mati yang tidak memiliki perasaan, hingga dengan bebas on off pikirnya, timbul kebencian dan dendam menyelimuti hatinya terutama kepada Mark yang sudah mempermalukan dirinya membawa Chelsea seenaknya dari Club "Who he think He Is! (Dia pikir dia itu siapa!)" Pikirnya dengan penuh amarah.


Hari pertama memang sedikit bisa dilaluinya dengan tidak begitu pedih, Frans masih menimbang-nimbang bahwa memang Chelsea sudah bersuami namun hati yang patah tidak bisa berkompromi.


Di hari kedua inilah baru benar-benar kehampaan begitu menusuk hati, dan sadar Chelsea mencampakkannya begitu saja. "Tidak semudah itu Sayang!" gumamnya seraya menulis pesan melalui WA, berharap tunangannya merespon dan benar masih membacanya pikirnya, lama dia memandangi ponselnya lama namun rupanya Chelsea hanya membacanya saja batinnya lagi frustasi, padahal Marklah yang membacanya disaat Chelsea tengah mandi waktu itu.


Lama tak kunjung mendapat respon, seperti kesetanan Frans berteriak-teriak mengamuk menghacurkan ruang kerjanya.


"Kau sudah menghancurkan hidupku, sial! tesist-ku hilang ide dan aku mati tidak bisa berpikir!" Semua barang-barang dibantingnya, figura photo-photo Chelsea dan dirinya dilempar-lemparkannya hingga pecah berserakan dilantai, tidak ada yang bersisa disana, semua hancur berantakan dari laptop dan apapun yang sebelumnya tertata diatas meja terjun bebas tak bersisa.


Tak berselang lama Frans terduduk lunglai dilantai, wajahnya kusut dan rambut acak-acakan, seperti sudah ditinggal mati seseorang hari itu sungguh perpisahannya begitu menyesakkan dada, dia merasa dirinya sudah sangat terhina, tidak terima dengan semua yang sudah terjadi. "Wanita tak tau diuntung!!!" teriaknya, Frans terus meracau sambil menarik-narik rambutnya hanya sebotol Wiskey yang setia menemaninya saat itu, "Kau membuatku Gila." lirihnya kearah photo Chelsea yang tampak berpose tersenyum sangat manis.


Hari semakin sore, Frans merebahkan dirinya dilantai tampak mabuk berat dan kelelahan, masih meracau dan terguncang. "Kau harus kembali, mempertanggung-jawabkan hidupku!" teriaknya lagi.


"Persetan dengan pernikahanmu!" , "Mark! Kau harus kembalikan Chelseaku!" lagi-lagi Frans terus berteriak tanpa siapapun dirumah itu yang bisa menenangkannya, karena memang dia sudah setahun tinggal terpisah dengan Ayah-Ibunya yang tak jauh masih dikawasan itu, dan rumah itu memang dia beli untuk nanti hidup bersama Chelsea setadinya.

__ADS_1


Dua jam Frans tetap terbaring dengan posisi sama, sampai akhirnya dia berusaha berdiri dengan sekuat tenaga karena perutnya dirasa mual ingin muntah, sejak sampai dirumahnya memang dia tidak ada selera makan dia minum dan minum, berharap Chelsea meneleponnya tapi tidak.


Frans dengan terhuyung menyeret tubuhnya ke kamar mandi dan muntah-muntah hebat diatas toilet, setelah dirasa enakan Frans menuju garasi berniat mencari udara segar dan menemui Merry sahabat dekat Chelsea di Paris.


Hari menunjukan pukul 7 malam, Frans mengendarakan mobilnya dengan antara sadar tidak sadar, kepala masih terasa berat namun satu hal yang dia tahu bahwa kali ini dia butuh seseorang yang bisa diajaknya bicara atau mungkin yang bisa menolongnya, "Minimal Merry harus tahu, aku bisa meminta Merry mempertemukanku dengan Chelsea" pikirnya.


