Iblis Kaki Terbalik

Iblis Kaki Terbalik
Jejak Kaki Berdarah


__ADS_3

“Lim … Still awake?” (Lim … Masih bangun?)


“Huh?”


Aku bangkit dari kasur dan melirik ke kasur Lim yang berada diatas kasurku. Terlihat Lim merespon ucapanku dengan acuh, sambil terus fokus pada game di smartphone-nya.


“Do you understand Hindi?” (Kamu paham bahasa India, gak?)


“Not even a word” (Nggak tau) ucapnya acuh


Aku mendesis kecewa, bukan karena sikap Lim yang cuek padaku, tetapi karena tidak ada dari kami yang paham Hindi (bahasa India). Beberapa saat kemudian nampak Lim merancu kesal, dengan bahasa China yang aku tidak mengerti artinya. Ia kemudian mematikan smartphone-nya dengan penuh emosi, dan menghela nafas panjang.


“Lose huh?” (Kalah ya?)


“You bet … The signal here is absurb! Gaaahh!” (Jelas saja … Sinyal disini sangat aneh! Gaahh!) Keluh Lim kesal.


“Don’t play online game” (Jangan main game online) Ucapku sambil membungkuk, lalu kembali berbaring di kasurku.


“What’s that for?” (Untuk apa tadi?) Tanya Lim


“What?” (Apa?)


“That Hindi things” (Bahasa India yang tadi)


“Ohh … You remember Gagan, Lim?” (Ohh ... Kamu ingat Gagan, Lim?)


Aku mulai menceritakan kejadian tadi sore pada Lim. Kalau aku tidak salah dengar, kata ‘Pretni’ yang diucapkan oleh Gagan saat itu, pastilah bahasa India. Aku sungguh penasaran arti kata itu, apakah suatu hal yang tidak penting (kata kotor atau doa pada Dewa) atau yang lainnya. Menurutku, kata itu berhubungan dengan menghilangnya pekerja Eropa tua yang membawa kardus bohlam itu.


“That kid is a weirdo” (Anak itu aneh) ucap Lim.


Sebenarnya kata-kata itu sungguh kasar, tetapi aku setuju dengannya. Lim berpendapat mungkin saja pekerja itu kembali ke Generator-Compressor Platform. Meski aku sudah menceritakan bahwa aku hanya beberapa detik saja menoleh kearah Gagan, Lim tetap meyakinkanku untuk tidak perlu khawatir. Diskusi malam ini pun berakhir dengan kedua mata kami memejam tidur.


……………………………………………………………………………………..


Pagi ini cuaca begitu mendung. Angin laut yang berhembus membuat suhu semakin dingin, karena tidak ada cahaya matahari yang menghangatkan. Aku berjalan menyusuri jembatan Well-head Platform dengan mantel tebal milik Lim. Dan Lim sendiri, sepertinya sudah terbiasa dengan udara dingin. Ia terus tertawa ketika aku mulai menggigil kedinginan.


Gerbang Well-head Platform sudah terlihat, aku bahkan samar-samar dapat melihat tangga ruang monitor Well-head tempat kami bekerja. Tiba-tiba, dari tangga itu turun beberapa orang berbondong-bondong. Barusaja aku hendak bertanya pada Lim apa yang terjadi –karena ia berjalan sedikit didepanku- ia sudah menarikku kepinggir jembatan. Secara mendadak, datang rombongan pekerja lain dari arah belakang kami dengan berlari. Apa yang terjadi? Dalam sekejap mata, seluruh ruangan Well-head Platform penuh sesak dengan orang.


Lim langsung menarikku berlari menorobos kerumunan orang, masuk kedalam Well-head Platform. Dengan susah payah kami berhasil menerobos kerumunan orang hingga sampai kedalam. Di beranda tangga ruang monitor, aku melihat Mr.Teigl dan beberapa stafnya -yang selalu mengikutinya- turun dan menerobos kerumunan orang. Mereka kemudian menuju kearah jembatan Generator-Compressor Platform. Wajah mereka nampak serius dan takut. Aku bisa melihat peluh keringat membasahi wajahnya, sebelum lautan pekerja yang bergerombol menelan mereka dari pandanganku. Padahal, pagi ini udara begitu dingin.


