Iblis Kaki Terbalik

Iblis Kaki Terbalik
Makhluk Terkutuk


__ADS_3

“Living Platform maybe …” (Mungkin di Living Platform …) Lim dengan santainya melewatiku dan kembali keluar menuju jalan utama.


Segera aku meraih tanganya “Slowly …” (Pelan-pelan …) ucapku, sambil menutup mulutku dengan jari telunjuk agar kita tidak berisik.


Lim langsung gugup ketika melihatku menutup mulut dengan jari telunjuk. Aku menyuruhnya untuk bergerak perlahan.


Kemudian kami kembali menggeliat keluar, kembali ke koridor utama. Di koridor utama Generator-Compressor Platform, kami melihat beberapa pekerja tengah berjalan melintas. Mereka tidak melihat kami yang masih berada di jalanan di antara mesin-mesin, namun kami dapat melihat tiga orang pekerja itu berjalan begitu lambat. Dibelakang mereka ada seorang perempuan cantik yang nampak kesal karena pekerja didepannya itu berjalan sangat lambat.


“Julia!”


Kami berdua begitu lega ketika melihat Julia, segera kami menghampirinya. Para pekerja itu nampak acuh, dan terus berjalan kearah Well-head Platform.


“Where is Gagan?” (Di mana Gagan?) Tanya Lim.


“I dunno Lim, I just get back from Toilet to change my clothes …” (Nggak tau, Lim. Aku baru dari toilet, ganti baju…) Nampaknya Julia pun baru saja sampai kemari.


“Haha, that’s why the floor are wet” (Haha, Pantes lantainya basah) sindir Lim.


“Eh?! Damn!” (Eh?! Sial) jengit Julia sambil melirik ke lantai


Aku ikut melihat kearah lantai. Memang benar-benar basah, tetapi bukan hanya dari sepatu Julia saja. Aku melihat beberapa jejak kaki basah yang mengarah maju dari arah Julia datang, HAH??!!


Segera aku menarik tangan mereka berdua, aku langsung mengajak mereka masuk kembali sela-sela mesin. Julia dan Lim kaget, bahkan hampir jatuh terjungkal.


“Hey-hey-hey! Why so sudden…” (Hey-hey-hey! Kenapa…)


“Dimas! Wa-Waaiitt!” (Dimas! Tu-Tunggu!)


“SSSSHHH You two!” (SSSSHHH Kalian berdua!!) Bentakku.


Aku tidak memperdulikan celotehan mereka, aku terus menarik mereka berdua hingga sampai ke tempat tikar Gagan. Lalu, aku menoleh kearah mereka dengan wajah panik.


“T-Those three … the workers in front of you … their foot are backward! Twisted!” (T-Tiga orang tadi … Pekerja yang berjalan didepanmu … Kaki mereka terpelintir! Terbalik!)


“HAAH?!”


“W-wa-wait … how can you know?!” (T-Tu-Tunggu … kok kamu tau?)


“The footstep! That wet footstep are back toward where they coming, not where they going! You wanna take a look again, Lim?” (Jejak kakinya! Jejak kaki basah itu mengarah kearah mereka datang, bukan kearah mereka pergi! Kamu mau lihat, Lim?)


Lim menelan ludahnya dalam-dalam, begitu juga Julia yang langsung terduduk lemas di tikar Gagan. Ia mungkin tidak menyangka bahwa tadi ia berjalan di belakang rombongan Pretni.


“THIS IS INSANE! Three Pretni at once! How can we deal with them?” (INI GILA! Tiga Pretni sekaligus! Bagaimana cara kita menghadapi mereka?) bentakku panik.


“B-but … they didn’t aware of us?” (T-tapi… Mereka nggak lihat kita?)


“I-I Think … what do you think, Julia?” (K-Kayaknya… Bagaimana menurutmu, Julia?)


Julia nampak melamun menatap mesin sambil menggigit jari telunjukknya.

__ADS_1


“Julia!”


