
Chelsea mengantar mertua dan adik iparnya ke kamar mereka masing-masing, "Mama mau istirahat dulu atau langsung kita makan siang?" tanyanya, "Mama kangen, kita berkumpul dulu saja yuk," jawab Mrs. Lysia sambil menuntun Chelsea kembali keluar dari kamarnya, "Baik," jawabnya sambil tersenyum.
Terlihat Mr. Kim tengah duduk bercengkrama dengan Clea diruang tengah namum tidak tampak Mark disana, "Chelsea panggil Mark sebentar," ucap Chelsea kepada Mrs. Lysia, "Iya panggilah suamimu Sayang, memang biasanya seperti ini," jawab Ibu mertuanya sambil menarik napas, Chelsea kini paham sisi lain kehidupan suaminya bahwa Mark dengan ayahnyapun susah membaur, "Nanti Mark pasti bisa berubah Mama," ucapnya, Mrs. Lysiapun kini ikut duduk disamping suaminya, "Papa dan Clea sudah lapar?" tanya Chelsea kepada mereka, Clea hanya menggeleng, "Papa nanti saja, ingin lihat pantai dulu" jawabnya seraya memandangi halaman belakang, "Nanti kita sama-sama kesana, tunggu sebentar ya," jawab Chelsea yang kemudian dia bergegas menuju kamarnya tidurnya, pasti suaminya ada disana pikirnya.
"Sayang, temani Papa melihat pantai yuk?" ajaknya kepada Mark yang tengah terlihat duduk santai di sofa menonton TV, namun suaminya tidak menoleh, akhirnya Chelseapun menghapirinya dan duduk bersandar dibahunya, "Kamu nontonnya diruang tengah yuk, semua berkumpul disana" pintanya lagi dengan tatapan manja, namun Mark tetap memokuskan pandangannya ke arah TV, "Aku sedang kesal, Dokter bilang kamu harus bedrest bukan?" ucapnya, "Bukan," jawab Chelsea singkat mengerjai, Mark menoleh istrinya kesal, namun Chelsea lagi-lagi tersenyum menggodanya, "Kamu tidak pa...," tak sempat Mark melanjutkan kata-katanya Chelsea langsung membungkam bibirnya dengan ciuman, Mark pun pasrah membiarkannya, "Marah sama aku kog, semua kena?" tanya Chelsea sambil perlahan bergeser hingga kini terduduk dilahunannya.
Chelsea membenamkan wajahnya di dada suaminya dengan manja, dia berharap Mark bisa sedikit saja berubah pikirnya, "Ok, Kamu saja yang temani Papa, tidak usah menurutiku" ucap Mark masih dengan nada kaku namun kali ini dia memeluk pinggang istrinya, "Gendong," pinta Chelsea lirih, dia sadar Mark mengkhawatirkan kandungannya, "Aku cuma mau Kamu duduk ngobrol dengan Papa," lanjut Chelsea lagi, "Jangan khawatir tentang kami, Papa sudah terbiasa aku begini ada Clea, pikirkan saja kandunganmu aku mohon," jawab Mark sambil mengelus rambut istrinya, "Anakmu yang minta, Daddy temani Opa katanya.....," lagi-lagi Chelsea bersiasat, karena baginya memang tidak terbiasa jika harus menghadapi anak dan orang tua yang tidak rukun pikirnya, "Ok, yang penting Mommy nurut Daddy ya De," jawab Mark yang akhirnya mengalah.
__ADS_1
Mark menggendong Chelsea keluar kamar, "Turunkan aku," Pekik Chelsea gugup, "Lho, katanya tadi minta gendong?" jawab Mark sambil tidak melepasnya, dia tetap menggendong Chelsea menuruni tangga, "Turunkan Sayang, aku malu!" bisiknya, sambil terus mencubiti punggung suaminya, sekilas nampak mertua dan adik iparnya tertawa geli kearahnya, "Sayaaaang! turunkan gak?" Markpun menurunkan istrinya tepat dihadapan orang tua dan adiknya, "Papa mau ke pantai?" tanya Mark melirik ayahnya dengan penuh perhatian, sontak suasana menjadi hening terutama Mrs. Lysia terlihat shock tak percaya dengan perubahan sikap Mark yang berubah 180 derajat terhadap ayahnya, Chelsea yang tadinya menunduk grogi langsung memeluk dan mencium bibir suaminya, rasa sungkannya hilang seketika dipandanginya Mark dengan rasa bangga, "Sayang, aku mencintaimu" ucapnya lirih, "Bawaan orok," jawab Mark tersipu, dia sendiripun heran bisa berani mengungkapkan kerinduannya untuk dekat kepada ayahnya yang selama ini dia pendam.
"Ok," jawab Mr. Kim singkat sambil berdiri, Clea langsung menepuk jidat, "Bawa payung deh, takut hujan besar" goda Clea kepada keduanya, "Jangan menggoda Papa dan Kakakmu" tegur Mrs. Lysia sambil akhirnya tertawa lebar, Mark hanya menoleh kaget baru kali ini mendengar ibunya tertawa ngakak, "Sana jalan!" lanjut Mrs. Lisyia pada keduanya, tampak Mark dan Mr. Kim menurut, Mark dengan garuk-garuk kepala mengikuti langkah ayahnya menuju pekarangan belakang.
Mrs. Lysia mengarahkan pandangan bangganya terhadap Chelsea sambil mengucap, "Sayang, Kamu luar biasa terima kasih", "Tidak Mama, bukan karena Chelsea, tapi Mark memang sudah lama kangen Papa" jawab Chelsea sambil duduk disamping ibu mertuanya.
