Iblis Kaki Terbalik

Iblis Kaki Terbalik
Mengakhiri Semua Ini


__ADS_3

Namun ketika tinjuku hendaku kulontarkan ke wajahnya, tiba-tiba sebuah tendangan dari belakang menghantam keras kepala Pretni itu. Pretni itu langsung jatuh tersungkur ke lantai. Seolah belum puas, laki-laki cina yang menendang itu langsung mengangkat badan kurus iblis itu dan melemparkannya kembali ke laut.


“LIMM!!” Teriakku begitu senang.


Aku tidak tahu apa tujuan Lim menyusuluku. Dibelakang Lim aku melihat Julia dan Gagan, hatiku kemudian kembali khawatir. Kerumunan pretni dibelakangku semakin mendekat, Julia langsung memapahku bergabung dengan mereka. Kami berempat kini berhadapan dengan ratusan iblis berkaki terbalik.


“I’m running out of ammo! Listen guys, hear my plan…” (Aku kehabisan peluru! Dengarkan, aku punya rencana…)


“No more shit again, okay? No more solo run again! We will confront them, together!” (Tidak ada lagi rencana-rencana, okay? Tidak ada lagi yang sendirian! Kita hadapi mereka bersama) Ketus Lim, wajahnya nampak begitu kesal.


“Hey! Are you crazy?!” (Hey! Kalian gila?!)


“I’m crazy … crazy for believing his plan” (Aku memang sudah gila… gila karena percaya dengan rencananya)


“His?” (Rencananya?)

__ADS_1


Ketika kami berdua sibuk berdebat tiba-tiba Gagan melangkah maju menghadang kerumunan itu. Aku terkejut, aku berusaha menarik Gagan mundur kembali, namun Julia menghalangi dengan menggenggam erat tanganku. Julia menatapku dengan yakin, mengisyaratkan bahwa aku harus percaya pada Gagan, percaya apa? Gagan terus berjalan maju, meski wajahnya begitu ketakutan dan langkahnya-pun pelan nampak ragu. Aku begitu bingung apa yang sedang ia lakukan menantang maut seperti itu, namun yang lebih membuatku bingung adalah Lim dan Julia yang mempercayainya.


Setelah beberapa saat, Lim lalu berteriak kegirangan menunjuk ke arah kerumunan Pretni itu. Aku tercengang, aku tidak bisa percaya apa yang kulihat, Pretni-Pretni itu mundur ketakutan. Beberapa bahkan nekat melompat dari jembatan, seolah begitu ketakutan melihat Gagan… WTF!


“Pretni… afraid kid … Dimas” (Pretni …Takut anak kecil … Dimas) ucap Gagan seraya menoleh padaku.


Aksi Gagan itu langsung membuatku mengingat kejadian-kejadian yang pernah terjadi. Kejadian saat Mr.Dennis yang menghilang dihadapanku itu; kejadian saat kami berempat melihat Pretni Mr.Xoliza; kejadian tiga Pretni yang hanya berteriak setelah aku memeluk Gagan di Living Platform tadi. Disemua kejadian itu, Pretni-Pretni itu tidak berani menyerang, mereka langsung kabur melompat dari jembatan atau hanya diam meraung menatapku, bukan… mereka hanya diam dan ketakutan karena melihat Gagan!


Benar saja, mengapa aku tidak berpikir sejauh itu? Pretni-Pretni itu membunuh Abeba dan semua pekerja Anjungan lain dengan sadis. Tetapi, mereka tidak menyerangku, saat aku menabrak Mr.Dennis dan menjatuhkan bohlam lampunya, begitu juga saat kami berempat bertemu Mr.Xoliza yang sudah menjadi pretni. Bahkan saat aku duduk dilantai setelah kelelahan menghajar pretni yang membunuh seorang wanita di Living Platform, mereka hanya diam ketakutan bahkan melompat kembali kelaut. Tetapi, mengapa mereka takut sekali dengan Gagan, dengan seorang anak kecil… OH!


Aku lalu menyentuh bahu Lim dan Julia, mengajak mereka untuk mengikuti Gagan. Aku melempar senyum yakin pada mereka berdua, mengisyaratkan bahwa aku mengerti dan juga percaya pada Gagan. Dengan sedikit ragu, mereka berdua mengikuti melangkah maju.


Pretni-Pretni itu meraung ketakutan, mereka mundur beberapa langkah kembali kedalam Well-head Platform. Beberapa pretni yang berada dibarisan depan bahan merubah wujud mereka ke asal dan melompat kelaut, begitu takut melihat Gagan. Aku maju kedepan, menggandeng tangannya, meyakinkan diri untuk terus berjalan kedalam Well-head.


Sesampainya diruangan Well-head, Pretni-Pretni itu terus mundur hingga membentuk lingkaran yang mengitari kami berempat, seolah memberikan jalan pada kami. Lim dan Julia nampak begitu gugup, tentu saja bila kita disergap dari segala penjuru saat ini kita akan langsung mati. Pretni-Pretni itu akhirnya membukakan jalan menuju tangga. Begitu tangga itu mulai dekat, tanpa ragu kami bergegas berlari naik keatas.

