Iblis Kaki Terbalik

Iblis Kaki Terbalik
Pencitraan Bawah Laut


__ADS_3

Aku mulai menekan baris nomor pertama, dan teleponku pun terhubung. Aku sempat bersyukur telepon ini berfungsi, tetapi aku kembali diliputi kekhawatiran. Aku kan tidak tahu di mana lokasi telepon di Generator-Compressor Platform? Bisa jadi tempatnya sangat jauh dari tempat persembunyian mereka, aku khawatir Lim tidak akan mendengar deringnya. Kalau pun mereka mendengar dering, apakah mereka berani mengangkat teleponku? Mereka kan tidak tau siapa yang menelpon itu. Arrghh! saat ini aku bisa apa, aku tidak punya pilihan lain selain mencoba, berharap mereka mendengar teleponku.


Aku berusaha menguatkan hatiku, namun lagi-lagi aku disergap kegalauan. Bagaimana bila yang mengangkat Pr…


BRAAKKKKKK


Teleponku tersambung, namun seperti ada suara benda terbanting keras sekali.


“H-Hello?”


“KRSSSSSKKKK….. GRRRRRWWARR…. KRSSSKKKK”


Segera aku menutup telepon. Terdengar suara seperti seseorang yang meraung… JELAS-JELAS ITU PRETNI! Jantungku langsung berdegup kencang, keringat dingin turun deras membasahi mukaku. Gawat! Di Generator-Compressor Platform ada Pretni?! Tunggu-tunggu, itu jika benar yang kutelepon adalah nomor Generator-Compressor Platform. Aku menarik nafas dalam-dalam berusaha menenangkan, Sabar… Harus positif thinking!


Aku kemudian berlari keluar ruangan dan menuju ke jendela. Benar seperti dugaanku, aku melihat dua Pretni tengah sibuk memukul-mukul sebuah gagang telepon yang menempel di tembok didekat tabung bor Well-head. Badanku yang tegang seketika melemas sedikit, aku bersyukur sejadi-jadinya, yang aku telepon tadi adalah nomor Platform ini. Aku justru bersyukur karena bukan Generator-Compressor. Bila yang kutelpon adalah Generator-Compressor Platform lalu yang mengangkat makhluk-makhluk itu, sudah pasti Lim dan Julia dalam bahaya. Dan itu berarti membenarkan dugaanku, ada banyak Pretni-Pretni yang berkeliaran diluar sana! Aku menarik nafas lega, nyaris saja yang kupikirkan benar-benar terjadi. Aku harus mencoba nomor yang lain.


Sebelum aku beranjak pergi, kembali ke ruangan Mr.Teigl, aku sekali lagi melirik dari jendela. Nampak dua Pretni itu tengah berdiskusi satu sama lain. Mungkin mereka heran karena gagang telepon yang tadi berbunyi kali ini diam tidak bersuara. Sepertinya mereka sangat peka terhadap bunyi.

__ADS_1


Aku kembali masuk kedalam ruangan Mr.Teigl dan duduk didepan telepon. Kembali aku mencari kertas kecil tadi dan menekan tiga baris nomor lainnya. Aku tidak tahu mana yang menghubungkan ke Generator-Compressor, maka dari itu aku menelepon secara berurutan dan ku tunggu hingga tiga kali nada dering. Aku takut berlama-lama menunggu, takut apabila nada dering itu memancing Pretni seperti tadi, bisa berbahaya.


Setelah kucoba pada tiga baris nomor itu, tidak ada yang merespon. Aku berusaha mengulanginya beberapa kali lagi, tetap tidak ada jawaban. Aku mendengkus kesal, mereka pasti tidak mendengar nada deringnya. Aku akhirnya menyerah menghubungi Lim dan Julia. Sekarang, apa yang harus kulakukan…


.........................


