Iblis Kaki Terbalik

Iblis Kaki Terbalik
Gagan!


__ADS_3

Seusai rapat kecil itu, kami diantar ke meja kerja kami masing-masing. Lucunya, meja kami bertiga bersebelahan. Ada sedikit keanehan disini, wajah para Insinyur itu menekuk takut, sama seperti Pak tua James. Aku sedikit tegang karena suasana itu, namun Lim lagi-lagi berusaha mencairkan suasana, dengan mengajak ngobrol Abeba, si wanita Afrika. Setelah Insinyur-Insinyur itu meninggalkan kami bertiga, segera aku berkenalan dengan Abeba.


Abeba berbadan pendek –lebih pendek dari Lim- dan agak gemuk. Menurutku, dandananya sedikit menor karena kulitnya yang hitam tidak sesuai dengan bibirnya yang tebal dengan lipstick pink terang. Rambutnya hitam panjang bergelombang, lengkap dengan kulitnya yang coklat tua penampilan Abeba ini terlihat sangat garang. Meski begitu, ia begitu ramah padaku dan sangat Talkative. Bahasa Inggrisnya juga mudah dipahami, sehingga kami mengobrol banyak hal. Abeba bercerita pada kami bahwa ia sekamar dengan Yevitzka, wanita Eropa tinggi dengan bintik-bintik jerawat yang tadi. Yevitzka adalah Insinyur Informatika, karena itulah ia duduk agak jauh dari kami bertiga. Sedangkan Abeba sendiri adalah Insinyur Nautika, yang bertugas mengendalikan mata bor raksasa itu.


Pekerjaan kami -terutama aku dan Lim- adalah mengawasi kualitas minyak bumi dari bor raksasa Well-head Platform. Bor itu sudah menancap di kulit bumi sejak sebulan sebelum kami kemari, dan terus mengeluarkan minyaknya. Minyak bumi tersebut kemudian disalurkan ke pipa-pipa yang dibawa ke Production Platform.


Tugasku tidak terlalu berat, itu karena banyak sekali Insinyur Pertambangan disini. Aku juga amat terbantu dengan Lim yang begitu pintar, ia pasti seorang cumlaude di kampusnya. Justru tugas Abeba dan tim nautikanya lah yang paling berat. Mereka harus menjaga agar mata bor itu tetap menancap. Menurut Abeba, tugasnya cukup berat karena mata bor itu menabrak bongkahan batu besar saat proses pengeboran. Sehingga badan bor yang saat ini berada di dasar laut bersinggungan langsung dengan bongkahan batu itu. Abeba dan tim setiap harinya harus mengawasi posisi bor itu, agar tidak bergeser.


Suara obrolan kami bertiga adalah satu-satunya suara yang terdengar diruangan itu, selain suara berisik radio sonar dan suara jari jemari pekerja yang beradu dengan keyboard. Mataku menjelajah kesekitar, para Insinyur disini nampak begitu fokus pada laptop masing-masing. Wajah mereka semua juga menekuk takut. Sungguh, aku begitu penasaran apa yang mereka takutkan.


Mataku kemudian memandang meja bulat ditengah ruangan, tempat kami rapat kecil tadi. Mr.Teigl masih disana, tengah berdialog dengan seorang anak India muda yang membawa nampan dengan beberapa gelas minuman diatasnya. Aku mengamati rambut pirangnya yang tebal, jas hitam mewah, dan jam tangan emas yang melingkar di tangan kirinya. Apakah Mr. Teigl orangnya kejam sehingga Insinyur-Insinyur disini begitu takut padanya? Ah, aku rasa tidak. Ketika di Hall tadi, ia berbicara pada kami semua dengan begitu santun. Tetapi ini masih hari pertamaku, dan kami adalah pekerja baru. Mungkin saja sifat aslinya akan muncul nanti, seiring berjalannya waktu. Waduh gawat … kalau begitu, aku tidak boleh membuat kesalahan saat bekerja.


Pikiranku terus bergumam liar, sembari melihat Mr.Teigl berbicara pada anak India itu. Ia berbicara padanya dengan santun, tetapi wajah anak India itu sama seperti yang lain … takut. Setelah beberapa saat, anak India itu mengangguk dan pergi dari hadapan Mr.Teigl. Anak itu kemudian menatapku –karena aku terus menatapnya daritadi- dan berjalan menghampiriku.


“Drink sir?” (Minum Tuan?) ucapnya dengan menggeleng-gelengkan kepala khas orang India.


Oh, anak India ini ternyata seorang Helper yang bertugas menyajikan minuman pada pekerja disini. Ia adalah orang India ke lima yang aku lihat di Anjungan ini (setelah empat petugas dermaga tadi).


