Iblis Kaki Terbalik

Iblis Kaki Terbalik
Semakin Membingungkan


__ADS_3

Julia terlihat berfikir sendiri, ia menatap langit-langit ruangan sambil menggerakan jari-jarinya seolah menghitung sesuatu.


"Twenty years!" (Dua puluh tahun!) Ketus Julia.


"Huh?"


"Mr.Dennis have been working here for twenty years! Are you trying to say that He is Pretni since twenty years ago?" (Mr.Dennis sudah bekerja disini selama dua puluh tahun! Apa kamu mau bilang kalau dia Pretni sejak dua puluh tahun yang lalu?)


"Who knows ..." (Siapa tau …) ucap Lim bingung.


"Wait!! What if ... Mr.Dennis and Mr.Xoliza were normal person before, then our ship came" (Tunggu!! Bagaimana jika … Mr.Dennis dan Mr.Xoliza sebenarnya manusia normal, lalu kapal kita datang) Ucap Julia spontan. Ia sepertinya tidak terima pada tuduhan Lim


Aku dan Lim terbelalak kaget!


"Then ... it’s true that our ship that bring Pretni?” (Jadi … benar berarti, kapal kita lah yang membawa Pretni?) Lim mencoba menyimpulkan apa yang Julia ucapkan.


"Not that fast! How about Mr.Brad and Miss Dunn?" (Tidak secepat itu! Bagaimana dengan Mr.Brad dan Miss Dunn) Potongku.


"Are you saying that they were killed by Pretni?” (Apa kamu mau bilang mereka juga dibunuh Pretni?)


"Possibly by Mr. Xoliza and Mr. Dennis's Pretni" (Mungkin oleh Pretni Mr.Xoliza dan Mr.Dennis)


"WHAT! There is no way! I talked with Mr.Dennis, we worked together! And he was normal all the way!" (APA! Nggak mungkin! Aku ngobrol dengan Mr.Dennis, kita bekerja bersama! Dan dia normal keseluruhan!) Julia menatapku sinis. "They might be runaway like Mr.Teigl said!" (Mereka mungkin saja beneran kabur, seperti yang dikatakan Mr.Teigl) Tambahnya.


Aku tidak bisa tidak mempercayai ucapan Julia. Aku membenamkan pandanganku ke lantai, Semua ini semakin membingungkan…


Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, Bila kita cocokan dengan menghilangnya Mr. Brad dan Miss Dunn sebelum kita bekerja disini, ada kemungkinan mereka hilang dibunuh oleh Pretni, dibunuh oleh Mr.Xoliza dan atau Mr.Dennis. Atau mungkin ada Pretni lain yang membunuh mereka? Kedua, seperti yang Julia coba jabarkan, Mr. Brad dan Miss Dunn memang kabur, tidak ada kaitannya dengan semua ini. Lalu, kapal kami datang membawa Pretni yang akhirnya membunuh Mr.Dennis dan Mr.Xoliza. Aku harus mencari kebenaran pada dua kemungkinan itu dulu.


"Gagan, were Mr. Brad and Miss Dunn Pretni too?" (Gagan… Apakah Mr.Brad dan Miss Dunn juga Pretni)


Julia dan Lim nampak terkaget-kaget ketika aku bertanya hal itu. Tentu saja, yang mengetahui hal seperti ini adalah Gagan yang sudah setengah tahun bekerja disini. Lagipula, Gagan juga ada disana ketia mereka berdua menghilang.


“I think …” (Kayaknya…) ucap Gagan pelan, wajahnya nampak sedih.


“What? Are you not sure?” (Apa? Kamu nggak yakin?)

__ADS_1


“Mr Teigl not believe me…” (Mr.Teigl tidak percaya padaku…)


“Did you see, It?” (Kamu lihat, Itu?)