“Uh-oh … umm … I-I don’t think they aware of me too, When I’m out from toilet, they just pass by… not even look at me…” (Uh-oh … umm ... A-Aku pikir mereka tidak menyadariku, ketika aku keluar dari toilet, mereka cuman lewat begitu saja … bahkan tidak menoleh kearahku…)


“D-Dima … did you see where they are going to?” (D-Dima… Kamu lihat kemana mereka pergi?)


Aku dan Lim saling besitatap tegang, tentu mereka berjalan kearah Well-head Platform. Kami berdua sepertinya memikirkan hal yang sama, Abeba! Segera aku mengeluarkan smartphone-ku dan menelepon Abeba. Gawat, sudah beberapa waktu berlalu sejak kami berpapasan dengan tiga pekerja itu, setidaknya mereka pasti sudah sampai di Well-head.


Setelah beberapa nada sambung, terdengarlah suara Abeba “Hello...”


"A-Abeba! Where are you now?!” (A-Abeba! Kamu di mana?!)


“I just finished closing the monitor room” (Aku baru saja menutup ruang monitor) Terdengar suara seperti pintu besi yang ditutup “Why?” (Kenapa?)


“Umm … ok… that’s good” (umm … ok … bagus) ucapku begitu gugup.


“You’re nervous Dimas, what’s going on?” (Kamu gugup Dimas, Apa yang terjadi?)


“Tell her to come to Generator-Compressor Platform” (Suruh dia ke Generator-Compressor Platform) bisik Lim padaku.


“Uh-Oh … Could you come to Generator-Compressor Platform?” (Uh-Oh… Bisakah kamu ke Generator-Compressor Platform?)


“Now? For what…” (Sekarang? Ngapain…)


“Uh … umm…. Lim need help …” (Uh … umm… Lim butuh … bantuan)


“You idiot! Why me?!” (Bodoh! Kenapa aku?!) Lim memarahiku dengan kesal, “Tell her that Julia need help to change panties or something!” (Bilang padanya kalau Julia butuh bantuan ganti celana atau semacamnya!) tambahnya.


Seketika Julia yang tengah melamun dibuat kaget, ia melotot kearah Lim.


“S-sorry Abeba … it’s Julia, she want to change panties” (M-Maaf Abeba … Julia mau ganti celana)


“WHAT! How can you two with Julia?!” (APA! Bagaimana kalian berdua bisa dengan Julia?!) Terdengar seperti suara Abeba sedang menuruni tangga besi.


“Uh … We… just passing by…” (Uh… Kami… Kebetulan berpapasan)


“In woman toilet?!” (Di toilet perempuan?)


Aku hanya bisa diam dan menatap Lim sinis, aku sedikit menjauhkan smartphoneku dari telinga.


“Eh?! Excuse me…” (Eh?! Permisi…)


“Huh? Abeba?”


“Excuse me, Sir!” (Permisi, Tuan!!)


Aku menempelkan kembali smartphone-ku pada telinga. Kali ini Abeba terdengar seperti berbicara pada seseorang.


“Excuse me! Why are you hitting the Drill!” (Permisi! Kenapa kamu memukul Drillnya!)

__ADS_1


“Abeba!”


“Wait Dimas, There are three people here, hitting the drill tube… SIR! STOP!” (Sebentar Dimas, Ada tiga orang disini, sedang memukul-mukul tabung Drill (Bor)… TUAN! BERHENTI!) suara langkah Abeba menuruni tangga semakin kencang dan jelas, ia seperti terburu-buru. “Later…” (Nanti…)


TUUUT TUUUUT


“N-NOO! ABEBA!” (T-TIDAK! ABEBA!)


...........................................


“You guys stay here!” (Kalian berdua tunggu disini!) Bentakku.


“WHAT HAPPEN??” (APA YANG TERJADI) Julia langsung bangkit dan mendekatiku.