“Gee … thank’s much!” (Wah … Terima kasih banyak!)


Lim segera merebut dan menegak segelas kopi yang berada diatas nampan anak India itu, tanpa sungkan. Abeba juga berdiri dari kursinya dan mengambil gelas yang lain. Berbeda dengan kedua rekanku ini, aku berusaha sedikit ramah padanya. Meski terlihat sekali ia hanya seorang Helper, tetapi aku harus ramah pada setiap orang, kan? Sambil mengambil cangkir terakhir di nampan itu, aku mengajaknya mengobrol.


“Hey … What’s your name, young man?” (Hey… Siapa namamu, anak muda?)


“Gagan!” ucapnya sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Intonasi nadanya yang terlalu bersemangat, serta gerak-geriknya yang salah tingkah membuatku tertawa kecil.


“I’m Dimas, nice too meet you!” (Aku Dimas, senang berkenalan denganmu!)


“Nice to meet you” (Senang berkenalan denganmu)


Awalnya aku sedikit bingung apa yang ia ucapkan, karena bahasa Inggrisnya masih bercampur bahasa India sedikit-sedikit. Tetapi lambat laun aku bisa menangkap apa yang Gagan berusaha utarakan. Usahaku untuk ramah padanya membuahkan hasil, Gagan berbicara banyak padaku. Tetapi wajah menekuk takutnya tetap tidak bisa hilang.


Gagan berambut pendek keriting, dengan wajah yang bulat lugu. Ditambah badannya yang kurus kecil padahal usiannya sudah 11 tahun, membuatnya terlihat semakin mungil layaknya anak TK. Gagan sudah berada di Anjungan ini sejak setengah tahun yang lalu, sejak Anjungan ini dibangun pertama kali. Pekerjaanya memang menyediakan makanan dan minuman yang diperlukan pekerja diruangan monitor Well-head ini. Karena terlalu asik mengobrol aku sampai mengacuhkan Abeba dan Lim yang sudah pergi meninggalkanku, larut dalam pekerjaan mereka masing-masing.


..................................


Jam dinding di ruangan monitor berbunyi tepat pada pukul 17:00, mengakhiri hari pertamaku bekerja. Aku meregangkan kedua tanganku keatas, sambil menguap … huft hari pertama yang berat.

__ADS_1


Kemudian aku menoleh kearah Lim dan Abeba yang ada disebelah kiriku. Abeba nampaknya sudah selesai dengan pekerjaanya dan berpamitan padaku untuk pergi meninggalkan ruangan monitor lebih dulu. Lim masih fokus pada laptopnya, ia memintaku untuk menunggunya beberapa menit lagi. Dan pada akhirnya,kami berdua membereskan meja kerja kami, dan pulang.


Di luar, Mr.Teigl berdiri dan menyalami satu-per-satu pekerjanya itu dengan senyum hangat. Tetapi tetap saja, wajah para Insinyur itu tersenyum dengan terpaksa, aku bisa melihatnya. Aku sedikit gugup ketika giliran kami menyalami Mr.Teigl. Tetapi Lim tanpa ragu langsung menyapanya. Mr. Teigl pun menyambut hangat, dan berbicara dengan Lim. Ketika aku mendekat justru ia duluan yang menyapaku. Ia ingat betul namaku, aku sangat tersanjung. Bos sebaik ini kah yang ditakuti seluruh pekerja?


……………………………………………………………………………………


“Hey Lim, Umm …”


Lim menoleh kebelakang, bingung melihatku yang tiba-tiba berjalan perlahan.


“You can go first, I think I left something behind” (Kamu duluan saja, kayaknya aku tertinggal sesuatu)


“Ahaaaa!” Ucap Lim tersenyum menyeringai.


“What’s ‘Ahaa’?” (‘Ahaa’ kenapa?)


“Hahaha, just go …” (Hahaha, pergilah …)


Aku segera berbalik badan dan berlari dengan penuh semangat.


“Say ‘Hi’ from me to Julia, ok?” (Sampaikan salamku untuk Julia, ok?)


“Do a Jingzu before talking to her, bro” (Lakukan Jingzu sebelum ngobrol dengannya, bro) ucapnya sambil berjalan menjauh.


“Jingzu?”


“Some Chinese Tradition, Google it!” (Semacam Ritual tradisional China, Google saja!)


Kami berdua lalu berpisah, aku segera menuju ke Generator-Compressor Platform. Aku sedikit berlari saat melintasi Well-head Platform hingga sampai ke jembatan yang menghubungkan ke Generator-Compressor Platform. Sambil berjalan cepat aku membuka ponselku, menjelajah Google untuk mencari makna Jingzu yang Lim ucapkan tadi.