Gagan nampak terdiam sebentar. “Not clear …” (Tidak jelas…)


“What make you think they are Pretni?” (Apa yang membuatmu berfikir mereka adalah Pretni?) Tanyaku semakin penasaran


“Uncle Kajam tell me …” (Paman Kajam cerita padaku…)


“Kajam, Who?” (Kajam, Siapa?)


“Uncle Kajam working the dock, Living Platform dock … he … tell me … he see Pretni” (Paman Kajam bekerja di dermaga, dermaga Living Platform ... dia … cerita … dia melihat Pretni) ucap Gagan dengan berkaca-kaca.


Sepertinya Gagan hendak bercerita pada kami bahwa paman Kajam, seorang pekerja dermaga Living Platform, yang menceritakan bahwa dia melihat Pretni. Menurut Gagan, paman Kajam tersebut melihat Pretni di hari di mana Mr.Brad dan Miss Dunn menghilang.


“That’s it! Both Mr Brad and Miss Dunn are Pretni” (Ya Kan! Mr. Brad dan Miss Dunn keduanya adalah Pretni)


“What make you think they are Pretni, Dima?” (Apa yang membuatu berpikir mereka Pretni, Dima?) Lim bertanya balik padaku dengan penuh keheranan.


Lim dan Julia nampak tak percaya, dari wajah mereka, sepertinya mereka tidak setuju dengan apa yang aku ucapkan. Aku hanya memikirkan kemungkinan terburuk dari setiap kejadian yang sudah terjadi. Maksudku, kita semua menyaksikannya kan? Makhluk mengerikan itu dapat menjadi siapa saja di Anjungan ini. Akan ada seseorang yang tiba-tiba menghilang entah kemana, bila yang kita hadapi seperti ini. Termasuk hilangnya Mr.Brad dan Miss Dunn, sangat logis bila kusangkut-pautkan dengan Pretni. Penjelasan Mr.Teigl tadi siang, benar-benar omong kosong menurutku, sangat tidak masuk akal. Gagan pun tidak menapik kemungkinan ini.


Jujur saja, semakin aku menganalisa masalah ini, semakin bulu kudukku begidik ngeri. Karena bila teoriku benar, banyak sekali Pretni yang ada di Anjungan ini, dan kita tidak tau siapa saja yang sudah menjadi Pretni.


“Let’s just ask this ‘Uncle Kajam’, don’t make any conclusion just yet… don’t scare me…” (Sebaiknya kita tanya ‘Paman Kajam’ ini, jangan membuat kesimpulan dulu … jangan membuatku takut …) Potong Julia.


“Uncle Kajam is …. Gone …” (Paman Kajam… Menghilang…)


Mata kami bertiga terbelalak kaget menatap Gagan. Mata Gagan yang dari tadi berkaca-kaca akhirnya meneteskan air mata. Ia mulai mengerang sedih, seperti layaknya anak kecil yang rewel. Entah mengapa, tanganku terulur dan memeluk kepalanya yang bulat itu. Gagan terus menangis di pelukanku. Lim dan Julia seketika lemas, mereka menyandar pada badan mesin disekitar.


Kami berempat begitu lelah dan ketakutan, kini hanya kami berempat yang tahu, bahwa ada satu orang lagi yang menghilang di Anjungan ini. Berarti total ada lima orang menghilang, entah mereka menghilang karena dibunuh Pretni atau memang kabur seperti yang dikatakan Julia, kita semua tidak tahu. Gagan pun sepertinya, sudah menceritakan semua yang dia ketahui. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, masih banyak kejanggalan yang belum terjelaskan.


“Let’s stop here … I’m tired” (Berhenti disini dulu … Aku lelah) ketus Julia.


“Yeah … me too” (Ya… aku juga) timpalku.

__ADS_1


Lim merogoh saku celana dan mengambil smartphonenya “It’s almost midnight” (Ini sudah hampir tengah malam)


“Ok, lets go back … Just remember, don’t tell anyone about what we just talked” (Ok, ayo pulang … Tapi ingat, jangan cerita siapapun tentang pembicaraan kita barusan)


“Why is that?” (Kenapa?) tanya Julia.