Tidak ada solusi lain selain menunggu. Semua ini salahku, Seharusnya aku tidak meninggalkan mereka, seharusnya aku tetap disana, dan seharusnya aku tidak membanting smartphone-ku karena emosi, Aku sungguh egois. Perasaanku begitu kacau, antara takut, marah, sedih, dan rasa ingin menolong ini. Aku tidak tahu mana yang harus aku dahulukan. Aku tidak menyangka semuanya akan jadi seperti ini begitu cepat, aku tidak siap. Padahal aku sudah berhasil memecahkan misteri tentang Pretni ini, tetapi aku tidak menyangka akan semengerikan ini jadinya… Tidak ada yang siap dengan semua ini…


Aku hanya bisa berharap Lim dan Julia sudah tetap disana dan tidak pergi ke Living Platform. Aku tidak akan memaafkan diriku bila Lim dan Julia mati karena keeogisanku ini. Mungkin Lim dan Julia saat ini sedang memikirkan cara untuk mengeluarkanku dari sini … Benar, Lim kan cerdas, ia pasti akan mencari cara untuk melindungi Julia, dan mungkin menelepon bantuan, Ya … aku yakin sekali Lim tidak akan tinggal diam melihatku pergi dan tidak kunjung kembali ini, pasti ia akan menelepon polisi di pulau utama, untuk menyematkan kita.


Aku berjalan kembali masuk kedalam ruangan. Aku duduk didepan komputer yang menyala tadi dan menggerakan mouse-nya kesana kemari. Masih ada harapan, aku tidak boleh menyerah … Sambil menunggu harapan itu datang, aku akan melakukan apapun yang aku bisa lakukan, di ruang monitor ini. Aku memejamkan mataku sejenak, mengatur nafasku. Aku berusaha menjernihkan pikiranku, aku harus melakukan sesuatu …


Aku langsung mempelajari gambar peta Anjungan itu, mungkin ada jalan tikus atau semacamnya, jalan apapun yang bisa membantu kami keluar dari sini. Namun sayangnya, Well-head Platform terstruktur begitu rapi, tidak ada celah maupun ventilasi. Hal ini karena fungsi dari Platform ini yang akan berhubungan dengan pengeboran minyak bumi dan direct contact ke laut lepas, sangat berbahaya bila di dinding-dinding Platform ini bercelah. Hal ini kembali mengingatkanku bahwa aku benar-benar terjebak disini… Sial!


Mataku kemudian menjelajah denah Generator-Compressor Platform. Aku meraba layar komputer, memperkirakan di mana lokasi persembunyian kita. Setelah mengira-ngira diantara gambar-gambar mesin yang berderet aku lalu menarik garis ke ruang monitor terdekat, dengan asumsi terdapat telepon di ruang monitor Generator-Compressor Platform. Jaraknya cukup jauh, pantas saja teleponku tidak diangkat, atau mungkin mereka tidak berani mengangkat karena ada Pretni yang berkeliaran?


Kemudian aku menjelajah makin dalam pada komputer. Aku membuka semua folder dan dokumen-dokumen yang ada didepan mataku. Aku sedang mencari list lengkap prasarana apa saja yang ada di Anjungan ini. Pasti disana ada keterangan tentang telepon yang dapat digunakan untuk menghubungi pulau utama, atau cara mengaktifkan signal internet, atau mungkin lokasi berapa jumlah kapal kecil atau mungkin kapal besar?

__ADS_1


Kapal! Aku juga mengutamakan mencari tempat di mana ada kapal, hal itu sangat penting untuk bisa kami gunakan untuk keluar dari sini. Meski sebenarnya aku yakin Lim akan menelepon bantuan, tetapi aku sedikit tidak yakin ada bantuan yang akan datang dari pulau utama. Berjaga-jaga sambil memikirkan kemungkinan yang terburuk, tidak ada salahnya, 'kan?


Dari beberapa data file yang aku jelajahi -seperti dugaanku- ada dua dermaga di Anjungan ini, satu di Production Platform, dan satu lagi di Living Platform. Tetapi di gambar itu tidak dijelaskan apakah ada kapal kecil atau Speed-boat yang dapat kita gunakan. Seingatku, di Living Platform mungkin ada beberapa kapal. Seperti Speed-boat yang mengantar kami semua kemari pertama kali, harusnya ada beberapa kapal kecil lagi, mengingat jumlah pekerja Anjungan ini ada banyak. Sedangkan di Production Platform, disebelah Platform ini, aku tidak pernah tahu. Memang aku sering lewat sana, tetapi aku tidak pernah masuk lebih dalam. Sangat beresiko untuk menelusuri Production Platform saat ini. Mengingat fakta pak tua James, yang berasal dari Living Platform saja sudah menjadi Pretni dan berkeliaran hingga kemari.


