
Dari mulai menuju Airport Charles de Gaulle Paris bahkan didalam pesawat hingga saat ini mereka tiba di rumahnya, Es kembali membeku Chelsea banyak diam dan mengacuhkan suaminya.
"Aku harus bagaimana, kali ini?" tanya suaminya, saat Chelsea sibuk menyusun kembali baju mereka ke lemari.
"Tidak ada yang salah denganmu, ini hanya karena aku sadar, Mama Papa pasti kecewa padaku dulu dan kemarin juga untuk kedua-kalinya pasti." Jawab Chelsea yang kali ini menoleh dengan tersenyum tawar dipaksakan, dia kecewa terhadap dirinya sendiri setelah mendengar penjelasan Mark bahwa dua kali mertuanya menyiapkan pesta besar untuk merayakan pernikahannya, ditambah batalnya pesta pernikahan suaminya dengan Shinta yang lagi-lagi batal karena dirinya, pasti betapa sedih dan malunya mertuanya itu, "Andai waktu bisa diulang" sesal Chelsea seraya menarik napas dalam.
Mark yang sejak tadi berdiri di pintu memandanginya kini datang memeluk Chelsea dari belakang, ternyata istrinya terlihat banyak diam bukan karena cemburu pikirnya ada kelegaan melihat banyaknya perubahan sikap Chelsea yang kini jauh lebih terlihat dewasa dibandingkan dulu.
"Tadi pagi bukannya mau gado-gado?" tanya Mark sambil terus memeluk dan menyusupkan wajahnya ke leher istrinya.
Chelsea menghentikan sejenak pekerjaannya, "Hentikan, leherku geliiiii" pekiknya, Mark menggeser pintu lemari untuk menutupnya, kini dia bisa melihat wajah Chelsea dari cermin lemari itu, Chelseapun balas menatapnya "Bagaimana kalau kita makan malam nasi goreeeeng" tanya Chelsea yang lalu kembali memekik ketika Mark lagi-lagi mengendus lehernya, Mark kini tersenyum nakal mengarjainya, "Kamu gendutan ya Sayang?" tanyanya lagi sambil kembali menatap cermin diamatinya tubuh istrinya dengan seksama, "Heh? masa?" jawab Chelsea dengan nada tak suka, "Iya, ini." Mark meyakinkan Chelsea, yang spontan menurunkan kedua-tangannya supaya kembali memeluk pinggangnya.
"Baiklah," lanjut Mark seraya melepaskan pelukannya, "Tidak! Tunggu! Maksudku...., baju kita masih banyak di koper, berantakan tidak enak." Jawab Chelsea sambil menarik tangan suaminya, Mark hanya menolehnya, "Benar-benar mau? kan belum makan," Chelsea menawari suaminya, "Mau apa?" Jawab Mark sambil tertawa lebar mengerjai, "Nasi goreng!" Pekik Chelsea kesal.
Mark meninggalkan Istrinya sambil tertawa terpingkal-pingkal dia bermaksud meminta Bi Wati untuk masak nasi goreng, Chelsea dengan geram kembali lanjut merapikan sisa baju dari koper, terdengar Mark berkelakar sebelum benar-benar keluar kamar, "Ha ha ha nasi goreng doang mah Si bibi juga bisa! Sayang, ha ha ha"......
__ADS_1
Mark kembali ke kamar dan mendapati Chelsea terbaring dilantai, dengan panik Mark mengangkat dan membaringkannya ditempat tidur, Chelsea nampak pucat tidak sadarkan diri.
Mark langsung merobek baju bagian depan Chelsea untuk melepaskan ikatan Branya, lalu diangkatnya kedua-kaki istrinya itu sedikit lebih tinggi supaya aliran darah ke otak bisa cepat mengalir untuk menyadarkannya dan berhasil Chelsea terlihat siuman.