“We can’t trust them, Julia! They could be Pretni itself!” (Kita tidak bisa percaya mereka, Julia! Mereka bisa saja Pretni itu sendiri!) Ketus Lim.


Apa yang dikatakan Lim benar, mengingat ada kemungkinan bahwa Mr Brad dan Miss Dunn dibunuh oleh Pretni, yang berarti Pretni sudah ada di Anjungan ini dari awal. Karena semua kemampuan mengerikan makhluk itu, maka siapa saja bisa menjadi Pretni. Ya Tuhan … apakah semua yang kita pikirkan ini benar adanya?


“I see … Just look out on their foot, right Gagan?” (Paham … Pokoknya cukup lihat kaki mereka kan, Gagan?) ucap Julia meledek. Sepertinya ia tidak sepenuhnya percaya dengan ciri-ciri Pretni yang Gagan deskripsikan tadi.


Kami bertiga lalu bangkit dan hendak melangkah pergi, namun Gagan tiba-tiba ikut berdiri dan meraih tanganku lagi. Dengan mata yang berkaca-kaca dan wajah yang ketakutan, ia memelas padaku agar malam ini bisa ikut bersama kami. Tentu saja ia takut, setelah dua kali melihat Pretni dengan mata kepalanya sendiri, dan di dua jembatan yang mengapit Generator-Compressor Platform ini. Aku kemudian berdiskusi dengan Lim, agar memperbolehkan Gagan malam ini tidur di kamar kita. Lim menyetujui, ia juga paham bahwa Gagan sangat ketakutan seorang diri tidur disini.


Kami berempat kemudian pergi keluar dari sudut gang sempit itu, kembali melewati sela-sela mesin, dan keluar menuju jalan utama Generator-Compressor Platform. Awalnya kami akan berbelok ke jembatan yang menuju Living Platform, namun kita ingat bahwa jembatan itu tadi adalah jembatan tempat melompatnya Mr.Xoliza segera kami mengurungkan niat. Kami lebih memilih memutar arah menuju jembatan Well-head Platform. Melewati lokasi tempat melompatnya Mr.Dennis kemarin malam. Sebenarnya, jembatan manapun yang kami lalui, semuanya tidak aman .... aku merasa dimanapun di Anjungan ini, sudah tidak aman lagi.


Saat itu rembulan menapakkan badannya begitu perkasa diatas langit. Cahayanya memancar terang membelah kabut lautan yang menutupi jembatan. Perlahan, kami berempat melewati tali-tali penanda bahaya yang dibuat untuk membatasi jejak berdarah yang muncul kemarin malam, jejaki kaki setelah kejadian Mr. Dennis menghilang. Mataku menerawang pada lantai, jejak kaki berdarah itu sudah memudar dan hampir tidak terlihat. Mungkin noda darah itu terhapus oleh angin laut yang lembab dan dingin, wajar saja.


“Lim …”


Lim dan Julia menoleh kearahku “Huh?”


“Why did they … Jump?” (Mengapa mereka…. Melompat?) tanyaku.


“Stop it … I’m tired to think again, Dimas!” bentak Julia padaku.


Aku sedikit takut, melihat Julia dengan wajah cantikknya yang kini begitu lesu dan pucat. Ia pasti begitu kelelahan, setelah semua peristiwa yang terjadi seharian ini. Sebenarnya aku ingin melanjutkan pertannyanku, tetapi melihat Julia, aku jadi mengurungkan niatku.


“We’ll soon know … tomorrow …” (Kita akan tau … Besok)


“Huh?”


“The Police will come tomorrow, no …” (Polisi akan datang besok, tidak …) Lim melihat jam di smartphone-nya, “This morning…” (Pagi ini…)


 

__ADS_1


 


__ADS_2