Iblis Kaki Terbalik

Iblis Kaki Terbalik
Escape!


__ADS_3

Yang pertama kali kulakukan adalah merangkak perlahan mendekat kearah jendela. Beruntungnya aku, saat mendengar suara telepon dari Lim tadi, aku masuk kedalam ruangan dengan terburu-buru, sehingga aku tidak menutup rapat-rapat pintu ruangan ini. Aku melirik kearah makhluk itu dari jendela, mengamati pergerakannya. Makhluk itu menyerupai seorang pekerja laki-laki kurus berambut pirang yang tidak ku kenal, ya Tuhan…berapa banyak lagi pekerja yang sudah mati. Terlihat, Ia nampak kesal dan memukul-mukul layar komputer itu hingga hancur. Aku sempat melihat percikan listrik menyambar dan mengenai salah satu tangan lebamnya, namun ia terlihat biasa saja tidak merasakan sakit sedikitpun.


Sambil mengintip, kakiku aku julurkan untuk menggapai pintu ruangan ini yang menganga kecil, lalu membukanya perlahan demi perlahan. Pretni itu kini mengarahkan perhatiannya pada layar monitor utama. Layar yang menyala terang itu, masih menampilkan gambar pencitraan bawah laut yang aku tayangkan tadi. Gawat, tombol untuk membuka gerbang Well-head ada di dekat layar itu! seketika aku menghentikan kakiku membuka pintu dan berusaha menunggu sejenak. Waktuku hanya lima menit sebelum Julia mematikan listrik seluruh Anjungan ini!


Makhluk itu berjalan terseok dan mendekati layar monitor utama, kemudian ia berteriak kencang sekali tiba-tiba. Teriakannya seperti suara orang yang tercekik namun dengan nada yang begitu keras menggelegar, sampai-sampai aku menutup telingaku karena tidak tahan. Apakah ia membenci cahaya? Tidak… Yang ia benci adalah manusia-manusia BIADAB yang menancapkan bor raksasa itu, aku yakin sekali!


…………………………


Waktu sudah berlalu sekitar dua atau tiga menit, aku tidak tahu, makhluk itu masih belum puas meninju layar besar itu hingga rusak. Gawat, kalau seperti ini keburu Julia mematikan listrik, aku tidak akan bisa mengejar waktunya bila tidak sekarang. Kemudian, dengan perlahan, aku merangkak keluar ruangan, sambil terus berdoa dalam hati.


Aku merangkak masuk kedalam meja komputer terdekat yang ada dihadapanku. Makhluk itu masih berusaha mencabik-cabik kabel yang menempel di dalam layar, sepertinya ia tidak puas hanya memecahkan permukaan luarnya saja. Aku mengintip dengan hati-hati, tombol pembuka gerbang itu tepat di meja di belakang makhluk itu, yang artinya aku harus merangkak melewatinya dulu agar bisa menekan tombol itu. Itu jelas tidak mungkin, aku harus memutar sedikit lebih jauh untuk menghindarinya.


Memanfaatkannya yang sedang sibuk, aku mulai merangkan memutari ruangan. Dengan menggunakan barisan meja komputer sebagai perlindungan, aku dengan mantap menggerakan tangan dan lututku. Hingga akhirnya aku sampai di meja bundar, meja yang biasa digunakan rapat dengan Mr.Teigl, tepat persis beberapa baris dari meja komputer dibelakang makhluk itu. Disana mau tidak mau aku merangkak masuk kedalam meja. Sedikit lagi aku dapat mencapai meja yang terdapat tombol kendali itu.


Dengan sedikit bergulung aku mempercepat langkahku hingga sampai di bawah meja tempat tombol itu. Aku tidak bisa berdiri dan menekannya langsung, Pretni itu akan menyadariku. Dengan terpaksa aku mengulurkan tangan dari bawah meja dan meraba-raba tombol itu. Setelah aku menemukan tombolnya, tanpa ragu aku menekan tombol itu.


TIIIIIT


“GRRRRRRRAAAAAAARRRRRR”


BRAAAKKKK


Dengan refleks Pretni itu langsung menoleh kebelakang dan memukul meja hingga rusak. Beruntung aku segera menarik tanganku kembali, aku sungguh lupa bahwa tombol itu akan berbunyi ketika ditekan.

