Iblis Kaki Terbalik

Iblis Kaki Terbalik
Mr. Egoist


__ADS_3

Lim dan Julia tidak membantahku soal kemungkinan Pretni yang dapat pergi ke kota dan membunuh semua orang, karena memang itu sangat-sangat mungkin terjadi, tetapi mereka berdua membantah caraku yang begitu aneh, dan hanya berdasar dengan 'mimpi'. Tetapi aku begitu meyakini apa yang terlintas dalam mimpiku itu saat tenggelam tadi. Meski begitu tidak rasional, mencabut mata bor Anjungan pasti dapat mengembalikan mereka kedasar laut, aku yakin itu…


Kami bertiga terus berdebat hebat diatas kapal Speed-boat kecil yang siap membawa kami pergi dari sini. Perdebatan yang tidak kunjung ada jalan keluarnya, padahal hari sudah menjelang subuh. Benar kata Julia, padahal kita sudah berhasil keluar dari Anjungan, sedikit lagi… Kita akan berhasil. Namun aku memilih untuk kembali kedalam sana, demi mengangkat bor minyak bumi yang telah melubangi rumah mereka, iblis-iblis kaki terbalik. Sebenarnya aku juga ragu, bagaimana cara kesana dan melakukan semua itu tanpa tertangkap oleh Pretni. Seluruh pekerja yang tersisa di Anjungan pasti sudah berubah menjadi Pretni, dan aku harus melewati mereka semua untuk naik ke ruang monitor Well-head.


Aku menatap Gagan sejenak, menatap wajahnya yang begitu tercengang setelah mendengar ceritaku. Tentu ia akan sangat kaget ketika aku bercerita bahwa aku bertemu dengan Khrisna, perwujudan Dewa Wisnu sang Dewa pengatur segalannya di ajaran agama Hindu. Terlebih semua yang aku ceritakan itu begitu cocok dengan cerita rakyat orang India. Diantara mereka bertiga, pasti hanya gagan yang mempercayai ucapanku. Tetapi aku tidak mungkin membawanya kembali kesana, begitu juga Lim dan Julia, aku tidak mungkin membawa mereka semua kesana. Aku harus melakukan semua ini sendirian!


“Allright, I’m going alone…” (Baiklah, aku akan kesana sendiri…)


“WTF! Dima!” bentak Lim, ia lalu membusungkan dadanya dihadapanku seolah berusaha menghalangi.


Seketika kami berempat hening.


“I’m gonna beat you till fainted then drag you forcefully… Or you coming with us willingly” (Aku akan menghajarmu hingga pingsan lalu memaksamu ikut… Atau kamu ikut dengan kami secara suka rela) Paksa Lim.


“Don’t do it Lim, this is my decision …” (Jangan lakukan itu, ini sudah keputusanku Lim…)


“THIS IS MY DECISION TOO!!” (INI JUGA KEPUTUSANKU!!) Bentaknya begitu keras.

__ADS_1


Jantungku bergemuruh, baru kali ini Lim membentaku dengan begitu emosi. Aku pun sebenarnya tidak mau membuatnya marah, tetapi aku harus melakukan ini.


“I’M NOT GOING TO LOSE ANOTHER FRIEND!!!” (AKU TIDAK AKAN KEHILANGAN TEMAN LAGI!!!) Bentaknya sekali lagi.


“Stop it you two! Don’t Fight!” (Berhenti kalian berdua! Jangan berkelahi!) Teriak Julia berusaha melerai kami.


Tetapi meski mereka berdua melarangku, mereka berdua tidak akan bisa menghentikanku. Aku lalu menodongkan pistol yang tadi tergeletak di lantai Speed-boat saat aku tenggelam. Mata Lim dan Julia terbelalak takut melihat pistol yang kutodongkan. Kemudian, aku perlahan menjauh, melompat keluar dari Speed-boat menuju ke dermaga.


“Julia, yes you right … I’m going to ruin it after all of this. Yes Lim, you right … I’m such a egoist bastard. But this is my decision …” (Julia, kamu benar … Aku akan mengacaukan segalanya setelah semua ini. Lim, kamu benar … Aku benar-benar egois. Tetapi ini keputusanku…)


Aku terus menodongkan pistolku pada mereka, meski sebenarnya tidak mungkin aku tega menembak Lim. Hatiku bergetar hebat, aku tidak mungkin menembak temanku sendiri… aku terpaksa melakukan semua ini. Aku bisa melihat wajah kelelahan dan kekecewaan Lim tergurat jelas, ia pasti sangat kecewa dengan keputusanku, setelah semua yang kita lakukan. Julia juga langsung menangis, meratapi kepergianku. Tentu ia tahu, aku pun juga tahu, tidak mungkin aku selamat setelah ini.


“LISTEN YOU MR.EGOIST!!! I’M GONNA WAIT YOU!! ONE HOUR, OK!! PROMISE US YOU GOING TO SURVIVE!!! DO YOU HEAR ME??!! DIMAAA!!”


(DENGAR TUAN EGOIS!!! AKU AKAN MENUNGGUMU!! SATU JAM, OK?!! BERJANJILAH KAMU AKAN SELAMAT!! KAMU DENGAR??!! DIMA!!!)


