
Siang itu dengan cepat berganti malam, meninggalkan ketakutan di hati Dimas dan Lim. Dugaan yang begitu mengerikan itu, mereka berdua simpan dalam benak mereka masing-masing, tentu Julia dan Gagan tidak akan berpikir sejauh ini. Dan belum tentu yang mereka pikirkan itu benar.
Cahaya rembulan menyorot terang pada sebuah lampu senter UV dan botol berisi cairan kimia, yang ditinggalkan polisi di jembatan Generator-Compressor Platform tadi. Namun tak beberapa lama, botol itu terjatuh, tertabrak oleh seorang pekerja yang tengah melintas. Pekerja itu berjalan begitu limbung dan pincang, kaki yang telapaknya terbalik dan penuh lebam itu tidak sengaja menjatuhkan botol dan membuat cairan didalamnya tumpah kesekitar. Cairan kimia itu menyebar kelantai jembatan, disebelah lokasi jejak kaki berdarah yang diselidiki polisi tadi siang. Seolah tidak menyadari bahwa kakinya basah, pekerja itu terus berjalan pincang menuju gerbang Well-head Platform membuat cairan itu semakin merata ke sepanjang jembatan. Sepanjang lantai jembatan, Luminol bereaksi dengan lantai, membentuk gambaran suatu jejak. Kemudian angin laut berhembus kencang, menjatuhkan lampu senter UV dan membuatnya menyala. Seolah Tuhan hendak menunjukkan sesuatu, lampu itu terus menggelinding, memendarkan puluhan …. Jejak kaki berdarah sepanjang jembatan, yang semuanya mengarah ke laut. Senter UV itu kemudian masuk kedalam lubang kecil di sudut jembatan, lalu jatuh kedalam lautan gelap.
Ketika Lim dan Dimas menganggap keadaan begitu buruk, keadaan justru semakin mengerikan, dan terror dimulai…
Malam itu, air laut begitu bergejolak, seakan ingin segera memuntahkan ombaknya ke pesisir pantai Dwarka. Laut pasang yang cukup ganas untuk sebuah Speedboat milik kepolisian kota berlayar, tengah malam itu. Tinggal beberapa menit lagi mereka akan sampai ke daratan, polisi-polisi itu bahkan sudah dapat melihat mercusuar pelabuhan dari kejauhan.
“Mr. Police…”
“You can call me Jagdish, sir … Inspector Jagdish” (Anda bisa memanggil saya Jagdish, tuan … Inspektur Jagdish)
“Oh … umm, Mr. I-Inspector…” (Oh … Umm, Mr. I-Insperctor)
“Yes sir” (Ya, Tuan)
“D-do you … do you believe in Ghost, God, and Mythical beings?” (A-Apakah kamu… Percaya dengan hantu, Dewa, dan Makhluk mistik lain?)
“Of course sir, Om Shiva!” (Tentu saja tuan, Om Shiva!)
“About P-Pretni?” (Kalau P-Pretni?)
“P-Pretni sir?”
“H-Hha… Hahaha… N-never mind” (H-Hha… Hahaha… Lupakan…)
BRUAAKKKKK
Tiba-tiba Speedboat itu berhenti mendadak, seluruh penumpang terguncang hebat.
“What’s going on?! This is the third time we stopped like this!!!” (Apa yang terjadi?! Ini ketiga kalinya kita berhenti mendadak seperti ini!!)
“My apologize sir, I think my driver is seasick …” Maafkan saya tuan, sepertinya driver kita mabuk laut…)
“FOR GODSAKE! We almost arrive!” (DEMI TUHAN! Padahal kita sudah hampir sampai!)
__ADS_1
Ketika kedua orang itu sibuk berdebat, seorang polisi masuk kedalam ruangan mereka. Dengan berjalan begitu terpincang, ia lalu menghampiri kedua orang itu.
“HUH?!!! NOOO!!!! BACK OFF!!!” (HUH?!! TIDAAK!!! MUNDUR!!!)
“Rajesh! What are you doing here! You should drive the speedboat again! We are in hurry!” (Rajesh! Apa yang kamu lakukan disini! Kamu seharusnya mengemudikan Speedboat lagi! Kita sedang buru-buru!)