Aku dan Lim semakin penasaran apa yang sedang terjadi. Kami lalu memberanikan diri menerobos kerumunan pekerja itu, hingga sampai ke mulut jembatan Generator-Compressor Platform. Kali ini aku ikut berkeringat. Bukan karena pengap kerumunan orang, tetapi karena ingatanku tentang kejadian sore kemarin. Apakah ini ada hubunganya dengan kejadian kemarin?


“The hell are you doing here, kid?!”(Apa yang kamu lakukan disini, bocah?!)


Bentak salah seorang pekerja yang badannya tak sengaja disikut oleh Lim, ketika kami berusaha menerobos kerumunan. Lim melotot sinis padannya, tetapi aku tersenyum untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


“Sir, what’s going on?” (Tuan, apa yang sedang terjadi?)


“Some workers found some bloody footsteps” (Beberapa pekerja menemukan jejak kaki berdarah)


“Blood-what?!” (Berdarah- Apa?!) Jengit Lim kaget.


“Where?!” (Di mana?!) Ucapku lebih panik, memotong ucapan Lim.


“At bridge, Near Generator-Compressor gate” (Di jembatan, dekat gerbang Generator-Compressor)


Jantungku berdebar kencang sekali, segera aku menarik tangan Lim dan berlari menerobos kerumunan. Aku yang awalnya tidak terlalu tertarik mencari tahu, justru berlari paling depan sekarang.


Dengan susah payah, akhirnya kami sampai di pusat kerumunan. Seperti yang pekerja tadi bilang, kerumunan itu berkeliling di pojokan jembatan dekat Generator-Compressor gate, persis di tempat aku menabrak pekerja Eropa tua kemarin sore. Jantungku berdebar semakin kencang.


“Did he, or she? Jump?” (Apakah laki-laki, atau perempuan itu? Melompat)


“With that bloody foot?” (Dengan kaki yang berdarah?)


Mr. Teigl berada disana juga, tengah mengobrol dengan beberapa stafnya. Aku yang penasaran mendongakkan kepalaku sedikit untuk mengetahui apa yang sedang mereka lihat disana. Darahku berdesir kencang mengalir ke ubun-ubun, mataku terbelalak kaget tak percaya. Aku melihat beberapa tapak kaki berdarah di lantai jembatan, tepat di tempatku menyapu pecahan bohlam kemarin. Jejak kaki itu mengarah menuju pinggiran jembatan dan menghilang. Seolah pemilik telapak itu berjalan dan melompat … ke laut lepas?


“We should check all worker! Find who is missing today, or some witnesses” (Kita harus mengecek semua pekerja! Cari siapa yang menghilang hari ini, atau saksi mata?) Perintah Mr.Teigl pada stafnya.


“I Think I know, Sir” (Sepertinya aku tau, Tuan) ucapku lirih pelan.


Meski pelan, bahkan setengah berbisik, ucapan itu sudah cukup untuk membuat semua orang disana menoleh. Dan seketika semua pandangan tertuju padaku.


“It? Umm … I think, Sir” (Itu? Umm … Sepertinya, Tuan)


“What do you mean ‘I Think’ kids!” (Maksudmu apa bocah? Sepertinya?) Sindir salah seorang staf gemuk Mr.Teigl.


Lim seketika memicingkan mata pada staf itu, ia sangat tersinggung dengan ucapan itu.


“I think the one who is missing is … I dunno his name but, I met him yesterday” (Menurutku, pekerja yang hilang adalah… Aku tidak tau nama Bapak itu, tapi kemarin aku bertemu dengannya) ucapku sedikit terbata-bata.


“A man?” (Laki-laki?) sahut staf Mr. Teigl lainnya.


“He is a worker from Generator-Compressor Platform, an old man with a short-whited hair, and … umm … he brought a box full of bulbs” (Dia adalah pekerja dari Generator-Compressor Platform, seorang Bapak tua dengan rambut pendek yang memutih … umm … dia membawa sekotak penuh lampu bohlam)


“Bulbs? You’gotta be kidding me!” (Bohlam? Kamu bercanda ya!) Sahut staf yang mengejekku tadi.


“I think, Sir …” (Menurutku seperti itu, Tuan)


“Again, this stupid ‘I Think’ … Darn Kid!”  (‘Sepertinya’ lagi … dasar bocah!)


