
Pukul 10 Malam....,
"Kamu masih mau di sini?" Mark tidak memberi jawaban, Chelsea hanya mengangguk.
Kemudian Mark pun beranjak meninggalkan Chelsea supaya istrinya bisa menenangkan diri, disamping dia pun bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Chelsea, apa Chelsea lupa dengan pesta yang disiapkan orang-tuanya dua hari lagi pikirnya, namun apa daya sekarang bukan waktunya untuk kesal itulah kenapa diapun memutuskan untuk menimbang sendirian didalam kamar.
Chelsea hanya menoleh kepergian suaminya, Mark tidak mengerti keinginan hatinya untuk ditemani, tidak juga meninggalkan jawaban pasti untuknya, padahal Frans harus dijenguknya pikir Chelsea kecewa, "Masih saja sempat cemburu, dasar egois!" Keluh Chelsea dihatinya.
Tak lama berselang Chelseapun mengalah, menghampiri suaminya yang terlihat fokus dengan ponselnya diatas tempat tidur, "Katamu prihatin dengan keadaan Frans, namun Kamu tidak menjawabku," Chelsea menatap tajam suaminya yang terlihat acuh, "Dia kekanak-kanakan kalau sedang cemburu, ini membuatku lelah" keluhnya dalam hati, "Pergilah" jawab Mark singkat.
Chelsea menarik napas dalam, diapun merebahkan badannya seraya memeluk pinggang suaminya dan berucap lirih, "Terima kasih Sayang" namun Mark tetap mengabaikannya, "Simpan ponselmu boleh?" pinta Chelsea manja, "Tidurlah, aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan." jawab Mark datar, "Aku tidak pergi, sikapmu aneh!" Tegur Chelsea, kini suaminya menoleh, "Berapa hari Kamu disana nanti?" tanya Mark dengan intonasi sedikit berdamai, "Mungkin seminggu, aku harus melihat perkembangannya, katanya kaki kanannya diamputasi Sayang" lanjut Chelsea penuh haru, "Selamanya juga boleh." Jawab Mark, Chelsea kembali menatap suaminya dengan heran, jawaban Mark sungguh tidak menunjukan rasa prihatin keluhnya lagi, sambil melepaskan pelukannya dia berbalik memunggungi suaminya.
__ADS_1
"Gak punya hati" celetuknya tanpa sadar, "Aku bukan mantannya! Wajar aku bersikap begini!" Mark menjawab dengan nada tinggi, Chelsea terduduk kesal sambil kembali memandangi suaminya.
"Maksudku, dia baru kecelakaan, bukan masalah mantan-mantan!" balas Chelsea, namun Mark tetap lagi-lagi mengacuhkannya, "Ingat! Kamu pernah memintaku tidak bersuara, saat terakhir mantanmu menelepon!? Ingat?...Saat itu aku lama menuruti! Sampai wanita itu mengatakan aku hanya pengisi kekosonganmu saja aku baru marah! Ingat?" Teriaknya mengungkit kejadian saat Shinta menelepon terakhir-kali, kali ini Mark membalas tatapan istrinya dengan rasa penuh keberatan, "Aku mengijinkanmu pergikan tadi?" jawab Mark kesal, "Apa maksudmu dengan selamanyapun boleh?!" Serang Chelsea lagi, sungguh sakit hatinya dengan perkataan Mark seperti menyuruhnya pergi selamanya, tidak tahu menghargai perasaan wanita saja pikirnya terus menyalahkan suaminya, sedang bagi Mark hanya tidak ingin Chelsea pergi mengingat akan menjadi kedua-kalinya ketidak-datangan Chelsea menyakiti hati kedua orang-tuanya, namun disisi lain Frans memang sedang tragis kondisinya, hal itu yang membuat Mark tidak bisa berpikir tapi dia bingung menjelaskannya.
"Pantas saja Shinta bisa kayak cecunguk begitu menghadapimu! Kamu sangat egois!" Pekik Chelsea lagi, Spontan Mark berdiri meninggalkan istrinya yang masih saja memprioritaskan Frans ketimbang perasaan orang-tuanya. Chelsea tersungkur kesal dibantal.
Mendapati istrinya seperti hendak menangis, Mark kembali lagi ke kasur menghempaskan tubuhnya dengan perasaan lelah.
Mark mencoba untuk tidur dia pasrah paling kabur lagi pikirnya, sambil mengirim pesan WA ke Danny untuk berjaga-jaga didepan rumah sapa tahu Celsea kabur lagi ke rumah mertuanya.