Polisi berkumis itu kemudian melantur bahasa India, memarahi anak buaknya. Tetapi anak buahnya itu tetap diam, tidak mengubris ucapannya sama sekali. Ia terus melangkah dengan terpincang-pincang, mendekati kedua orang itu.
“BACK OFF!!! WAAHHHHH!! I SAID BACK OFF!!!” (MUNDUR!!! WAHHHHH!! AKU BILANG MUNDUR!!!)
“Don’t worry sir … he is seasick I think, he is weird like that since off to toilet back at Oil Platform … Huh! Rajesh! You look so pale … why you wearing shoes backward?”
(Tidak usah khawatir tuan … Dia sedang mabuk laut, dia aneh seperti ini sejak pergi ke toilet di Anjungan tadi … Huh! Rajesh! Kamu pucat sekali … kenapa kamu memakai sepatu terbalik?)
……………………………
“You two are useless” (Kalian berdua tidak berguna) Desis Abeba kesal.
“Of course!” (Ya jelas!) Ketus Lim sebal. Ia terlihat sibuk dengan laptop dan mouse yang berkali-kali ia gerakkan kesana-kemari. “We’re not Nautical Engineer! Do you understand?” (Kita bukan Insinyur Kelautan! Paham?)
“Abeba, will you explain to me again about this drill-control?” (Abeba, tolong jelaskan padaku lagi mengenai drill-control ini?) Ucapku kebingungan.
“Sorry Dimas, I’m bit busy over here … ask Lim” (Sorry Dimas, Aku sibuk… Tanya saja Lim)
“Huh, what?!” (Huh, apa?!)
“Can you three shut up! We all busy body here!” (Bisakah kalian bertiga diam! Kita semua sibuk disini!) Bentak seorang staf.
Yang sedang terjadi adalah, Abeba meminta kami berdua untuk membantunya mengendalikan Bor (Drill) raksasa Oil Platform. Tugas ini harusnya dikerjakan oleh tim Nautika yang memang paham dengan kondisi dasar lautan tempat bor itu menancap. Meski sebenarnya Insinyur pertambangan seperti kami juga mendapat pelajaran ini sewaktu kuliah, tetapi aku sudah benar-benar lupa. Siapa yang sangka, empat Insinyur nautika senior lainnya, yang seharusnya bekerja bersama Abeba, tiba-tiba tidak masuk karena sakit hari ini. Ya Tuhan, hari ini akan sangat berat dan panjang.
Setelah beberapa menit berfokus pada laptopnya, Abeba menghela nafas panjang, dan mulai membetulkan lensa kontak di matanya, aku tidak sadar selama ini Abeba memakai kontak lens. Ia kemudian berdiri dan mendekat padaku. Abeba mulai menjelaskan ulang tentang cara menyalakan kamera bawah laut untuk mengamati bor itu.
Abeba mengeluh pekerjaanya sangat sukar, hal itu disebabkan mata Bor raksasa *O*il Platform ini menacap pada sebuah bongkahan batu besar. Abeba sendiri tidak tahu mengapa dulu pengeboran ini tetap dilakukan meski harus menabrak batu sebesar itu. Ia terus mengocehkan pekerjaannya ini, seperti seorang perempuan yang baru menemukan tempat curhat. Karena itulah aku terpaksa mendengarkan celotehannya itu. Kasihan juga, pekerjaan ini tidak sebanding dengan pekerjaanku dan Lim yang hanya menilai kualitas minyak bumi.
Karena kesibukan kami bertiga, kami sampai-sampai tidak menyadari, bahwa hari sudah sore. Aku meregangkan kedua tanganku sambil menguap sekuat-kuatnya, hari ini sangat berat. Kemudian aku menoleh kearah jam dinding, pukul 16:00, masih satu jam lagi sebelum kita bisa pulang.
__ADS_1
“Dima … pssst!” Bisik Lim.
“Huh?”
“Let’s go back …” (Ayo pulang…)
“Now?” (Sekarang?) Aku mengeryit kaget.
“Of Course! Mr.Teigl aren’t here right?” (Jelas! Tidak ada Mr.Teigl, ‘kan?)