__ADS_1


Pretni-Pretni itu terus mengawasi kami, berteriak meraung tidak jelas, namun sepertinya mereka tidak ikut naik keruangan monitor. Meski begitu, aku tetap menyuruh Gagan untuk berjaga di pintu ruang monitor yang sudah rusak ditendang oleh Pretni yang mengejarku semalam, siapa tahu ada Pretni yang menyelinap masuk kedalam sini.


Setelah berada didalam ruangan monitor Well-head aku langsung menjelaskan pada Lim dan Gagan rencanaku untuk melepaskan mata bor itu dari tempatnya menancap di dasar laut. Kami lalu membagi tugas, mencari informasi cara melepas bor itu, tentu harusnya mendiang Mr.Brad atau tim nautika lain seperti Abeba yang bisa melakukan ini. Julia berusaha mencari dokumen panduan cara untuk mengendalikan bor raksasa di lemari dan diruangan Mr.Teigl. Lim berusaha menyalakan salah satu komputer dan mengakses 'Server' nya untuk mencari hal yang sama dengan Julia. Sedangkan aku menghadap komputer milik Abeba, tempat di mana aku menemukan pencitraan bawah laut itu, guna mencari hal yang sama pula. Beruntung sekali, Pretni semalam hanya merusak sebuah komputer dan layar monitor utama. Komputer lainnya masih berfungsi dengan baik, dan aku berharap sistem kendali bor Anjungan juga begitu.


Kami bertiga sibuk sendiri sementara Gagan mengawasi di depan pintu, menjaga kami. Dan usaha kami semua pun tidak sia-sia, Julia berteriak riang ketika menemukan buku manual bor raksasa itu. Aku pun tidak kalah heboh ketika menemukan program yang dapat mengendalikan bor di dalam komputer Abeba. Aku mulai mencoba menjalankan program itu sesuai buku petunjuk yang ditemukan oleh Julia. Seharusnya ekstraksi bor ini ditayangkan secara langsung di layar monitor utama, namun karena layar itu sudah remuk maka Lim terpaksa keluar ke beranda tangga untuk mengawasi mata bor itu.


Tanganku beradu begitu cepat dengan tombol keyboard komputer, aku harus melakukan ini dengan cepat. Tetapi ketika program itu memunculkan tulisan merah “pull-off” aku berhenti sejenak dan menarik nafas dalam-dalam. Aku berdoa dalam hati, semoga ini adalah jalan keluar atas semua kekacauan ini, semoga Pretni-Pretni itu dapat kembali ketempat yang seharusnya, semoga ini semua berakhir. Dengan satu tarikan nafas lagi, aku menekan tulisan merah itu.


NGIIIIIIIINGGGG NGIIIIINGG


Terdengar suara mesin yang bergerak, seperti rantai yang bergesekan dengan roda gerigi. Bunyinya begitu kencang, karena mesin mata bor itu besar dan kami membuka lebar ruangan monitor karena pintunya yang rusak, sehingga suara yang dihasilkan dari penarikan bor begitu memekakan telinga. Aku lantas berlari kedepan ketika Lim berteriak-teriak heboh melihat bor yang ditarik dari permukaan, mata bor itu terlihat karena tabung bor yang mengangga karena sebelumnya dikoyak oleh ratusan Pretni itu.


Setelah kami berempat dapat melihat ujung bor raksasa yang runcing, seketika angin berhembus begitu kencang. Pretni-Pretni itu berubah kembali ke wujud mengerikan mereka, melepaskan penyamaran manusianya, kemudian berubah lagi menjadi bayangan hitam. Ratusan bayangan itu melesat terbang berputar mengelilingi ruangan Well-head Platform, membuat aliran angin yang begitu kencang. Setelah beberapa detik berputar di langit-langit ruangan, mereka lalu berhamburan masuk melalu celah tabung bor yang terkoyak itu, beberapa ada yang keluar dari masing-masing pintu gerbang Well-head. Semua bayangan itu terbang melesat ke dalam laut, kembali ke bangunan kuno di di dasar lautan Arab ini, ke rumah mereka.


Aku masih belum percaya ini usai, aku lantas berlari menuju jembatan Production Platform untuk melihat apa yang terjadi didasar laut. Saat aku keluar dan menatap kearah laut, terlihat dari dalam lautan menyorot cahaya keemasan terang. Cahaya itu terus berpendar terang, bahkan sorotnya hampir-hampir menyilaukan mataku. Gagan, Lim dan Julia yang mengikutiku dibelakang bersorak gembira melihat fenomena itu., aku pun ikut menguratkan senyum lebar di wajahku. Kami berempat berpelukan, Semua ini sudah berakhir….

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, cahaya keemasan itu meredup. Lalu di permukaan laut menggenang ratusan potongan daging badan dan kepala manusia. Potongan-potongan sisa dari mayat-mayat pekerja Anjungan lepas pantai yang dimakan oleh Pretni. Lautan yang tadinya biru itu kemudian berubah menjadi merah, ketika darah-darah dari potongan bagian tubuh manusia itu menggenang. Seketika kebahagiaan kami seperti direngut paksa, kesedihan langsung menyelimut. Julia bahkan langsung menangis kencang ketika melihat kepala Abeba dan Mr.Dennis mengapung bersebelahan. Kami berempat menangis, sebagai orang yang tersisa di Anjungan ini, tidak mampu membendung kesedihan itu. Meski semua ini sepertinya sudah berakhir, ada pengorbanan besar yang harus kita bayar, kita tidak mampu menyelamatkan semua orang.


__ADS_2