"Kamu tidak pernah mencintaikukan? hanya menyukai tubuh atau wajahku saja? Kamu tersesat!" Lanjut Chelsea lagi, berharap suaminya mengatakan sesuatu, " Hmmm" Jawab Mark malas menanggapi, Chelsea bangkit bermaksud meninggalkan suaminya namun Mark menarik istrinya dan langsung menindihnya, "Coba mana yang membuatku sudah tersesat?" tatapnya, Chelsea membuang muka malas menatap suaminya yang mulai kembali nakal, sekuat tenaga Chelsea menahan rasa gelinya dan menepis tangan itu dari dadanya.
__ADS_1
"Aku bukan pemuas hasratmu!" Jawabnya ketus tanpa sedikitpun memandang Mark yang masih saja nakal, "Salah wajah dan tubuhmu, tadi seseorang mengatakannya, sampai katanya aku bingung ini napsu apa cinta" Mark menyindir istrinya, sambil terus menggodanya.
"Berat! aku tidak mau Kau sentuh!" Hardik Chelsea, Mark kembali merebahkan badannya, "Dosa kalau istri menolak Suami" jawab Mark santai, "Lebih dosa mana? Suami yang hanya menginginkan tubuh istrinya dengan tanpa ada cinya?" balas Chelsea sambil melirik sinis.
"Baiklah mungkin Kamu benar Sayang!" Jawab Mark sambil meninggalkan Chelsea keluar menuju dapur, tiba-tiba kepalanya terasa pening, diapun menyeduh segelas coklat hangat dan duduk di meja makan menikmatinya sendirian, tak lama tampak Chelsea menuruni tangga dengan hanya menggunakan lingerienya saja, membuka kulkas mengambil sebotol Wine dan duduk di meja pantry dengan sikap menggoda.
Mark terus mengamatinya, "Jangan salahkan suamimu, jika menyentuhmu disini." Tegur Mark dengan napas memburu, Chelsea hanya menolehnya kemudian kembali meneguk botol Wine-nya hingga meleleh tumpah membasahi leher mengalir kedadanya, melihat sikap tengil istrinya Mark menahan diri, dia ingin Chelsea mengalah menghampirinya, namun Chelsea tidak beranjak.
"Aku sebetulnya tidak suka kamu minum-minum dari dulu!" Lanjut Mark kesal dengan pengabaian Chelsea, "O'ya? lalu?" kini Chelsea meradang, "Shinta tidak minum?", "Aku tidak bicara tentang wanita lain!", "Lalu?" lanjut Chelsea seraya meletakan botolnya di bak cucian piring, "Gerah sekali ya..." lanjutnya seraya melepas ikatan stokingnya, Mark terus mengamati tingkah nakal istrinya, "Aku juga tidak suka, Kamu terus menyebut-nyebut namanya, bahkan Frans!" Lanjut Mark dengan nada meninggi, Chelsea terus memancingnya berharap Mark bisa ekspresif membuka diri, lalu dengan tatapan nakal Chelsea kembali menggodanya, "Kamu tidak gerah marah-marah saat udara panas begini?" tanya Chelsea sambil melepas kimono tipisnya dan perlahan dia melepas satu persatu stokingnya, "Ah!" sambil membuang muka Mark bergumam frustasi, namun tak lama dia memalingkan wajahnya kembali menatap istrinya yang kini sudah melepas semua yang dikenakannya, Markpun kalap menghampiri, "Boleh ya, disini? Aku tau Kau menggodaku Sayang" pinta Mark sambil membenamkan wajahnya dibelahan dada istrinya, Chelsea mendorong badan suaminya pura-pura menolak seraya beranjak turun namun Mark mengangkatnya kembali untuk tetap terduduk di sana "Jangan tolak aku" kata suaminya lagi, Chelseapun membiarkanya, kini tampak Mark sudah tidak perduli tentang pesta perayaannya bisa diundur pikirnya, dia iklas mengijinkan Chelsea besok menjenguk Frans.
"Besok pergilah Sayang, aku mengijinkanmu" bisiknya, "Benar?" tanya Chelsea, "Iya..." jawab suaminya yang tengah mabuk kepayang "Temani," pinta Chelsea sambil terus menggodanya, Mark mengiyakan berkali-kali apapun pinta istrinya saat itu, hingga akhirnya mereka kelelahan di meja makan, tanpa sadar hiasan meja sudah jatuh berserakan dilantai.
__ADS_1
Keduanya kini menengok lantai, lalu saling menahan tawa membayangkan betapa repotnya Bi Wati merapikan semuanya esok hari, "Kamu harus beli Vase bunga lagi Sayang," kata Chelsea sambil tersenyum geli, Mark membopong tubuh istrinya kembali ke kamar.
Besok lagi ya Deeeerrsss, tetap dirumah saja 🙏🤗