“But…” (Tapi…) Aku melirik kearah Abeba yang kini sibuk mebalik-balik laporan di meja.
“If you want to go … just go… thanks for today, I’ll see you again tomorrow!” Kalau kalian mau pulang… Pulanglah… Terimakasih buat hari ini, Sampai jumpa besok!) Ucap Abeba cukup keras.
“Ssssshhh!! You’re too loud, dammit!” (Sssshhhh!! Terlalu keras, bodoh!) Lim menoleh kesekitar, berharap staf lain tidak mendengar.
Aku sedikit terkejut, ruangan monitor Well-head hari ini begitu sepi. Karena terlalu sibuk tadi, aku sampai tidak menyadari bahwa banyak Insinyur yang tidak masuk hari ini. Bahkan staf Mr.Teigl pun juga hanya dua orang yang hadir, si gendut itu tidak menujukkan batang hidungnya, apa yang terjadi? Karena hanya beberapa Insinyur saja yang datang bekerja, suasana ruangan menjadi sangat senyap. Pantas saja ketika pagi tadi kami gaduh, suaranya begitu mengganggu.
Seketika aku teringat peristiwa kemarin, kenyataan tentang jejak kaki itu kembali terlintas dipikiranku. Rasa begidik ketakutan kembali membuat jantungku berdegup kencang, bagaimana jika dugaan kami benar? Ketakutan ini jugalah yang membuat aku dan Lim tidak bisa tidur semalam. Kami harus menceritakan semua ini pada Julia dan Gagan. Hari ini, kami berempat sudah berencana untuk bertemu di Generator-Compressor Platform, tentu di tempat rahasia kami, di sela-sela mesin, tempat tidur Gagan itu.
Abeba hanya tersenyum kecil sambil terus membaca halaman-halaman laporan, pertanda kami diperbolehkan pulang lebih awal. Lim bergerak cepat, ialah yang paling dulu meraih pintu ruang monitor dan pergi keluar. Sedangkan aku berjalan pelan sambil mengamati betapa sunyinya ruangan ini, aku merasa ada yang janggal.
Kami berjalan meyusuri jembatan Generator-Compressor Platform, sambil menatap laut dari kejauhan. Cahaya matahari sudah tertutup oleh kabut tebal, surya tenggelam tidak akan terlihat hari ini. Lim berjalan dengan cepat. Wajah kita berdua tidak dapat menyembunyikan rasa takut dan tegang, karena kita akan menceritakan pada Julia dan Gagan tentang kenyataan ini. Seketika bulu kudukku kembali berdiri. Bahkan untuk membuang sedikit rasa takut itu, Lim dengan iseng menendang dengan keras botol plastik, yang tergeletak dijembatan, hingga melayang jatuh ke laut. Tentu aku menegurnya, membuang sampah di laut itu tidak baik.
Pukul 16:15, kami sampai di Generator-Compressor Platform. Aku terus melihat jam tangan sembari menggeliat masuk diantara celah-celah mesin. Aku sedikit ngeri, karena saat itu ruangan utama Generator-Compressor Platform begitu sepi, sama seperti malam kemarin ketika Mr.Xoliza melompat. Apakah mereka pulang lebih dulu? Gumamku dalam hati.
Rasanya seperti seluruh Anjungan ini begitu sepi. Aku terus menoleh kesana kemari berharap ada seseorang, namun bila ada orang yang memergoki kami masuk diantara celah-celah mesin, pasti kami akan dimarahi. Terlepas dari itu semua, Lim terus bergerak cepat mendahuliku, ia benar-benar tidak sabar bertemu Julia dan Gagan.
Tiba-tiba Lim berhenti dan menengok kesekitar “Huh? He isn’t here” (Huh? Dia tidak disini)
Seketika degup jantungku serasa berhenti sebentar.
“This is weird” (Ini aneh) tambahnya.
Aku langsung mendekati Lim dan berbisik “Very weird, don’t you feel it? It’s rather quiet here … Where is everyone?” (Sangat aneh, kamu terasa nggak? Disini sangat sunyi… Kemana semua orang?)
__ADS_1