
Dua gelas sampanye mewah disajikan dihadapanku. Mr. Teigl kemudian menuangkan air putih yang kemudian langsung aku tegak. Pedebatan di jembatan Generator-Compressor tadi sungguh membuatku dehidrasi.
Saat ini, aku, Lim, dan seluruh staf, ditambah dengan Julia berada di ruangan pribadi Mr.Teigl di ruang Monitor Well-head. Tak kusangka, ruangan Mr. Teigl begitu mewah, ternyata ada ruangan sebagus ini di Anjungan. Keramah-tamahannya membuatku ketakutanku sedikit berkurang, namun sepertinya, Mr. Teigl masih terlihat tegang. Aku tahu betul mengapa aku dipanggil ke ruangan ini. Namun perempuan disampingku, yang juga langsung menegak gelas itu, aku tidak tahu mengapa ada dia disana. Julia? Apa yang dilakukannya disini?
“So … You two are witnesses. The last person who saw him yesterday” (Jadi … Kalian berdua adalah saksi. Orang terahir yang melihat Bapak itu kemarin) ucap Mr.Teigl memulai pembicaraan.
Aku dan Julia langsung bersitatap satu sama lain.
“I didn’t see you yesterday, Julia” (Aku tidak melihatmu kemarin, Julia)
“Neither did I … And by the way, what were you doing at Generator-Compressor Platform?” (Begitu juga aku … Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan di Generator-Compressor Platform?) Ucap Julia ketus.
Aku langsung gugup mendengar perkataan itu. Tidak mungkin aku bilang padanya bahwa aku hendak menemuinya. Duh, sungguh situasi yang tidak nyaman buatku. Aku hanya bisa terdiam sembari memalingkan pandanganku padanya. Julia nampak begitu kesal, ia sekali lagi menegak gelas sampanye itu.
“Now, please calm down … no one to be blamed” (Tolong tenang … tidak ada yang disalahkan disini) Ucap Mr. Teigl berusaha menenangkan Julia.
“Mr. Dimas, please tell me, where did you see Mr.Dennis yesterday, and what happend?” (Mr.Dimas, tolong ceritakan padaku, di mana kamu melihat Mr.Dennis kemarin, dan apa yang terjadi?)
Menurut Pria Eropa tua berambut pirang –Kepala Divisi Generator-Compressor Platform- yang bersama Julia tadi\, orang yang hilang di divisinya bernama Mr.Dennis. Mr.Dennis memiliki ciri khas yang sama persis seperti yang aku ceritakan. Ia juga bekerja sebagai Helper di Generator-Compressor Platform yang bertugas untuk mengangkut barang-barang ke semua Platform, Cocok sekali dengan yang aku deskripsikan. Sepertinya orang yang kemarin aku tabrak itu adalah benar Mr.Dennis. Dari gambaran Kepala Divisi itu aku mulai menjelaskan apa yang aku alami kemarin sore.
“I saw him at bridge, near Generator-Compressor Platform Gate … Well, like I said, I crashed into him” (Aku melihatnnya di jembatan, dekat gerbang Generator-Compressor Platform… Jadi, seperti yang aku jelaskan, aku menabraknya)
“SO YOU PUSH HIM TO THE OCEAN?!” (JADI KAMU YANG MENDORONGNYA JATUH KE LAUT?!) Potong Julia dengan begitu emosi.
“The hell?!” (Apa?!)
Apa yang terjadi? kenapa Julia marah padaku?
“Whoa! Whoa! Calm down Miss Julia … haven’t you seen the bloodstep? Its printed clearly” (Whoa! Whoa! Sabar Miss Julia… Kamu belum lihat jejak kaki itu? Itu tercetak begitu jelas)
“Printed clearly?” (Tercetak begitu jelas?) Julia menatap bingung Mr.Teigl.
“It means, He … deliberately jump … right to the ocean…” (Itu artinya, Dia… dengan dadar melompat… ke laut....) ucapku dengan berat
__ADS_1
Seketika tangis Julia kembali pecah. Aku tidak tahu mengapa ia begitu sedih, kami bahkan belum mendengar kesaksiannya. Namun yang membuatku berat bukanlah tangisan Julia, melainkan kenyataan adanya jejak berdarah itu.
Jujur, aku tidak melihat darah sama sekali kemarin. Memang ada beberapa bohlam lampu yang terjatuh pecah, tetapi aku menyapu pecahanya seorang diri dengan sepatuku, lalu menjatuhkannya ke laut. Dan lagi, ketika aku mendapati Gagan berteriak dari kejauhan, seketika itu juga Mr.Dennis menghilang tanpa jejak, bersama bohlam-bohlam lampu yang berserakan tadi. Aku mengingat-ngingat kembali momen itu, meyakinkan diriku bahwa aku tidak pernah melihat jejak kaki berdarah.