Frans lagi-lagi mengamati semua pesan di WA-nya nampak Chelsea sudah tidak ada profile picture WA-nya "Ah! dia memblock WA-ku!" batinnya, lagi-lagi kenyataan itu menggoreskan rasa pahit bercampur amarah dihatinya "Sial Kau Mark! kita lihat saja!" gumam Frans tanpa sadar dia menambah kecepatan laju mobilnya sambil berusaha menelepon Merry.


Merry mengangkat panggilannya dan mulai menyapanya, "Hello Frans, tumben?" nadanya mengisyaratkan rasa heran karena Frans tidak pernah meneleponnta. "Yaaa! Sorry I need help! (Tolong aku)" Jawab Frans, "Oke....?" terdengar Merry menjawab penuh penasaran, "Aku ketempatmu Mer, bisa?", "Hmm...Ya but Chelsea denganmu? dia tidak mengabariku, padahal kalian ke German-kan?", lanjut Merry lagi, "Ya... dia balik ke suaminya." Jawab Frans dengan nada getir, "What!!!! I dont understand! dia sudah menikah?" Merry berteriak kaget, rupanya Chelsea tidak bercerita tentang masa-lalunya ke Merry sahabat dekatnya di kampus.


"Ok ok datanglah! drive safe!" lanjut Merry sambil nada bingung kemudian gadis itu mendengar bunyi dentuman keras disertai bunyi kencang rem yang dipaksa diinjak.


"Frans!!!... HEY....Buddy!!! Are You okey??" setengah histeris Merry berteriak memanggil-manggil Frans dan tidak ada jawaban.


Dua puluh menit kemudian Merry menerima panggilan kembali dari nomor Frans, langsung Merry mengangkatnya dengan menarik napas lega, "Aku pikir kau menabrak sesuatu!" pekiknya gusar, "Selamat malam Nona, kami dari kepolisan, apakah Anda saudara atau mungkin ada hubungan dengan Mr. Frans Mc Kyler? beliau kecelakan hebat dan kami mengawalnya ke Rs. M" ternyata bukan Frans yang menelepon, Merry tersungkur lemas, "Saya segera kesana Pak, apakah dia baik-baik saja?" tanyanya dengan penuh kecemasan, "Datang saja secepatnya Nona, selamat malam." Kemudian Polisi itu menutup teleponnya.


Merry mendapati Frans terbaring di ICU masih dalam keadaan koma, wajahnya dipenuhi balutan perban hanya sebelah matanya yang tidak, begitupun diliriknya, badan Frans dipenuh luka dan, "Tidaaaak!!!!" Merry menangis histeris saat melihat kaki kanan Frans sudah diamputasi, bagaimana pun Frans adalah seorang laki-laki baik dimatanya, "Banguuun Frans!!!" jeritnya sambil tak sadar hendak memeluk, namun dengan sigap para perawat menenangkannya, Merrypun dipapah salah satu perawat keluar ruangan, karena ruangan ICU diperuntukan untuk sekedar melihat dan tidak disediakan tempat duduk untuk berjaga.

__ADS_1


Merry duduk dengan tetap terisak di depan ruang ICU, hatinya terasa pilu melihat kondisi Frans yang begitu mengkhawatirkan, kemudian Merry langsung menghubungi Chelsea, karena memang tidak tahu nomor telepon keluarga Frans.


Sambil terisak Merry menelepon Chelsea, pas Chelseapun mengangkatnya. "Hello Sweetie, kenapa menangis?" Chelsea langsung peka karena isak tangis sahabatnya terdengar, memang demikian biasanya Merry sering curhat karena ulah Bryant kekasihnya yang tukang selingkuh itu. "Ada apalagi dng Bryant!!! Katakan!" tanya Chelsea lagi dengan nada kesal, sementara Mark menatap Chelsea yang sama penuh rasa penasaran, Chelsea mengucapkan kata Merry kearah Frans tanpa bersuara, mengisyaratkan Merry menelepon, Markpun mengangguk sambil lanjut menyantap makan malamnya, rupanya mereka tengah makan malam saat itu.