“Abeba … is not good …” (Abeba … tidak baik …)


“What do you mean, not good?” (Apa maksudmu tidak baik?) Sambar Lim.


Mereka berdua menatapku tajam, menunggu jawaban dariku. Tetapi aku tidak bisa menjawab, aku tidak tau apa yang terjadi disana. Sesaat kami bertiga hening.


“I-I’m going to check her…” (A-Aku akan mengeceknya…)


“Let’s go” (Ayo)


“No Lim … Please watch Julia …” (Tidak Lim … tolong jaga Julia…)


“W-What?” (A-Apa?) Julia nampak keheranan.


“No more … no more death please…” (Jangan lagi… Jangan lagi ada kematian, kumohon…) ucapku lirih.


Aku menghela nafas panjang, kemudian bergegas pergi meninggalkan mereka berdua. Aku bisa mendengar Lim dan Julia meneriakkan namaku, berharap aku tidak pergi. Tetapi, aku sungguh mengkhawatirkan apa yang terjadi di Well-head Platform. Bukan hanya tentang Abeba, melainkan ketiga pekerja jadi-jadian itu, mengapa mereka memukul Drill tube? Tabung yang melindungi bor berukuran raksasa itu. Apa yang mau mereka capai dengan memukul tabung besi sebesar itu?


Aku menggeliat keluar dari himpitan mesin-mesin Generator-Compressor secepat-cepatnya, hingga sampai ke koridor utama. Setelah menoleh kekiri dan kekanan, tidak ada siapa-siapa, segera aku tancap gas menuju jembatan kearah Well-head Platform.


Langkah kakiku yang tadinya berlari begitu kencangnya mendadak berhenti, kala melihat dua orang pekerja muncul dari arah pintu Well-head. Mata kedua pekerja itu begitu kosong, dengan wajah yang penuh lebab mereka berjalan kearah Generator-Compressor Platform dengan terseok-seok. Salah satu dari mereka berjalan sambil memikul seseorang perempuan di bahunya, AKH!!!


Dengan cepat aku bersembunyi dibalik pintu gerbang Generator-Compressor Platform, kututup mulutku rapat-rapat dengan kedua tanganku. Aku memejamkan mataku, berusaha menahan air mata yang hendak keluar. Mereka menggotong Abeba, dalam kondisi yang begitu mengenaskan. Meski hanya sekilas, aku bisa melihat leher Abeba terkoyak dan patah, darahnya mengucur deras ke lantai. Kepalanya menggantung kebawah seperti ranting pohon yang setengah patah, kepala itu bahkan hampir putus dari badannya.


Lalu, dua pekerja itu, t-tunggu … dua orang itu bukanlah pekerja yang melintas didepan Julia tadi. Sepertinya, aku mengenali salah satu dari mereka. Ya … Badan tinggi gemuk dengan rambut yang penuh uban… Pak tua James! Aku tidak bisa lagi menahan amarahku …


MAKHLUK BIADAB! SEBENARNYA KALIAN SIAPA!? IBLIS MANA YANG MELAHIRKAN KALIAN?!!DATANG DARI MANA?! APA TUJUAN KALIAN?! KENAPA KALIAN MEMBUNUH SEMUA ORANG!!  AAAAAAARRRRHHHHHH!!


Air mataku mengalir deras, tak terasa aku menangis terisak seperti anak kecil. Dadaku terasa begitu sesak, penuh sesak oleh perasaan marah, takut, dan sedih. Abeba, Pak Tua James, dan bahkan mungkin Gagan sudah mati? Seketika aku kembali disergap kesedihan. Aku tidak kuat melihat kondisi Abeba yang mengenaskan.


Setelah beberapa saat terisak, aku melihat didepanku ada sebuah kunci Inggris besar yang terselip diantara mesin. Segera aku mengusap tangisku dan meraih kunci itu. Aku tidak bisa berdiam dan menangis seperti pencundang, aku harus melawan mereka.


 


 

__ADS_1


__ADS_2