__ADS_1


BRAAAK BRAAAKK BRAAAAK


“GRRRRRAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRR”


Ia terus memukul-mukul meja tempat aku bersembunyi, hingga patah. Patahannya hampir saja menusuk kepalaku, yang tepat berada dibawah meja itu. Aku menutup mulutku dan memejam, berdoa agar kegelapan ini dapat menyembunyiaknku, sebelum makhluk itu menyadariku bersembunyi dibawah sini. Aku juga berharap Julia segera mematikan listriknya, agar cahaya lampu yang menyinar dari arah ruangan Drill Well-head ikut padam juga.


………….


Seketika suasana hening, makhluk itu tidak lagi memukul meja. Gawat! Aku mulai mendengar suara langkah terseoknya mendekat dari arah kiri. Jantungku rasanya berhenti, bulu kudukku begidik ketakutan, ayolah Julia! Sudah lima menit kan?!!


Kali ini aku dapat melihat sepasang kaki terbalik melangkah dihadapanku. Kaki itu biru pucat penuh lebam, dan setiap langkahnya terdengar bunyi 'krek-krek' mengerikan, yang seolah ikut mematahkan jantungku. Diikuti oleh bau amis, mirip bau ikan busuk, yang begitu menyengat Seandainya aku bisa menahan nafasku, aku pasti akan menahannya selama mungkin.


Langkah kaki itu akhirnya berhenti, dan telapaknya menghadap ke arahku. Tentu saja itu berarti ia sedang menghadap berlawanan arah denganku. Aku menarik nafas dalam-dalam, ini kesempatakanku, bila ia memutar badan dan berusaha mengadah kebawah meja, aku akan memukul wajahnya sekuat-kuatnya.


BLIP


Seketika AC ruangan mati, begitu juga Power supply seluruh komputer yang ada diruangan saling bersahutan mati. AKHIRNYA! Julia mematikan listriknya! Seketika suasana menjadi lebih gelap daripada sebelumnya, karena cahaya lampu dari ruangan Drill Well-head sudah mati. Pretni itu menghentikan langkahnya beberapa saat, ia nampak bingung dengan situasi yang berubah ini.


“RRAARRRRRRRRHH”


Tidak, ia tidak bingung karena situasi yang berubah, tetapi ia terpacing oleh suara erangan makhluk lain yang samar-samar terdengar dari kejauhan. Sepertinya suara itu berasal dari luar ruangan. Setelah beberapa saat, Pretni itu akhirnya melangkah pergi dari hadapanku.


“Huuuuufffffftttttttt …”

__ADS_1


Aku mendengkus lega, nyaris saja! Meski begitu, aku belum sepenuhnya aman. Aku masih menyiagakan inderaku, mendengarkan dengan seksama langkah kaki terseok yang menjauh. Setelah menurutku cukup aman, aku akhirnya memberanikan diri mendongak dari atas meja.


Dari kejauhan aku melihat Pretni itu berjalan keluar ruangan. Suara erangan itu tiba-tiba semakin jelas dan bergemuruh, seolah ada puluhan orang yang tengah berdemo dibawah sana. Benar juga, gerbang Well-head sudah ku buka, Pretni-Pretni yang lainnya pasti menyeruak masuk kedalam. Mereka semua pasti akan memukul-mukul tabung Drill lagi. Kini aku sudah tidak heran lagi mengapa mereka melakukan itu.


Semua ini pasti karena bongkahan batu besar yang ditabrak oleh mata bor Anjungan kami. Bongkahan batu itu pasti semacam candi atau bangunan kuno di dasar laut, tempat tinggal mereka? atau mungkin tempat untuk mengurung mereka? Yang pasti bangunan kuno itu sudah rusak oleh bor minyak bumi raksasa, dan iblis-iblis kaki terbalik ini menyeruak keluar dari dasar laut. Ya… tidak ada penjelasan lain yang lebih logis daripada ini. Meski aku sendiri masih tidak percaya bahwa mereka berasal dari sana.


'Kau harus selalu menghargai laut, karena kau tidak akan pernah tau apa yang disimpanya di bawah sana'


Kata-kata kakekku itu sepertinya tidak berlaku lagi, maaf kek aku sungguh benar-benar tidak menyangka laut akan menyimpan iblis mengerikan seperti ini.