"Hirup udara lebih dalam Sayang" Perintahnya dengan lembut, Chelsea menurutinya, "Tadi pas Kamu pergi, kepalaku tiba-tiba pusing lalu aku terjatuh lemas dilantai, dan tak ingat apa-apa," kata Chelsea dengan suara lemah, rupanya Chelsea pingsan cukup lama, "Sebentar Sayang," kembali Mark beranjak menuju ke pintu, "Bi! Tolong panggilkan dokter!" Teriaknya, "Iya Tuan?", "Panggilkan dokter segera dan buatkan teh manis hangat sekarang!" Kemudian Mark kembali menghampiri Chelsea dan memijat lembut kedua telapak kakinya, "Aku ingin marah nanti, Kamu makan pagi sedikit, makan siang di pesawat tidak dimakan." tatap Mark gemas.
Bi Wati datang dengan membawa tiga macam minuman hangat manis, sekalian seduh pikirnya, Mark menganguk seraya mengucapkan terima-kasih, "Nona, pingsan Tuan?", "Hanya sedikit masuk angin saya Bi," Chelsea menjawab sambil melirik suaminya, berharap Mark tidak terlalu mengkhawatirkannya, "Sayang, Peluuuk...." Pinta Chelsea manja, Mark menggeleng "Kamu masih harus berbaring," Mark meminumkan teh manis dengan sedotan, tak lama bunyi bel pintu terdengar segera Bi Wati berpamitan untuk membukanya, rupanya dokter sudah datang.
"Malam Dok..., maaf memanggil Anda malam-malam Istri saya tadi pingsan," Sapa Mark seraya berdiri dan memberi ruang bagi sang Dokter untuk memeriksa keadaan istrinya, "Selamat malam, baik saya akan memeriksanya dahulu," jawab Dokter itu yang dengan langsung menghampiri Chelsea ditempat tidur.
Setelah selesai memeriksa sang Dokter menoleh Mark yang sejak tadi menatapnya gusar memang dia tak sabar ingin segera mengetahui apa pendapat medis tentang istrinya, "Selamat Nyonya hamil Tuan, besok boleh lanjut ke Dokter kandungan," ucapnya sambil tersenyum, Mark terkesiap kaget, sejenak dia mematung tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, sang Dokter mengangguk meyakinkannya kembali.
Chelsea membalas menatapnya dengan pandangan masih tak percaya, Mark kembali tersenyum, kembali dikecupnya bibir istrinya dengan penuh kasih sayang, "Kamu hamil Sayang! Terima kasih", "Benarkah?" tanya Chelsea dengan lirih, "Benar Nyonya, selamat untuk Anda berdua," Kata sang Dokter kembali meyakinkannya, Chelsea langsung terlihat berkaca-kaca, "***Hey*...., Mommy kecil**...." Sapa Mark kembali sambil menggeleng menenangkan istrinya yang dia tahu Chelsea panik menyikapi kehamilannya, "Tidak boleh pulang malam lagi ya....?" pinta Chelsea dengan polos memelas, Mark mengangguk lagi-lagi istrinya membuatnya tersenyum, "Istri manja sedang hamil, suami tidak ada lembur-lembur lagi," katanya mengerti bahwa Chelsea membutuhkan kalimat itu dari mulutnya, "Janji?" kata Chelsea butuh kepastian, Mark mengangguk, membuat paras Chelsea kembali berbinar sekaligus tersipu malu sadar masih ada sang Dokter bersama mereka yang kini pasti mengetahui dirinya panik bukan karena takut akan kehamilannya seperti umumnya ibu muda jaman sekarang, namun lebih kepada keberatan Mark pulang malam.
"Baiklah, saya harus berpamitan untuk visit kembali," lanjut sang Dokter sambil tersenyum memahami kemanjaan Chelsea kepada suaminya, gimana dia yang suka pulang pagi karena harus merawat pasien pikirnya, "Aku mengantar Dokter dulu sebentar ya?" kembali Mark mengecupnya, Chelseapun melepaskan pelukannya seraya mengucapkan terima kasih kepada sang Dokter.