Julia kemudian mulai menceritakan kesaksiannya pada kami semua. Sore kemarin, Julia sempat berpapasan dengan Mr.Dennis di ruang kerjanya. Mr.Dennis, yang tengah membawa sekardus bohlam, pergi berjalan menuju ke jembatan. Julia bercerita bahwa Mr.Dennis mengacuhkannya, padahal biasanya ia begitu ramah. Setelah itu, ia tidak lagi melihat Mr.Dennis, hingga kejadian pagi ini. Sepertinya Julia begitu dekat dengan Mr.Dennis, ia terus bercerita tentang Mr.Dennis dan dirinya, mengulang-ngulang hal yang sama sambil terus menangis terisak.
“Is there any strange or suspicious thing again that you notice, maybe?” (Apakah ada yang aneh atau mencurigakan yang kamu ketahui, mungkin?) Ucap Mr.Teigl memotong penjelasan Julia yang bertubi-tubi itu.
“Umm … I think he is sick” (Umm… Menurutku, dia sakit)
“Sick?” (Sakit?)
“Yeah … He looks exhausted, and barely keep balance with that box ... He even almost fall” (Iya … Dia terlihat kelelahan, dan terlihat tidak kuat membawa kotak itu … bahkan dia hampir jatuh)
Kata-kata itu langsung membuatku mengingat kejadian itu dengan jelas. Deskripsi dari Julia itu sepertinya menjawab sedikit kejanggalan yang sulit logikaku cerna. Benar, waktu itu aku sedang sibuk memainkan handphone, dan aku berjalan perlahan karena itu. Ketika aku menabraknya … tunggu! Aku tidak benar-benar menabraknya, aku berjalan pelan sekali. Sebenarnya, aku lebih merasa dia yang menabrakku bukan sebaliknya. Tetapi anehnya, ia dengan begitu mudahnya jatuh tersungkur. Bila Mr.Dennis sedang sakit seperti yang Julia ceritakan, berarti saat itu ia begitu lemah sehingga mudah sekali tertabrak olehku. Meski begitu, orang yang seharusnya sakit dan lemah seperti itu, tidak mungkin bisa berlari atau melompat dari jembatan, dengan cepat dari hadapanku, ‘kan? Arrrghhh, Semuanya makin membingungkan saja.
“I think we should call Gagan” (Menurutku kita harus memanggil Gagan) ketus Lim.
“This cheap joke” (Guyonan receh lagi) ucap staf Gendut itu lagi, sepertinya ia masih belum kapok setelah hendak dihajar oleh Lim.
“Why?” (Kenapa?) Tanyaku dengan begitu kecewa
“That kid mutters only bullshit!” (Anak itu hanya berbicara kebohongan saja!) ucap Mr.Teigl menaikkan nadanya.
Mr.Teigl, yang ucapanya biasanya begitu tenang dan lembut, tiba-tiba menaikkan nadanya seperti itu, sungguh tidak biasa. Seketika kami semua diam membisu, saling menatap satu sama lain.
“You mean … Pretni?” (Maksudmu… Pretni?) ucapku memecah keheningan.
Ucapanku itu sepertinya tidak hanya memecah keheningan, tetapi juga menghancurkan ketenangan yang tergambar wajah Mr.Teigl. Seketika alisnya naik dan wajahnya menekuk kejam. Sepertinya, hal itu justru semakin memancing amarahnya.
“I heard it from him yesterday, he yelled at me while …” (Aku dengar hal itu darinya kemarin, Dia berteriak padaku ketika …)
“You better shut up!” (Lebih baik kamu diam!) potong Mr.Teigl tegas.
__ADS_1
Eh? Kenapa? Memangnya apa arti dari 'Pretni?'
“There is no such thing here!” (Tidak ada yang seperti itu disini!) Tambah Mr. Teigl
“The hell! this bullshit again!” (Apa! Omong kosong ini lagi!) dengkus salah seorang staf.
“Again?!” (Lagi?) Ucapku keheranan.
Untuk kesekian kalinya aku mendengar kata 'Again' di hari ini. Seolah kejadian seperti ini sudah pernah terjadi, saja, Eh! atau memang pernah terjadi? Mataku melotot curiga pada para staf Mr.Teigl itu. Ketika aku mengucapkan 'Again' mereka terkaget sendiri. Kemudian wajah mereka sedikit menggerutu, seperti habis mengatakan sesuatu yang salah. Mr.Teigl pun begitu, namun ia memilih untuk menghela nafas panjang dan mulai menjelaskan pada kami sejujurnya.