Setelah beberapa menit mencari, aku tidak menemukan hal yang membantu dari komputer ini, bagaimana dengan komputer lain? Kemudian aku berusaha mengakses 'Server' untuk melihat dokumen-dokumen yang ada di komputer lain, melalui komputer ini. Ada sekitar dua puluh lebih komputer yang terhubung dengan 'Server' sesuai dengan jumlah komputer yang ada diruangan ini. Tenang Dimas… aku punya cukup banyak waktu untuk dihabiskan.


……………..


Suara tanganku yang beradu dengan keyboard menggema, memecahkan kesunyian ruangan ini. Seolah tidak mau kalah, suara detik dari jam dinding pun ikut menggema. Sudah berapa lama aku mencari? Mataku sudah mulai lelah. Jam dinding itu menunjukan pukul 23:00, sudah hampir tengah malam. Oh Tuhan… aku berharap Lim dan Julia baik-baik saja.


Ribuan dokumen sudah kubuka dan kubaca satu-persatu dengan teliti, tetapi hasilnya nihil. Aku menguap lelah, dan sesekali memejamkan mataku yang silau, karena menatap layar komputer terus menerus ditengah kegelapan. Mau bagaimana lagi, hanya ini yang bisa aku lakukan sekarang, aku tidak mungkin menyalakan lampu, ‘kan?


Anak panah mouse-ku dilayar kemudian menyorot “Client” komputer milik Abeba. Setelah-ku buka, apa yang kuharapkan? tentu isinya adalah hal-hal mengenai nautika. Ada sebuah dokumen yang memiliki judul “pre-drilling report” (Laporan pra-pengeboran). Seketika pikiranku tergelitik untuk membukannya. Dokumen itu berisi laporan-laporan kondisi bawah laut sebelum Anjungan ini melakukan pengeboran. Mungkin karena lelah, aku dengan iseng malah melihat gambar-gambar pencitraan bawah laut yang ada di dokumen itu.


Menurut yang aku browsing di laman internet, Pretni bukanlah hantu yang berasal dari laut. Tetapi apa yang aku lihat, juga dari ucapan Gagan kemarin malam, Jelas-jelas iblis itu berasal dari laut. Dengan jumlah sebanyak itu, seharusnya mereka terlihat saat pencitraan dasar laut, ‘kan? Dugaan, mungkin Mr.Teigl melihat salah satu pencitraan yang memeperlihatkan sebuah penampakan makhluk mirip manusia yang berenang-renang didasar laut, lalu ia menyembunyikannya dan tetap melakukan pengeboran. Mungkin itu yang menyebabkan Mr.Teigl dan stafnya merahasiakan semua ini pada kami, sampai akhirnya iblis itu memakan korban.


Dengan ide liar seperti itu, aku justru menggebu-gebu meliat satu persatu gambar di dokumen itu. Penasaran, apakah Pretni benar-benar berasal dari laut dan tertangkap pencitraan. Setelah beberapa gambar, aku tidak melihat ada penampakan pretni. Apakah mereka tidak dapat ditangkap kamera pencitraan? Tidak mungkin, mereka tidak kasat mata. Aku melihat mereka, kami melihat mereka, bahkan Pretni dapat membunuh orang.

__ADS_1


Penjelajahanku kemudian sampai pada sebuah gambar sebuah batu besar. Aku ingat sekali batu ini adalah batu yang ditabrak oleh mata bor kami. Gambar ini sepertinya diambil pada siang hari, batu itu nampak jelas dengan sedikit cahaya matahari. Bongkahan batu besar itu agak aneh, berbentuk persegi besar seperti bangunan, berwarna coklat dengan ukiran-ukiran di sisinya, mengingatkanku pada salah satu candi di Indonesia … HAAHHH!!


__ADS_2