__ADS_1
Mark kembali menghampiri Chelsea yang kini sudah duduk sambil mengotak-atik ponselnya, "Makan yuk De....?" pekik Mark dengan sekonyong-konyong naik keatas tempat tidur menindih kaki Chelsea dan mengecup perutnya, Chelsea meletakan ponselnya lalu membelai lembut kepala suaminya, "Bilang Daddy De, gak boleh genit-genit lagi gitu" Chelsea menimpali menyindir suaminya dia tiba-tiba teringat photo Mark yang berdampingan dengan Shinta, sementara dia hanya memiliki satu photo itupun dari arah belakang pikirnya sangat kesal, "Photo-photo itu darimana Sayang? rajin sekali mengoleksi," tanya Mark santau sambil tetap menciumi perut istrinya mengabaikan Chelsea yang mulai akan kumat apa lagi bawaan orok pikirnya.
"Merry sepupunya nenek sihir!" Jawab Chelsea ketus, "Dunia sempit juga ya?" Mark menjawab dengan tatapan pura-pura tersadar betapa sempitnya dunia dengan maksud terus mengerjai Chelsea yang kini terlihat cemberut, "Iya! Awas aja macam-macam lagi!" lanjut Chelsea tampak mulai terpancing, jangan sampai pikirnya bawa-bawa genderang suami kelayapan secara lagi musim juga pelakor saat ini Hiy! terlihat Chelsea menggidik, "Sayang....., si Dede lapar katanya, mommy marah-marahnya nanti saja, boleh?" jawab suaminya sambil bangkit meninggalkannya hendak menuju dapur, Chelsea menatap perutnya dan mengusapnya, "Kita makan dulu De," seraya tersenyum.
Mark kembali dan menyuapi Chelsea ditempat tidur, "Kenyang Sayang, aku mual lagi" dengan wajah menahan rasa ingin muntah Chelsea menghentikan kunyahannya, "Baru tiga suap, tolong Sayang, nanti dede Baby-nya laper," jawab Mark dengan panik, "Habis ini minum vitamin, makan sedikit-sedikit aja ya?" tatapnya berharap Chelsea menurutinya, Chelsea mengangguk.
Ponsel Chelsea tampak berdering, "Daddy!" katanya sambil menyerahkan ponselnya kearah suaminya, Mark mengangkatnya.
"Mark! terima kasih Kamu memberi dad cucu!" Terdengar Mr. James terdengar lantang dengan nada bangga bercampur bahagia dari telepon, Mark menatap Chelsea dengan penuh cinta rupanya Chelsea sudah memberitahukan kehamilannya kepada mertuanya dengan cepat, Chelsea membalasnya dengan anggukan dan senyum manis, "Terima kasih Dad, maaf Mark lupa harusnya tadi langsung mengabarkan Daddy, Mama dan Papa" jawabnya kikuk, "Kalian tidak usah kemari, hari Minggu Dad kesitu, nengok Cucu ha ha" lanjut Mr. James, "Ha ha baik Dad, terima kasih," Mark balas tertawa, Chelsea menepuk jidatnya mendengar kekonyolan ayahnya, lahir juga belum pikirnya sambil tersenyum geli, Mark kembali menyuapinya.
Setelah keduanya selesai makan, Mark merapikan piringnya dan memanggil Bi Wati untuk membereskannya, "Rupanya Nona tengah Hamil Bi," Ucap Mark mengabarkan pembantunya, "Alhamdullilah! Selamat Nona, Tuan, semoga Nona dan si jabang bayi diberikan selalu kesehatan. Amin!" Pekik si Bibi dengan wajah berbinar-binar, "Amin, terima kasih Bi" serentak pengantin baru itu menjawab, tak lama dari bi Wati berpamitan Mark berdiri mengambil ponselnya di Meja sofa, Chelsea hanya bisa memandangi suaminya yang tampak kini sibuk menelepon, sebenarnya dia ingin beranjak dari tempat tidur pegal juga pikirnya terus berbaring begitu, namun Mark sedari tadi melarangnya supaya istrinya bisa terus beristirahat.