‘Ritual Penghormatan pada leluhur yang sudah meninggal’


Wahahahaha Sial! Awas saja kau Lim. Aku tertawa bercampur kesal membaca hasil pencarian Google itu. Ternyata baru beberapa hari saja, aku sudah begitu akrab dengan Lim. Meski menyebalkan, aku bersyukur punya teman seperti dia.


BRUKK…. PRANG….


“Ouch!” aku mengaduh, barusaja aku terjatuh ke lantai jembatan.

__ADS_1


Beberapa bohlam lampu menggelinding kesekitarku. Dan dihadapanku, aku melihat seorang pekerja laki-laki jatuh terduduk sambil memegang kotak kardus.


“Sorry Sir …” (Maaf Tuan ...) Aku bangkit seraya melihat kesekitar


Karena terlalu sibuk dengan ponsel, aku sampai tidak melihat ada orang yang melintas didepanku. Kami bertabrakan, dan bohlam lampu yang ia bawa didalam kotak kardus itu jatuh berceceran. Aduh! Beberapa bohlam ada yang pecah. Laki-laki itu hanya diam dan memandang kesekitar.


“I’m really sorry …” (Aku benar-benar minta maaf …) Aku mengulurkan tangan padanya.


Tetapi ia tidak merespon, ia hanya menatap kosong bohlam-bohlam yang pecah. Bapak tua itu berwajah Eropa, dengan rambut tipis yang seluruhnya memutih. Wajahnya keriput dan pucat membiru, sepertinya bapak ini sudah berusia lima puluh tahunan.


Aku merasa begitu bersalah, segera aku menyapu pecahan-pecahan bohlam itu dengan sepatuku. Lalu kuarahkan serpihan-serpihannya kearah pinggir jembatan. Ada lubang kecil di sudut bawah pembatas jembatan yang digunakan untuk mengalirkan air apabila jembatan tergenang. Aku terus menyapu kesana, hingga serpihan itu berjaTuhan ke laut.


“Done, Sir! I’m really sor …” (Sudah, Tuan! Aku sungguh minta ma …) “Huh??”


Aku begitu kaget. Ketika aku menoleh, laki-laki itu sudah tidak ada.


Aku memutar pandangan kesekitar, benar-benar hanya aku seorang diri. Bahkan bohlam-bohlam –tidak pecah- yang berserakan tadi juga menghilang. Padahal aku hendak membantunya memungut bohlam itu kembali ke dus yang dibawanya. Apakah laki-laki itu berlari kearah Generator-Compressor Platform? Memang jarakku kesana lebih dekat daripada kearah Well-hea…


“WAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!”


Baru saja aku menoleh kearah Generator-Compressor Platform, aku mendengar dari ujung jembatan Well-head Platform, Gagan menjerit histeris. Ia melihatku dengan penuh ketakutan. Aku melambaikan tangan dan membalas teriakannya. Kukira ia berteriak menyapaku, namun sejurus kemudian ia menjatuhkan nampan kosongnya ke lantai dan berlari menjauh. Apa yang terjadi? Aku kebingungan antara harus mencari laki-laki tua tadi atau Gagan. Akhirnya, aku memutuskan untuk berlari mengejar Gagan.


Sesampainya di mulut jembatan Well-head Platform, aku mendapati Gagan tengah duduk jongkok di pinggir tangga ruang monitor. Kedua tangannya memegang erat telingannya, seolah sedang mendengar sesuatu yang keras. Badannya menggigil ketakutan, apa yang terjadi? Perlahan-lahan, sambil menelan ludah, aku berusaha memegang badan yang begidik itu.


“Gan… Gagann?” Aku begitu gugup, sampai aku sendiri memanggil Gagan dengan logat orang Indonesia. Meski begitu, tetap ia tidak merespon. Kemudian aku mengenggam tangannya yang terus gemetaran itu.


“GWAAAAAH!!!!!” Teriaknya mengejutkanku. Ia menatapku sambil menangis.


“Hey!! What happened? It’s Okay, I’m here, Gan” (Hey!! Kenapa? Tidak apa-apa, aku disini, Gan)


Aku sedikit menaikkan nadaku untuk menenangkannya. Ia terus meronta-ronta, berusaha melepaskan tanganya dariku.


“PRETNIII!!! PRETNI!!! WAAAA!!!!!”


Gagan menghentak tangannya, melepaskan cengkramanku dan kabur.


 

__ADS_1


 


__ADS_2