Tiba-tiba Chelsea melepas garpunya hingga berbunyi kencang membentur piring, Markpun kaget, istrinya tampak terguncang menahan tangis tanpa sepatah-katapun terucap darinya, tak lama dia menutup teleponnya dan meletakan ponselnya dengan sikap kikuk menunduk.


Mark sejenak tertegun melihat perubahan drastis istrinya, Chelsea tampak kebingungan, Markpun tanggap, "Pasti Merry menyampaikan sesuatu yang menyedikan hatinya" pikir Mark, lalundia menghentikan makannya dan beranjak menghampiri Chelsea yang menatapnya pilu, Chelseapun langsung menyongsong Mark memeluknya erat dan tumpahlah tangisannya di dada suaminya itu.


Mark terpaku kebingungan namun dibelai kepala istrinya lembut, dibiarkannya Chelsea menumpahkan kesedihannya. Mark mengecup kepala istrinya lagi dan lagi untuk menenangkannya, "Frans koma, dia kecelakaan Sayang" akhirnya Chelsea mengucapkan sesuatu tangisannyapun semakin menjadi, dia sudah tak begitu menghiraukan respon Mark dan berharap Mark mengerti kesedihan hatinya saat ini, walau dia tahu Mark baru saja cemburu kepada Frans kemarin malam, dipeluknya lagi Mark dengan tambah erat, "Tolong jangan mengartikan lain tentang tangisanku Sayang" pintanya lirih.


"Ah! Poor Man." Jawab Mark sambil menarik napas dalam, hatinya merasa prihatin mendengar kabar itu, berharap bukan karena perpisahan dengan istrinyalah yang membuat Frans kecelakaan batinnya.


Mark meraih dagu istrinya, mengecup bibirnya lembut, "Akupun merasa prihatin dengannya sayang, I am sorry to hear that" lanjutnya lagi penuh tatapan prihatin, Chelsea kembali memeluknya perasaannya campur aduk antara terpukul mendengar keadaan Frans yang baginya adalah seorang laki-laki yang begitu sabar dan menyayanginya dengan penuh cinta selama di Paris, namun ada lega juga mendapati suaminya berempati kepada Frans, padahal tadi siang baru saja menyuruhnya memblock nomor Frans.


Mark dengan tetap memeluk, menuntunnya kembali ke meja makan, "Habiskan makananmu ya, atau mau bicara?" Chelsea menggeleng, "Temani aku ke pantai Sayang?" Chelsea menghentikan langkah suaminya, dia merasa menjadi kenyang, pikirannya benar-benar kalut, berharap Mark menemaninya menghirup udara pantai, Mark menoleh seraya menganggukan kepalanya tanda setuju, Chelsea berbalik menarik tangan suaminya menuju pintu ke taman belakang.


Dilepaskannya genggaman tangan Mark, Chelsea duduk lalu membaringkan badannya dikursi pantai dekat kolam renang, tatapannya tertuju ke langit yang dihiasi penuh bintang berkerlip sangat indah lalu lautan lepas tepat dihadapannya sedikit menenangkan hatinya, sementara Mark mencoba untuk mengerti, dia masih tetap berdiri mengamati hal serupa yang dilakukan istrinya, "Ingin minum Sayang?" Mark menawarkan istrinya minuman, "Beer saja please Sayang, terima kasih" jawab Chelsea sambil menatap haru atas perhatian suaminya, Markpun bergegas masuk mengambil satu box pendingin yang berisi beberapa kaleng Beer didalamnya.

__ADS_1


Lama keduanya saling diam, berbaring terpisah dikursi pantai yang tertata berdampingan, tangan keduanya saling berpegangan erat menikmati deburan ombak yang semakin malam semakin jelas terdengar.


"Aku harus menjenguknyakan?" Chelsea melirik suaminya dengan tatapan meminta persetujuan, Mark terdiam sejenak, karena lusa akan ke Amerika pikirnya merayakan pernikahan mereka.


__ADS_2