Lim berteriak histeris, meneriakiku bahwa mereka semua akan menunggu, satu jam. Seketika aku menghentikan langkahku, saat itu juga hatiku bergetar hebat. Aku menangis terisak, tak kuasa menahan emosiku. Tuhan, terima kasih engkau telah memberikan teman-teman yang begitu percaya padaku. Aku tetap tidak berani menoleh mereka, karena aku tidak yakin aku akan selamat, tetapi aku akan berusaha semampuku. Pistol itu kupegang erat-erat dengan kedua tanganku, dan aku mulai berlari maju menuju Well-head Platform. Whatever happen… apapun yang akan terjadi… aku akan menuntaskan semua ini!

__ADS_1


……..


Aku berlari dengan cepat menuju gerbang Production Platform yang mengarah ke Well-head Platform, Gerbang yang sebelumnya aku tutup karena Pretni berwujud Pria Arab yang mengejar kami itu. Aku berniat untuk membukannya dan masuk kedalam Well-head dari sana. Tentu aku akan disambut ratusan Pretni, tetapi itu justru bagus. Aku berencana untuk memancing mereka semua –sebanyak yang kubisa- keluar dari Well-head, kemudian aku akan berlari memutar Anjungan dan masuk kedalam Well-head melalui sisi Generator-Compressor Platform. Aku pasti bisa berlari tanpa tertangkap karena mereka berjalan begitu lambat, dan karena itu juga aku pasti dapat memutar tepat waktu sebelum mereka kembali lagi ke Well-head.


Ya, itu adalah rencana simpel yang bisa kupikirkan selama berlari, aku tidak tahu lagi bagaimana cara menembus lautan iblis itu hanya dengan pistol yang menyisakan beberapa peluru saja. Ditambah lagi cahaya lampu Anjungan yang menyala, mereka dapat melihatku dengan jelas. Seandainya aku membawa Julia dan memintanya mematikan listrik Anjungan… Tidak, aku tidak bisa membahayakan mereka lagi, aku harus melakukannya sendiri.


Sesampainya aku dipintu gerbang, aku langsung membukannya sambil terus menyiagakan pistolku. Jantungku berdegup kencang kala pintu besi itu perlahan terbuka, suara kerumunan iblis itu mulai terdengar lagi. Jembatan Production Platform yang mengarah ke Well-head begitu sepi, namun aku dapat merasakan keramaian diujungnya. Aku menelan ludahku dan memberanikan diri perlahan melangkah kedepan.


Sesampainya di mulut gerbang Well-head kini aku dapat melihat dengan jelas ratusan Pretni itu. Mereka sepertinya mulai mengacuhkan Drill tube, yang sebelumnya berhasil mereka koyakkan baja pelindungnya. Sesuai dugaanku, mereka tidak akan bisa melakukan apa-apa pada mata bor baja rakasasa itu, kecuali mereka cukup pintar untuk naik ke ruang monitor dan mengendalikannya dari sana. Kini, Mereka mulai menghancurkan benda-benda disekitar Drill tube seperti kotak-kotak onderdil, pipa-pipa penyalur minyak, dan beberapa kabel listrik, gawat…


DOOR


Aku langsung melesatkan tembakan kearah salah satu dari mereka. Pretni yang kutembak itu roboh seketika, namun bukan itu tujuanku. Tujuanku adalah memancing mereka dengan suara tembakan itu. Mereka semua langsung meraung dan menoleh kearahku. Bila mereka terus merusak kabel-kabel listrik yang mengendalikan mata bor itu, maka aku tidak akan bisa lagi menarik bor itu dari ruang monitor. Aku harus memancing perhatian mereka segera.


DOOR DOOR DOOR


Belum cukup, aku menambahkan beberapa tembakan lagi yang kini merobohkan tiga Pretni yang ada didekatku. Kali ini mereka semua berlari menghampiriku dengan marah. Lalu aku mulai berjalan mundur menuju ke jembatan Production Platform, sambil terus menembakan pistolku, hingga pelurunya habis. Ketika peluru di selonsong pistolku habis, aku lalu berbalik arah dan berjalan sedikit cepat untuk memancing mereka. Niatku adalah memancing mereka hingga Production Platform. Ketika rombongan pretni ini sudah mencapai sana, aku akan mulai berlari secepat-cepatnya.

__ADS_1


Namun baru berapa langkah aku berjalan, tiba-tiba dari bawah laut muncul satu Pretni baru yang terbang melesat dan mendarat di jembatan dihadapanku. Pretni yang belum berwujud manusia itu menghadangku, membuatku terhimpit antara kerumunan pretni yang kini sudah sampai di jembatan dan dengannya. Karena terlalu kaget, aku berusaha berhenti namun kakiku salah menumpu hingga jatuh tersungkur dihadapan Pretni itu.


Aku mengaduh, bukan karena nyeri yang kurasakan pada kakiku, tetapi karena aku sudah kehabisan peluru pistol. Aku tidak membayangkan akan dihadang seperti ini, mau tidak mau aku harus menghajar Pretni dihadapanku ini dengan tangan kosong. Aku bangkit, mengepalkan tanganku, dan mulai menyerangnya.


__ADS_2