"So....., Clea tidak ajak pacar?" tanya Chelsea membuka kembali pembicaraannya, "Ada, tak lama Clea suka seseorang yang kakinya patah karena kecelakaan bagaimana cacat bisa kerja? mama tidak setuju," Mrs. Lysia memotong, "Oh," jawab Chelsea singkat dengan rasa prihatin dia memandang Clea yang langsung terlihat muram, "Clea akan cari yang seperti Ka Mark, tapi dimana?" jawab iparnya sambil tertawa lebar, namun Chelsea tahu Clea tengah menutupi luka batinnya, "Bisa pakai kaki palsu kan Mama?" lanjut Chelsea kepada mertuanya, "Iya benar," jawab Clea tanpa sadar lalu tertegun karena melihat perubahan sikap Ibunya yang seperti tak senang mendengarnya, "Kamu ini bagaimana? Laki-laki itu kecelakaan juga karena ditinggal tunangannya," katanya lagi sambil melirik Chelsea, "Ah!" Chelsea menarik napas, rupanya ibu mertuanya sudah paham benar tentang semua yang terjadi dalam hidupnya pasti ulah Shinta pikirnya, diapun kini menunduk, "Mama bahagia Kamu mencintai Mark, Sayang" lanjut Ibu mertuanya lagi, "Iya Mama, Chelsea tidak bisa hidup tanpa Mark." ucap Chelsea lirih, "Clea tahu Frans kecelakaan karena frustasi ditinggal Chelsea yang memilih Kak Mark itupun katanya," celetuk adik iparnya dengan santai, spontan Chelsea dan Mrs. Lysia menatap kearah Clea secara bersamaan, Chelsea langsung jengah berharap suaminya segera kembali.
__ADS_1
Ting Tong suara bel berbunyi,
"Ah, untung saved by the bell" pikirnya, "Sebentar, Chelsea buka pintu dulu" ucapnya sambil hendak beranjak, namun bi Wati tampak lebih dulu mendahului membuka pintu, "Siapa Bi?" tanya Chelsea, "Kiriman bunga Non," jawabnya, membuat Chelsea tertegun heran, kiriman bunga dari siapa pikirnya, "Mohon dilihat dulu pengirimnya Bi," kata Chelsea seraya menghampiri, dengan haru Chelsea menerima 29 rangkaian buket bunga yang tertulis dari Ibu mertuanya, diapun menoleh wanita tua itu yang kini tersenyum kearahnya, "Ah, Mama....Terima kasih" pekik Chelsea sambil kembali memeluk mertuanya, "Mark yang membayar, itu sama saja dari suamimu, namun ada hati mama disana ya," jawab Mrs. Lysia yang kembali membalas pelukan menantunya dengan hangat, kembali Chelsea menyeka air mata bahagianya, "Maafkan Chelsea Mama, sungguh benar adanya Mark memang segalanya untuk Chelsea sejak dulu," Mrs. Lysia mengangguk sambil tersenyum, "Mama tahu, Markpun sama" jawab Ibu mertuanya lagi.
Chelsea lanjut menata semua bunga disetiap ruangan dirumahnya, dia terus menatapinya dengan perasaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, dipetiknya salah satu bunga yang masih terlihat kuncup disana, kemudian dia kembali disematkanya bunga itu ditelinga adik iparnya seraya berbisik, "Biarkan Dia mekar dihatimu" Clea mengangguk dengan wajah berbinar, dia paham maksud tujuan kakak iparnya itu.
"Ho ho ho, ada taman bunga" Suara Mr. James, mengagetkan mereka dengan tiba-tiba, rupanya suami dan Ayah mertuanya sudah kembali, "Iya Papa dari Mama, Kog? Cepat pulang?" Chelsea menjawab sambil tersipu namun heran juga keduanya cepat sekali datang, "Papa capek, suamimu juga membosankan." jawabnya.
__ADS_1
Chelsea menatap Mark yang kini terlihat mengangkat bahunya, dihampirinya suaminya seraya berbisik, "Clea mencintai Frans!", "No!" jawab Mark terguncang, "Why not?" tanya Chelsea heran, Mark hanya menggeleng setali tiga uang persis sikap Mrs. Lysia, "Pikirkan perasaanku saat Daddy bilang tidak tentangmu," Chelsea berbisik kembali seraya memeluk pinggang suaminya dan menatapnya lembut, "Ah!" kembali Mark bergumam singkat sambil berusaha mencium bibir istrinya, namun Chelsea sedikit terkesan menghindarinya lagi-lagi dia menatap suaminya tajam, Markpun akhirnya mengerti, "Ok! terserah Dia" jawabnya pasrah menyerah, kini Chelsea tersenyum dan membalas ciuman suaminya dengan tanpa sungkan lagi dihadapan mertua dan adik iparnya.
"Makan siang yuk Sayang," Chelsea menghentikan ciuman suaminya, Mark bagai kerbau dicocok hidung mengangguk mengikuti Chelsea yang menuntunnya ke meja makan, "Mama, Papa, Clea kita makan siang dulu, mari" ajaknya, dan semua tampak mengikutinya, Chelsea memang bisa dengan mudah membuat orang jatuh cinta kepadanya entah mengapa pikir Mark, sambil terus memandangi istrinya yang membantu bi Wati menghidangkan makanan di meja.