
"Mau kemana Nona?" Tanya sopir taxi kepadanya, "Jalan saja Pak, mungkin ke pantai terdekat bisa?" jawab Chelsea, dia masih kalut dan tak tahu harus pergi kemana, sopir taxipun terlihat mengangguk "Baik, Nona." jawabnya, memang dia sering mendapat penumpang yang tanpa arah tujuan begini pikirnya.
"Drttt....Drtttt...Drttt"
Ponsel Chelsea bergetar, dilihatnya Mark terus meneleponnya, Chelseapun kembali memasukan ponselnya ke tas, "Aku tidak mau berpikir" batin Chelsea menenangkan dirinya sendiri, berusaha fokus menikmati pemandangan sepanjang perjalanan berharap penatnya hilang, namun luka hatinya membekas dalam.
"Drtttt...Drttt...., lagi-lagi ponselnya bergetar namun kali ini hanya bergetar dua kali tanda pesan masuk, Chelsea penasaran mungkin Mark menjelaskan sesuatu melalui pesan, diapun membuka notificationnya, nampak Merry pesan gambar, kemudian dibukanya dua buah photo Mark yang sedang memeluk Shinta, bahkan terlihat mengecupnya. "Hmm" gumamnya, kali ini Mark sudah tidak termaafkan sampai perih dihatinya berubah menjadi suatu kekuatan, "Ah, biarlah aku akan baik-baik saja tanpa Dia" batinnya, sambil kembali diusapnya lagi air mata itu, "Kita sudah sampai Nona," terdengar sopir taxi memperingatkannya, Chelseapun membayarnya dan turun.
Chelsea berjalan menyusuri pantai sampai dirasanya lelah diapun terduduk diatas pasir memandangi lautan lepas dihadapannya, angin semilir seperti tengah menghiburnya, "Sudahlah, aku tidak apa-apa" gumamnya lirih, sesekali dia melemparkan batu karang kecil yang terus kembali terbawa ombak, Chelsea tersenyum getir, "Aku mirip sekali denganmu, dilempar dan tetap kembali" ucapnya lagi kepada batu-batu karang itu. Terasa ponselnya bergetar kembali terus menerus, namun Chelsea tetap mengabaikannya.
#Flashback
Mark melepas dekapan Shinta dan menatapnya lembut, "Terima kasih, sudah begitu setia menungguku dulu," Shinta mengangguk, matanya kini mulai berbinar-binar, "Mungkin Mark memang harus dimaafkan," batinnya sambil terus menatap, "Aku memaafkanmu, Sayang" jawab Shinta lirih, "Aku mencintai Chelsea, kami saling mencintai, jaga dirimu baik-baik." Mark mengecup kening Shinta lembut, dan meninggalkannya.
Shinta hanya melongo, memandangi kepergian Mark menuju mobilnya, tak lama mobil itu menghilang dari pandangannya, dengan langkah lunglai Shinta kembali memasuki gedung rumah sakit "Tunggu pembalasanku!" gumamnya geram.
__ADS_1
Seperti orang kesetanan Mark melajukan mobilnya dengan kencang, "Sayang Kamu dimana! Tolong angkat teleponku!" dengan nada frustasi dia terus berbicara sendiri berharap Chelsea mengangkat teleponnya namun hasilnya nihil.
Setelah beberapa kali sempat berhenti disetiap restoran yang dilewatinya akhirnya Markpun memutuskan untuk kembali kerumah, "Masa tidak lapar?" gumamnya, mengetahui Chelsea tidak pernah tahan lapar terlebih saat itu sudah lewat jam makan siang.
Setibanya diparkiran Mark langsung memarkirkan mobilnya begitu saja lalu dengan bergegas dia masuk mencari-cari keseluruh ruangan namun lagi-lagi Chelsea tidak dijumpainya "Dia tidak pulang, kemana Dia? mencari dimana," pikirnya, Paris bukanlah tempat yang dikenalnya.