"Mama Chelsea hamil, Mama Papa sudah punya Cucu," Terdengar suaminya mengabarkan berita kehamilannya, terlihat Mark tersipu sambil garuk-garuk kepala biasanya jika sedang kikuk dia bertingkah demikian dan memang mamanya tengah menggodanya dengan penuh rasa bangga.
Terlihat Mark kini menghampirinya, lalu menyerahkan ponselnya, Chelsea tampak gugup menerimanya sudah lama juga pikirnya tidak mengobrol dengan mertuanya, "Ma..ma apa kabar?" dengan terbata-bata Chelsea menyapa, Mark terlihat naik ketempat tidur memeluk pinggang Chelsea erat sambil berbaring didadanya ikut menguping.
__ADS_1
"Sayang, Mama Papa kangen sekali" dengan nada haru mama mertuanya menjawabnya, kembali Chelsea terisak penuh sesal dan sedih mengoyak perasaannya setelah apa yang sudah diperbuatnya pikirnya, namun mertuanya masih begitu baik dan tetap hangat menyapanya dengan panggilan sayang dengan begitu tulus, lama Chelsea terisak dan hanya bisa mendengarkan, "Sayang tidak apa-apa, kami mengerti," terdengar lagi-lagi kalimat mertuanya menambah keharuan isakannyapun kini menjadi bertambah kencang yang sontak membuat Mark bangun menatapnya, Chelsea menggeleng dan kembali menarik Mark kepelukannya, "Maafkan Chelsea Mama..., Chelsea juga kangen Mama Papa hik hik" dengan sekuat hati Chelsea kembali berkata-kata, terdengar mama mertuanya menasehatinya, "Jaga kandunganmu Sayang, Papa senyum-senyum ini bahagia tak sabar menimang Cucu dan kami akan segera menjenguk Kalian" katanya lagi, "Kami tak sabar ingin bertemu." Chelsea mereda seraya mengusap air matanya, Mark memang sengaja membiarkan Chelsea mengungkapkan segala isi hatinya, tanpa sedikitpun mencegahnya untuk tidak menangis kala itu, "Mommy lagi cengeng De," gumam Mark sambil mengelus perut istrinya, mendengar itu Chelsea menjewer kuping suaminya dan tidak melepasnya, dia sedang bersedih namun Mark malah mencibirnya pikirnya.
Mark pura-pura mengaduh kesakitan dan langsung membalas jeweran Chelsea dengan menciuminya membuat Chelsea kini kerepotan disamping dia masih tengah fokus menyapa ayah mertuanya, Mr. Kim mendengar sedikit keributan Mark tengah menggoda istrinya pikirnya, diapun mengerti, "Ya sudah besok Papa packing jenguk kalian", "Baik Papa, (Ich hentikan!) Seselamat istirahat, Ich!" Chelsea menjawab sambil sekaligus ah ih panik memekik berusaha menghentikan ulah suaminya, setelah nada sambung terputus diletakannya ponsel itu di meja lampu, "Kamu nakal sekali!" Pekik Chelsea sambil mendelik meraih wajah suaminya yang balas memandanginya dengan wajah pura-pura tak berdosa menahan tawa, "Kan sedang menelepon!" Lanjut Chelsea, namun Mark kembali tidak mengindahkannya dia kembali melanjutkan aksinya akhirnya, Chelsea pasrah membiarkan Mark terus menciumi wajahnya, "Papa langsung mengakhiri percakapan! Kamu berisik," keluhnya geram, "Siapa suruh menangis lagi?" jawab Mark sambil kini merekatkan wajahnya hingga hidung keduanya beradu, "Aku pegal berbaring begini terus Sayang, Kamu juga ambil oksigenku, sekarang aku bernapas untuk dua orang ini," keluhnya lagi berharap Mark mengijinkannya beranjak dari tempat tidur.