“This is our third missing person” (Ini adalah kasus orang hilang ketiga kami)
Julia, Aku dan Lim melotot kaget, jantung kami seperti habis dipecut.
“*WHAT?*!” (APA!!)
Mr.Teigl kemudian mulai bercerita, sudah terjadi beberapakali orang hilang di Anjungan lepas pantai ini. Menurut Mr.Teigl, orang hilang pertama dan terjadi dua minggu yang lalu, Ya, dua orang menghilang dalam sehari. Ini berarti ada tiga orang hilang dalam kurun waktu dua minggu, Gila!
Mr Teigl terus melanjutkan ceritanya. Dua orang hilang sebelumnya, yang menghilang secara bersamaan, adalah seorang Insinyur laki-laki tua dan seorang Insinyur wanita yang bekerja di Well-head Platform dan di Generator-Compressor Platform. Seketika aku menelan ludah ketika Mr.Teigl mengutarakan bahwa posisi yang aku tempati saat ini adalah milik Insinyur laki-laki tua yang hilang itu. Meski sudah kehilangan dua orang Insinyurnya secara tiba-tiba, Mr. Teigl dan pihak perusahaan tidak berani melapor ke kepolisian, karena tidak adanya bukti. Mereka berdua menghilang begitu saja, tanpa jejak dan tanpa petunjuk.
Seluruh staf dan pekerja lainnya sudah mencari hingga seluruh sudut Anjungan, tetapi mereka tidak menemukan batang hidung keduanya. Di kamar Insinyur wanita tersebut ditemukan sebuah koper lengkap dengan pakaian dan peralatan pribadi miliknya, begitu juga dengan koper milik Insinyur tua itu di kamarnya. Kemudian rumor mengenai hubungan asmara mereka di Anjungan ini santer terdengar, sehingga Mr. Teigl dan stafnya mengira dua orang itu kabur dari Anjungan menggunakan kapal pengangkut minyak bumi dari dermaga Production Platform. Mungkin ditengah perjalanan mereka memutuskan untuk tidak membawa koper-koper mereka, mengingat jarak Anjungan ke kota Dwarka tidak sampai sehari.
Oleh karena itulah, dua minggu ini Mr.Teigl dan stafnya memfokuskan untuk melacak semua ekspedisi kapal yang mengangkut minyak bumi dari Anjungan ini. Tetapi hasilnya nihil, kedua orang itu tetap tidak ketemu. Kemungkinan bahwa mereka masih ada di Anjungan ini sangatlah kecil, tetapi tidak menutup kemungkinan mereka melompat terjun ke dasar laut. Jika seperti itu kenyataannya, maka hal itu bisa berdampak buruk pada Anjungan ini. Anjungan ini bisa dihentikan operasionalnya, bahkan ditutup. Mr Teigl tentu tidak mau itu, sehingga ia masih mengupayakan pencarian kapal-kapal itu, berharap mereka benar kabur dari Anjungan.
Penuturan Mr.Teigl ini agak aneh, menurutku ia sedang menutupi sesuatu. Dari sekian banyak penjelasan yang ia utarakan, tetap tidak masuk akal bila ada dua pekerja yang menghilang secara tiba-tiba dan tidak dilaporkan ke polisi. Kemudian, untuk seorang pasangan yang sedang kasmaran, kenapa harus kabur? Kenapa tidak berpacaran atau bermesraan di Anjungan ini saja? Atau minta ijin cuti? Toh privasi tetap terjaga. Banyak sekali kejanggalan dari penjelasan Mr.Teigl. Apa ia hendak mempertahankan Anjungan ini agar terus beroperasi? Atau tidak mau berurusan dengan kepolisian?
“I can’t report it to Police…” (Aku tidak bisa melaporkannya ke Polisi) ucap Mr.Teigl mengakhiri penjelasan panjang itu.
“But … we have evidence now, right! Those bloody footstep from ….” (Tetapi … Sekarang kita punya bukti, Kan? Jejak kaki berdarah milik …) Julia kembali menangis.
Mr. Teigl menatap kami semua satu persatu. Matanya mengedar kosong seolah berfikir keras.
“Ok … I’ll report to the police… But this information are restricted only to us! All people in this room now, should keep secret to other workers. Nobody should know about this case.” (Baiklah… Aku akan melaporkannya pada Polisi… Tetapi, informasi ini terbatas hanya pada kita! Semua orang yang ada diruangan ini, harus menjaga rahasia ini dari pekerja lainnya. Tidak boleh ada yang tau tentang kasus ini)
__ADS_1