Mark dengan langkah lunglai dia berjalan ke teras depan dan mondar-mandir disana seperti orang bingung, sesekali ditengoknya jalanan berharap ada mobil berhenti membawa istrinya pulang, "Sayang pulanglah, aku mohon!!!!!" tulisnya dipesan WA namun lagi-lagi pesan itu terlihat diabaikan, "Arrrrrg!" Mark memekik kesal, ponsel itu terus dipandanginya hingga akhirnya merasa lelah diapun duduk di kursi teras.
Tak terasa hari mulai gelap tapi Mark tetap sabar menunggu disana, tak lama terdengar suara mobil berhenti, dia pun berdiri menyongsong Chelsea yang turun dari taxi lalu berusaha memeluknya namun Chelsea menepisnya, istrinya menatapnya dengan pandangan dingin dan hampa diapun mengerti Chelsea masih merasa marah dengan kejadian siang tadi, akhirnya dengan pasrah Markpun mengikuti istrinya dari belakang, "Sayang, darimana saja Kamu?" tanyanya memberanikan diri karena walaupun Chelsea kembali hatinya masih merasa khawatir, tetap tidak ada satu katapun terucap dari bibir istrinya itu malah Chelsea bersikap seperti tidak ada seorangpun disana, dia bergegas menuju kamar mandi dan terdengar menguncinya dari dalam.
Mark hanya bisa terduduk lesu disamping tempat tidur sambil dia terus memutar otak mencari cara menghibur istri kecilnya, tak lama Chelsea keluar dengan mengenakan kimononya, menyisir rambutnya sebentar lalu keluar kamar lagi dan terus mengabaikannya, Mark mengintip rupanya Chelsea menuju dapur, "Hmm, Perut Karet itu kelaparan" pikir Mark sambil tersenyum, lanjut diapun mandi dan setelah selesai dihampirinya istrinya yang tengah asik makan semangkuk cereal dan segelas susu, tanpa menyiapkan sesuatu apapun untuknya, "Kelayapan perut tidak diisi ya? aku tidak dibuatkan juga Sayang?" tanya Mark berusaha mencairkan suasana namun Chelsea tetap asik makan sambil memainkan ponselnya.
Sejenak Mark hanya bisa melongo sambil terus mencoba sabar, lalu diapun kembali menghampiri istrinya yang kini terlihat berbaring menatap langit-langit kamar, "Bicaralah," pinta Mark sambil ikut berbaring disampingnya, namun kembali Chelsea bangkit sambil membawa bantal dan selimutnya menuju keluar kamar, "Hey! lalu aku pakai selimut mana?" tegur Mark menggoda, namun Chelsea tetap berlalu dengan membanting pintu membuat Mark mengelus dada tak lama Markpun kembali bangkit untuk menghampirinya.
Kini terlihat Chelsea berbaring di sofa, Mark bersimpuh tepat dihadapan wajah istrinya.
Chelsea dengan tatapan jengah balas menatap suaminya, "Laki-laki penuh kepalsuan." batinnya, tatapan pengharapan Mark benar-benar membuatnya muak bahkan kehadirannya terasa mengusiknya, dia sedang betul-betul hanya ingin sendiri pikir Chelsea sambil langsung memunggunginya.
__ADS_1
"Katakan sesuatu, apa yang harus kulakukan?" ucap Mark lagi dengan nada putus asa, direbahkannya kali ini wajahnya kepunggung Chelsea, hingga lututnya terasa baal kesemutan karena lama Chelsea tak kunjung menghiraukannya.
Setengah jam berlalu "Biarkan aku sendiri," akhirnya Chelsea mulai mengucap kata, "Tidak, sebelum kita bicara" jawab Mark dengan tidak bergeming, Chelsea tahu bagaimana kerasnya suaminya jika perlu hingga pagi akan tetap seperti itu pikirnya, sedangkan dia lagi tidak ingin membahas apapun saat itu, Chelseapun kembali beranjak bangun meninggalkannya.