Aku mengendap perlahan, keluar dari ruangan monitor, sambil terus berpikir liar. Mr.Teigl pasti mengetahui semua ini, dan ia tetap memaksa melakukan pengeboran meski tahu ada bangunan kuno yang menghalanginya dibawah sana, Brengsek! Aku juga teringat kata-kata Abeba bahwa mereka menerjang batu itu, Abeba tidak tahu tentang kenyataan batu itu? Mungkin karena ia Insinyur baru disini, begitu juga aku dan Lim. Menurut pelajaran yang aku dapatkan saat kuliah, hal ini biasannya dikarenakan ada sumber minyak bumi yang banyak didasar batuan sehingga terpaksa dilakukan pengeboran dengan menerjang objek laut. Pasti Mr.Teigl mengetahui ada sumber minyak melimpah dibawah bangunan itu. Tidak salah lagi, Ia lebih mementingkan uang…


Ketika sampai di tangga ruang monitor, badanku langung bergemetar ketakutan ketika melihat lautan manusia… Lautan Pretni, mengerumuni tabung bor raksasa. Sekitar seratus orang lebih, menyeruak masuk, dari gerbang Generator-Compressor Platform. Bahkan samar-samar, aku juga dapat melihat dari gerbang Production Platform lautan manusia yang cukup banyak juga membanjir. Mungkin jumlah mereka lebih dari itu, karena saat itu penerangan hanya dari sedikit cahaya rembulan yang masuk dari gerbang Generator-Compressor Platform yang terbuka. Bila sebanyak ini, berarti SELURUH ORANG DI ANJUNGAN INI SUDAH MATI! Aku tidak bisa membendung ketakutan dalam diriku, jantungku berdetak begitu kencang, bagaimana caranya aku kabur dari sini?


Aku memejamkan mata sejenak, kemudian aku berusaha menganalisa situasi. Cahaya rembulan malam ini cukup terang bersinar dari arah gerbang Generator-Compressor Platform, yang tepat berada di ujung tangga ruang monitor ini. Sedangkan dari arah gerbang Production Platform sangat gelap, sepertinya cahaya bulan menyinar lebih terang hanya di arah sebelah kiriku. Karena itulah aku hanya dapat melihat jelas rombongan pretni berdesak-desakan masuk dari arah gerbang Generator-Compressor Platform. Menuruni tangga ini sama saja bunuh diri, dan dengan jumlah mereka sebanyak itu, aku akan menjadi sasaran empuk.


Apakah aku harus menunggu sebentar sampai mereka semua masuk? Lalu aku menyelinap keluar? Rombongan zombie ini nampak berdesak-desakan, kesulitan masuk karena jumlah mereka yang begitu banyak. Mereka semua tidak akan masuk dalam waktu dekat. Aku juga sudah berjanji pada Lim akan menemui mereka di dermaga Living Platform satu jam lagi. Kembali aku menengok kearah jam dinding ruang monitor, Tersisa sekitar 40 menit lagi. Aku harus mencari jalan lain untuk keluar dari sini.


Mataku menjelajah kearah sekitar tabung bor. Seperti yang aku duga, makhluk-makhluk ini mengitari tabung bor dan mulai berusaha merusak dinding bajanya. Mereka sepertinya tidak memperhatikanku yang berdiri mengamati mereka dari beranda tangga. Tentu, sekarang aku tau alasan mereka berusaha merusak tabung bor itu. Di sisi belakang tabung bor yang lebih gelap, aku samar-samar melihat kerumunan Pretni yang lebih sedikit. Entah karena memang sedikit atau karena di sisi itu sangat gelap aku tidak tau. Kemudian, terbersit ide dikepalaku untuk menyelinap dari sana. Tujuanku tentu adalah gerbang Production Platform yang jumlah orangnya terlihat lebih renggang daripada disini. Ya, tidak ada pilihan lain, aku harus mencoba keluar dari sana.


Rencanaku adalah keluar dari sini melalui gerbang Production Platform. kemudian aku akan terus berlari hingga Living Platform, dan secepat-cepatnya menuju Generator-Compressor Platform, sesuai yang kuutarakan pada Lim ditelepon tadi. Jelas hal ini sangat berbahaya, namun aku yakin sekali bahwa kali ini di Living Platform akan tersisa sedikit sekali Pretni yang berkeliaran, karena mereka semua sebagian besar sudah masuk kemari. Namun itu hanya dugaanku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti setelah aku kesana. Tetapi pemikiranku meyakini bahwa hanya jalur inilah yang paling aman.


Aku menarik nafas dalam-dalam … melanjutkan pelarianku… God! save me…

__ADS_1


__ADS_2