Iblis Kaki Terbalik

Iblis Kaki Terbalik
Polisi Kota Dwarka


__ADS_3

KRIIING KRIIING KRIIING


Aku hafal betul bunyi nada dering itu, nada dering klasik yang sama seperti di smartphone milik ibuku. Entah mengapa Lim begitu gemar memasang nada itu aku jadi teringat ketika ibu akan bekerja, suara telepon itulah yang menandakan bahwa jemputan ibu dari kantor sudah sampai di depan rumah kami …


KRIIING KRIIING KRIIING


Tunggu dulu …


Seketika aku membuka mataku, kemudian bangkit dan meraih smartphone Lim yang berada di kasur atas, tepat di sebelah kepalanya yang terus mendengkur itu. Segera aku mengangkat telepon itu.


“Hello …”


“Hello Your ***!! Where the hell you Lim?!” (Hello gundulmu!! Di mana kamu Lim?!)


“Uh oh … this is Dimas” (Uh oh … ini dengan Dimas) ucapku dengan sedikit mengantuk.


“Oh my god you two! You already late for an hour!” (Ya Tuhan kalian berdua! Kalian terlambat sejam lebih!)


Sontak aku melepaskan smartphone itu dari telinga, lalu melihat jam digitalnya. SHIT! Benar! Sudah pukul 8 pagi!


Segera aku mematikan telepon itu dan membangunkan Gagan dan Lim. Yang menelepon tadi pasti Abeba, dari cara bicaranya, ia pasti sangat kesal karena keterlambatan kami. Setelah semuanya bangun, kami berdua bergegas ganti baju lalu keluar dari kamar dengan kondisi acak-acakan. Kami bahkan tidak sempat mandi, tentu saja, ini semua karena percakapan semalam yang berlarut-larut hingga dini hari. Gagan ikut keluar bersama kami, namun ia berjalan dengan terhuyung-huyung, masih mengantuk. Kami terpaksa meninggalkannya, jelas Gagan tidak perlu khawatir datang terlambat.


Kami berdua berlari sekencang-kencangnya menuju Well-head Platform. Dan ketika kami sampai di tangga menuju ruang monitor Well-head tiba-tiba Mr.Teigl memanggil kami. Kami sempat gugup, namun setelah mengetahui bahwa suaranya berasal dari jembatan Generator-Compressor Platform di kanan kami, seketika ketakutan kami berubah jadi penasaran.


“Hey! You two! Come here!” (Hey! Kalian bedua! Cepat kemari!)


Aku dan Lim sontak menoleh, terlihat Mr.Teigl meneriaki kami dari sebrang jembatan. Dibelakangnya ada dua orang polisi India yang tengah sibuk membuka pembatas yang melindungi jejak kaki berdarah Mr.Dennis. Tanpa banyak berfikir, aku segera mendekati mereka. Lim terlihat ragu mengikutiku dibelakang.


“You two, help that Policeman” (Kalian berdua bantu Polisi itu) Ucap Mr.Teigl datar, dan segera ia pergi berlalu.


Mr.Teigl sama sekali tidak menatap kami, bahkan kesannya ia acuh dan buru-buru meninggalkan tempat, apakah ia takut? Aku terus mengamati langkah kakinya yang begitu cepat meninggalkan kami dan naik ke ruang monitor Well-head.


“Excuse me … Mr …?” (Permisi … Tuan…?)


“Oh! Sorry … Dimas” (Oh! Maaf… Saya Dimas)


Tiba-tiba salah seorang polisi India menegurku, membuyarkan pandanganku pada Mr.Teigl tadi.


“Could you please help us?” (Bisakah kamu membantu kami?) Ucapnya ramah.


Polisi itu berbadan tegap, bertubuh besar, dan berkumis hitam tebal. Mengenakan seragam rapi dengan banyak lambang di bahunya, sepertinya polisi ini berjabatan tinggi. Polisi berkumis itu kemudian menunjuk kearah sudut jembatan yang ditutup, di tempat jejak kaki yang memudar. Terlihat polisi lainnya tengah menyemprotkan cairan ke lantai kosong itu, kemudian ia menyorotkan cahaya biru yang berasal dari sebuah senter yang dipegangnya, dan tiba-tiba jejak kaki yang harusnya sudah memudar itu terlihat kembali dengan warna biru terang.


“Luminol!” Ketus Lim antusias.

__ADS_1


Luminol adalah cairan kimia yang digunakan untuk melihat jejak darah. Dengan membasahi bekas darah yang sudah tak terlihat dengan cairan Luminol, kemudian menyinarinya dengan lampu sinar UV, maka jejak darah akan terlihat berpendar berwarna kebiruan. Nampaknya, polisi-polisi ini diperintahkan untuk menganalisa jejak kaki itu.