Akhirnya Mark menyerah duduk di sofa karena lututnya terasa baal kesemutan, ditengoknya Chelsea pergi lagi menuju dapur, rupanya dia memasak, "Dasar perut karet!" gumamnya, Mark tak berani lagi menghampirinya dia menyalakan TV seperti biasa benda itu selalu menjadi pelariannya.
Setengah jam berlalu kembali Mark menengok, nampak kali ini istrinya tengah menghidang-hidangkan makanan buatannya ada dua gelas kosong dan sebotol Wine disana, "Ah! Dia memasak untukku" batin Mark lega, tanpa ragu Mark datang menghampiri dan duduk di meja, "Terima kasih," ucapnya seraya lanjut mulai menyantap hidangan dipiringnya, Chelseapun nampak ikut makan kembali memang dia rakus kalau urusan makan.
Sekilas Mark terkesiap saat melihat Chelsea minum Wine dimana cincin berlian pemberiannya sudah melingkar di jari manis tangan kirinya.
"Cincin yang cantik, sayang yang memakainya sedang tidak cantik" celetuk Mark memberanikan diri menggoda, namun Chelsea hanya membalasnya dengan tatapan tajam, "Bagaimana rasanya memeluk dan mencium Shinta?" tanya istrinya dengan nada datar, Mark langsung mengrenyitkan dahinya, pertanyaan Chelsea membuatnya sedikit kaget, mengherankan dari mana Chelsea mengetahui semua itu pikirnya, namun dengan cepat Mark langsung bisa menetralisir kegundahan hatinya, dengan mengangkat bahu Mark menjawabnya dengan santai, "Mungkin sama rasanya seperti Kamu memeluk mantanmu waktu dirumah Dad?", Chelsea kembali mendelik merasa tak terima dengan jawaban suaminya yang membanding-bandingkannya dengan kejadian dia memeluk Frans yang menurutnya tidak mungkin sama.
"Kau terpaksa menikahiku? dan merasa terjebak? mengapa tidak kembali saja padanya?" tanya Chelsea lagi, kali ini raut mukanya terlihat emosi, "Aku tidak pernah bilang terjebak, itu asumsinya sendiri" jawab Mark berkelit, "Sayang, semua tidak seperti yang Kamu pikirkan." lanjut Mark menatap istrinya serius memohon perdamaian dunia, namun Chelsea masih tampak acuh dan bangkit mulai membereskan bekas alat makan mereka dan lanjut mencucinya.
Markpun menjadi tak sabar dia bangkit menghampiri dan memeluk Chelsea dari belakang, dia benar-benar merasa tak tahan jika harus terus diacuhkan istrinya begini pikirnya, "Maafkan aku, jika Kamu berpikir lain tentang aku dan Shinta tadi," lirihnya, "Aku masih kesal!" jawab Chelsea sambil berusaha melepas tangan Mark dari pinggangnya namun Mark tetap memeluknya, "Kalau tidak kesal justru aku yang pusing," jawab Mark, membuat Chelsea menoleh hingga pipi kirinya menempel ke hidung suaminya, "Terima kasih sudah mencintaiku" kata Mark lagi seraya mengecup pipi itu, kemudian dia melepaskan pelukannya dan kembali duduk di meja makan.
Mark kembali menuang gelasnya lagi dengan sisa Wine lalu meneguknya habis.
__ADS_1
Huek! Huek! Huek.....
Chelsea tiba-tiba muntah, sontak membuat kembali Mark panik menghampirinya, dengan lembut dia memijat tengkuk Chelsea, "Kamu masuk angin Sayang? darimana saja tadi!", "Lepaskan aku," jawab Chelsea sambil melepaskan sarung tangan cucinya, lalu meninggalkan Mark yang terus memburunya.