Seketika Lim mencengkram baju staf itu, lalu mengangkatnya keatas. Ia hendak melayangkan pukulan dari tangan yang sudah ia kepalkan begitu kuat sejak tadi. Tetapi aku dan beberapa staf lain dengan cepat melerai mereka berdua. Kemudian, terjadi kegaduhan diantara kami.

__ADS_1


“Calm down! Calm down! Everybody please hold your emotion, we got some serious problem here” (Sabar! Sabar! Semuanya tolong tahan emosi kalian, kita punya masalah serius disini) Mr. Teigl segera melerai Lim dan staf itu. Seketika keributan tadi mereda ketika Mr.Teigl berbicara.


“Sir I’m not one hundred percent sure but … I crashed with him” (Tuan, Aku tidak seratus persen yakin, tetapi … aku sepertinya bertabrakan dengannya)


“So you the one who push him!” (Jadi kamu yang mendorongnya jatuh!)  Teriak staf berengsek itu lagi.


“MY FRIEND IS NOT A KILLER YOU PIG!” (TEMANKU BUKAN PEMBUNUH, BA**!) Bentak Lim.


Ia kemudian melepaskan diri dari cengkraman beberapa pekerja yang melerainya tadi, dan segera menyambar staf gemuk itu. Beberapa staf lain menghalangi, namun gerakan kung-fu yang diperagaka Lim membuat staf-staf itu langsung roboh.


“LIM! STOP!” Aku berteriak sekencang-kencangnya.


Mengetahui bahwa Lim begitu emosi, dengan cepat aku menarik tanganya. Segera aku menenangkannya, dengan gerakan seperti itu, aku yakin, Lim bisa menjatuhkan semua orang dari jembatan ini.


“You two!! Don’t mess around!” (Kalian berdua!! Jangan mengacau!!) bentak Mr.Teigl.


Orang yang selama ini aku ketahui selalu murah senyum, kini menampakkan wajah garangnya dihadapanku. Sungguh hal itu membuatku merinding ngeri, dan sepertinya, seluruh orang yang ada disana juga langsung terdiam ketakutan.


“*T*his is dire situation gentlemen! I need you to understand, this is another missing person in this month!” (Ini situasi genting tuan-tuan! Aku ingin kalian paham, ini adalah kasus orang hilang kesekian kalinya selama sebulan ini)


APA?? ANOTHER??? Mataku terbelalak kaget. Jadi ini bukan kejadian yang pertama? Seluruh pekerja yang berkumpul seketika bergemuruh ribut. Mereka berdebat satu sama lain, mengeluarkan kekhawatiran mereka.


“Sir! There is another witnesses, beside me” (Tuan! Ada saksi mata lain, selain aku) ucapku memberanikan diri.


“It’s Gagan, The Helper!” (Itu Gagan… Si Helper) tambah Lim dengan tegas.


“Gagan? That Hindi boy?” (Gagan? Anak India itu?) ucap Mr.Teigl keheranan.


“Yes, Sir … I think we should ask hi …” (Benar Tuan … Sepertinya kita harus bertanya pada …)


“Enough Mr. Dimas … You’re joking” (Cukup, Mr.Dimas … Kamu bercanda) desis Mr. Teigl kecewa.


Aku begitu terkejut mendengar ucapan itu. Mr. Teigl tiba-tiba langsung tidak mempercayaiku. Ia bahkan melempar pandangan sinis padaku.


“BAH! Hahahaha!” Tawa staf gemuk itu.


Aku hanya tertunduk diam, sambil mencengkam bahu Lim keras-keras. Entah karena aku ingin menghalangi emosinya yang meledak-ledak itu, atau sebenarnya aku berusaha menahan emosiku sendiri. Apa yang salah dari perkataanku itu?


“Mr.Teigl!!!”


Tiba-tiba dua orang pekerja datang menghampiri dengan terengah-engah. Salah satunya adalah Hah! Julia?! Julia menatapku dengan wajah begitu sembab, seperti habis menangis. Seorang Pria Eropa tua berambut pirang yang berteriak tadi kemudian mulai berbicara pada kami.


“I think this Asian boy is right, Sir!” (Sepertinya anak Asia ini benar, Tuan!)


 

__ADS_1


 


__ADS_2