Lim berlari mendahuluiku dan mendekat ke polisi itu. Dengan jahilnya, Lim bertanya-tanya pada polisi itu tentang apa yang sedang ia lalukan. Tetapi dengan ramah, polisi itu menangapi pertanyaan Lim. Ia bahkan sampai meletakkan peralatannya disamping dan berbincang-bicang ringan dengan Lim.


“Umm … what are you doing here, Sir?” (Umm … apa yang anda lakukan disini, Tuan?) tanyaku pada polisi berkumis itu.


“We investigate bloodstep … umm …” (Kita menginvestigasi jejak kaki berdarah… Umm…) Ia mengeluarkan buku kecil dari saku dadanya dan mulai membalik-balik halaman buku itu “Mr. Deni …”


“Mr. Dennis!”


“Yes, he is! Mr. Boss said that you had information for this?” (Ya itu! Boss bilang kalau kamu punya informasi buat ini?)


"More than information! I’m the witness!” (Lebih dari informasi! Aku saksi matanya!)


Aku mulai berdiskusi dengan polisi berkumis itu, kuceritakan seluruh kejadian sore itu padanya. Polisi berkumis itu ramah, ia tidak membantah sama sekali ucapanku, entah ia berusaha memahami atau ia tidak perduli sama sekali. Ia terus mencatat semua yang aku ucapkan. Kemudian, tak lupa ia memperkenalkan diri padaku, sebagai perwakilan Kepolisian kota Dwarka, dari pulau utama….


“How many police did you bring here?” (Berapa banyak polisi yang kalian bawa kemari?) seketika aku melempar tatapan curiga pada polisi berkumis ini.


“Six people with me, Mr. Dimas” (Enam orang dengan saya, Mr.Dimas)


“So the other four” (Jadi ada empat orang lain…)


“Yes, at the Living Platform bridge over there …” (Ya … Di jembatan Living Platform diseberang sana)


Sepertinya empat polisi yang lain sedang menginvestigasi lokasi melompatnya Mr.Xoliza. Tentu aku menanyakan jumlah polisi tersebut, karena aku harus memastikan. Bila benar yang dikatakan Gagan dan diskusi kami semalam, kemungkinan Pretni datang dari pulau utama dengan kapal. Polisi-polisi itu datang dengan kapal dari kota Dwarka … dari pulau utama. Aku harus waspada, tidak menutup kemungkinan salah satu dari mereka adalah Pretni, ‘kan?


“Blood step?” (Jejak kaki berdarah?) Polisi berkumis itu nampak bingung dengan pertanyaanku.


Lim menoleh kearahku setelah mendengar pertanyaanku tadi.


“Yes … Just like here, the blood step …” (Iya … Seperti yang disini, Jejak kaki berdarah…)


“There is no blood step over there, Mr. Chinise” (Tidak ada jejak kaki berdarah disana, tuan China)


“Why are you asking that Lim?” (Kenapa kamu bertanya seperti itu, Lim?) tanyaku


“Why? There should be a bloodstep over there too right?” (Kenapa? Seharusnya ada jejak kaki berdarah juga kan disana?)


APA?!! Tunggu-tunggu… kenapa tidak terpikirkan olehku! Saat Mr.Dennis menghilang jejak kaki berdarah ini muncul keesokan paginya. Lalu ketika Mr.Xoliza yg kmrn sore menghilang, seharusnya ada jejak kaki, ‘kan?


“You sure there isn’t any bloodstep over there? This morning?” (Apakah kamu yakin tidak melihat jejak kaki berdarah disana?) tanya ku pada polisi berkumis itu.


“Umm … no … why you two insist?” (Umm … tidak … kenapa kalian memaksa?) ujar polisi berkumis itu keheranan.

__ADS_1


Aku melirik kearah Lim, tidak mungkin kan aku menceritakan tentang Pretni padanya?


“Mr. Dimas, when did you see this blood step?” (Mr.Dimas, kapan kamu melihat jejak kaki ini) Tanya polisi berkumis itu balik.


“The day before yesterday, eveni… EH!” (Lusa, sor… EH!)


Tunggu … ada yang aneh! Aku melotot kearah polisi itu. Pertanyaan tadi membuatku tersadar sesuatu hal penting. Sepertinya, selama ini kita salah telah sangka…


Tiba-tiba aku mengurungkan menjawab pertanyaan polisi berkumis itu. Karena aku sadar, saat menabrak Mr.Dennis lusa sore TIDAK ADA JEJAK KAKI BERDARAH! Ini sudah dibicarakan dengan Mr.Teigl dan staf-stafnya kemarin! Bagaimana aku bisa lupa!


Kemudian, aku berusaha mengingat-ingat kembali kejadian kemarin sore. Mr. Xoliza yang tiba-tiba lehernya memutar secara mengerikan, kemudian menampakan wujud Pretni lalu melompat kelautan, Oh tunggu … Benar! Tidak ada jejak kaki berdarah juga semalam, bagaimana bisa? Lim dan aku saling bersitatap, seolah memikirkan hal yang sama mengenai jejak kaki berdarah ini.


Lalu bagaimana bisa keesokan paginya ada jejak kaki berdarah di tempat Mr.Dennis? Lalu mengapa tidak ada jejak kaki di tempat Mr.Xoliza pagi ini? Sebentar-sebentar … aku butuh waktu untuk berpikir …


Bila diurut dari waktu kejadiannya, urutannya akan seperti ini. Pertama, Aku bertabrakan dengan Mr.Dennis lusa sore, Gagan melihatnya berubah menjadi Pretni dan melompat kelaut. Saat itu aku tidak melihat jejak kaki! Aku berani sumpah, lantai jembatan ini bersih saat aku sibuk menyapu pecahan bohlam lampu saat itu. Kemudian, Jejak kaki ini muncul dipagi harinya, dan menghebohkan semua orang di Anjungan. Untuk sebuah jejak kaki berdarah, agar bisa muncul dan tetap bertahan hingga pagi, berarti orang yang meninggalkan jejak haruslah meninggalkannya saat malam hari atau subuh, bukan? Berarti, jejak kaki ini bukan milik Mr.Dennis?? Begitu juga semalam, ketika kami melihat leher Mr.Xoliza memutar mengerikan, kami tidak melihat jejak kaki berdarah sama sekali, kan? Dan menurut polisi itu, pagi ini juga tidak ada jejak kaki berdarah. Berarti dapat disimpulkan bahwa Jejak kaki yang ada di jembatan ini, bukan milik Mr.Dennis!


Aku terus menatap Lim dengan takut, begitu juga Lim. Seolah pikiran kita saling bertelepati mendiskusikan kenyataan yang terlupakan ini.


“Wait-wait-wait” (Tunggu-tunggu-tunggu) Lim terlihat panik dan mendekat kearahku “Are you trying to say …” (Apa kamu mau bilang …)


Aku tidak menggubris Lim, aku terus melanjutkan pikiran liarku yang semalam tertunda karena Julia yang lelah. Aku ingat perkataan Gagan yang mengatakan bahwa kaki Pretni terbalik telapaknya. Telapak jejak kaki itu mengarah tepat keluar jembatan, seolah orang yang meninggalkan jejaknya melompat ke laut, JIKA BENAR YANG MENINGGALKAN JEJAK ITU ADALAH MANUSIA!!


“What’s wrong with the bloodstep?” (Apa salahnya dengan jejak kaki berdarah?) Tanya polisi disebelah Lim.


“Y-you sure there are no bloodstep at Living platfom’s bridge?” (K-Kamu yakin tidak ada jejak kaki berdarh di jembatan Living Platform?) Ucapku bergemetar ketakutan.


“I Asure you …” (Aku bisa pastikan…)


“Dima … Are you trying to say that Mr.Brad and Miss Dunn didn’t leaving bloodstep too?” (Dima … kamu mau bilang kalau Mr.Brad dan Miss Dunn tidak meninggalkan jejak kaki berdarah juga?)


Aku menatap Lim kaget, ku kira dia memikirkan hal yang sama denganku. Tidak … ini tidak ada hubungannya dengan Mr.Brad dan Miss Dunn, atau Mr.Dennis atau bahkan Mr.Xoliza sekalipun. Karena jejak kaki ini bukan milik mereka!


Polisi berkumis itu ikut kaget mendengar ucapan Lim “Mr … Who?” (Tuan … Siapa?)


“Mr Brad and Miss Dunn, they are missing too …” (Mr.Brad dan Miss Dunn, mereka juga menghilang)


“S-Sir … how many people? We were just informed that only two people missing” (T-Tuan… berapa orang lagi? Kita hanya dinformasikan kalau ada dua orang yang hilang) Polisi berkumis itu bertanya pada Lim dengan wajah yang panik.


“What?! There are four people! Four people missing” (Apa?! Ada empat orang! Empat orang hilang!) ucap Lim dengan tegas.


Gila, Berarti Mr.Teigl tidak menceritakan hilangnya Miss Dunn dan Mr. Brad?


“F-four P-Pretni… Eh! No!” (E-Empat P-Pretni… Eh! Nggak!)

__ADS_1


Kata-kata keceplosanku itu langsung menarik perhatian kedua polisi itu. Mimik wajah mereka yang panik seketika berubah takut.


“P-p-Pretni?” Ucap polisi disebelah Lim, sambil bergemetar takut.


__ADS_2